Rabu, 07 Maret 2012

Masjid Agung Sang Cipta Rasa



Biasanya adzan dilakukan oleh satu orang. Namun, ini berbeda dengan apa yang terjadi di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Di masjid yang dibangun sekitar tahun 1480 ini, adzan dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus secara bersamaan. Satu hal yang tidak akan kita pernah temui di belahan dunia manapun.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon. Masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon dan dibangun sekitar tahun 1480 M. Wali Songo berperan besar terhadap pembangunan masjid ini. Sunan Gunung Jati yang bertindak sebagai ketua pembangunan masjid ini menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya.
Nama masjid ini sendiri diambil dari kata “sang” yang artinya keagungan, “cipta” yang artinya dibangun, dan “rasa” yang artinya digunakan.

Pembangunan masjid ini melibatkan 500 pekerja dari Demak, Majapahit, dan Cirebon sendiri. Selain itu, yang cukup menarik, didatangkan Raden Sepat (Raden Sepet). Raden Sepat merupakan arsitek Majapahit yang menjadi tahanan perang Demak-Majapahit. Raden Sepat didatangkan dari Demak. Tindakan ini dilakukan oleh Demak sebagai imbalan kepada Cirebon karena telah membantu mengirim pasukan dalam penyerangan ke Majapahit.

Raden Sepat berperan dalam membawa tukang-tukang dari Majapahit. Bahkan, menurut cerita dalam babad dikatakan bahwa serambi utama masjid itu berasal dari kota Majapahit. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter persegi. Tempat imam menghadap barat dengan tingkat kemiringan 30 derajat arah barat laut.

Intinya, masjid ini mempunyai lima ruangan, yaitu satu ruangan utama, tiga serambi, dan satu ruang belakang. Pada ruang utama terdapat sembilan pintu. Sembilan pintu ini melambangkan Wali Songo. Di bagian mihrab terdapat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Di bagian mihrab juga terdapat ubin yang bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu iman, islam, dan ihsan. Di masjid ini juga terdapat tempat wudhu yang airnya tak pernah kering dan sumur zam-zam yang ramai dikunjungi orang kala Ramadan tiba.

Bagian atas masjid disangga oleh empat pilar yang dibuat dari tatal, yaitu pecahan kayu kecil-kecil yang disatukan sehingga kuat untuk menjadi satu tiang utama. tiang tatal (saka tatal) ini dibuat oleh Sunan Kalijaga. Saka tatal melambangkan kesatuan atau kegotong-royongan. Dari beberapa sudut pandang, gaya bangunan masjid sedikit menyerupai gaya bangunan tradisi sebelum Islam.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid III, Gaya bangunan dan beberapa ukiran yang menunjukkan kelanjutan tradisi sebelum Islam salah satunya bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat yang belum masuk Islam atau yang baru saja masuk Islam sehingga mereka senang mengunjungi masjid yang gayanya masih mengingatkan unsur bangunan candi.

Keunikan lain dari masjid ini adalah tidak mempunyai kubah. Tidak adanya kubah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini diawali oleh cerita kumandang adzan pitu (adzan tujuh). Menurut informasi dari buku Babad Cirebon, adzan tujuh atau dikenal dengan sebutan adzan pitu berawal sejak masa awal perkembangan Islam di Cirebon.

Konon di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dahulu ada musibah yang menyebabkan tiga orang muadzin tewas berturut-turut secara misterius. Ketika masjid ini didirikan, memang masyarakatnya sebagian besar belum memeluk agama Islam. Mereka menolak pembangunan masjid ini. Penolakan itu diwujudkan melalui kekuatan sihir yang menyebabkan kematian misterius tiga muadzin masjid ini. Banyak warga yang resah karena masalah ini.

Akhirnya para wali meminta petunjuk Allah atas masalah yang terjadi. Para wali menganggap ada satu kekuatan yang menolak Islam berkembang di daerah Cirebon. Sunan Kalijaga mendapat petunjuk untuk segera mengumandangkan adzan yang diserukan oleh tujuh orang muadzin sebelum sholat. Pada saat akan melaksanakan shalat Subuh, adzan pitu (tujuh) dikumandangkan. Bersamaan dengan itu, dentuman besar terdengar dari kubah masjid. Seketika binasalah kekuatan gaib yang disebarkan oleh makhluk halus bernama Menjangan Wulung. Ternyata selama ini Menjangan Wulung bertengger di atas kubah tersebut. Setelah Menjangan Wulung dapat dikalahkan, pemiliknya masuk Islam.

Menurut cerita, karena ledakan dahsyat tersebut, kubah masjid terlempar ke Banten. Itu sebabnya mengapa hingga saat ini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak mempunyai kubah sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah. Sampai sekarang tradisi adzan pitu masih dilaksanakan. Kalau dahulu adzan pitu itu dikumandangkan ketika shalat Subuh, saat ini adzan pitu dikumandangkan pada saat shalat Jumat, oleh tujuh orang dengan berpakaian serba putih.













Selasa, 06 Maret 2012

Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya

Syarif Hidayatullah atau yang sering disebut dengan Sunan Gunung Jati merupakan salah satu anggota Wali Songo; penyebar agama Islam di Jawa di era Majapahit akhir. Dia adalah seorang raja (pemimpin rakyat), sekaligus wali (pemimpin spiritual, muballigh, da’i) dan sufi.
Dia adalah Putra dari Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma’iliyah Arab Saudi –bukan dari Aceh. Dia juga bukan Fatahillah atau Faletehan seperti yang disebut-sebut dalam sebagian catatan sejarah. Faktanya adalah terdapat makam Fatahillah (Ki Bagus Pasai) di sisi makam Sunan Gunung Jati. Lagipula, Sunan Gunung Jati hidup di era Raden Patah, Sultan Demak pertama. Sedangkan Fatahillah datang dari Aceh pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, sultan Demak ke-3 setelah Dipati Unus. Repotnya, pembuktian oleh masyarakat umum sangatlah sulit akan keberadaan makam dua tokoh yang berbeda tersebut, karena adanya batasan masyarakat umum tidak diijinkan untuk bisa masuk mencapai pintu ke-9, tapi hanya sampai pintu ke-2 saja.
Di sinilah menariknya isi dari buku ini. Buku karya lokal yang membahas orang paling berpengaruh di Cirebon tersebut dibagi dalam 5 bab; “Gunung Jati sebagai pangguron Islam”, “Pertamanan Gunung Sembung”, “Sunan Gunung Jati bukan Fatahillah”, “Komplek pemakaman Gunung Sembung”, dan “Tradisi Ziarah” disertai lampiran “Do’a silsilah Gunung Jati dan Ratib Al-Haddad”.
***
Permulaan abad XV agama Islam sudah berkembang di Jawa, terutama di Gresik, Jawa Timur dengan Maulana Malik Ibrahim -anggota sekaligus sesepuh Wali Songo- yang membuka pesantren bagi siapa saja yang berminat belajar Islam. Para santri datang dari berbagai penjuru, dan hanya sedikit yang datang dari Jawa Barat. Saat itu, Jawa Barat di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang Hindu, termasuk Gunung Jati yang masuk wilayah administratif  Singapura (Celancang), bawahan Pajajaran (Bab I).
Gunung Jati yang terletak di tepi pelabuhan Muara Jati sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari manca negara.  Penguasa negerinya sangat bijaksana, adalah Ki Gede Surawijaya dengan syahbandar bernama Ki Gede Tapa atau Ki Jumajan Jati yang juga santri di Pangguron Islam Syekh Quro’ Krawang. Pedagang banyak yang datang dari Cina, Gujarat (barat India), dan Arab yang berdagang sambil berdakwah Islam. Lambat-laun, terjadi evolusi perubahan agama dari Budha ke Islam.
Sekitar tahun 1420M datanglah serombongan pedagang dari Baghdad yang dipimpin Syekh Idlofi Mahdi. Oleh Ki Surawijaya, Syekh Idlofi diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yang terletak di Gunung Jati. Dia berdakwah, dan ajaran Islam berkembang begitu cepat. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam. Muridnya diantaranya adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Keduanya adalah putra Raja Pajajaran, Raden Pamanarasa (Prabu Siliwangi) dengan Nyi Mas Subanglarang putri Ki Jumajan Jati, Syahbandar Pelabuhan Muara Jati. Karena pengaruhnya yang sangat besar bagi masyarakat sekitar, Syekh Idlofi juga disebut Syekh Dzatul Kahfi (“sesepuh yang mendiami gua”) atau Syekh Nur Jati (“sesepuh yang menyinari atau menyiarkan Gunung Jati”).
Setelah dianggap mumpuni, Walangsungsang bersama adik dan istrinya diperintahkan oleh Syekh Idlofi agar membuka hutan untuk dijadikan pedukuhan yang lokasinya di selatan Gunung Jati (Bab II). Setelah selesai babat alas, pedukuhan itu disebut Tegal Alang-Alang dan Walangsungsang diangkat sebagai Kepala Dukuh dengan gelar Ki Kuwu dan dijuluki Pangeran Cakrabuana.
Pedukuhan itu berkembang pesat. Banyak pedagang membuka pasar dan kemudian menetap di pedukuhan itu. Karena multi ras, maka nama Tegal Alang-Alang lambat-laun luntur menjadi Caruban (pertautan). Di samping itu, nama ini disebabkan karena sebagian besar warganya bekerja sebagai pencari ikan dan mmebuat petis dari air udang yang dalam bahasa Sunda disebut “Cai Rebon”, maka lama-lama menjadi Cirebon.
Atas perintah Syekh Idlofi, Cakrabuana dan Rarasantang pergi ibadah haji, sementara istrinya yang lagi mengandung tetap di Caruban. Pedukuhan kemudian diserahkan ke Ki Pengalang-Alang (Ki danusela). Di Mekkah, keduanya bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanillah. Rarasantang kemudian disunting oleh seorang pembesar Kota Isma’iliyah bernama Syarif Abdillah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Rarasantang kemudian berganti nama Syarifah Muda’im. Dari perkawinan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.


Sekitar tahun 1456 M, Cakrabuana pulang kampung. Pedukuhan Caruban yang berkembang pesat kemudian diganti namanya menjadi Nagari Caruban Larang. Negeri ini diresmikan oleh Prabu Siliwangi -meskipun secara prinsip Raja Pajajaran ini kurang berkenan atas tindakan anaknya tersebut- dan Cakrabuana diberinya gelar “Sri Manggana“.  Cakrabuana lalu membangun Istana Pakungwati, sesuai nama puterinya yang lahir ketika dia masih di Mekkah.
Untuk kunjungan tetapnya ke Syekh Idlofi, Cakrabuana membangun tempat peristirahatan yang disebut pertamanan Gunung Sembung. Lokasinya berada di sebelah barat Gunung Jati, jaraknya sekitar 200m. Pada akhirnya pertamanan ini menjadi pemakaman pendirinya berikut keturunannya.
***
Syarifah Muda’im dan Syarif Hidayatullah -yang saat itu berusia 20 tahun- mudik ke Cirebon, sementara Syarif  Nurullah sang adik, menggantikan posisi ayahnya sebagai pembesar Kota Isma’iliyah (Bab III). Sekitar tahun 1475 M mereka tiba di Caruban.  Oleh Cakrabuana, keduanya diperkenankan menetap di pertamanan Gunung Sembung, sekaligus sebagai penerus Pangguron Gunung Jati yang saat itu Syekh Idlofi sudah wafat.Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Tahun 1479M, Cakrabuana yang sudah berusia lanjut digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya, Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan atau Sunan.
Di awal pemerintahannya, Syarif Hidayatullah sowan ke kakeknya, Prabu Siliwangi sekaligus mengajak untuk memeluk agama Islam. Namun, Sang Prabu menolak, tapi tetap mengijinkan cucunya untuk menyebarkan Islam di wilayah Pajajaran.  Dia kemudian mengembara ke Banten. Di sana, dia disambut dengan baik, bahkan dinikahkan dengan putri Adipati Banten, Nyi Ratu Kawungaten. Dari pernikahan ini lahirlah Nyi Ratu Winaon dan Pangerang Sabakingking.
Peran dakwah Syarif Hidayatullah didengar sampai di Kerajaan Demak yang baru berdiri 1478M. Dia kemudian diundang ke Demak dan ditetapkan sebagai “Penetap Panata Gama Rasul” di tanah Pasundan dengan gelar Sunan Gunung Jati, sekaligus berdirilah Kesultanan Pakungwati dengan gelar Sultan. Karena merasa mendapatkan dukungan dari Demak, Cirebon tidak lagi mau membayar upeti -sebagai bukti ketundukan- pada Pajajaran. Marahlah Prabu Siliwangi. Dikirimlah 60 pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Jagabaya untuk menangkap cucunya. Tapi usaha ini sia-sia. Pasukan Pajajaran itu berhasil dilumpuhkan oleh Cirebon. Mereka menyerah bahkan bergabung dengan Cirebon. Wilayah Cirebon semakin luas. Negeri-negeri yang sebelumnya di bawah Pajajaran seperti Surantaka, Japura, Wanagiri, Galuh, Talaga dan Singapura melebur bergabung dalam kedaulatan Cirebon.
Pembauran multi ras terjadi di Cirebon. Kakak Ki Gede Tapa (Ki Jumajan Jati) -kakek Sunan Gunung Jati, Nyi Rara Rudra menikah dengan saudagar Tiongkok/Cina, Ma Huang yang kemudian bergelar Ki Dampu Awang. Oleh Kaisar Tiongkok, Sunan Gunung Jati dijadikan menantu dinikahkan dengan Ong Tien (1481M), yang kemudian ganti menjadi Nyi Ratu Rara Sumanding. Pernikahan ini dilakukan setahun setelah Mesjid Agung Sang Ciptarasa dibangun (1480M).
***
Malaka diduduki Portugis pada tahun 1511M. Kerajaan Demak mengirim pasukan yang dipimpin Dipati Unus (Pangeran Sabrang Lor) dengan dibantu oleh negeri-negeri sahabat. Cirebon bertugas mempertahankan Sunda Kelapa (Jayakarta). Pasukan Demak bisa dipukul mundur. Mereka balik ke Jawa. Di antara rombongan tersebut, terseliplah Kyai Fathullah atau Fatahillah atau Feletehan, ulama dari Aceh. Pasca Dipati Unus gugur 1521M, Demak dipegang oleh Sultan Trenggono. Fatahillah diangkat sebagai panglima pasukan Demak untuk mempertahankan Sunda Kelapa.
Dengan dibantu pasukan Cirebon, Fatahillah mampu memukul mundur Pajajaran yang berkolaborasi dengan Portugis. Mereka bisa diusir dari Sunda Kelapa di tahun 1522M. Banten di bawah kendali Pangeran Sabakingking, putra Sunan Gunung Jati juga memberikan dukungan yang hebat. Karena keberhasilan Fatahillah dalam memimpin Sunda Kelapa, maka ia juga disebut Kyai Bagus Pasai. Hanya beberapa bulan saja, Fatahillah kemudian kembali ke Cirebon -alasan utamanya adalah ditunjuk oleh Sunan Gunung Jati dalam rangka memperluas wilayah Isllam ke negeri-negeri sekitar Cirebon (seperti: talaga, Rajagaluh). Padat saat yang bersamaan, Sunan Gunung Jati menikah lagi dengan Nyi Ageng Tepasari putri Ki Ageng Tepasan, seorang mantan pembesar Majapahit. Hal ini karena Nyi Pakungwati meninggal -tidak punya anak- dan Nyi Ong Tien juga tidak dikaruniai anak. Dari perkawinan ini lahirlah Ratu Wulung Ayu dan Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean) yang kelak akan menggantikannya.
Selesai penaklukan negeri sekitar, Fatahillah menikah dengan putri Sunan Gunung Jati, Ratu Wulung Ayu. Bupati Jayakarta diserahkan ke Ki Bagus Angke. Pangeran Pasarean naik menggantikan Sunan Gunung Jati menjadi Sultan ke-2 Cirebon dengan penasehat politiknya, Fatahillah. Pangeran Sabakingking dinobatkan sebagai Sultan Banten pertama dengan gelar Sultan Maulana Hasanuddin.  Tahun 1552M, Pasarean meninggal mendahului ayahnya. Karena anak-anaknya masih kecil, Sunan Gunung Jati kemudian mengangkat anak angkatnya, Aria Kamuning sebagai Sultan ke-3 Cirebon dengan gelar Dipati Cirebon I. Menikah dengan Nyi Ratu Wanawati putri Fatahillah, Aria Kamuning dikaruniai empat putra, yaitu: Nyi Ratu Ayu, Pangeran Mas, Pangeran Manis dan Pangeran Wirasaba.
Tahun 1568M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun.  Dua tahun kemudian Fatahillah menyusul. Keduanya dimakamkam secara berdampingan dan tidak diperantarai apapun. Ini menjadi bukti bahwa kedua tokoh tersebut memanglah beda.
Pada masa pemerintahan Sultan ke-VI Pangeran Karim (Panembahan Girilaya), Mataram yang sudah pro-VOC (Sunan Amangkurat I) mengundang menantunya itu untuk datang ke Mataram. Bersama istri dan kedua anaknya -kecuali Pangeran Wangsakerta- hadir ke Mataram. Karena kecurigaan Mataram, keempatnya ditahan untuk tidak kembali ke Cirebon. Panembahan Girilaya meninggal dan dimakamkan di Bukit Wonogiri (1667M), sedang kedua putranya pulang ke Cirebon. Atas kebijakan Sultan Banten, An-Nasr Abdul Kohar, agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka dipecahlah Cirebon menjadi tiga bagian; Kasepuhan dipegang Pangeran Martawijaya yang kemudian bergelar Sultan Raja Syamsudin, Kanoman dipegang Pangeran Kertawijaya bergelar Sultan Moh. Badridin, dan Pangeran Wangsakerta diberi bagian Kacirebonan dengan gelar Panembahan Tohpati. Peristiwa ini terjadi di tahun 1667M. Sesuai kesepakatan, hanya Kasepuhan dan Kanoman yang memakai gelar Sultan.

Hal-hal unik tentang pemakaman Gunung Sembung ini adalah; Pertama, pemakaman tersebut dibagi dalam 9 pintu untuk menuju makam Sunan Gunung Jati di bagian tertinggi. Masyarakat awam dengan alasan keamanan hanya diperbolehkan ziarah sampai di depan pintu ke-3. Kedua, untuk penziarah Tionghoa, disediakan ruangan khusus bagian barat serambi muka.
Ketiga, tiga kali seminggu makam-makam tersebut dibersihkan dan diperbarui bung-bunganya oleh para juru kuncen. Secara rutin pintu Selamatangkep (pintu ke-2) yang membuka pemandangan ke cungkup makam Sunan Gunung Jati dibuka setiap Jum’at. Dan juga dibuka setiap pergantian petugas pada sore hari setiap setengah bulan. Pada saat terbukanya pintu inilah yang biasanya dimanfaatkan oleh pengunjung umum untuk bisa melihat makam Sunan Gunung Jati.
Keempat, juru kuncen makam berjumlah 108 orang yang berprofesi secara turun-temurun. Mereka berasal dari Keling (Kalingga) -kira-kira Kediri, Jawa Timur saat ini.
 
Berikut denah komplek pemakaman Gunung Sembung:

1. Sunan Gunung Jati, 2. Fatahillah, 3. Syarifah Muda’im, 4.Nyi Gedeng Sembung (Nyi Qurausyin), 5. Nyi Mas Tepasari, 6. Pangeran Cakrabuana, 7. Nyi Ong Tien, 8.  Dipati Cirebon I, 9. Pangeran Jakalelana, 10. Pangeran Pasarean, 11. Ratu MAs Nyawa, 12. Pangeran Sedang Lemper, 13. Komplek Sultan Panembahan Ratu, 14. Adipati Keling, 15. Komplek Pangeran Sindang Garuda, 16. Sultan Raja Syamsudin (Sultan Sepuh I), 17. Ki Gede Bungko, 18. Komplek Adipati Anom Carbon (Pangeran Mas), 19. Komplek Sultan Moh. Badridin, 20. Komplek Sultan Jamaludin, 21. Komplek Nyi Mas Rarakerta, 22. Komplek Sultan Moh. Komarudin, 23. Komplek Panembahan Anom Ratu Sesangkan, 24. Adipati Awangga (Aria Kamuning), 25. Komplek Sultan Mandurareja, 26. Komplek Sultan Moh. Tajul Arifin, 27. Komplek Sultan Nurbuwat, 28. Komplek Sultan Sena Moh. Jamiudin, 29. Komplek Sultan Saifudin Matangaji PINTU SEMBILAN:
I. Pintu Gapura, II. Pintu Krapyak, III. Pintu Pasujudan, IV. Pintu Pasujudan, IV. Pintu Ratnakomala, V. Pintu Jinem, VI. Pintu Raraoga, VII. Pintu Kaca, VIII. Pintu Bacem, IX. Pintu Teratai
LAIN-LAIN:
A. Masjid Sunan Gunung Jati (sebelah timur No. 26),
B. Karas/Lunjuk (tempat istirahat keluarga Kraton setelah naik makam Sunan Gunung Jati),
C. Pintu Mergu (tempat ziarah orang-orang Tionghoa, D. Komplek Sultan Raja Sulaiman,
E. tempat Juru Kuncen menerima tamu-tamu umum, F. Pelayonan: tempat jenasah keluarga Kraton disholati,
G. Balemangu Pajajaran:  hadiah dari Prabu Siliwangi, H. Pintu masuk para peziarah
I. Paseban Soko: tempat permusyawaratan, J. Gedung Jimat: tempat penyimpanan guci-guci Tiongkok
K. Balemangu Trusmi, L. Balemangu Pos Penjagaan, M. Gapura Timur: pintu masuk pertama peziarah umum,
N. Balemangu Majapahit: hadiah Demak, O. Paseban Besar : pendopo tempat penerimaan tamu-tamu kehormatan
***
Beberapa hal yang menjadi catatan (baca: kritikan) saya tentang sejarah yang dicatat dalam buku ini adalah: Pertama, adanya pengeramatan makam Sunan Gunung Jati secara berlebihan. Kalau bukan keluarga kraton atau keturunan kasultanan Cirebon, tidak boleh masuk sampai ke makam. Levelisasi/kastanisasi pengunjung terlihat jelas dengan dibuatnya 2 pintu masuk yang berbeda. Jika untuk pengunjung umum, maka melalui pintu “Gapura Timur” (pintu umum/pintu timur), yakni pintu ke-2 dari 9 pintu yang ada. Sedangkan bagi pengunjung/tamu kehormatan boleh melewati “Paseban Besar” (pintu tengah).
Apakah karena Sunan Gunung Jati itu seorang wali sekaligus raja sehingga akses peziarah sangat dibatasi? Tentu tidak, karena Sunan Giri yang seorang pemimpin pemerintahan pun akses ziarah langsung ke makam tidak sesulit seperti di Cirebon. Pihak pengelola makam (kebijakan kraton) beralasan, agar barang-barang di dalam makam tidak hilang, sehingga pengunjung umum cukup sampai di pintu-2 saja.
Kedua, banyaknya pengemis di sekitar lokasi makam dengan tingkah laku yang sangat tidak sopan, bahkan sedikit memaksa para pendatang (penziarah) untuk memberikan sedekah.
Ketiga, komersialisasi yang terlalu berlebihan. Juru kuncen (penunggu makam) seperti “terlalu berharap” (mengarahkan) agar para tamu sebelum melakukan ziarah untuk memberi sedekah seikhlasnya. Begitupun tukang parkirnya.
Ketiga catatan di atas, belum pernah saya temukan jika berziarah ke makam-makam Wali Songo yang lain. Kalaupun ada pengemis, masih sangat sopan dan tidak memaksa. Tidak seribet di Cirebon ini!

Senin, 05 Maret 2012

Suluk ini dihadiahkan untuk mengenang perjalanan Pangeran Walangsungsang putera Prabu Siliwangi yang kemudian bergelar Mbah Kuwu Cirebon Girang

1
Segala tuju asalnya dari Impian
Begitupula ku impikan Jeng Muhammad
Mengajarkan agama Islam
Dan sungguh aku terbuai dalam impian
Ketika terbangun Islam hanyalah berupa mutiara didasar laut
Maka aku pun terhanyut dalam lamunan kerinduan 2
Tak pernah selain Muhammad,
Nurnya cahaya semesta
Ku kira Betara
Atau ini hanya fata-morgana.
Gusti yang widi
Penguasa Muhammad yang diridhoi
Kalaulah Islam hakiki
Jadikanlah aku abdi.
Kemana harus kucari kebenaran sejati?

3
Akupun tanggalkan pakaian kebesaran,
Hingga telanjanglah aku dari segala kemewahan
Tapi sungguh itu belumlah cukup untuk menemukan
Karena aku harus mencari lautan yang menyimpan kekayaan
Dimanakah letak lautan hakiki?
akupun berjalan mencari guru sejati
Yang menunjukan lautan dan mengajar menyelami diri
4
Bayang-banyang cadar kemolekan
Membawa diri tertuju jalan kerinduan
Rindu adalah asal dari cinta
Maka inilah asmara
Kepergian moga laksana isra
Dari satu sungai menuju samudra
Atau dari pulau ke benua
Tekad adalah baja
Bila hanya diam membisu
Lalu hidup tak ada tuju
Maka semua kan berlalu
beku tetap sembilu
Biar ku tinggalkan istana…
5
Sampailah aku di gunung maarapi
Tempat Resi Danuarsih
Berujarlah sang Resi:
“Anakku,
Islam itu ada tapi tiada
Ada karena mimpimu adalah dari-Nya
Tiada karena kau harus menemukan adanya”
“Anakku,
Diamlah di gunung maarapi
Dan makanlah buah-buahan untuk menguatkan
Dan ku serahkan padamu ladang untuk bercocok tanam
Cangkul, tanami dan pergauli dengan sempurna”
6
Di gunung Marapi terhenti kaki
Memusatkan ruh indrawi pada satu Dzati
Terdiam membisu dalam hening malam
Menyatu pikiran dalam bayangan wajah Tuhan
Kemewahan dunia akan Morgana
bila kita melihat Djalal-Nya
Hanya satu Dzat yang hakiki
saat cinta-Nya menyapa diri
Naps ini moga bukan api
Pabila api ambilah hanya pelita
pelita akan tetap membara
Inilah yang dimaksud Mutmainah
Gunung Marapi
Menjadi paku bumi
Dan aku terpaku
Di dalam samadi
Diamnya naps adalah Ibadah
Semoga dapat Iradah
7
Aku berujar kepada Sang Resi:
Bapak Resi, kini telah bertambah kekuatanku
Telah kau berikan pusaka sebagai pendamping di perjalanan
Maka hamba mohon diri untuk mencari
8
Sampailah aku di gunung (se)jati
Sumber dari kayu Jati
Lalu ku daki inci demi inci
Terjatuh, terbangun, terjatuh, terbangun
karena tekad sampailah dipuncak gunung
Lalu terlihat sebuah gua dipuncaknya
Dan ku dapatkan seberkas cahaya disana
9
Berkatalah cahaya:
“Aku adalah Nur Jati
Aku adalah guru sejati,
Siapa yang mengenal aku maka lapang jalannya
Engkau telah datang ketempat yang benar
Marilah akan ku tunjukan jalan menuju Islam
Untuk dapat menjadi Islam
Harus mengetahui siapa Tuhan dan siapa Muhammad
La Illaha Illallah, Muhammadur Rasullullah
Pertama mengenai Tuhanmu Allah yang menciptakan jagat raya serta isinya
Kedua mengenai Muhammad sebagai utusan yang menjadi panutan
Dan keduanya telah setunggal dalam rasa
Nur Muhammad hakekatnya adalah cahaya semesta;
Karena mulanya semesta itu gelap, lalu diciptalah cahaya
Begitupula Nabi Muhammad, ia adalah cahayanya semesta
Karena kedatangannya jaman kegelapan berganti benderang
Dirimupun demikian,
kalau kau sudah dapat menemukan Muhammad dalam dirimu,
maka akan nampaklah Nurbuatmu
dan engkau akan menjadi Insan Kamil,
sempurna karena engkau telah menemukan Muhammad,
Siapa yang mengenal Muhammad maka mengenal Tuhannya.
Kamu dan Tuhan telah setunggal dalam rasa.
Mengenai mutiara yang kau cari,
Hendaklah kau selami kedalam lautan hati.

Kasampurnan Ala Serat Pangracutan

Serat Kekiyasanning Pangracutan adalah salah satu buah karya sastra Sultan Agung Raja Mataram antara (1613-1645). Serat Kekiyasaning Pangracutan ini juga menjadi sumber penulisan Serat Wirid Hidayat Jati yang dikarang oleh R.Ng Ronggowarsito karena ada beberapa bab yang terdapat pada Serat kekiyasanning Pangrautan terdapat pula pada Serat Wirid Hidayat Jati. Pada manuskrip huruf Jawa Serat kekiyasanning Pangracutan tersebut telah ditulis kembali pada tahun shaka 1857 / 1935 masehi.

ILMU KESAMPURNAAN

Ini adalah keterangan Serat tentang Pangracutan yang telah disusun Baginda Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma Panatagama di Mataram atas perkenan beliau membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasia, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dengan para ahli ilmu kasampurnaan.


Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Panatagama adalah:
1. Panembahan Purbaya
2. Panembahan Juminah
3. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya
4. Panembahan Juru Kithing
5. Pangeran Kadilangu
6. Pangeran Kudus
7. Pangeran Tembayat
8. Pangeran Kajuran
9. Pangeran Wangga
10. Kyai Pengulu Ahmad Kategan

1. Berbagai Kejadian Pada Jenazah
Adapun yang menjadi pembicaraan, beliau menanyakan apa yang telah terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian pada jenazahnya.

1) Ada yang langsung membusuk
2) Ada pula yang jenazahnya utuh
3) Ada yang tidak berbentuk lagi, hilang bentuk jenazah
4) Ada pula yang meleleh menjadi cair
5) Ada yang menjadi mustika (permata)
6) Istimewanya ada yang menjadi hantu
7) Bahkan ada yang menjelma menjadi hewan

Masih banyak pula kejadiannya. Lalu bagaimana hal itu dapat terjadi dan apa yang menjadi penyebabnya? Adapun menurut para pakar setelah mereka bersepakat disimpulkan suatu pendapat sebagai berikut : Sepakat dengan pendapat Sultan Agung bahwa manusia itu setelah meninggal keadaan jenazahnya berbeda-beda itu adalah merupakan suatu tanda karena ada kelainan atau salah kejadian (ketidak-wajaran). Pada waktu masih hidup berbuat dosa, setelah menjadi mayat pun akan mengalami sesuatu masuk ke dalam alam penasaran. Karena pada waktu pada saat memasuki proses sakaratul maut, hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat memusatkan pikiran untuk menghadapi maut. Maka ada berbagai bab dalam mempelajari ilmu ma’rifat, seperti berikut ini:

1. Pada waktu masih hidupnya, siapapun yang senang tenggelam dalam hal kekayaan dan kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya jenazahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat. Sukmanya melayang gentayangan dan dapat diumpamakan bagaikan rama-rama tanpa mata sebaliknya. Namun bila pada saat hidupnya gemar mensucikan diri lahir maupun batin, hal tersebut tidak akan terjadi.

2. Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat pusaka (gemar mengkoleksi pusaka) tanpa mengenal batas waktunya, bila tiba saat kematiannya maka mayatnya akan teronggok menjadi batu dan membuat tanah perkuburannya itu menjadi sanggar. Adapun rohnya akan menjadi danyang semoro bumi. Walaupun begitu, bila semasa hidupnya mempunyai sifat nrima atau sabar artinya makan tidur tidak bermewah-mewah cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir batin kemungkinan tidaklah mengalami kejadian seperti di atas.

3. Pada masa hidupnya seseorang yang menjalani lampah (lelaku) tidak tidur tanpa ada batas waktu tertentu (begadang), pada umumnya disaat kematiannya kelak maka jenazahnya akan keluar dari liang lahatnya karena terkena pengaruh dari berbagai hantu yang menakutkan. Adapun sukmanya menitis pada hewan. Namun bila pada masa hidupnya disertai sifat rela, bila meninggal tidak akan keliru jalannya.

4. Siapapun yang tidak bisa mencegah nafsu syahwat atau hubungan seks tanpa mengenal waktu, pada saat kematiannya kelak jenazahnya akan lenyap melayang masuk ke dalam alamnya jin, setan, dan roh halus lainnya. Sukmanya sering menjelma menjadi semacam benalu atau menempel pada orang seperti menjadi gondoruwo dan sebagainya yang masih senang mengganggu wanita. walaupun begitu bila mada masa hidupnya disertakan sifat jujur tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semuanya itu tidak akan terjadi.

5. Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal dapat menahan hawa nafsu berani dalam lampah (lelaku) dan menjalani mati dalamnya hidup (sering bertafakur/semedi), misalnya mengharapkan janganlah sampai berbudi rendah, dengan tutur kata sopan, sabar dan sederhana, semuanya tidak belebihan dan haruslah tahu tempat situasi dan kondisinya, yang demikian itu pada umumnya bila tiba akhir hayatnya maka keadaan jenazahnya akan mendapatkan kemuliaan sempurna dalam keadaannya yang hakiki. Kembali menyatu dengan zat yang Maha Agung, yang dapat menghukum dapat menciptakan apa saja ada bila menghendaki datang menurut kemauannya. Apalagi bila disertakan sifat welas asih, akan abadilah menyatunya Kawulo Gusti. Oleh karenanya bagi orang yang ingin mempelajari ilmu ma’arifat haruslah dapat menjalani: Iman, Tauhid dan Ma’rifat.

2. Berbagai Jenis Kematian

Ketika itu Baginda Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma merasa senang atas segala pembicaraan dan pendapat yang telah disampaikan tadi. Kemudian beliau melanjutkan pembicaraan lagi tentang berbagai jenis kematian yakni

- Mati Kisas
- Mati kias
- Mati sahid
- Mati salih
- Mati tewas
- Mati apes

- Mati Kisas, adalah jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari perbuatan
orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan
pengadilan atas wewenang raja atau pemerintah.
- Mati Kias, adalah jenis kematian yang diakibatkan suatu perbuatan misalnya:
nafas atau mati melahirkan.
- Mati Syahid, adalah suatu jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak,
dirampok, disamun.
- Mati Salih, adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri karena
mendapat aib atau sangat bersedih.
- Mati Tiwas, adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, disambar petir, tertimpa
pohon, jatuh memanjat pohon, dan sebagainya.
- Mati Apes, adalah suatu kematian karena ambah-ambahan, epidemi karena santet atau
tenung dari orang lain. Yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai pada
kematian yang sempurna atau kesedan jati bahkan dekat sekali pada
alam penasaran.

Bertanya Sultan Agung: “Sebab-sebab kematian yang mengakibatkan kejadiannya itu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seorang pakar ilmu mistik, mengapa tidak dapat mencabut seketika itu juga?”

Dijawab oleh yang menghadap : “Yang begitu itu mungkin disebabkan karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya, mungkin akan kacau dalam melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga.

Setelah mendengar jawaban itu Sultan Agung merasa masih kurang puas dan bertanya, sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.

Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar, karena sebenarnya semua itu masih belum tentu, hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut jasad seketika, tidak ada yang dapat menyamainya."

3. Wedaran Angracut Jasad

Adapun Pangracutan Jasad yang dipergunakan Kangjeng Susuhunan Kalijogo, penjelasannya telah diwasiatkan pada anak cucu seperti ini caranya:
“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata, tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, di dunia aku hidup, sampai di alam nyata (akherat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, jadi apa yang kuciptakan, yang kuinginkan ada, dan datang yang kukehendaki”.

4. Wedaran Menghancurkan Jasad

Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut : “Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjizat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para Wali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khas, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta adalah
- Menahan Hawa Nafsu, selama seribu hari siang dan malamnya sekalian.
- Menahan syahwat (seks), selama seratus hari siang dan malam
- Tidak berbicara, artinya membisu, dalam empat puluh hari siang dan malam
- Puasa padam api (patigeni), tujuh hari tujuh malam
- Jaga, (tidak tidur) lamanya tiga hari tiga malam
- Mati raga, tidak bergerak lamanya sehari semalam.

Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam caranya :

1. Manahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari lalu teruskan dengan
2. Menahan syahwat, bila telah mencapai 60 hari, lalu dirangkap juga dengan
3. Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari, lalu lanjutkan dengan
4. Puasa pati selama 7 hari tujuh malam, lalu dilanjutkan dengan
5. Jaga, selama tiga hari tiga malam, lanjutkan dengan
6. Pati raga selama sehari semalam.

Adapun caranya Pati Raga tangan bersidakep kaki membujur dan menutup sembilan lobang tubuh (babagan howo songo), tidak bergerak-gerak, menahan tidak berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam tersebut. Yang bergerak tinggallah kedipnya mata, tarikan nafas, anapas, tanapas, nupus, artinya tinggal keluar masuknya nafas, yang tenang jangan sampai bersengal-sengal campur baur.

Perlunya Pati Raga

Baginda Sultan Agung bertanya : “Apakah manfaatnya Pati Raga itu ?”
Kyai Penghulu Ahmad Kategan menjawab : “Adapun perlunya pati raga itu, sebagai sarana melatih kenyataan, supaya dapat mengetahui pisah dan kumpulnya Kawula Gusti, bagi para pakar ilmu kebatinan pada jaman kuno dulu dinamakan Meraga Sukma, artinya berbadan sukma, oleh karenanya dapat mendakatkan yang jauh, apa yang dicipta jadi, mengadakan apapun yang dikehendaki, mendatangkan sekehendaknya, semuanya itu dapat dijadikan suatu sarana pada awal akhir. Bila dipergunakan ketika masih hidup di Dunia ada manfaatnya, begitu juga dipergunakan kelak bila telah sampai pada sakaratul maut."

Belajar dari Sastra Jendra Hayuningrat

Bagi orang yang belajar kawruh Kejawen, tentu sudah tidak asing lagi dengan kata-kata Sastra Jendra Hayuningrat. Meskipun banyak yang sudah mendengar kata-kata tersebut, tetapi jarang ada yang mengetahui apa makna sebenarnya. Menurut Ronggo Warsito, sastra jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup. Apabila semua orang di dunia ini melakukannya, maka bumi akan sejahtera.


Nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra cetha yang berarti sastra tanpa papan dan tanpa tulis. Walaupun tanpa papan dan tulis, tetapi maknanya sangat terang dan bisa digunakan sebagai serat paugeraning gesang.


Ada 7 macam tahapan bertapa yang harus dilalui untuk mencapai hal itu.

1. Tapa Jasad: Tapa jasad adalah mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik. Lakunya tidak dendam dan sakit hati. Semua yang terjadi pada diri kita diterima dengan legowo dan tabah.

2. Tapa Budhi: Tapa Budhi memiliki arti menghilangkan segala perbuatan diri yang hina, seperti halnya tidak jujur kepada orang lain.

3. Tapa Hawa Nafsu: Tapa Hawa Nafsu adalah mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka yang muncul dari diri pribadi kita. Lakunya adalah senantiasa sabar dan berusaha mensucikan diri,mudah memberi maaf dan taat pada GUSTI ALLAH kang moho suci.

4. Tapa Cipta: Tapa Cipta berarti Cipta/otak kita diam dan memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh atau dalam bahasa Jawanya ngesti surasaning raos ati. Berusaha untuk menuju heneng-meneng-khusyuk-tumakninah, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan siapapun dan selalu heningatau waspada agar senantiasa mampu memusatkan pikiran pada GUSTI ALLAH semata.

5. Tapa Sukma: Dalam tahapan ini kita terfokus pada ketenangan jiwa. Lakunya adalah ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan dengan senantiasa eling pada fakir miskin dan memberikan sedekah secara ikhlas tanpa pamrih.

6. Tapa Cahya: Ini merupakan tahapan tapa yang lebih dalam lagi. Prinsipnya tapa pada tataran ini adalah senantiasa eling, awas dan waspada sehingga kita akan menjadi orang yang waskitha (tahu apa yang bakal terjadi).

Tentu saja semua ilmu yang kita dapatkan itu bukan dari diri kita pribadi, melainkan dari GUSTI ALLAH. Semua ilmu tersebut merupakan 'titipan', sama dengan nyawa kita yang sewaktu-waktu bisa diambil GUSTI ALLAH sebagai si EMPUNYA dari segalanya. Jadi tidak seharusnya kita merasa sombong dengan ilmu yang sudah dititipkan GUSTI ALLAH kepada kita.

Minggu, 04 Maret 2012

PENGGURON PEGAJAHAN THAREQAT AGAMA ISLAM CIREBON oleh Elang Bagus Chandra Kusumaningrat


  1. A.   Sejarah Pengguron
Misi  Agama Islam Awal mula di tanah Jawa khusunya  bagian barat pada abad Ke 13 tepatnya di daerah Karawang Terdapat Pengguron Agama Islam pertama yang didirikan seorang Syekh yang
bernama Syekh Quro Karawang. Dan Misi Agama Islam di Cirebon oleh Syekh Dzatuk Khafi ( Syekh Nurjati ) bertempat di Gunung Jati . Mereka datang dari tanah Mekkah al mukaromah dan Badgdad bertujuan untuk Berdagang sekaligus menyebarkan Agama Islam yang sebelumnya di tanah jawa dimayoritaskan beragama Hindu dan budha. Adapun di tanah Jawa bagian tengah dan Timur visi dan misi Penyebaran Agama Islam di bawa oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel.
Pengguron atau disebut juga sebagai Perguruan Agama Islam ini dalam berjalannya waktu berkembang menjadi Pengguron Thareqat dan Pesantren. Dan Pesantren  berkembang menjadi madrasah atau universitas islam.

Pengguron-Pengguron Cirebon telah Bershistoriscet/mempunyai Hak sejarah sekitar 600 tahun. Sekitar tahun 1420M datanglah serombongan pedagang dari Baghdad yang dipimpin Syekh Nurjati.  Oleh Ki Gedeng Tapa , Syekh Nurjati diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yang terletak di Gunung Jati. Dia berdakwah, dan ajaran Islam berkembang begitu cepat. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam. Muridnya diantaranya adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Keduanya adalah putra Raja Pajajaran, Raden Pamanarasa (Prabu Siliwangi) dengan Nyi Mas Subanglarang putri Ki Jumajan Jati, Syahbandar Pelabuhan Muara Jati. Karena pengaruhnya yang sangat besar bagi masyarakat sekitar, Syekh Idlofi juga disebut Syekh Dzatul Kahfi (“sesepuh yang mendiami gua”) atau Syekh Nur Jati (“sesepuh yang menyinari atau menyiarkan Gunung Jati”).
Setelah dianggap mumpuni, Raden Walangsungsang bersama adik dan istrinya diperintahkan oleh Syekh Nurjati agar membuka hutan untuk dijadikan pedukuhan yang lokasinya di selatan Gunung Jati Setelah selesai babat alas, pedukuhan itu disebut Tegal Alang-Alang. Raden Walangsungsang sebagai penerus pengguron islam diangkat sebagai Kepala Dukuh dengan gelar Ki Kuwu dan dijuluki Pangeran Cakrabuana dan Atas perintah Syekh Nurjati, Cakrabuana dan Rarasantang pergi ibadah haji, sementara istrinya yang lagi mengandung tetap di Caruban. Pedukuhan kemudian diserahkan ke Ki Pengalang-Alang (Ki danusela). Di Mekkah, keduanya bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanillah. Rarasantang kemudian disunting oleh seorang pembesar Kota Isma’iliyah Mesir bernama Sulton Syarif Abdillah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Rarasantang kemudian berganti nama Syarifah Muda’im. Dari perkawinan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Pengguron di teruskan oleh Raden Walangsungsang di Pengguron pasambangan Gunung sembung dan yang pada saat itu juga menjabat sebagai Ki Kuwu cerbon dan di berikan gelar Haji Abdul imam Pangeran Cakrabuwana. Murid-murid beliau sangatlah banyak di dukung dengan status perekonomiannya sangatlah Pesat. Pedukuhan Caruban yang berkembang pesat kemudian diganti namanya menjadi Nagari Caruban Larang. Negeri ini diresmikan oleh Prabu Siliwangi -meskipun secara prinsip Raja Pajajaran ini kurang berkenan atas tindakan anaknya tersebut dan Pangeran Cakrabuana diberinya gelar “Sri Manggana“. Pangeran Cakrabuana lalu membangun Istana Pakungwati, sesuai nama puterinya yang lahir ketika dia masih di Mekkah. Untuk kunjungan tetapnya ke Syekh Nurjati, Pangeran Cakrabuana Ki Kuwu Cerbon membangun tempat peristirahatan yang disebut pertamanan Gunung Sembung. Lokasinya berada di sebelah barat Gunung Jati, jaraknya sekitar 200m. Pada akhirnya pertamanan ini menjadi pemakaman pendirinya berikut keturunannya. Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Tahun 1479M, Cakrabuana yang sudah berusia lanjut digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yaitu Syaikh Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi Panetep Agama dan Kepala Negara, Syaikh Syarief Hidayatullah Bergelar Susuhunan Jati Cirebon menjadi kepala negara sekaligus menjadi penetap Panata Agama di Cirebon, dan bergelar:" Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panata Agama Awliyai Allah Kutubid Khalifatur Rasulullah SAW, dan pada saat inilah Keraton/kesultanan cirebon mengalami Kemajuan yang sangat pesat dalam Pemerintahan yang berbasiz Agama Islam.dan seterusnya dilanjutkan oleh panembahan.
Pada era panembahan ratu Girilaya II Wafat Kesultanan Cirebon terpecah terbagi 2 yang di teruskan oleh ke dua putranya yaitu Sultan Syamsudin Kesepuhan dan Sultan Badrudin kanoman . Sultan badrudin Kanoman mempunyai Putra  Sulung/Putra mahkota Pangeran Raja Adipati Kaprabon yang kalungguihanya adalah menjadi sultan untuk pengganti ayahandanya di keraton kanoman tetapi Pangeran Raja adipati kaprabon Tidak bersedia diangkat sebagai sultan di kanoman ,beliau lebih tertarik mendalami Agama Islam,Khususnya Thareqat Agama Islam.Beliau ingin Meneruskan wasiat Sunan Gunung Jati dalam penyebaran Agama Islam.
lalu beliau berinisiatif Mendirikan untuk Meneruskan Pengguron yang pada masa sebelumnya Pengguron Berada didalam Keraton dan dengan persetujuan Ayahandanya dan diberilah sebidang tanah di sebelah timur alun-alun keraton kanoman , Maka didirikanlah sebuah bangunan sebagai pusat Perguruan(pengguron) Thareqat Agama Islam . dan untuk seterusnya di sebut dengan kaprabonan( Mengambil nama dari Pangeran Raja Adipati kaprabon).Pengguron Agama Islam berkembang menjadi 2 yaitu Pengguron Thareqat (khusus) dan Pesantren(umum)
Pengguron Thareqat Agama islam Pegajahan Cirebon adalah Sebagai Penerus dari Pengguron Kaprabonan yang pada masa Kanjeng Pangeran Syekh Muhammad Nurullah Akbarudin(P.M. Arifudin Purbaingrat) Pengguron di pindah dan berdomisili  di Pegajahan Cirebon pada tahun 1949M.dan Pengguron Thareqat Agama Islam Pegajahan Cirebon Sekarang di teruskan Oleh Putra dari Kanjeng Pangeran Syekh Muhammad Nurullah Akbarudin (P.M. Arifudin Purbaingrat ) yaitu Kanjeng Pangeran Syekh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin( P.M Nurbuwat Purbaningrat ).

Pengguron tergolong dalam ahlus sunah waljamaah,  beramaliah di atas landasan Al-Qur’ an dan sunah rasul  serta dalam ruang lingkup rukun islam ada lima dan rukun iman ada enam , serta “Imtitsalut” awamir wa ijjtinabuna’awali/ mematuhi  perintah dan  larangan-larangan syareat  rasul, menunju kepada  kebahagian  lahir-batin. Firman tuhan dalam Al-Qur’an adalah:  robbana atina fiddunya khasanah kenikmatan wafil akhirati khasanah  wakhina adzabannar yang artinya ya allah berilah kami kenikmatan hidup di dunia dan akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka. Dan Seyogyanya Pula kita berpegangan Kepada Orang-Orang bijak Terdahulu yakni: Watamassak bil Qur’anil ‘aduim wa sunnah rosulillahi karim tahtandu wa tatsbudu’ala sirotillahil mustakim yang artinya Berpeganglah anda kepada Al-Qur’an yang agung dan Sunnah Rasulullah yang mulia Niscaya akan di tunjukan dan di kokohkanatas jalan yang lurus. Disamping itu ahli Pengguron Pegajahan Cirebon  Khususnya Mengamalkan Thareqat Syatrariyah untuk menuju pembangunan manusia seutuhnya dalam derajat insanul kamil atau manusia sempurna.
Thareqat Menurut Rama Guru kanjeng Pangeran Syekh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin yaitu Suatu Jalan untuk menuju hakekat hidup yang membawa manusia diharapkan menjadi lebih baik optimis dan dinamis dalam mengarungi kehidupan.

Thareqat syatariyah adalah Ilmu Ketauhidan, Thareqat Syatoriyah adalah sebuah nama thareqat sebagai balasanillahi kepada muslim dan muslimat yang membaca surat Al-Fatikhah sebanyak 17 kali sehari semalam. Dalam Shalat 5 waktu. Dalam surat Al-fatikhah terdapat ayat-ayat yang bunyinya demikian: ih dinas sirotol mustaqim, sirotol ladzina an’amta alaihim, ghiril maghdlubi’ alaihim waladholin. Yang berarti Tunjukanlah Kami pada jalan yang lurus jalan yang mereka tuhan beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang tuhan murkai dan yang sesat.  Jalan yang lurus adalah bermakna lurus kepada mardhotillah/surga duniawi ukhrowo ialah yang tercapai oleh nabi, wali dan mukmin serta terhindar dari jalannya mereka yang di murkai sesat.

  1. B.   Riwayat dan silsilah Thareqat Syatoriyah
Riwayat Thareqat Syatariyah adalah kala Nabi muhammad Saw sedang mendirikan sholat lima waktu pada akhir salamnya terdengar ada yang membalas salamnya waalaikum’salam,ternyata yang membalas salamnya adalah seorang pemuda yang tampan sempurna, ini adalah penjelmaan malaikat jibril As yang turun menyerahkan amalan Thareqat Syatoriyah kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Kemudian beliau membaiat thareqat Syatoriyah kepada Ali ra dan Siti fatimah ra.
Rasulullah Nabi Muhammad SAW saat menjawab pertanyaan Ali bin Abi thalib setelah selali Shalatnya:Ali bertanya: Ya nabi tunjukanlah daku thuruq yang sedekat-dekatnya dan semulia-mulianya kepada allah yang semudah-mudahnya di kerjakan oleh hamba.. Nabi menjawab: Ali hendaknya engkau selalu berdzikir dan ingat kepada allah, secara terang-terangan atau dalam hati. Kata Ali: Tiap orangt berdzikir, sedang aku menghendaki dari engkau khusus untukku. Nabi Menjawab: Sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan dan yang telah di ucapkan oleh nabi-nabi sebelumku ialah kliamah la’ilahailallah’ tiada tuhan selain allah, jika di timbang dengan timbangan, pada sebelah imbangan di tumpukan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan pada timbangan yang lain di letakkan kalimah la’ilahailallah, pasti timbangan yang memuat kaliamt tersebut itu lebih berat dari pada yang lain. Kemudiaan Rasulullah Nabi muhammad SAW membaiat Thareqat Syatoriyah kepada Syyauidina Ali Ra dan Siti Fatimah Ra. Sebagaimana thareqat pada umumnya , thareqat ini memiliki sanad atau silsilah para washitah yang bersambung kepada Rasulullah nabi Muhammad SAW,. Atas petunjuk Allah SWT, menujuk Ali bin abi thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl Adz dzikr, tugas dan fungsi kerasullanya. Dan kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai ahl Adz Dzikir kepada putranya, Husein bin Ali ,dan demikian seterusnya hingga sekarang. Thareqat inipun pada abad ke-14 dipopulerkan/dinisabkan oleh Abdullah As-syatar. Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattaryah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af'al diri (wujud jiwa raga).

  • Silsilah Thareqat Syyatariyah Pengguron Pegajahan :
Syyaidina Nabi Muhammad SAW, Syyaidina Ali Karromallahu bin abi thalib, Syyaidina Imam Husein bin Ali RA, Syyaid Imam Muhammad Al-baqir, Sayyid Imam Ja'far ash Shadiq, Syaikh Abu Yazid al bustomi, Syaikh Maghrobi, Syaikh Arobiyi, Syaikh Mudloffar, Syaikh Abu Hanail al-harqoni, Syaikh khad Koniyi, Syaikh Muhammad Asyiq, Syaikh Muhammad Arif, Syaikh Abdullah As Syyatari, Syaikh Imam Qodli Syatari, Syaikh Hidayatullah Syaikh Kutubi Modari Haji, Syaikh Ghaus, Syaikh Qudratul Ulama, Syaikh Sultonul Arifin, Syaikh Ahmad bin Quraisy Asy Syanawi, Syaikh Alimur Robbaniyi, Syaikh Khotib Qubbatul Islam, Syaikh Abdul Wahab, Syaikh Imam Tobri al-makki, Syaikh Abdullah bin Abdul Qohar, Syaikh Haji Muhammad bin Muktasim, Syaikh Imam Qodli Hidayat, Pangeran Syaikh Muhammad Shofiyyudin Kanoman, Pangeran Syaikh Muhammad Nurullah Habibudin Kaprabonan(Pangeran Adikusuma Adiningrat), Pangeran Syaikh Muhammad Nurullah Badridin Kaprabonan(Pangeran M.Apiyyah Adikusuma), Pangeran Syaikh Muhammad Nurullah Akbarudin(Pangeran M.Arifudin Purbaningrat), Pangeran Syaikh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin(Pangeran M.Nurbuwat Purbaningrat)

  • Silsilah Pangeran Syaikh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin(P.M. Nurbuwat Purbaningrat ):
Kanjeng Syyaidina Nabi Muhammad SAW. Siti Fatimah(Istri Syyaidina Ali ra.), Syyaidina Husaein, Syyaid Janeal Abidin, Syyaid Muhammad Bakir, Syyaid Imam Ja'far As Shidiq, Syyaid Kasim Al kamil , Syyaid Idris, Syyaid Al Bakir, Syyaid Akhmad, Syyaid Baidillah, Syyaid Muhammad, Syyaid Alwi, Syyaid Ali Gajam, Syyaid Muhammad, Syyaid Alwi(mesir), Syyaid Abdul Malik(India), Syyaid Al Amiir Abdulah, Syyaid Jalaludin, Syyaid Jamalludin(kamboja) , Syyaid Nurrul Alim(Mesir). Syyaid Syarif Abdullah(Sultan Mesir), Syyaidina Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati(Cirebon), Pangeran M.Tajul Arifin(P.Pasarean), Panambahan Sedang Kemuning, Panembahan Ratu I Cirebon, Panembahan Mande Gayam , Panembahan Ratu II Girilaya, Sultan Raja Muhammad Badridin(Sultan Kanoman I Cirebon), Pangeran Raja Adipati Kaprabon , Pangeran Kusumawaningyun, Pangeran Brataningrat, Pangeran Raja Suleman Sulendraningrat, Pangeran Arifudin Kusumabratawireja, Pangeran AdiKusuma AdiNingrat, Pangeran Mohammad Apiyyah AdiKusuma II, Pangeran Mohammad Arifudin Purbaningrat, Pangeran H.Mohammad Nurbuwat Purbaningrat.

  • Silsilah Rama Guru-Guru Pengguron Pegajahan Cirebon :
Syekh Nurjati, Haji Abdul Imam Mbah  kuwu cerbon Pangeran Cakrabuwana,  Syyaidina Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati(Cirebon), Pangeran M.Tajul Arifin(P.Pasarean), Panambahan Sedang Kemuning, Panembahan Ratu I Cirebon, Panembahan Mande Gayam , Panembahan Ratu II Girilaya, Sultan Raja Muhammad Badridin(Sultan Kanoman I Cirebon), Pangeran Raja Adipati Kaprabon , Pangeran Kusumawaningyun, Pangeran Brataningrat, Pangeran Raja Suleman Sulendraningrat, Pangeran Arifudin Kusumabratawireja, Pangeran AdiKusuma AdiNingrat, Pangeran Mohammad Apiyyah AdiKusuma II, Pangeran Mohammad Arifudin Purbaningrat, Pangeran H.Mohammad Nurbuwat Purbaningrat
  1.  B. Amalan dan Dzikir Thareqat Syyatariayah Agama Islam Pegajahan Cirebon:
Thareqat Syatoriyah amalannya adalah Dzikir kalimah toyibah ialah LA’ILAHAILALLAH ba’da sholat subuh dan isya, setelah dzikir tersebut diatas ditambah dengan dzikir itsbat ILLALLAH, ALLAH, HU dan ditutup dengan mengucapkan HU KHAYUN DA IM. Sebagai Firman Allah SWT: Yaa ayuhaladzina amanudz kurullaha dzikron kastsiron. Wasabihu hu bukrotan wa’asyilan. Ynag artinya: Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut Nama Allah), Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-NYA di waktu pagi dan petang.( QS.Al_ Ahzab: 41-42)
Thareqat Syatariah mengajarkan tentang tata cara pelaksanaan dzikir,didalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan dzikir yang jumlahnya lebih banyak dari pada ayat-ayat yang menjelaskan tentang shalat,zakat dan sebaginya. Hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan dzikir (secara luas) memiliki kedudukan yang cukup penting disbanding ibadah-ibadah yang lainnya. Dzikir dalam thareqat syattariyah dilakukan dengan jahar(Bersuara) dan sirri/khafi (dalam hati)pembacaan dzikir secara bersuara merupakan ibadah yang lazim dikerjkan da cukup diketahui daar-dasarnya oleh kebanyakan umat Islam, dan ini didasarkan pada firman Allah: ‘’ Berdzikirlah kau dengan hatimu secara merendahkan diri dan rasa takut, dzikir itu tidak diucapkan secara lisan (Q.S.Al A’Raf 205) dan didasarkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi sebagai berikut: Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat itu lebih utama dari pada dzikir bersuara, dengan perbandingan satu banding tujuh puluh.

Sumber Kitab Purwaka Caruban Nagari,Babad Cirebon Ps.Sulendraningrat.Al-Quran dan Hadits, serta wawancara Sesepuh Cirebon Rama Guru Syekh Haji Pangeran Mochammad Nurullah makmurudin Pangeran Moch.Nurbuwat Purbaningrat.

Selasa, 28 Februari 2012

BERDIRINYA MATARAM & HUBUNGAN MISTIS DENGAN RATU KIDUL

Kyai Ageng Pemanahan bergelar Kyai Ageng Mataram. Mataram adalah nama daerah yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Sultan Hadiwijoyo, Sultan di Kerajaan Pajang. Karena Kyai Ageng Mataram bersama putranya Hangabehi Loring Pasar (Danang Sutowijoyo) telah dapat mengalahkan Raden Adipati Aryo Penangsang pada tahun 1527 M di Jipang Panolan.
            Kyai Ageng Pemanahan selanjutnya minta ijin kepada Sultan untuk menempati daerah Mataram itu. Sultan Hadiwijoyo mengizinkan dan berpesan,” Seorang gadis dari Kalinyamat itu supaya diasuh dan dijaga baik-baik. Apalagi sudah dewasa hendaklah dibawa masuk ke Istana”.
            Pesan itu disanggupi oleh Kyai Ageng Pemanahan, tetapi ia memohon agar diperkenankan mengajak putra Sultan Hangabehi Loring Pasar untuk pindah ke Mataram. Kyai Ageng Pemanahan sekeluarga berangkatlah menuju tlatah Mataram disertai dua orang menantunya, yakni Raden Dadap Tulis dan Tumenggung Mayang. Ditambah pula Nyi Ageng Nis istri Kyai Ageng Mataram dan penasehatnya Ki Ageng Juru Martani. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pon tanggal 3 Rabiulawal tahun Jimawal. Dalam perjalanan mereka singgah berziarah ke Istana Pengging sehari semalam.
            Kyai Ageng sekeluarga melakukan doa dan sembahyang, memohon petunjuk kepada Tuhan, melakukan semedi dan shalat hajat, doanya ternyata diterima Tuhan, muncul pertanda pepohonan seketika menjadi condong, tetapi pohon serat tinggal tetap tegap. Setelah sembahyang subuh mereka berangkat menuju Mataram dan berhenti di desa Wiyoro. Selanjutnya membangun sebuah desa yakni desa Karangsari setelah singgah sementara waktu Kyai Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani mencari pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo untuk tetenger di sanalah letaknya wilayah Mataram dimaksud.
            Terdapatlah pohon tersebut di sebelah barat daya Wiyoro. Lalu memilih tanah sebelah selatan beringin yang hendak dipakai sebagai halaman dan rumah untuk bertempat tinggal Kyai Ageng Pemanahan beserta keluarga. Mereka bekerja keras, hingga pembangunan rumah beliau selesai dalam waktu singkat. Kemudian rumah baru segera  ditempati Kyai Ageng Pemanahan yang kemudian tersohor namanya dengan gelar Kyai Ageng Mataram. Banyak saudara asing ke Mataram sehingga menambah ramai dan makmurnya Mataram (sekarang dikenal dengan nama Kotagede, pusat kerajinan perak di Yogyakarta).
            Sahdan gadis pingitan Sinuhun Sultan Hadiwijoyo yang berasal dari Kalinyamat kini telah dewasa. Ngabehi Loring  Pasar (Raden Danang Sutowijoyo) pun telah dewasa. Ia mengganggu gadis pingitan tersebut. Hal ini segera diketahui oleh ayahnya Ki Ageng Mataram. Anaknya dipanggil lalu bersabda:
Ki Ageng Mataram; Anakku..mengapa kamu berani mengganggu gadis pingitan, alangkah amarahnya Sinuhun nanti apabila mengetahui.
Raden Sutowijoyo berkata; ”Saya berani melakukan hal itu, karena telah menerima wahyu.
KAM : Bagaimana kamu dapat mengatakan demikian itu ?
R.S : Ya. Demikianlah ketika mendengar daun nyiur jatuh ayah Sultan terkejut, lagi pula ketika hendak minum air kelapa itu terkejut pula.
            Kyai Ageng Mataram menyatakan, kini belum masanya dan mengajak putranya mengharap untuk berjanji tetap setia. Keduanya berangkat, pergi ke kasultanan Pajang. Sinuhun Sultan Hadiwijoyo sedang bercengkerama dihadap para putranya dan keluarganya. Melihat kedatangan Kyai Ageng Mataram diantar putranya. Lalu sesudah berjabat tangan Ngabehi Loring Pasar pun menghadap menghaturkan sembah-bakti. Sinuhun bertanya dengan keheranan mengapa datang menghadap bukan waktunya menghadap. Kyai Ageng Mataram menyatakan bahwa menghadapnya itu karena putranya telah berdosa besar berani melanggar dan mengganggu gadis pingitan dari Kalinyamat.
            Dengan bijaksana Sinuhun Sultan Hadiwijoyo berkata,”Anak tidak berdosa, kalau demikian memang salah saya, tidak memikirkan anak yang telah dewasa. Oleh karena sudah terlanjur kamipun ikut menyetujui. Tetapi anak jangan dimurka, pinta Sinuhun kepada Ki Ageng Mataram.
            Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533. Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya dan bersabda;
            “Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. Ki Jurumartani menyanggupi lalu mohon ijin kembali, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.
            Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya. Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.
            Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.
            Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.
            Demikian sejarah singkat kerajaan Mataram, yang sampai saat ini terbukti masih berdiri kokoh. Lalu dari keturunan manakah raja-raja besar Mataram ? Berikut ini saya paparkan silsilah  leluhur kerajaan Mataram:
1.    Sinuhun Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit terakhir berputera Raden Bondan Kejawan yang   bergelar Kyai Ageng Tarub ke III.
2.    Kyai Ageng Tarub III mempunyai putra yakni Kyai Ageng Getas Pandowo.
3.    Kyai Ageng Getas Pandowo berputera Ki Ageng  Selo.
4.    Kyai Ageng Selo berputera Ki Ageng Nis.
5.    Ki Ageng Nis berputera Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram).
6.    Ki Ageng Pemanahan berputera Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo.
7.    Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo berputera Sinuhun Prabu Hanyokrowati.
8.    Sinuhun Prabu Hanyokrowati berputera Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Kalipatullah  Panetep Panatagama Senopati ing Prang.

RIWAYAT BALOK
Bagi kebanyakan masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta dan Solo, percaya dengan kisah mistik raja-raja Mataram yang berhubungan erat dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul entitasnya bukan lah sejenis jin, siluman atau setan, tetapi merupakan wujud panitisan dari bidadari, yang turun ke dalam dimensi gaibnya bumi (bukan alam ruh/barzah), berperan menjaga keseimbangan alam semesta khususnya sepanjang pesisir selatan Jawa dan wilayah samodra selatan Nusantara. Menjaga kelestarian alam dengan mencegah atau menghukum manusia yang tidak menghormati alam semesta ciptaan Tuhan YME, atau manusia yang merusak keseimbangan alam dengan cara mengambil kekayaan alam secara serakah dan tamak. Kanjeng Ratu Kidul sebagaimana raja atau ratu gung binatara yang bijaksana dan sakti mandraguna, manembah tunduk kepada Gusti Ingkang Akaryo jagad. Namun demikian, Kanjeng Ratu Kidul tetap sebagai entitas mahluk halus, dalam arti tidak memiliki raga atau jasad dalam bentuk fisik.
            Kisah mistis di atas tidak terlepas dari sejarah pusaka balok kayu jati yang bernama Kyai Tunggulwulung. Saat ini diletakkan di sebelah timur makam Gusti Kanjeng Panembahan Senopati yang membujur ke utara, panjangnya 5 meter diameter 25 cm. Balok tersebut adalah bekas titihan (kendaraan/perahu) ketika Panembahan Senopati bertapa menghanyutkan diri di sungai Opak hingga sampai di kratonnya jagad halus, ialah Kanjeng Ratu Kidul. Kemudian mempunyai wilayah jajahan di jagad halus. Seperti ditulis dalam kitab Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV, dalam tembang Sinom, yang artinya sebagai berikut ;
1)    Sekalipun Kanjeng Ratu Kidul dapat menguasai samodra, apa pun kehendaknya terlaksanan. Akan tetapi masih kalah wibawa dengan Gusti Kanjeng Panembahan Senopati.
2)    Kanjeng Ratu Kidul sangat mengharapkan bisanya terjalin persahabatan antara kerajaan mahluk halus dengan kerajaan Senopaten. Selanjutnya memohon agar sekali tempo Gusti Kanjeng Panembahan Senopati sudi mengadakan pertemuan di dalam dunia mahluk halus. Sekalipun dengan susah payah Panembahan Senopati menyanggupi hingga sampai turun temurun.
Selanjutnya wawancara antara Gusti Panembahan Senopati (GPS) dengan Kanjeng Ratu Kidul (KRK), begini:
KRK    : “…Marilah Kangmas Priyagung agigit, bersama dengan kami, tinggalkan saja Sang Permaisuri serta abdi sentana putri. Anda di alam kami akan mendapatkan ganti yang lebih memuaskan hati. Pindahlah dari Mataram, hamba akan menerima dengan senang hati. Di dalam kerajaan kami Paduka akan penuh wibawa, kami sembah dan kami siap mengabdi sampai akhir zaman.
GPS     : “…Karena sudah demikian cinta Dinda dengan saya, saya pun tidak akan menyia-nyiakan, saya sambut uluran kasih persahabatan Dinda. Tetapi leluhur kami berpesan, bangsa manusia itu karena berasal dari bumi sebaiknya sampai akhir hayatnya juga dikubur di bumi. Tidak pantas dan merupakan pantangan kami merubah jenis menjadi mahluk halus. Oleh karena itu jangan khawatir saya ingkar janji, setiap hari selalu terbayang kecantikan wajah Adinda. Dalam waktu tertentu kita sekali tempo mengadakan pertemuan saja”.
            Demikian sekilas riwayat balok Mataram, yang sedikit banyak dapat menguak sejatinya hubungan gaib kerajaan Mataram secara turun temurun dengan kerajaan dunia halus di laut selatan. Bagaimana menempatkan secara tepat dan bijaksana antara manusia dengan mahluk halus yang juga ciptaan Gusti Allah Yang Maha Wisesa. Dapat sebagai contoh bagi generasi sekarang bagaimana cara memahami hubungan manusia dengan mahluk gaib. Seyogyanya manusia dapat bersikap bijaksana dan tidak sombong, menempatkan mereka yang gaib sebagaimana interaksi dengan manusia saling menghargai dan menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Karena masih sebagai mahluk Tuhan, mahluk halus tetap memiliki karakter seperti halnya manusia, ada yang baik ada yang jahat, ada yang manembah kepada Tuhan, tetapi ada pula yang membangkang.

RIWAYAT SOKO GURUSoko Guru adalah tiang penyangga atap rumah berbahan kayu jati yang dikelilingi ukiran halus dan indah, terletak di Pasarean Mataram, disebelah timur dan di pacak suji, sbb;
            Ketika Kerajaan Kartasura yang bertahta adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Mangkurat Amral tahun 1606 M, wilayah terkena bencana kelaparan, banyak orang yang sengsara dan menderita kelaparan. ISKS sangat sedih hatinya, kemudian memanggil adik Dalem Gusti Pangeran Puger. Adik Dalem lalu sowan menghadap, Sinuhun bertitah,” kalau terus begini Dimas, saya hendak bunuh diri saja dan saya minta diri. Saya sangat malu disembah rakyat senegara tetapi tidak dapat membuat rakyat bahagia. Yang hina dina adalah nama ratu. Gusti Pangeran Puger berkata, “Sabarlah dahulu Kangmas, jangan mudah putus asa. Saya mohon diri dari Praja, hendak memohon pertolongan Tuhan, hendak sowan (ziarah) ke Pasarean (makam) Mataram. Sinuhun mengijinkan, dan bersabda,”Saya hanya dapat mengurangi makan dan tidur untuk membantu Dimas”. Sang pangeran Puger mohon diri, terus mengundurkan diri dan mampir di Dalem Pugeran, untuk ganti pakaian seperti santri desa. Menghimpit golok, memakai tongkat, dan membawa tasbih, kemudian mampir ke Pleret.
            Sesudah shalat Isya’ terus menuju barat laut ke Kotagede, langsung menuju di bawah ringin sepuh Mataram. Sesudah tengah malam lalu sesuci di sungai Gajahwong, kemudian kembali duduk di bawah ringin sepuh Mataram. Masuk waktu subuh terus ke Masjid, sesudah Subuh lalu sowan di Pasarean. Duduk berdekatan dengan tiang di sebelah tenggara dan terus berdoa. Setelah selama empat puluh hari empat puluh malam Pangeran Puger bertapa, maka makbul lah doanya, dilihatnya tepat di atas tempat duduk ada tompo (gayung beras) yang bergantung pada tiang tepat di atasnya. Kemudian tompo diambil dan dihimpit terus dibawa pulang ke negara Kartasura.
            Di tengah perjalanan dari Pasarean Agung Mataram di Kotagede menuju Kartasura, Pangeran Puger mampir ke pasar-pasar yang dilewatinya, menanyakan kepada para bakul-bakul, dijawab bahwa sekarang beras dan sandang sudah murah. Sesampainya di negara Kartasura, Pangeran Puger langsung sowan menghadap ke kraton, Sinuhun baru dihadap para sentana. Melihat Rayi Dalem, Sinuhun terus merangkul dan berkata, “Dimas, terkabullah permohonanmu”.
            Dari tulisan di atas dapat diambil benang merah bahwa, Raja atau penguasa yang pantas menjadi sesembahan kawula adalah raja atau penguasa yang siap berkorban untuk kesejahteraan rakyatnya. Raja/penguasa bijaksana adalah yang selalu sadar bahwa kekuasaannya itu membutuhkan dukungan rakyatnya, tanpa rakyat maka tidak akan ada raja yang menduduki tahta kerajaan. Begitulah antara lain contoh pelajaran tentang  manunggaling kawula lan gusti, pada aras horisontal/habluminannas.


Foto Lukisan Panembahan Senopati
Foto Lukisan Panembahan Senopati

Foto Lukisan Kanjeng Sultan Agung
Foto Lukisan Kanjeng Sultan Agung
Keterangan dihimpun dari hasil wawancara Jurukunci Pasarean (makam) Agung Mataram di Kotagede dan di Imogiri Bantul dan sebagaimana dikisahkan para abdidalem di dua Pasarean Agung tersebut. Referensi; Mantri Jurukunci R.Ng. Martohastono.