Sabtu, 08 Juni 2013

Pemberontakan Santri Cerbon 1818

Nyi Silabrangti amuwus aris
“Bibi Candhini sira mantuka
maring Wanamarta rekeh
warakaken sanakisun
miwah rekeh ing rama kalih
warakaken yen wis pejah
pemi dipun katur
lawan sira mradikaa
angungsia wangsa kadangira bibi
‘lah, sira mradikaa”.

-          Kidung Candhini Bab III pasal 31.

SUARA kemerdekaan masih terngiang di kalangan jiwa para santri Cerbon yang telah kalah perang melawan Kolonialis Belanda. Kepedihan dan keterhinaan akibat dinjak-injak kaki penjajah membuat mereka seperti kehilangan harga dirinya. Mereka ingin bebas, merdeka tanpa harus tunduk pada kekuasaan asing. Suara kebebasan itu mereka tuangkan dalam sebuah puisi panjang dalam bentuk kidung. “Kidung Candhini” nama puisi yang terdiri dari 17 bab dan 538 bait itu. Ditulis para santri dalam pengembaraannya di tahun 1838 M (1760 Jawa) dengan menggunakan bahasa Cerbon Pegon – bahasa Cirebon pertengahan.
Seputar tahun itu memang merupakan tahun penderitaan panjang para santri di Jawa. Setelah kekalahan santri Cirebon pada tahun 1818 yang kemudian disusul dengan kekalahan para ulama Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825 – 1830). Dalam kekalahnnya itu, mereka melakukan pengembaraan ke berbagai pelosok daerah.
Dalam kidung itu pula disinggung tentang kegalauan jiwa yang tak terperikan. Seperti keterkekangan untuk membebaskan diri dari pembelengguan pihak penjajah. Meski Kidung Candhini sendiri ditulis sebagai buku untuk kepentingan dakwah Islamiyah dengan gaya puisi, namun akar dari permasalahannya adalah “gugatan” kemerdekaan terhadap penjajah Belanda. Seperti pada bait puisi di atas :

Nyi Silabrangti menjawab dengan nada lembut

“Bibi Candhini, datanglah kamu

ke Wanamarta
berikan kabar kepada sanak keluargaku
juga kepada ayah bunda
katakanlah, bahwa aku telah mati
jangan lupa, katakanlah
dan kamu kuberi kebebasan
pergilah kamu kepada sanak saudaramu sendiri
nah, kamu merdeka.

Kidung Candhini sangat mungkin merupakan alat bukti yang monumental dari pergerakan santri di sekitar Cirebon ketika berperang untuk melepaskan diri dari kekangan pemerintah Hindia Belanda. Sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20, gerakan kaum santri ini, bukan tak ditengarai pihak Belanda, sehingga mereka (Belanda) bahkan melakukan penggrebekan secara militer di tempat-tempat tertentu. Meski kidung panjang tersebut ditulis dengan bahasa tersamar, namun gerakan “pensucian” jiwa kalangan santri dari pengaruh sekularisme Eropa nampak terasa. Warakaken yen wis pejah/pemi dipun katur/lawan sira mradikaa. Katakan, bahwa aku telah mati/jangan lupa, katakanlah/dan kamu kuberi kebebasan (kemerdekaan).
Kata “mati” bisa jadi dalam artian gerakan fisik. Kematian pemberontakan, memang tak harus dibarengi dengan kematian jiwa. Maka jika para santri itu masih terus bersemangat untuk menumbangkan penjajahan, pesan yang diberikannya adalah “Kamu Merdeka.” Pemberontakan rakyat terjadi di antaranya akibat ketidakpuasan kalangan santri yang telah dikecewakan pemerintah kolonial dengan cara-cara penetrasi yang tak sesuai dengan perilaku agama. Penetrasi birokrasi yang Eropa sentris, termasuk bidang pendidikan, sekularisasi, komersialisasi yang notabene sebagai wujud westernisasi.
Dalam kondisi seperti itu, para ulama, kyai, haji dan guru-guru agama Islam yang memiliki kharisma besar semakin menjadi tumpuan harapan rakyat Jawa. Melalui gerakan tarekat – seperti dinyatakan DH Burger yang dikutip H. Ibnu Qoyim Isma’il dalam Kiai Penghulu Jawa (Gema Insasi Pers – Jakarta 1997), orang-orang Jawa dengan cepat merambat hampir merata ke seluruh pelosok perdesaan menjadi pengikutnya.


 

Pemberontakan Besar


DESEMBER 1816
Daerah Cirebon yang tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan adanya suatu berita yang menghebohkan. Ada huru-hara di daerah itu. Ratusan tentara disiagakan di berbagai sudut kota. Terutama di ibukota Cirebon, Tangkil penjagaan mulai diperketat. Setiap orang yang lewat selalu diperiksa tentara Belanda. Mereka yang dicurigai segera ditangkap dan dipisahkan dalam sel khusus. Tak terkecuali di gedung Karesidenan, pusat kekuasaan yang dipegang Servatius saat itu setiap saat selalu dipenuhi para petinggi pemerintahan, baik sipil maupun militer.
Dari gedung bercat putih itu acapkali keluar perintah-perintah penangkapan. Sementara puluhan meriam yang siap tembak moncongnya selalu diarahkan ke jalan raya. Dari Pelabuhan Cirebon yang jaraknya kurang dari empat kilometer dari gedung itu, Residen seringkali menerima para pembesar dan bantuan militer dari Batavia.
Ternyata Cirebon tengah dilanda suatu pemberontakan rakyat yang cukup besar. Suatu pemberontakan yang mampu menarik perhatian Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, sehingga ia harus mengundang tentara bantuan dari Semarang dan Ambon. Peristiwa besar yang digalakkan kalangan santri itu, memang hanya berlangsung beberapa bulan saja. Tetapi dampaknya cukup luas bagi kalangan militer Belanda sendiri. Puluhan tentaranya tewas, demikian pula perwira menengah dan bintara harus dipecat secara tidak hormat lantaran tak mampu menjalankan perintah atasannya.
Ketidakpuasan rakyat, terutama kalangan santri yang berpusat di sekitar daerahCiwaringin dan Kedondong terhadap pemerintah Hindia Belanda yang semena-mena. Penarikan pajak yang berlebihan dan tatacara Eropa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari membuat kalangan santri tersinggung atas cara-cara mereka. Akibat dari sikapnya yang tak pantas itulah, masyarakat santri dipimpin Ki Bagus Serrit dan Ki Bagus Rangin mengangkat senjata dan melakukan pemberontakan besar-besaran.
Namun di pihak Belanda tak kalah akal. Mereka tak mau kehilangan citra di bumi jajahannya. Maka seperti yang dituliskan PH van der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818(Penerbit dan penerjemah Yayasan Idayu – Jakarta 1979), mereka justru menuduh pemberontakan Cirebon yang terjadi Februari 1818, akibat raja-raja di Cirebon dari zaman VOC menjadi sumber kemelaratan dan kekacauan. Terlalu banyak bangsawan yang tak bekerja, hidup dari perasan keringat rakyat yang menyebabkan timbulnya kegelisahan dan gangguan keamanan.
Bertitik-tolak dari kesimpulan seperti itulah di tahun 1792, Residen Cirebon J.L. Umbgrove memandang perlu untuk mengurangi jumlah pangeran dan ratu dengan mengubah fungsi mereka menjadi abdi masyarakat agar dengan begitu dapat diharapkan, negeri itu tidak lagi dihisap habis-habisan dan dapat memperoleh lebih banyak berkat demi kepentingan penduduknya. Sejak pemerintahan Rafles yang menggantikan Daendels, ketiga kesultanan di Cirebon dihapuskan, meskipun gelar sultan dan keturunannya tetap diakui. Para sultan hanya mendapatkan pensiun dari pemerintah. Sultan Kacirebonan mendapatkan dana pensiun 600 gulden sebulan. Jumlah yang paling kecil dibandingkan dengan kedua kesultanan lainnya, mengingat keturunannya tak sebanyak Sultan Kasepuhan dan Kanoman.
Akibat tekanan dan aturan yang tak masuk akal itulah, ketiga kesultanan di Cirebon menyatakan ketidakpuasannya. Meskipun secara politis mereka telah diturunkan kedudukannya, namun pengaruh ketiga kesultanan tersebut masih tetap kuat. Para bangsawan kesultanan dengan sembunyi-sembunyi melakukan “gerakan bawah tanah” menyusun kekuatan bersama rakyat. Kondisi panas ini makin menunjukkan temperamen sejak akhir November dan Desember 1816, tak lama setelah masa pemulihan kekuasaan oleh Inggris terhadap Belanda.
Desember 1816, seorang tokoh masyarakat yang oleh pihak Belanda disebut “Begal Jabin” dilaporkan telah melakukan kekacauan di daerah Kandanghaur Indramayu. Ia bersama 20 anak buahnya telah pindah dari Laummalang (Orimalang) ke Desa Legun di wilayah Cirebon. Melalui Keputusan Pemerintah no. 41 tanggal 8 Desember 1816 kepada residen diberitahukan agar jangan melakukan penahanan “kalau tidak terpaksa.” Namun segala sesuatu diserahkan kepada kewaspadaannya. Jabin harus diikuti secara seksama, diperiksa semua alasan dan sebabnya ia pindah tempat dan diusahakan agar ia kembali ke tempatnya semula.
Tanggal 19 Juni 1817 Inggris meninggalkan pulau Jawa, begitu catatan dalam arsip Van der Kemp, pemerintah kita memperkeras peraturan bagi tuan-tuan partikelir untuk mencegah ksewenang-wenangan menghadapi pajak landrente(tanah) di Cirebon, pemerintah mengambil sikap seluwes mungkin.
Hanya beberapa hari setelah itu, timbullah kerusuhan besar-besaran di distrik Blandong – diduga nama lain dari Balongan, Indramayu – Cirebon. Oleh masyarakat setempat, nama Jabin diperhalus menjadi “Bagus Jabin”. Jabin sendiri diduga pihak Belanda mendapat perlindungan dari Kepala Desa Pamanukan dan Ciasem (kini kedua daerah itu masuk dalam wilayah Kabupaten Subang, pen).
Sementara itu di saat yang hampir bersamaan, Demang Desa Pedagangan (Pagedangan, pen) Distrik Indramayu bernama Nairem atau Neirem bersama para pengikutnya juga melakukan pemberontakan kepada Belanda. Neirem sendiri merupakan bekas anak buah Bagus Rangin yang pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal daendels di tahun 1811 melarikan diri ke hutan-hutan sekitar Karawang, setelah banyak membuat “kerusuhan.” Bersama dia ikut pula seorang pegawai dari Distrik Semarang bernama Rono Diwongso. Induk semangnya memberikan nama kepada anak buahnya dengan julukan “Bagus Serrit.” Ia konon dipercaya masyarakat setempat sebagai seorang bangsawan yang memiliki kekuatan supranatural.
Lewat tangan besi Daendels, Belanda berhasil membangun jaringan ekonomi antarkota. Jalur-jalur ekonomi terpenting di Jawa Barat saat itu di antaranya jalan raya yang menghubungkan antara Bogor – Sukabumi – Cianjur – Bandung – Sumedang. Terus ke arah timur laut menuju Tomo – Karangsambung di pinggir Kali Cimanuk yang merupakan perbatasan Karesidenan Priangan dan Cirebon.
Di jalur-jalur penting itulah Belanda membangun gudang-gudang penyimpan kopi. Jalur penting lainnya adalah Majalengka mengarah ke timur hingga ibukota Cirebon, Tangkil melalui Desa Leuwimunding dan Palimanan hingga Tegal. Van der Kemp, pegawai arsip pemerintah Hindia Belanda yang turut pula dalam penumpasan gerakan tersebut mencatat, bahwa pergolakan terjadi pada dua tingkat. Masing-masing terjadi pada Januari – Februari dan Juli – Agustus.
Hanya dalam tempo empat bulan pemberontakan terjadi. Saat itu pemberontak Neirem telah ditangkap dan ketika ditahan tanpa ada kepastian mengenai kesalahannya sebagai pemimpin dan perencana pemberontakan. Sedangkan nama Bagus Serit pada pemberontakan yang pertama belum dikenal namanya sama sekali. Dalam pemeriksaan pengadilan, Neirem menjadi terdakwa utama. Namun dalam surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 12 Oktober 1818 no. 3 dinyatakan, ada cukup alasan untuk menetapkan bahwa tahanan yang bernama Bagus Serit dalam bulan Februari tahun ini terang-terangan menimbulkan pemberontakan dan mengangkat dirinya sebagai kepala pemberontak. Ia menggerakkan anak buahnya yang dipersenjatai melawan pasukan yang dikirim pemerintah ke sama untuk mengembalikan ketenteraman dan bertempur dengan mereka. Selama pemberontakan itu telah terbunuh pegawai-pegawai pemerintah atas perintahnya. Menurut bukti-bukti sementara, terjadi perampokan dan pembakaran yang menimbilkan kekacauan besar, tidak mengindahkan sama sekali perintah yang dikeluarkan pemerintah.
Surat itu juga memuat nama-nama keluarga Sultan Cirebon yang terlibat dalam pemberontakan. Di antaranya Sominta Raja, kelahiran Cirebon. Ia menyebut dirinya sebagai Pangeran Ario dan termasuk keluarga Sultan Kanoman. Ia disertai wanita-wanita dan dua orang anak, beserta dua orang haji. Kesemuanya berasal dari Cirebon.


KERUSUHAN JANUARI 1818

JANUARI 1818.
Pertengahan kedua bulan Januari 1818 pecahlah kerusuhan besar. Kepala Distrik Blandong, Demang Among Pances bersama jurutulisnya dibunuh pemberontak yang berjumlah 100 orang. Pusat pemberontakan berada di Kedondong – kini berada di wilayah Kecamatan Susukan Cirebon. Pihak Belanda menyebutnya sebagai negorij (kampung)utama yang terpenting di daerah itu. Seperti dilaporkan Residen Cirebon, Servatius, 21 Januari 1818 kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, sulit untuk pergi ke daerah itu. “ Saya kira ini adalah ibukota Distrik Jatiwangi terletak di Kabupaten Majalengka.” Ternyata Kedondong bukan merupakan ibukota distrik, tetapi hanya sebuah desa kecil yang jaraknya kira-kira 15 kilometer dari Jatiwangi.
Di Desa Jatiwangi berkedudukan kepala distrik yang memakai nama yang sama. Di tempat itu berdiri sebuah pabrik (pabrik gula – pen) yang sekarang masih ada. Terletak antara Cirebon dan Palimanan. Kerusuhan kemudian berkembang ke daerah Majalengka yang merupakan perbatasan dengan Priangan. Saat itu Van Motman menjabat sebagai Residen Priangan.
Pada waktu berita kerusuhan pertama diterima, tak diketahui bahwa pemberontak memulai tindakannya dari daerah Karawang, seperti yang terjadi pada tahun 1816, karena mereka telah menyeberangi Kali Cimanuk. Belanda memang masih diliputi perasaan teka-teki untuk menebak, siapa sebenarnya pemimpin pemberontakan tersebut. Servatius – Residen Cirebon – menyatakan dalam laporannya tanggal 23 dan 24 Januari 1818, menyebut nama Bagus Kundor. Residen menduga sebagai anak dari Bagus Rangin yang pada tahun 1816 pernah memimpin pemberontakan di Cirebon.
Mengenai sebab-sebab terjadinya pemberontakan, Residen pun masih belum bisa memberikan jawaban pasti. Ia hanya menjelaskan, para pemberontak seringkali mempengaruhi para kepala desa agar memihak mereka. Ajakan tersebut nampaknya tidak sia-sia, meski banyak kepala desa yang berusaha “menghindar” dari pengaruh para “perampok”. Namun ada juga di antara mereka yang memperkuat barisan pemberontak. Menjelang akhir Januari, baru didapatkan informasi bahwa dalam pemberontakan tersebut terdapat nama-nama baru sebagai tokoh yang mengangkat senjata.
Setelah menerima berita pertama tentang timbulnya kerusuhan, Servatius segera mengutus Bupati Bengawan Wetan (Brebes – pen), Raden Adipati Nitidingrat ke daerah pusat pemberontakan. “Ia seorang bupatu yang telah beruban, usianya sekitar 70 tahun dan dihormati semua bawahannya,” kutip suratkabar Hindia Belanda Bataviaasche Courant.Karena itu ia dipilih residen sebagai urusan pendamai. Turut dalam misi itu seorang opsiner kehutanan Banyaran bernama Prudant. Nama Prudant saat itu dikenal sebagai orang yang sangat disegani dan sanggup mempertahankan nama baiknya. Konon tempat kediamannya seringkali diserbu pemberontak, namun ia selalu bisa menyelematkan diri.

Bupati Nitidiningrat Terbunuh

Keperkasaan Jabin, Bagus Rangin, Bagus Serit dan Bagus Kundor ternyata membuat pasukan yang dipimpin Bupati Bengawan Wetan, Raden Adipati Nitidiningrat kocar-kacir. Walaupun pasukan mereka atas perintah Residen Cirebon Servatius diperkuat dengan pasukan Bupati Linggajati (Kuningan). Diungkapkan dalam arsip PH van der Kemp, kondisi yang lebih buruk dilaporkan residen 26 Januari 1818 – termaktub dalam beslit pemerintah no.13 tanggal 30 Januari 1818, bahwa Bupati Nitidiningrat terpaksa mundur ke Palimanan. Nasib malang menimpa sang bupati yang sepuh itu. Mereka akhirnya tak sanggup lagi berhadapan dengan pemberontak dan ia terbunuh di sana bersama dua orang mantrinya.
Mayat mereka diangkut ke Desa Cikal dan menunjukkan tanda-tanda penganiayaan yang berat. Enam bulan kemudian “abdi setia” itu diberi penghargaan oleh Komisariat Jenderal. Sedangkan pada kejadian itu, Prudant – opsiner kehutanan Banyaran – dilaporkan melarikan diri ke daerah Leuwimunding. Melihat kondisi seperti itu Residen Cirebon segera mengambil keputusan untuk melakukan tindakan militer. Dengan alasan kaum pemberontak begitu berani melakukan gerakannya. Demikian pula penjara Palimanan dan Banyaran – tempat tinggal Prudant – diacak-acak hingga menimbulkan kerugian harta yang tak sedikit.
Sedangkan Asisten Residen Cirebon, Heyden berusaha menyelamatkan diri ternyata membuat langkah yang sangat berbahaya. Dengan menunggang kuda, ia pergi bersama 60 orang pembantunya tanpa diiringi tentara menyerbu tempat-tempat yang diduga menjadi sarang pemberontak. Namun apa yang terjadi ? Ia mendapat serangan yang berlangsung secara tiba-tiba dan pada 27 Januari 1818 pagi, asisten residen itu terbunuh. Mayatnya ditemukan di sekitar Rajagaluh dan dimakamkan dengan penghormatan militer yang cukup besar.
Dalam laporan Residen Priangan, 27 Januari 1818, dinyatakan bahwa Heyden tertangkap di tangan pemberontak. Heydenreich – nama lengkap sang asisten itu – menyerbu dengan bantuan beberapa kepala desa di sekitar Rajagaluh. Namun ia telah menjadi korban akibat “keikhlasan”nya sendiri dalam memikul beban berat yang sangat berbahaya. Residen juga meminta agar daerah Indramayu diperkuat. Rumah residen di Rajagaluh dan rumah Prudant di Banyaran dilaporkan pula telah musnah dimakan api. Namun opsiner hutan itu selamat. Sangat ajaib, ungkap PH van der Kemp dalam bukunya De Cheribonsche Onlusten van 1818. Naar Oorpronkelijke Stukken.
Sebelumnya pada tanggal 21 Desember 1817 sebuah kapal kecil milik Amerika Serikat bernama Retrievetelah sampai di Semarang dalam perjalanannya dari Batavia. Kaptennya bernama Joseph Gerris, justru tidak turut dalam kapal tersebut. Ia lebih memilih jalan darat. Namun malang, di tengah perjalanan ia dihadang kawanan pemberontak. Kapten itu pun akhirnya jatuh ke tangan kaum pemberontak. Pemberontak tak mengetahui, jika kapten kapal tersebut berkebangsaan Amerika. Bagi mereka siapapun yang berkulit bule dianggap sebagai orang Belanda.
Bataviaasche Courant memberitakan, bahwa kapten kapal bersama beberapa orang kepala kampung telah menjadi korban nafsu membunuh kaum pemberontak. Tanggal 20 Januari ia bertemu dengan pemberontak di jalan raya 15 pal sebelah barat Cirebon. Setelah dianiaya ia dibawa ke Desa Kedondong sebagai markas besar para pemberontak. Di sana ia telah disiapkan untuk dieksekusi. Namun syarat-syarat yang diberikannya telah menimbulkan rasa kasihan para pemberontak, sehingga salah seorang pimpinan pemberontak mengerti dan menjaganya baik-baik hingga 4 Februari 1818.
Ketika terjadi pertempuran, seorang Cina memberikan petunjuk padanya agar ia meloloskan diri. Setelah mengembara selama 36 jam, ia bertemu dengan pasukan Belanda pada 5 Februari 1818. Residen Servatius dalam laporannya 23 dan 24 Januari menyatakan, penjara Palimanan telah diobrak-abrik bersama beberapa jembatan yang ada di sekitarnya. Namun perusakan itu hanya terbatas sampai di situ saja, karena menurut dugaan residen tidak mendapat dukungan rakyat dalam penyerangan mereka di daerah Cirebon. Keadaan itu membuat gerakan mereka terhenti.
Sementara itu Residen Priangan, Van Motman, seperti juga di tahun 1816, setelah mendengar adanya kerusuhan tidak tinggal diam. Ia segera berangkat ke perbatasan untuk melindungi gudang-gudang di daerah Tomo – Karangsambung. Residen bermaksud akan terus ke Cirebon untuk berunding dengan sejawatnya Residen Cirebon Servatius. Namun ia tertahan di Karangsambung, karena pemberontak telah memutuskan segala sarana perhubungan yang ada.

KEKALAHAN PASUKAN HINDIA BELANDA

Atas perintah Kepala Staf Angkatan Perang Hindia Belanda, Van Schelle, ditugaskan seorang perwira muda yang baru dipromosikan sebagai ajudan kepala staf, Letnan Kolonel Taets van Amerongen. Melalui Surat Keputusan (beslit) no.1 tanggal 25 Januari 1818, ia diperintahkan berangkat melalui laut dengan membawa pasukan infantri, kompi pribumi dari Batalyon 19 Infantri dan 30 anggota artileri yang dilengkapi dua meriam.
Mereka berangkat dengan menumpang kapal Helena pada 26 Januari dan dua hari kemudian tiba di Cirebon. Pasukan tersebut dipimpin Letkol Richemont dari Resimen V Batalyon 1 yang berada di Weltevreden. Melalui darat juga dikirim pasukan dari Bogor. Di sana terdapat dua macam pasukan kavaleri (pasukan berkuda). Di antaranya satu pasukan tombak Benggal yang terdiri dari tentara yang telah diberhentikan dan menetap di Jawa.
Kompi ini berangkat atas perintah lisan Gubernur Jenderal yang berangkat lewat Sumedang di bawah pimpinan Halshuher von Harlach. Pasukan tersebut ditugaskan hanya sampai di perbatasan Cirebon sebagai bantuan untuk Residen Cirebon dan Priangan. Gubernur Jenderal memerintahkan pula kepada Laksamana Muda Wolterbeek agar memberangkatkan kapal meriam no.7 ke Cirebon di bawah pimpinan Letnan WH Hunther. Hunther juga membawa pesan kilat untuk Residen Cirebon, bahwa pasukan akan segera datang.
Surat Residen Cirebon kepada Gubernur Jenderal tanggal 30 Januari yang memberitakan pendaratan pasukan dari Batavia juga berisi pemberitahuan yang penting, yakni bahwa serangan umum ditetapkan pada tanggal 2 Februati 1818. Residen yang menunggu surat balasan dari Gubernur Jenderal dengan harap-harap cemas itu, makin dicemaskan lagi dengan munculnya berita pada suratkabar Bataviaasche Courant terbitan 7 Februari 1818. Koran itu memberitakan, bahwa untuk pertama kali tentang pecahnya pemberontakan pada tanggal 23 Januari yang telah diketahui di Bogor.
Pengiriman pasukan ternyata sangat perlu – karena adanya pemberontakan tidak dapat lebih lama lagi dirahasiakan terhadap umum, walaupun dengan “rasa puas” orang mendengar , bahwa hanya sedikit penduduk Cirebon yang ikut ambil bagian dalam pemberontakan yang telah terjadi di bagian barat. Sedangkan daerah-daerah Cirebon lainnya tetap menikmati adanya ketenangan yang tidak terganggu. Pembunuhan terhadap Bupati Nitidingrat, Among Pances, Heydenreich dan pelancong asing, juga diberikan suratkabar tersebut.
Dalam laporan komisariat jenderal kepada pemerintah tinggi pada 5 Februari 1818, dikatakan di bagian barat Cirebon pada hari-hari terakhir bulan Januari secara tak terduga terjadi beberapa gerakan kerusuhan. Untuk menenangkan pihak atasan, dalam surat itu pula dinyatakan rasa optimisme dalam menghadapi pemberontak. Melalui tindakan militer yang segera diambil akan segera memulihkan kembali daerah itu dalam waktu yang singkat.
Letkol Richemont yang memimpin ekspedisi itu mulai melakukan operasinya pada 1 Februari 1818. Ia berangkat dari Cirebon menuju Desa Camblang (Jamblang). Di tempat itu ia dan pasukannya menunggu dengan harapan pada hari berikutnya bisa melancarkan serangan. Namun pada saat itu juga muncul Overste Hoorn dengan menunjukkan putusan panglima untuk mengangkat dia sebagai komandan operasi. Richemont dengan pasrah mematuhi perintah panglima tentara, walaupun ia lebih tua dan diangkat atas dasar surat keputusan dari Gubernur Jenderal sebagai Wali Negara Hindia Belanda. Dengan perasaan tersinggung ia menyerahkan tongkat komandonya. Namun di balik sikapnya yang terpuji itu ia melakukan tindakan desersi. Ia meninggalkan detasemennya dan kembali ke Tangkil, ibukota Cirebon.
Hari itu juga – masih tanggal 1 Februari 1818 – Richemont menulis kepada Gubernur Jenderal yang menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Sudah tentu Gubernur Jenderal merasa “dikerjai” oleh Panglima Perangnya Jenderal Anthing. Tak lama kemudian keluarlah Keputusan Pemerintah No. 8 tanggal 6 Februari 1818 yang memerintahkan kepada panglima tentara untuk mengirim penjelasan tentang alasan-alasan penyerahan komando kepada Letkol Hoorn atas pasukan-pasukan yang berada di Cirebon.
Jenderal Anthing kemudian menjawabnya lewat surat no. 31 tanggal 17 Februari, bahwa Reichmont telah menunjukkan sikap yang tercela pada saat itu. Hoorn juga menerima peringatan keras tentang tingkah lakunya. Namun hal itu dianggap sebagai hukuman yang paling ringan baginya. Sebab hukuman yang berat adalah kegagalan dalam ekspedisinya lantaran kepemimpinan yang kurang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar