Sabtu, 07 April 2012

Ontran-ontran Keraton Kanoman Cirebon bag II




Keseharian yang Biasa-biasa Saja
Kehidupan Putra-putri di Balik Tembok Keraton Kanoman

Orang  awam mungkin berpikiran bahwa  kehidupan  bangsawan yang  hidup  di  balik  tembok  keraton  pastilah   bergelimangan kemewahan dan kesenangan. Di dalam kehidupan umum, para  keluarga bangsawan  dianggap  memiliki hak-hak istimewa  (previlise)  yang tidak dimiliki oleh masyarakat umum lainnya.
Anggapan  itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya  yang  tercermin dari kehidupan sehari-hari di lingkup Keraton Kanoman Cirebon.Konflik  Keraton  Kanoman,  paling tidak  telah  membukakan  mata masyarakat  umum  akan kehidupan keluarga 'darah biru'  cucu  dan cicit  Sunan Gunung Djati. Konflik antara keluarga Pangeran  Raja
Muhammad  Emirudin dan Pangeran Muhammad Saladin, keduanya  anak-anak Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin), tak dapat  dihindari, telah mengungkapkan apa kehidupan sehari-hari mereka.
Selama  ini,  tak  ada yang  tahu  bagaimana  kehidupan  keluarga bangsawan  keraton.  Kehidupan mereka bahkan  dinilai  masyarakat sangat  tertutup, hingga masyarakat berpandangan bahwa  kehidupan keluarga di balik tembok keraton yang tinggi dan gagah itu selalu dibayangkan penuh kemewahan.
Padahal  tidaklah demikian. Ratu Raja Arimbi Nurtina,  S.T,  adik perempuan  orang  kepercayaan Emirudin  yang  dinobatkan  kerabat keraton  sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Sultan  Djalaludin, mengaku   bahwa  kehidupan  mereka  tidak  jauh  berbeda   dengan masyarakat umumnya.
"Tidak ada yang istimewa. Kami hidup seperti umumnya  masyarakat. Yang  membedakan  rumah  atau tempat  tinggal  kami  itu  bernama keraton.  Kami memang punya gelar yang tidak dimiliki  masyarakat umum, tapi itu sebenarnya biasa saja," tutur dia.
Ratu  Arimbi  justru mengaku kehidupan sehari-hari  yang  dialami keluarganya   sepenuhnya  penuh  dengan  keprihatinan.   Mengenai kemewahan atau kemudahan seperti anggapan masyarakat, sama sekali tidak benar.
"Justru kehidupan keluarga kami penuh dengan keprihatinan.  Kalau masyarakat beranggapan kami bergelimang kemewahan dan kesenangan, sangatlah  keliru. Mungkin kehidupan bangsawan ada jaman  dahulu, kalau  sekarang,  kehidupan  saya tidak  beda  dengan  masyarakat umumnya," tutur Ratu Arimbi.
Sebagai  contoh soal hidup yang biasa, setidaknya status  dirinya yang  kini  bekerja  di  bagian  laboratorium  Fakultas   Teknik-Unswagati  Cirebon.  Itu menandakan bahwa  meski  dirinya  adalah putra seorang raja (sultan:Red.), tapi tetap saja butuh pekerjaan untuk membiayai kehidupannya.
Di tengah masyarakat juga tidak ada perbedaan. Previlise  sebagai putri  keraton  dengan  gelar Ratu  Raja,  tidak  dirasakan  sama sekali, masyarakat juga bergaul apa adanya dengan dirinya.
"Dan  saya  juga keluarga juga tidak ingin dibedakan.  Tidak  ada yang namanya hak-hak kehormatan. Itu khan dulu," tutur dia dengan senyu khasnya yang ramah.Hal  sama juga dituturkan Ratu Setyawati, Ratu Kenanga  dan  Ratu Mawar,  adik dari keluarga Saladin. Di kehidupan umum, dia  tidak merasakan ada sesuatu yang lebih sebagai putri bangsawan keraton. Di  dalam keraton, kehidupan yang mereka jalani tampaknya  memang tidak  ada yang istimewa. Bahkan dalam konteks kehidupan  'sehat'
dalam khasanah kekinian, kehidupan keluarga darah biru itu  belum bisa dikatakan sepenuhnya 'sehat'.
Misalnya  soal  rasio kehidupan rumah tangga kekinian  soal  satu rumah satu keluarga. Putra-putri Keraton Kanoman itu malah  hidup dalam suasana yang tampak berdesak-desakan.
Keluarga  Emirudin  dan Saladin, mereka hidup  dalam  satu  rumah berupa  gedung berusia ratusan tahun yang luasnya sekira 50 x  25 meter. Mereka menempati gedung Kaputren, terletak persis di sebelah   Bangsal   Djinem  dan  Mande  Mastaka,   gedung   pusat pemerintahan kesultanan.
Gedung  terbagi dalam 6 kamar besar berukuran 10 x 10 m  di  sisi utara dan selatan, ruangan tengah terbagi jadi ruang tamu,  ruang keluarga  dan  ruang  belakang, termasuk dapur.  Di  dalam  kamar berukuran besar itu, terdapat kamar mandi dan WC.
Dan  kamar-kamar berukuran besar itulah yang kini  telah  disulap menjadi rumah oleh masing-masing penghuninya. Emirudin  misalnya, dia  bersama  adiknya Pangeran Raja Hamzah menempati 2  kamar  di bagian belakang sebelah utara.
Emirudin yang dinobatkan sebagai Sultan Kanoman XII, hidup  dalam ruangan  yang terlihat pengap. Di 2 kamar itu, dia hidup  bersama istri  dan  anaknya, calon penggantinya kelak,  bernama  Pangeran
Raja Muhammad Qodirudin (2 thn) dan istrinya, di situ, hidup pula keluarga adiknya Pangeran Raja Hamzah beserta anak dan istrinya. Di  dalam  2 kamar yang digabung menjadi satu,  Emirudin  membuat dapur  yang  dipakai  bersama  keluarga  adiknya.  Kamar  itu  di dalamnya juga disekat-sekat menjadi ruangan lebih kecil.
Adik-adik  Emirudin lainnya, seperti Ratu Raja  Arimbi,  Pangeran Raja Qodiran   dll,  hidup  bersama  ibunda  ratu   di   Gedung Pedaleman,  di belakang museum. Di gedung  itu,  prameswari Ratu  Sri  Mulya beserta 4 anaknya, juga  hidup  dengan  keluarga lain, yakni Pangeran Patih Imamudin, adik Sultan Djalaludin (alm) dan keluarga adik-adik Djalaludin lainnya.
Kemudian   keluarga   Saladin,  mereka  hidup  satu   gedung   di Kaputren  dengan  Emirudin dan Hamzah.  Hanya  saja  mereka kebagian  menempati 4 kamar termasuk ruang tengah  bagian  depan, ruang tamu dan belakang atau dapur.
Ratu  Mawar Kartina, S.H, menempati kamar di depan sebelah  utara gedung  Kaputren.  Sedangkan  selir  Ny  Suherni   (ibunda Saladin)  di kamar depan bagian selatan, lalu  berturut-turut  di belakangnya  kamar  Saladin dan keluarga,  serta  kamar  belakang untuk adik-adik lain seperti Ratu Setyawati, Ratu Kenanga dll.
Di  dalam gedung itu, Emirudin dan Saladin yang bersitegang  satu sama  lain  terkait soal hak sebagai sultan,  hidup.  Ratu  Mawar menuturkan,  selama ini, meski ada konflik, sebenarnya  kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa.
Bahkan  antara anak Emirudin dan Saladin sering terlihat  bermain bersama. Hanya saja untuk urusan rumah tangga ke dalam, satu sama lain tidak pernah saling peduli.
Memang  semasa Sultan Djalaludin masih hidup, Sultan  Kanoman  XI itu berusaha mepersatukan keluarga dengan membuat agenda  bersama seperti  jalan-jalan  mengajak anak-anak dari selir  Suherni  dan Ratu  Sri  Mulya. Namun kebersamaan yang coba  diciptakan  Sultan Djalaludin  atas  anak-anaknya, kini hancur  berantakan  menyusul konflik soal tahta pengganti Sultan Kanoman XI itu.
Setelah  konflik  mencuat, komunikasi boleh  dibilang  putus  dan tidak  pernah  terjalin.  Bahkan  sekedar  ngobrol  hal-hal  yang sifatnya biasa dan wajar sebagimana layaknya saudara.
"Mungkin karena ada konflik, sehingga sama-sama jaga diri. Antara kami  seperti menjaga supaya tidak saling bertemu  secara  fisik. Lagipula antara kami tampaknya saling menahan diri. Emirudin juga lebih  banyak  berada di kamarnya di bagian  belakang,  sedangkan kami lebih banyak di ruangan depan," tutur Ratu Mawar.
Sultan Emirudin, seperti dituturkan Achmad, pembantu dan pengawal setianya,  lebih sering menghabiskan waktu untuk dzikir. Baik  di dalam  ruangannya maupun di Bangsal Witana,  sebuah  tempat terletak di belakang keraton.
"Saya  sering  mendampingi Sultan Emirudin berdzikir  di  Bangsal Witana.  Sultan juga lebih banyak diam. Hanya mau ngobrol  dengan adik-adiknya,  ibunda  ratu  maupun kerabat  keraton  yang  dekat dengannya," tutur dia yang mengaku hidupnya hanya untuk  mengabdi kepada  Sultan  Emirudin  meneruskan  kakek  buyutnya  yang  dulu mengabdi ke keluarga Sultan Kanoman sebelumnya.

Keraton Kanoman yang Tak Terawat

Mungkin karena kehidupan yang berdesak-desakan, apalagi  diwarnai dengan  konflik  yang  meruncing,  anak-anak  pewaris  Kesultanan Kanoman, menjadi tidak peduli dengan perawatan terhadap bangunan-bangunan  di lingkungan keraton. Padahal bangunan  itu  merupakan peninggalan  sejarah kejayaan Cirebon sebagai pusat  syiar  Islam pertama di tanah Jawa, bahkan diyakini tempat keberadaan  Keraton Kanoman sebagai puser (titik pusat) bumi.
Ini  bisa dilihat dari bangunan-bangunan yang ada.  Bahkan  kalau melihat  ke  dalam, kesan tidak terawat sangat  terlihat,  banyak batu bata dan tembok yang rusak dan berlumut, tapi dibiarkan saja tanpa  ada perawatan memadai, padahal itu merupakan cagar  budaya yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Cirebon.
"Gimana mau dirawat, mereka konflik terus. Berbeda dengan Keraton Kasepuhan  yang  lebih  terawat rapi.  Padahal  dari  sisi  nilai historis,  Kanoman jauh lebih strategis," tutur beberapa  kerabat keraton yang prihatin dengan kondisi fisik keraton.
Konflik  juga  telah  menjadikan  keraton  itu  makin  jauh  dari masyarakat.  Misalnya  soal pengunjung,  sebelum  konflik,  meski jumlahnya tidak sebanyak diharapkan, pengunjung selalu ada, namun belakangan, boleh dikatakan hanya segelintir orang saja.
Keraton Kanoman yang dibangun thn 1677 oleh Pangeran  Martawijaya atau  Sultan  Badridin (Sultan Kanoman I) berdiri di  atas  lahan seluas  5  ha lebih. Sebagaimana keraton raja-raja  Jawa,  selalu menghadap ke arah utara, memiliki beberapa gedung.
Di  depan,  setelah  alun-alun ada dua  bangunan  kembar  bernama Pancaratna dan Pancaniti. Pancaratna di sebelah timur,  digunakan sebagai  tempat  para perwira beristirahat,  sedangkan  pancaniti (sebelah barat) tempat prajurit beristirahat.
Kemudian  di  belakangnya, terdapat dua bangunan  yang  temboknya bercat merah. Sebelah timur ialah Mande Manguntur, tempat  sultan duduk  untuk melihat apel prajurit maupun saat menikmati  gamelan setiap  perayaan  Maulid  Nabi Muhammad  di  Bangsal  Sekaten  di sebelah timurnya.
Dahulu,  untuk  keluar dan masuk ke lingkungan  keraton,  melalui pintu  gerbang  yang bernama Si Belawong yang di  belakangnya  ada   langgar  atau  mushola. Pintu Si Belawong sekarang  tertutup  dan diganti dengan pintu gerbang lain di sebelah barat.
Masuk  lebih  ke  dalam, terdapat  Bangsal  Paseban,  tempat  ini biasanya digunakan sultan menerima tamu atau punggawa dan kerabat keraton.  Di bangsal ini, sultan banyak berdiskusi tentang  soal-soal pemerintahan maupun kehidupan apa saja.
Di  sebelah Bangsal Paseban, terdaat bangunan yang  kini  menjadi museum.  Di  tempat inilah, terdapat benda-benda  pusaka  Keraton Kanoman,  diantaranya Paksi Naga Liman, kereta kencana  bersimbol burung, naga dan harimau yang pada jaman dahulu digunakan  sultan dan permaisuri untuk berkeliling kota Cirebon.
Pusat  bangunan  di Keraton Kanoman ialah  Pendopo  atau  Bangsal Djinem, tempat upacara-upacara formal keraton. Dan di belakangnya terdapat   Mande   Mastaka  tempat   singgasana   sultan,   pusat pemerintahan  dijalankan  dari  titah-titah  sultan  di   ruangan berukuran 10 x 15 meter ini.
Bangunan  lain,  ialah Gedung Kaputren, di gedung  inilah  tempat keluarga  Saladin dan Emirudin tinggal bersama. Lalu  ada  gedung lain  yang ukurannya hampir sama dengan Kaputren, sekira 50 x  30 meter,  di  gedung  ini,  dulu  tempat  sultan  tinggal   bersama permaisuri, sekarang dipakai rumah permaisuri Ratu Sri Mulya  dan keluarga Pangeran Patih Imamudin.
Tempat  terakhir  ialah  Bangsal Witana.  Gedung  yang  digunakan sebagai  tempat jimat atau benda-benda sakti, di  tempat  inilah, Sultan Kanoman termasuk Emirudin menjadikan sebagai tempat dzikir atau bertapa.
Di  sekitar  keraton,  di balik tembok  yang  melingkari  Keraton Kanoman, terdapat puluhan rumah warga. Disebut sebagai Magersari, ialah  rumah tempat abdi dalem keraton, tempat lain ialah  Masjid serta  gedung  besar yang kini digunakan  untuk  perguruan  Taman Siswa,    letaknya    di    sebelah    barat    keraton

Jumat, 06 April 2012

Ciribon, Cirebon, Ki Semar, Ki Samar


Wafatnya Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) membawa permasalahan perebutan kekuasaan antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dengan Pangeran Muhammad Saladin.

Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.

Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.

Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar.

Semar simbol Sang Pamomong, sosok yang serba samar rahasia lambang hakekat hidup disebut juga Sipat Sampurna telah kehilangan jarinya. Sementara para raja Jawa meyakini bahwa untuk mengukuhkan kekuasaan mereka haruslah diemong oleh Semar yang juga adalah symbol legitimasi dari rakyat.

Bila ada raja tanpa rakyat, raja macam apa itu? Mungkin itulah raja Kethoprak. Raja yang bukan lagi menjadi tuntunan namun hanya sekedar tontonan.

Tuntunan yang menjadi kewajiban raja bagi rakyatnya tak lagi mampu dipenuhi. Jari sebagai penunjuk arah telah hilang, dan mungkin tak lama lagi Semar Sang Pamomong akan sungguh2 oncat meninggalkan mereka.

Kaum spiritual Kasultanan menjadi makin prihatin akan keadaan ini. Mereka kembali melakukan meditasi guna memperoleh petunjuk lebih lanjut bagaimana mengembalikan jari Sang Pamomong. Dan diperolehlah petunjuk untuk mengutus salah satu dari mereka berjalan menuju kearah Timur ke sebuah kota yang memakai nama Semar. Nanti ditengah perjalanan mereka akan mendapatkan petunjuk lagi.

Setelah berembug, diutuslah dua orang dari mereka untuk melakukan perjalanan menuju Timur. Kebetulan salah satunya adalah seorang muda yang punya istri orang Semarang. Semar-ang ah mungkin itu maksud dari wisik yang mereka dapat.

Tak dicerita dalam perjalanan, mereka berdua sampai di Semarang & kebetulan bertemu Kyai kampung yang lalu ngomong-ngomong ngalor ngidul sampai menyinggung masalah Kanoman kehilangan jari Semar.

“Hmmm… Kasultanan Cirebon kehilangan jari Semar”, kata Mbah Kyai,

“Coba kalo diwayang itu Semar khan tangan kanannya selalu menunjuk seperti ini…Nah lalu coba kita lihat, dengan jari menunjuk seperti ini kamu yang suka ngaji pasti tahu dong huruf Arab apa yang ditunjukkan oleh telunjuk Semar..”

“Itu Alief…”kata mereka

“Nah kalo yang dibentuk oleh telunjuk dengan ibu jari?”

“Itu Lam…”

“Nah kalo yang dibentuk telunjuk dengan jari tengah?”

“Itu Miem…”

“Jadi jari Semar yang sedang menunjuk ini bila dibaca akan berbunyi Alief Lam Miem Dzalikal Kitab…”

“Surat Al Baqarah ayat pertama…Oh.. betul..”

“Lalu apa arti ayat tersebut…?”

“lha itu Mbah…guru ngaji saya nggak ngajari soal itu..katanya yang tahu cuma yang disana, nggak tahu juga sananya mana..”

“Welhadalah Kasultanan Cirebon… kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati salah satu Wali Sangha tak lagi mampu mengartikan Alief Lam Miem Dzalikal Kitab?” Si Mbah Kyai geleng-geleng.

“Begini…Semar adalah jarwadhosok dari HASEMING SAMAR-SAMAR yang secara harafiah berarti Sang Penuntun Makna Kehidupan, maka tangan kanannya selalu menunjuk. Jari yang seperti katamu tadi menyimbolkan Alief bagi orang urakan seperti saya adalah Urip, Hidup, Keesaan”

“Bener Mbah..” sahut mereka

“Hidup itu Esa, Tunggal, Manunggal dalam segala Sifat. ADA yang mendahului ada…. Ada inilah yang lalu berkembang menjadi kesadaran dalam diri manusia yang mulai berkata AKU…dan terus mencoba mencari kesejatian AKU. Hidup yang mendapatkan kesadaran dalam diri manusia ini berasal dari Alief Lam Miem atau bagi orang urakan seperti saya dinamakan Gatholoco, bersatunya Rasa yang melahirkan Kitab…dzalikal kitab….bukan Taurat, Zabur, Injil atau Quran. Namun adalah diri manusia itu sendiri Kitab Basah yang ditulis dari air & darah.

Maka dikatakan sebagai ADAMMAKNA, Hidup yang berkesadaran. Kitab yang tak akan pernah berhenti ditulis selalu berkembang seiring perkembangan hidup manusia.” Jelas Si Mbah Kyai nerocos terus

“Jadi teruslah berjalan jangan pernah berhenti memaknai seperti yang telah ditunjukkan oleh Semar…maka kalian tak akan kehilangan lagi jarinya hehehehe…”

“Lalu apa hubungannya dengan suksesi di Kanoman Cirebon?”

“Suksesi itu tak berdampak apa-apa…selain bahwa ikon feodal itu tengah hancur sendiri dari dalam & itu memang telah dinubuatkan bahwa kalo Indonesia ingin jadi mercusuar dunia, Kraton-kraton seperti itu harus hancur terlebih dulu..”

“Maksudnya..?”

“Yah..khan sudah diberi tahu sama Kyai Semar kalo semua itu hanyalah belenggu yang menghalangi manusia menuju kepenuhan hidup..berhenti memaknai Hidup dan membebek saja dengan apa yang telah diklaim sebagai menara gading kebenaran…sejatinya tonggak rusak yang tak bisa dijadikan pathokan lagi.”

“Hmmm…..”

“Semar adalah suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Kyai Semar terkenal dengan sabdanya HAYWA SAMAR DUR SUKERING KAMURKAN, MRIH DU KAMARDIKAN BAYA SIRA HARSA MARDIKA, artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, berani mbirat dur sukering kamurkan, membersihkan jiwa yang dalam bahasa Jawa ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu atau dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh kaum spiritual seperti kalian & juga oleh seluruh bangsa Indonesia ini.”

”Maksudnya untuk sungguh merdeka kita tak boleh tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian?”

”Begitu juga bisa, namun secara holistik petunjuk Semar tadi mengisyaratkan kita untuk melakukan REVOLUSI KULTUR, kultur yang berarti mencakup pula mental spiritual kita sebagai makhluk bernama manusia ini.”

”Dilanjut Mbah..”

”Diakui dong kalau kita telah dibentuk sedemikian rupa oleh doktrin yang membuat kita jadi bebek tadi, jari Semar memberi petunjuk kita untuk terus berjalan menjadi manusia utuh. Merevolusi kultur yang telah dibelenggu doktrin untuk menjadi manusia baru.Manusia baru yang memahami Alief Lam Miem Dzalikal Kitab bahasa Arabnya. Bahwa semua manusia dimuka bumi ini sama berasal dari Hidup yang sama & dijadikannya juga sama pakai Gatholoco hehehehe… dengan ini kita secara pribadi mampu menuju kepada kepenuhan hidup dan secara luas sebagai bangsa mampu menjadi mercusuar dunia”

”Maksudnya kita akan menjadi negara & bangsa adidaya dimuka bumi ini?”

”Hahahaha..mercusuar itu khan penanda agar kapal tidak menabrak karang..”

”Lalu apa maksudnya?”

”Ya dengan merevolusi kultur & menjadi manusia baru kita dapat jadi titisan-titisan Semar yang mampu memberi petunjuk yang benar & pamong seluruh umat..bahasanya Memayu Hayuning Bawana yang tidak cuma sekedar slogan… Kita akan mampu mendamaikan keturunan Ibrahim, si Ishak & Ismail yang tak jemu & bosannya terus menumpahkan darah saudara…karena berebut kebenaran. Kebenaran yang fasis & bengis.

“Semar disebut juga Ismaya, Maya adalah cahaya hitam, guna membuat semua Samar. Jadi yang ada itu sesungguhnya tidak ada. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan. Yang bukan dikira iya.Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.Tidak ada lagi fasis, bengis & otoriter.”

“Waduh terima kasih banyak Mbah atas penjelasannya yang gamblang.”

“Wah saya yang harus berterima kasih sudah ada yang mendengarkan saya ndobos….. hehehe…. sama ini rokoknya sudah nggak bikin mulut saya kecut lagi…”

Senin, 02 April 2012

Makam Para Raja Mataram Jawa

Kali ini blusukan jogja, akan mengulas tentang makam atau tempat peristirahatan terakhir para raja mataram jawa yakni makan raja di kotagede, makam imogiri, makam girigondo, makam Astana Mangadeg, dan makam Astana Girilayu
1. Makam Raja di Kota Gede 
Kotagede merupakan sebuah kawasan yang terletak sekitar 10 km sebelah selatan Kota Yogyakarta. Dahulu, kawasan Kotagede merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pada pertengahan abad XVI M. Di kawasan ini terdapat kompleks makam raja-raja Mataram, yang menjadi tempat dimakamkannya Panembahan Senapati, raja pertama Mataram Islam.
Kompleks Makam ini, berada sekitar 50 m sebelah selatan Pasar Gede, Kecamatan Kotagede. Selain terdapat makam Panembahan Senapati, di kompleks pemakaman ini juga terdapat makam keluarga raja lainnya. Di antaranya adalah, Ki Ageng Pemanahan yang merupakan ayah dari Panembahan Senapati, Nyai Ageng Nis dan P. Djoyo Prono yang merupakan eyang dari Panembahan Senapati, Sri Sultan Hamengku Buwono II, dan juga Pangeran Adipati Pakualam I

2. Makam Imogiri
Terletak di lereng perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Makam Imogiri seolah menegaskan status sosial dan politik orang-orang yang dikuburkan di tempat ini. Bukit dengan + 409 tangga ini memang dikhususkan untuk makam raja dan kerabat Kerajaan Mataram Islam serta keturunannya. Bagi masyarakat Jawa, gunung atau bukit menyimbolkan status yang tinggi sekaligus merupakan upaya mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.
Selain makam Sultan Agung, di tempat ini juga dimakamkan 23 raja keturunan Sultan Agung, termasuk dari dinasti Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Yogyakarta. Makam raja-raja ini terbagi ke dalam delapan kelompok, yaitu: 1. Kasultanan Agungan (makam Sultan Agung, permaisuri, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas); 2. Paku Buwanan (makam PB I, Hamangkurat Jawi, dan PB II); 3. Kasuwargan Yogyakarta (makam HB I dan HB III); 4. Besiyaran Yogyakarta (makam HB IV, HB V, dan HB VI); 5. Saptorenggo Yogyakarta (HB VII, HB VIII, dan HB IX); 6. Kasuwargan Surakarta (makam PB III, PB IV, dan PB V); 7. Kapingsangan Surakarta (makam PB VI, PB VII, PB VIII, dan PB IX); 8. Girimulya Surakarta (makam PB X, PB XI, dan PB XII).
Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Yogyakarta. Pemisahan makam raja-raja keturunan Sultan Agung merupakan imbas dari perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) terhadap kakaknya, Paku Buwono II. Akibat perang tersebut, muncul Perjanjian Giyanti (tahun 1755 M) yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
3. Makam Girigondo
Terletak di area perbukitan menoreh, Komplek Pemakaman Astana Girigondo ini diperuntukkan bagi para Raja dan kerabat Pakualaman. Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Kompleks makam ini secara garis besar dibagi menjadi 6 teras, dan tiap-tiap teras dihubungkan dengan tangga. Pada teras I (yang paling tinggi) dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 m dengan gapura masuk dan pintu gerbang dari besi.
Makam ini merupakan tempat pemakaman kerabat Paku Alam. Di sini dimakamkan KGPAA Paku Alam V, VI, VII, VIII beserta keluarganya, sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta. Penuhnya areal pemakaman di Hastorenggo, membuat Paku Alam V akhirnya mencari tempat lain untuk pemakaman kerabat Paku Alam, yaitu di Girigondo ini. Latar belakang pemilihan lokasi makam di Kulonprogo ini berkaitan erat dengan asal-usul KGPAA Paku Alam V yang merupakan putra KGPAA Paku Alam II dari Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulonprogo  
 
3. Makam Girigondo
Terletak di area perbukitan menoreh, Komplek Pemakaman Astana Girigondo ini diperuntukkan bagi para Raja dan kerabat Pakualaman. Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Kompleks makam ini secara garis besar dibagi menjadi 6 teras, dan tiap-tiap teras dihubungkan dengan tangga. Pada teras I (yang paling tinggi) dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 m dengan gapura masuk dan pintu gerbang dari besi.
Makam ini merupakan tempat pemakaman kerabat Paku Alam. Di sini dimakamkan KGPAA Paku Alam V, VI, VII, VIII beserta keluarganya, sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta. Penuhnya areal pemakaman di Hastorenggo, membuat Paku Alam V akhirnya mencari tempat lain untuk pemakaman kerabat Paku Alam, yaitu di Girigondo ini. Latar belakang pemilihan lokasi makam di Kulonprogo ini berkaitan erat dengan asal-usul KGPAA Paku Alam V yang merupakan putra KGPAA Paku Alam II dari Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulonprogo  
 
4. Makam Astana Mangadeg 
Kompleks pemakaman untuk penguasa awal ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja mangkunegara . Di kompleks ini dimakamkan Mangkunegara I (MN I), MN II, dan MN III; pemakaman ini berada di puncak bukit kecil (bernama Bukit Mangadeg) di kaki Gunung lawu, di sebelah timur pusat Kecamatan Matesih. Tempat ini sendiri sebelumnya adalah tempat Mangkunagara I bersemedi pada masa perjuangannya (sebelum menjadi raja ia bernama R.M. Said)

5. Makam Astana Girilayu
Kompleks pemakaman  untuk penguasa ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegara. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunegara IV, Mangkunegara V, mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII (penguasa terakhir yang mangkat) 



Menguak Pangilan dan Gelar Bangsawan untuk para raja Mataram Jawa




Mari kita menguak sapaaan para raja jogja. untuk sekedar informasi  panggilan sri sultan HB X adalah Ngarso Dalem. itu diambil  dari gelar sri sultan HB X yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram. Sedangkan pangilan untuk paku Alam IX adalah Sri Paduka. bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo (KGPAA). Dahulu sebelum dinobatkan sebagai raja di istana Puro Pakualaman bernama KPH/Pangeran Ambarkusumo. sedangkan untuk pangilan Paku Buwono XIII adalah Sinuhun. diambil dari gelar Sisuhunan paku buwono XII yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping telulas .untuk pangilan Mangkunegara IX adalah Gusti Mangku yang bergelar kanjeng Gusti pangeran Adipati haryo (KGPAA)


Berikut Gelar Bangsawan dari pecahan kerajaaan Mataram
1. Kasunanan Surakarta
  • Penguasa Kasunanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping ... (SISKS)
  • Permaisuri Susuhunan Pakubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:
  1. Ratu Kilen (Ratu Barat)
  2. Ratu Wetan (Ratu Timur)
  • Selir Susuhunan Pakubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan:
  1. Bandara Raden Ayu
  2. Raden Ayu
  3. Raden
  4. Mas Ayu
  5. Mas Ajeng
  6. Mbok Ajeng
  • Pewaris tahta Kasunanan (Putra Mahkot) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram.
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Raden Mas Gusti (RMG)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Gusti Pangeran (KGP), dengan urutan:
  1. Mangku Bumi
  2. Bumi Nata
  3. Purbaya
  4. Puger
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)
  • Cucu lelaki dari garis pria: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Cicit lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:
  1. Sekar-Kedhaton.
  2. Pembayun.
  3. Maduratna.
  4. Bendara.
  5. Angger.
  6. Timur.
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Anak perempuan tertua dari selir ketika sudah dewasa: Ratu Alit
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan : Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)
2. Kasultanan Yogyakarta
  • Penguasa Kesultanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping ... (yang berarti pemimpin yang menguasai dunia, komandan besar, pelayan Tuhan, Tuan semua orang yang percaya)
  • Permaisuri Sultan Hamengkubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
  • Selir Sultan Hamengkubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Pewaris tahta Kesultanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH)
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Pangeran Harya (BPH)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan:Raden Ayu (RAy)
3. Kadipaten Pakualam Yogyakarta
  • Penguasa Paku Alaman:Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Paku Alam Kaping ...
  • Permaisuri Raja Paku Alam: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Selir Raja Paku Alam: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)
  • Pewaris tahta Paku Alaman (putra mahkota): Bandara Pangeran Harya Suryadilaga
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Bendara Raden Mas (GBRM)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa:Kanjeng Pangeran Harya (KPH)
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Raden Mas (RM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Raden Harya (BRH)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria:Raden Mas (RM)
  • Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria:Raden 
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)
4. Praja Mangkunegaran Surakarta
  • Penguasa Mangkunagaran: Kanjeng Gusti pangeran Adipati Haryo  Mangku Negara Senapati ing Ayuda Kaping ... (KGPAA)
  • Permaisuri Raja Mangkunagara: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Selir Raja Paku Mangkunagara: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)
  • Pewaris tahta Mangkunagaran (putra mahkota): Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri: Gusti Raden Mas (GRM)
  • Anak lelaki dari selir: Bendara Raden Mas (RM)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan:Raden Ayu (RAy)
Semoga Bermanfaat....

Sabtu, 10 Maret 2012

MENGENAL LEBIH DEKAT SOSOK SYEKH SITI JENAR

Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.

Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).

Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.

Asal Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….<serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1>.

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.

Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.

Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.

Padepokan Giri Amparan Jati

Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus] <Purwaka Caruban Nagari, 75-76, cat. 39; Sejarah Nasional Indonesia, vol. II;221>.

Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.

Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya.

Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.

Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).

Pencerahan Rohani di Baghdad

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.

Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.

Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.

Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.

Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.

Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.

Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.

Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)

SATU
“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.”

Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”

Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.

Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

DUA
“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.

Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.

TIGA
“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”

Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.

Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.

Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

EMPAT
“Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

LIMA
“Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah. Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”

Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.

Semoga yg ini bermanfaat dalam kepasrahan yg tidak bisa dipikir dgn Akal tapi dengan Hati yang sulit mengungkapkan rasa Cinta itu secara Tulus….

Walaupun rasa Cinta itu sulit diungkapkan dgn bahasa kita yg sangat terbatas ini…..amin….amin.

Surga dan Negara Syekh Siti Jenar

“anal jannatu wa nara katannalr al anna”, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini). Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia. Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan ……ilaihi raji’un, ilaihi al-mashir………

Puasa dan Haji Syekh Siti Jenar

“Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.”

“Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini idak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.”

Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.” Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb.

Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.

Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.

Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya.

Makna Ihsan

“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”

“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.

Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.

Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.

“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”

Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).

Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

Pribadi adalah pancara roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia. Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi. Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.

Tafsir Kisah Musa dan Khidir (Syekh Siti Jenar)

“Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok lain yg terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani. Apa yg disaksikan sebagai tanah menjorok dgn lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah yg disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghai:) dan lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat).”

“Sedangkan kawanan udang adalah perlambang para pencari Kebenaran yg sudah berenang di perbatasan alam kasatmata san alam tidak kasatmata. Kawanan udang perlambang para penempuh jalan rohani (salik) yg benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yg berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batu, merupakan perlambang para salik yg penuh diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”

“Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di dalam diri Nabi Musa AS sendiri. Sebagaimana yg telah saya jelaskan, yg disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”

“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yg berbeda dengan wilayah perbatasan yg berdampingan dgn dunia gaib (‘alam al-ghai:). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu di wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa AS akan melihat sang ikan berenang di dalalm alamnya, yaiu lautan. Jika saat itu Nabi Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa sang ikan yg berenang itu dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air (dilambangkan manusia juga sama). Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat iar dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yg meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yg tak bisa dilihatnya.”

“Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di dalam dunia-yang diliputi udara kosong-dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yg meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa AS hidup di dalam liputan udara kosong yg ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa AS tidak dapat hidup tanpa udara kosong yg meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa AS berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yg tidak bisa dilihatnya.”

“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg mendampingi Nabi Musa AS dan membawakan bekal makanan adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yg menyelubungi manusia dari Kebenaran sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, sang Pembuka (al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS, pemuda (al-fata) itu disebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab ghaib.”

“Adapun bekal makanan yg berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yg hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”

“Andaikata saat itu Nabi Musa AS memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yg lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa AS.”

“Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat ke lautan adalah tempat yg dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau dan Nabi Musa AS dapat melihat Khidir AS, hamba yg dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yg memancar dari citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”

“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir AS karena dia merupakan hamba-NYA yg telah mereguk Air Kehidupan (ma’ al-hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir AS itu tidak lain dan idak bukan adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg tersembunyi di dalam diri manusia, “Sang Penuntun” anak keturunan Adam AS ke jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang Maha Menunjuki (as –Rasyid).”

“Demikianlah, saat sang salik melihat Khidir AS sesungguhnya ia telah menyaksikan ar-roh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri manusia sendiri. Saat ia menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kanan, sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna (bahr-al-ma’na) yg merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, jika terputus penglihatan batiin (bashira:) itu pada titik ini, berarti perjalanan menusia itu menuju ke Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.”

Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami Nabi Musa AS.”

“Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki Lautan Makna, yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yg lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang perbuatan baik (al ‘amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg sangat pribadi menuju Lautan Wujud. Itulah sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal hakikat air yg mengalir dari lubang tersebut.”

“Setelah penumpang perahu mengenal air yg mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna yg merupakan permukaan Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maha Raja (malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Maha Ada (al-Wujud), yg bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud. Penumpang perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain, yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha Raja. Bahkan, jika Sang Maha Raja menyukai hamba sahaya-NYA itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yg merupakan pengejawantahan Yang Maha Indah (al Jamal).”

“Adapun Atas Pernyataan kenapa wahana (syariah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan menembus alam ghaib manuju Dia? Dapat dijelaskan sebagai berikut.”

“Sebab, wahana adalah kendaraan bagi manusia yg hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman Surgawi. Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yg tidak jelas batas-batasnya. Alam yg tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal manusia mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk menetapkan hukum yg berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir AS melarang Nabi Musa AS bertanya sesuatu dgn akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yg disaksikan Nabi Musa AS terdapat perbuatan yg dilakukan Khidir AS benar-benar bertentangan dgn hukum suci (syari’at) dan akal sehat yg berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”

“Namun jika wahana (syari’ah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya pedomannya tetaplah sama, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi pemahamannya bukan dgn akal (‘aql) melainkan dgn dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendak-NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia (walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA). Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yg tidak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmat dan hidayah-NYA.”

“Tentang makna di balik kisah Khidir AS membunuh seorang anak (ghulam) dapat saya jelaskan sebagai berikut.”

“Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.”

“Sesungguhnya, di dalam perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yg kekank-kanakan (ghulam) dari salik cenderung mengikari kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada Sang Rasul. Jika keakuan yg kerdil dan kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yg lebih baik dan lebih diberbakti yg melihat dengan mata batin bahwa dia sesungguhnya adalah “hamba” dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).”

“Sesungguhnya, keakuan kerdil yg kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yg cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yg baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir AS itu adalah perlambang yg sama saat Nabi Ibrahim AS akan menyembelih Nabi Ismail AS ‘Pembuhunan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yg beriman (mu’min).”

“Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS adalah perlambang Sekat Tertinggi (al barzakh al ‘a’la) yg disebut juga dgn Hijab Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan Dinding al-Jalal (al jidar al-Jalal), yg dibawahnya tersimpan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.”

“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa AS, yg keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi (al-basyar) dan rohani (roh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa AS dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-haya’I).”

“Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).”

“Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama keberadaan sebagai al-basyar ‘anak’ Adam AS yg berasal dari anasir tanah yg tercipta; dan keberadaannya sebagai roh ‘anak’ Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yg berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad ragawi nabi Musa AS berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).”

“Sehingga tidak akan pernah terjadi perseteruan dalam memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya yg shalih. Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yg ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam AS akan terserap ke dalam roh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yg merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa diuraikan dgn kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.”