Senin, 09 April 2012

Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural

Artikel ini membahas Kesultanan Cirebon dari dua perspektif. Pertama, tentang historisnya yang meliputi pertumbuhan, perkembangan, dan keruntuhan. Kedua, tentang kebudayaannya yang meliputi sejumlah aspek: seni bangunan, seni sastra, dan seni pertunjukan yang mentradisi sampai sekarang.
Secara geografis, Cirebon terletak di pesisir utara Jawa. Lokasinya yang strategis, serta memiliki muara-muara sungai, berperan penting bagi pertumbuhan Cirebon menjadi pelabuhan: sebagai tempat untuk menjalankan kegiatan pelayaran dan perdagangan yang bersifat regional maupun internasional. Kedudukan Cirebon sebagai kota pelabuhan sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sunda Pajajaran yang bercorak Hindu-Budha, seperti diketahui dari sumber-sumber lokal seperti babad dan carita, yang juga didukung oleh berita asing.

Cirebon bermula dari sebuah pelabuhan pertama di zaman Kerajaan Sunda Pajajaran yang berada di Dukuh Pasambangan, dan kemudian pindah ke Kebon Pesisir atau Tegal Alang-Alang (Lemah Wungkuk) sampai menjadi Desa Caruban. Lambat laun, desa ini menjadi sebuah kota pesisir yang mencapai perkembangannya sejak pemerintahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Bukti arkeologis bahwa Cirebon sudah mengalami pertumbuhan dan masuk wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran adalah ditemukannya sebuah prasasti batu di Huludayeuh dekat Cirebon yang aksara dan nama rajanya serupa dengan tulisan dalam Prasasti Batu-Tulis Bogor.

Penyebutan Kesultanan setidaknya dimulai sejak Syarif Hidayatullah memerintah, sekitar 1479 M. Meski, dalam berbagai sumber naskah kuno, waktu itu penguasa-penguasanya belum digelari sultan, tetapi masih panembahan atau pangeran. Sementara pemberian gelar sultan kepada raja-raja atau penguasa Cirebon baru dilakukan ketika Cirebon dibagi atas dua kesultanan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman (sekitar tahun 1677). Pembagian dua kekuasaan tersebut sekaligus menandai awal keruntuhan Kesultanan Cirebon. Perselisihan antara kedua kesultanan itu, ditambah dengan ketidakpuasan Pangeran Wangsakerta, memudahkan campur tangan politik VOC Belanda. Sejak perjanjian 7 Januari 1681, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia, mengakui keberadaan ketiga raja di Cirebon. Masing-masing berdiri sendiri. Dan pada tahun 1700, kesultanan menjadi empat kekuasaan. Selain Kasepuhan dan Kanoman, terdapat juga Kesultanan Kacirebonan di bawah Pangeran Arya Cirebon, dan Kaprabonan (Panembahan) di bawah Pangeran Wangsakerta. Sejak itu, perdagangan internasional melalui Pelabuhan Cirebon sudah berada di tangan VOC.

Kedatangan dan penyebaran Islam di Cirebon sudah berlangsung sebelum pemerintahan Syarif Hidayatullah, sebagaimana dapat diketahui dari sumber-sumber sejarah, antara lain Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari. Secara keagamaan, masyarakat di Kesultanan Cirebon umumnya menjadi penganut Mazhab Syafii, atau termasuk golongan Sunni. Meski, juga terdapat unsur-unsur aliran Syi’ah seperti terbukti dari cerita-cerita tentang Ali bin Abi Thalib atau nama-nama dalam silsilah yang dapat dikaitkan dengan tokoh Syi’ah dalam naskah kuno seperti Babad Cirebon.
Artikel ini memperlihatkan bahwa agama Islam datang dan mulai menyebar di Cirebon melalui pesantren, bukan hanya oleh ulama dan para syekh, tetapi juga oleh penguasa desa (Kuwu) Cirebon, yaitu Syekh Abdullah Iman atau Pangeran Cakrabuwana(Cakrabumi). Agama Islam makin luas disebarkan ke daerah-daerah Talaga, Kuningan, Galuh, dan terutama ke Banten, oleh Syarif Hidayatullah dan disusul kemudian oleh Fadhillah Khan, atas perintah Sultan Demak, Pangeran Trenggono. Sejak pemerintahan Syarif Hidayatullah sampai pemerintahan Panembahan Ratu dan Girilaya, Cirebon menjadi pusat kesultanan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan, terutama dari segi politik, agama, dan ekonomi-perdagangan.


Namun, sejak timbulnya timbul perpecahan yang terutama dipicu oleh perjanjian dengan VOC Belanda, Kesultanan Cirebon mulai mengalami keruntuhan. Bahkan, pada awal abad ke-18, kesultanan praktis tak berdaya, baik di bidang politik maupun di bidang perdagangan, karena sudah jatuh ke tangan VOC dan selanjutnya Hindia-Belanda. Meski demikian, dapat dicatat bahwa Kesultanan Cirebon masih mempunyai peran dalam menghasilkan seni bangunan, seni ukir, dan seni hias, bahkan menonjol pula dalam seni sastra dengan banyaknya naskah-naskah kuno yang dapat ditemukan. Hasil-hasil kebudayaan di Kesultanan Cirebon tersebut—seni bangunan, seni ukir, seni pertunjukan, seni hias, seni sastra—memberikan bukti adanya proses akulturasi yang tetap memiliki jati dirinya yang Islami.

Masa Pertumbuhan
Letak Geografis Cirebon di pesisir utara Jawa yang memiliki muara-muara sungai mempunyai peranan penting bagi pelabuhan: sebagai tempat untuk menjalankan kegiatan-kegiatan pelayaran dan perdagangan yang bersifat regional maupun internasional. Kedudukan Cirebon sebagai kota pelabuhan sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sunda Pajajaran yang bercorak Hindu-Budha. Pertumbuhan pelabuhan Kerajaan Sunda Pajajaran dapat diketahui dari sumber-sumber lokal seperti babad dan carita, yang juga didukung oleh berita asing.
Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari, menceritakan bahwa Cirebon dulunya adalah sebagai dukuh yang diperintah oleh seorang juru labuhan (syahbandar) dan kemudian menjadi desa yang diperintah oleh kuwu. Pelabuhan awal ialah Muara Amparan Jati yang berada di Dukuh Pasambangan, lebih kurang 5 km di sebelah utara Kota Cirebon. Kini, yang menjadi kepala/juru labuhannya ialah Ki Gedeng Sedangkasih, kemudian Kio Gedeng Tapa yang berganti lagi Ki Gedeng Jumjanjati. Waktu itu, konon Kerajaan Sunda Pajajaran yang beribukota di Pakuan, diperintah oleh Prabu Siliwangi yang setiap tahunnya menerima upeti berupa garam dan terasi (uyah kalawan terasi), sebagai hasil daerah Cirebon.

Sebutan Prabu Siliwangi yang dikenal hanya pada hasil sastra-sejarah pernah diidentifikasikan dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Pakuan Pajajaran yang tercantum pada prasasti Batu Tulis di Bogor hasil kajian Moh Amir Sutaarga (Sutaarga, 1965: 38-42). Sementara ibukota Kerajaan Sunda Pajajaran yang diperkirakan terletak di daerah Bogor adalah mengacu pada pendapat J. Nooduyn, C.M. Pleyte, R,M,Ng. Poerbatjaraka, S. Ekajati, dan sarjana lainnya. Hal ini pernah dibicarakan oleh Uka Tjandrasasmita dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Association of Historians of Asia (AHA), Jakarta, 27 Augustus-1 September, 1998, dengan makalah yang berjudul The International Trade of Sunda Pajajaran Kingdom in the XIVth-the XVIth Century.
Dukuh Pasambangan, dengan pelabuhan Muara Amparan Jati, sudah mulai disinggahi kapal-kapal dagang dari beberapa daerah di Indonesia seperti dari Pase, Palembang, Jawa Timur, Madura, juga beberapa pedagang negeri asing seperti Arab, Parsi (Iran), Irak, India, China, Malaka, Tumasik, dan Campa. Itulah sebabnya Dukuh Pasambangan menjadi ramai dan banyak penduduk yang hidupnya menjadi makmur.
Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, diceritakan bahwa Dukuh Pasambangan kedatangan guru-guru agama Islam dari Mekkah dan Campa, antara lain Syekh Hasanuddin, putra Syekh Yusuf Sidik, ulama terkenal di Campa yang medirikan pondok di Quro, Karawang, yang kemudian terkenal dengan nama Syekh Quro. Juru labuhan, Ki Gedeng Tapa, menyuruh putrinya, Nyai Subanglarang, berguru agama Islam di Pondok Quro, yang akhirnya menjadi istri Syekh Hasanuddin atau Syekh Quro.

Diceritakan pula saat juru labuhan Ki Gedeng Jumajanjati, Dukuh Pasambangan kedatangan Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Idhofi atau Nuruljati dari Kerajaan Parsi yang waktu itu beribukota di Baghdad. Syekh Datuk Kahfi sebagai utusan dari Persia, disertai oleh dua puluh orang pria dan dua orang Wanita. Mereka diterima dengan baik, diberikan tempat, dan dimuliakan oleh Ki Gedeng Jumajanjati (Atja, 1972: 46-47).
Pada waktu itu kapal China, di bawah Panglima bernama Wai Ping dan Laksamana Te Bo dengan para pengikutnya yang berjumlah banyak, singgah di Pasambangan dalam perjalanannya ke Majapahit. Oleh juru labuhan, mereka diterima baik dan selama di dukuh itu mereka membuat menara api di atas Bukit Amparan Jati. Sebagai imbalan, oleh juru labuhan Ki Gedeng Jumajanjati yang berkedudukan sebagai mangkubumi, mereka diberikan hadiah berupa garam, terasi, beras tumbuk, rempah-rempah, dan kayu jati (Atja, 1972: 7).
Walang Sungsang (Cakrabuwana) bersama istrinya yang bernama Endang Ayu, dan adiknya, Nyai Lara Santang, oleh Ki Gedeng Jumajanjati disuruh berguru kepada Syekh Datuk Kahfi yang mendirikan pondok di sebelah Bukit Amparan Jati. Setelah berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, Walang Sungsang mendapat julukan Samdullah atau Cakrabumi. Atas petunjuk gurunya, Samdullah pergi ke Dukuh Kebon Pasisir, mendirikan gedung dan tajug serta pembangunan sarana dan prasarana lainnya. Sehingga, tempat yang semula dinamakan Tegal Alang-alang itu, menjadi desa dengan kepala yang disebut kuwu. Tempat itu kemudian dinamakan Caruban atau Caruban Larang. Karena itu, para pedagang yang biasanya mengunjungi pelabuhan di Muara Jati, Dukuh Pasambangan, pindah ke pelabuhan Caruban, sehingga lambat laun desa itu tumbuh menjadi sebuah perkotaan, terutama setelah menjadi kesultanan.

Dalam sumber-sumber lokal, baik Babad Cirebon maupun Carita Purwaka Caruban Nagari, diceritakan tentang kepergian Pangeran Cakrabuwana atau Cakrabumi dengan adiknya, Nyai Lara Santang, untuk menunaikan ibadah haji atas saran Syekh Datuk Kahfi, setelah mereka berdua tinggal selama sembilan bulan di Kebon Pesisir atau Caruban. Mereka melaksanakan ibadah haji selama dua tahun. Setelah menunaikan ibadah haji, Pangeran Cakrabuwana mendapat gelar Syekh Duliman atau Abdullah Iman. Sedangkan Nyai Lara Santang diberi gelar Syarifah Mudha’im (Atja, 1972: 48-49; Rinkers, 1911; Naskah Zang 1, 2, 3: 30-37). Diceritakan bahwa Syarifah Mudha’im dinikahi oleh Syarif Abdullah dari negeri Mesir yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Syarif Hidayatullah pada tahun 1448 M.

Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah pergi ke Jawa menyusul ibunya dan uwaknya, Syekh Duliman yang telah menjadi kuwu Cirebon. Kedatangan Syarif Hidayatullah di Cirebon terjadi tahun 1470 M. Setelah menikah dengan putri uwaknya, Nyai Pakungwati, ia diangkat menjadi kuwu Cirebon menggantikan uwaknya, Pangeran Cakrabumi atau Syekh Duliman (Abdullah Iman), tahun 1479. Sejak itu pula Syarif Hidayatullah mendapat gelar Sinuhun Carbon. Karena itu, dari segi struktur pemerintahan, Cirebon sudah boleh disebut awal kesultanan sesuai dengan proses pelepasan dari kerajaan bercorak Hindu-Budha, Kerajaan Sunda Pajajaran yang berpusat di Pakuan. Dalam sumber lokal dikatakan bahwa, sejak pemerintahan Sinuhun Carbon yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, pajak garam dan terasi (bulu bekti uyah kalawan terasi) dari Cirebon yang biasanya dibaktikan kepada Raja di Pakuan, dihentikan sama sekali.

Daerah Cirebon pernah menjadi bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran. Hal itu bukan hanya diceritakan dalam babad atau cerita sastra-sejarah lokal, tetapi juga dibuktikan oleh berita asing, antara lain oleh Tome Pires dalam berita perjalanannya, Suma Oriental (1512-1515), yang sekitar tahun 1513 singgah di kota Cirebon yang ia sebut Cherimon (Choroboam). Dikatakan bahwa tanah Cirebon dahulunya termasuk sebagai daerah Sunda, tetapi kini masuk Jawa. Pemimpinnya bernama Lebe Uca sebagai vassal Pate Rodim, Raja Demak.

Cirebon mempunyai pelabuhan yang baik. Banyak kapal berlabuh di sana. Selain itu, terdapat tiga atau empat jung di sana. Cirebon juga mempunyai banyak hasil bumi beras dan bahan makanan. Yang menarik perhatian adalah, Tome Pires menyebutkan pelabuhan Cimanuk sebagai pelabuhan keenam yang masuk ke dalam Kerajaan Sunda meskipun sudah banyak orang-orang Muslim. Pelabuhan Cimanuk atau Indramayu merupakan batas Kerajaan Sunda (Armando Cortesao, 1976: 173, 183).

Bukti arkeologis bahwa Cirebon sudah mengalami pertumbuhan dan masuk wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran adalah, ditemukannya sebuah prasasti batu dari Huludayeuh dekat sumber Cirebon yang aksara dan nama rajanya serupa dengan tulisan dalam prasasti Batu-tulis Bogor (Hasan Djafar, 1994).
Dari uraian di atas, jelas bahwa Cirebon, sebelum menjadi kota pusat kesultanan, sudah mengalami pertumbuhan, yaitu sejak zaman Kerajaan Sunda Pajajaran dengan pelabuhan pertama yang berada di Dukuh Pasambangan dan kemudian pindah ke Kebon Pesisir atau Tegal Alang-Alang (Lemah Wungkuk) sampai menjadi desa Caruban yang lambat laun menjadi sebuah kota pesisir yang mencapai perkembangannya sejak pemerintahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), putra Syarifah Mudha’im yang sebelumnya bernama Nyai Lara (Rara) Santang.

Masa Perkembangan
Apabila pertumbuhan Cirebon sebelum menjadi kesultanan sudah terjadi, maka sejak Syarif Hidayatullah memerintah sekitar 1479 M, sudah dapat disebut Kesultanan Cirebon, meskipun dalam berbagai sumber naskah kuno, waktu itu penguasa-penguasanya tidak digelari sultan, tetapi masih panembahan atau pangeran. Pemberian gelar sultan kepada raja-raja atau penguasa Cirebon baru dilakukan ketika Cirebon dibagi atas dua kesultanan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman (sekitar tahun 1677), setelah kedua putra Panembahan Girilaya yang pergi ke Mataram diselamatkan dari pemberontakan Pangeran Trunojoyo terhadap Mataram. Sekembalinya dari Banten, kedua putra panembaan itu, yakni Pangeran Syamsuddin Martawijaya dan Pangeran Badruddin Kartawijaya, menjadi sultan sepuh (Syamsuddin Martawijaya) dan sultan anom (Badruddin Kartawijaya) (Atja, 1972, 68; Rinkes, 1911; Naskah Zang 36: 142-143).

Meskipun sejak pemerintahan Syarif Hidayatullah dikatakan sebagai masa Kesultanan Cirebon, tetapi kedatangan dan penyebaran Islam di daerah itu sudah ada, sebagaimana dapat diketahui dari sumber-sumber sejarah antara lain Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari. Berita Tome Pires (1512-1515) menyebutkan bahwa, kira-kira 40 tahun lalu, di tempat ini (Choroboam atau Cirebon), masih terjadi perbudakan. Waktu itu Raja Demak mempunyai budak dari Gresik yang ditempatkannya sebagai kapten di Cirebon dengan gelar Pate Choroboam (Cirebon), yakni kakek Pate Rodim dari Demak yang sekarang menjadi raja (Armando Cortesao, 1944: 183).
Jika berita Tome Pires itu kita terima, dengan kehadiran Islam di Cirebon lebih kurang 40 tahun lalu ketika Tome Pires singgah di kota Cirebon (1513), maka jatuhnya lebih kurang tahun 1473. Tahun ini setidaknya menunjukkan waktu kehadiran Syarif Hidayatullah tahun 1470 dan mungkin sejak kehadiran Syekh Datuk Kahfi, Syeikh Abdullah Iman (Samadullah atau Cakrabuwana) pada tahun-tahun sebelum 1470. Diberitakan Tome Pires bahwa, pada waktu kehadiran Tome Pires di Cirebon, yang menjadi raja ialah Lebe Uca, Vassal Pate Rodim, Raja Demak.

Cirebon mempunyai pelabuhan yang baik sebagai tempat singgah kapal-kapal. Di sana, ada tiga atau empat buah jung. Cirebon mempunyai banyak beras dan bahan-bahan makanan dan memiliki sepuluh lanchara. Selain itu, tapi tidak banyak diceritakan, Cirebon mempunyai penduduk sampai 1000 jiwa. Pate Quider, salah seorang pemberontak di Upeh (Malaka) juga tinggal di Cirebon. Di Cirebon ada lima atau enam pedagang-pedagang besar seperti Pate Quedir, karena ia seorang pedagang yang berani dan ksatria (Cortesao, 1944: 183). Nama Lebe Uca dan Pate Quedir, sebagaimana disebut-sebut oleh Tome Pires, masih sukar untuk diidentifikasikan dengan nama-nama yang disebut dalam sumber-sumber lokal.

Masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568), merupakan masa perkembangan Kesultanan Cirebon. Pada masanya, bidang politik, keagamaan, dan perdagangan, makin maju. Pada masa itu terjadi penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) dengan penempatan putra Syarif Hidayatullah, yaitu Maulana Hasanuddin, setelah meruntuhkan pemerintahan Pucuk Umum, penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. Setelah Islam, pusat pemerintahan Maulana Hasanuddin terletak di Surosowan dekat Muara Cibanten (Hoesein Djajadiningrat, 1983), Priangan Timur antara lain ke Kerajaan Galuh tahun 1528, kemudian Talaga tahun 1530.
Penyebaran Islam ke daerah Babadan, Kuningan (Selatan Cirebon), Indramayu, dan Karawang, terjadi dengan damai. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperbesar posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber penghasil komoditas perdagangan seperti beras dan kayu, serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar (Singgih Tri Sulistiyono, 1997: 82).

Penyebaran Islam ke arah barat, yaitu di sepanjang pesisir utara Jawa bagian barat, juga erat kaitannya dengan politik Kesultanan Demak. Di antara kedua kesultanan itu, sejak semula sudah ada hubungan kekerabatan. Dari segi politik, penyebaran Islam di pesisir utara Jawa bagian barat itu lebih jelas pada waktu Kesultanan Banten sudah berdiri. Penyerangan ke pelabuhan utama Kerajaan Sunda Pajajaran terjadi tahun 1527 oleh tentara gabungan dari Demak, Cirebon, dan Banten. Penguasaan Islam tersebut jelas membendung pengaruh Portugis yang sudah menduduki Malaka sejak tahun 1511. Dengan demikian, perdagangan internasional dan regional dari daerah Maluku ke pelabuhan-pelabuhan sepanjang pesisir utara Jawa melalui Selat Sunda, menjadikan kesultanan-kesultanan tersebut dapat leluasa untuk menyingkirkan lalu lintas perdagangan melalui Selat Malaka yang sudah berada di tangan kekuasaan Portugis (Uka Tjandrasasmita, 2001: 43-64).

Perdagangan internasional yang dilakukan kesultanan-kesultanan dari dunia Melayu-Indonesia melalui Samudera-Hindia ke negeri-negeri Timur Tengah, melalui Teluk Aden sampai ke Afrika Timur, selalu mendapat rintangan dengan cara pencegatan di Lautan Hindia oleh kapal-kapal Portugis. K.N Chaundhuri mengatakan, “Kedatangan Portugis di Benua India secara tiba-tiba memang mengakhiri sistem pelayaran yang damai yang menandai kawasan ini” (K.N. Chaudhuri, 1989). Meskipun demikian, di berbagai pelabuhan di sepanjang pesisir utara Jawa seperti Gresik, Sedayu, Tuban, Jepara, Demak, termasuk Cirebon, Jayakarta, dan Banten, terdapat kelompok-kelompok pedagang dari Arab dan Timur Tengah, India, dan lainnya, di samping para pedagang China dan negeri-negeri di Asia Tenggara. Cirebon dengan demikian makin tumbuh menjadi kota Muslim yang sejak kehadiran Tome Pires (1513) penduduknya berjumlah sekitar 1000 orang. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia setengah abad, penduduk dan keramaian kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon, sudah lebih banyak.

Pada masa pemerintahan Pangeran Trenggono, di Kesultanan Demak dan Syarif Hidayatullah, terjadi perluasan politik dengan adanya serangan terhadap kota pelabuhan utama Kerajaan Sunda Pajajaran, yaitu Kalapa, pada 22 Juni 1527. Keberhasilan serangan tentara gabungan Demak-Cirebon, dan kemudian Banten di bawah pimpinan panglimanya, Fadhillah Khan (berdasarkan Carita Purwaka Caruban Nagari), atau Faletehan (berdasarkan berita Portugis De Barros) dalam merebut kekuasaan Kalapa dan mengusir armada Portugis di bawah pimpinan Francisco de Sa, menyebabkan nama Kalapa diganti menjadi Jayakarta oleh Fadhillah Khan  (Hoesein Djajadiningrat, 1983: 99; Atja, 1972: 56-57).
Sementara itu, Hoessein Djajadiningrat menyamakan Falatehan atau Tagaril (berita Portugis) dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Mazdkurullah. Namun, menurut saya, pendapat Djajadiningrat perlu dikritisi karena berdasarkan hasil temuan dari Carita Purwaka Caruban Nagari susunan Pangeran Arya Cirebon (1720) ternyata yang berperan mengadakan serangan ke Kalapa ialah Fadhillah Khan, seorang yang berasal dari Pase yang datang ke Jepara, Demak, dan kemudian dijadikan menantu Pangeran Trenggono. Kemudian Fadhillah Khan menjadi panglima untuk menyerang Kalapa dengan membawa tentara gabungan Demak dan Cirebon yang berjumlah 1967 (berita Portugis: 2000) orang. Ketika tiba di Cirebon, Fadhillah Khan diterima Syarif Hidayatullah dan mendapat restu karena dijadikan menantu oleh Syarif Hidayatullah. Dari fakta tersebut kita dapat memisahkan adanya dua tokoh Syarif Hidayatullah dan Fadhillah Khan. Karena itu, kemungkinan besar Falatehan yang dimaksud berita Portugis itulah yang sama dengan Fadhillah Khan.

Syarif Hidayatullah yang mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja), adalah salah seorang dari Wali Sanga, lebih giat menjalankan keagamaan dari pada bergerak di bidang politik. Pada masa serangan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono terhadap Pasuruan di Jawa Timur, menurut berita Portugis, Tagaril dari Cirebon juga turut serta dalam serangan. Setelah Pangeran Trenggono wafat tahun 1546, ia kembali. Tetapi menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, pada tahun 1552, Fadhillah ada di Cirebon mewakili Susuhunan Gunung Jati. Setelah itu ia menjadi pengganti sementara sebelum kemudian digantikan lagi oleh Pangeran Pasarean.
Setelah Syarif Hidayatullah yang terkenal dengan Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568, putranya, yakni Pangeran Pasarean, menggantikan ayahnya. Setelah itu, Kesultanan Cirebon diperintah oleh putra Pangeran Pasarean, yaitu Panembahan Ratu (1546-1649), cucu Sunan Gunung Jati. Pada masa ini terjalin hubungan antara Mataram dan Cirebon yang sebenarnya sudah terjadi sejak pemerintahan Senapati Ing Alaga yang juga mempunyai pengaruh kekuasaan di daerah Priangan Timur. Konon, sebuah cerita menggambarkan bahwa pada tahun 1590, raja Mataram, Panembahan Senapati, membantu pemimpin agama Cirebon, Pangeran Ratu, untuk mendirikan atau memperkuat tembok yang mengelilingi kotanya. Waktu itu raja Mataram menganggap Cirebon sebagai suatu pertahanan militer di bagian barat Kerajaan Mataram (De Graaf dan Pigeaud, 1986: 144-1450). Panembahan Ratu mengalami pergolakan dengan munculnya kekuasaan Belanda di Batavia dan dengan terjadinya peperangan antara Mataram dan Banten.

Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu, Kesultanan Cirebon masih menunjukkan kegiatannya dalam bidang perdagangan. Setelah terjadinya serangan Mataram teradap VOC di Batavia tahun 1628 dan 1629, pihak VOC tetap menaruh kecurigaan terhadap orang-orang Cirebon dan Mataram. Dalam Daghregister tahun 1632, Belanda memberitakan bahwa sekitar tanggal 30 April, ada empat atau lima ribu orang dari Mataram dan seribu orang dari Cirebon di bawah pimpinan orang kaya Mattasary dikhawatirkan akan menuju Batavia. Dikabarkan bahwa 50 kapal dari Cirebon dengan muatan beras, memasuki daerah perairan sebelah timur Karawang. Pada tanggal 7 Mei 1632 datang juga perahu-perahu dari Cirebon dan kapal Melayu yang membawa muatan gula dan lain-lain, yang oleh pihak Belanda diduga menuju Batavia. Kemudian, tanggal 12 Mei 1632, datang kapal-kapal Melayu dengan muatan gula, minyak, dan lain-lain. Kesibukan perdagangan Kesultanan Cirebon itu telah dicatat dalam Daghregister tahun 1633 dan 1634, yang menjelaskan datangnya sejumlah komoditas perdagangan berupa beras, minyak kelapa, gula, sayuran, daging, dan sebagainya (Daghregister gehouden in ‘t casteel Batavia Anno1631-1634, 1898; Daghregister 1632: 72, 73, 76, 104; Daghregister 1633: 291, 374, 408, 409, 410, 418; Daghregister 1634: 291, 374, 408, 409, 410, 418, 419, 438).

Setelah Panembahan Ratu, Kesultanan Cirebon dipimpin oleh yakni Pangeran Girilaya. Hubungan antara Mataram dengan Cirebon makin erat, karena seorang putri Susuhunan Amangkurat I menikah dengan Panembahan Girilaya. Pertalian kekerabatan antara Kesultanan Mataram dengan Cirebon, sebelumnya juga telah dilakukan antara saudara kakak perempuan Panembahan Ratu, yaitu Ratu Sakluh dengan Sultan Agung yang melahirkan Susuhunan Amangkurat I. Sikap Kesultanan Banten terhadap Kesultanan Cirebon tetap baik, karena sultan-sultan Banten masih mengakui dan hormat kepada sultan-sultan Cirebon yang dipandang sebagai leluhurnya, yaitu Sunan Gunung Jati, ayah Maulana Hasanuddin.

Kesultanan Cirebon pada masa Panembahan Girilaya masih melakukan kegiatan perdagangan. Sebagaimana dicatat dalam Daghregister tahun 1675 bahwa pada 30 April 1675, ada 25 kapal dari Cirebon dengan 1067 penumpangnya, sampai di Batavia dengan membawa 38.000 potong barang-barang kecil, 10 pot ibung asinan, 287 karung gula hitam, 10 karung gula putih, 1717 karung beras, 155 pot minyak, 24 sak kapuk, 10.000 telur asin, 1300 ikat padi, 2 pikul tembakau Jawa, 200 lembar kulit kerbau, dan barang-barang lainnya. Ada pula kapal-kapal dari Cirebon yang membawa barang dagangan ke Batavia, sebagaimana diberitakan dalam Daghregister tahun 1676, 1677, dan 1678 (Daghregister, 1675: 111, 113; Daghregister, 1676: 111, 118).
Ketika pemberontakan Pangeran Trunojoyo dari Madura, Panembahan Girilaya minta kepada Pangeran Trunojoyo, agar kedua putra Panembahan Girilaya diselamatkan. Ia kemudian dibawa ke Banten dan diberi gelar sultan sekitar tahun 1677. Ketika itu, Pangeran Syamsuddin Martawijaya menjadi Sultan Kasepuhan dan Pangeran Badruddin Kartawijaya menjadi Sultan Kanoman. Lain halnya dengan Pangeran Wangsakerta, putra Panembahan Girilaya. Waktu kedua saudaranya berada di Mataram dengan restu sultan Mataram, ia tetap ada di Cirebon, mewakili ayahnya. Tetapi ia tidak memperoleh gelar sultan. Sejak masa inilah mulai ada tanda-tanda keruntuhan Kesultanan Cirebon.

Masa Keruntuhan

Bibit keruntuhan Kesultanan Cirebon dimulai ketika kesultanan ini dibagi menjadi dua kekuasaan, yakni Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoman. Perselisihan antara kedua kesultanan itu ditambah dengan ketidakpuasan Pangeran Wangsakerta, memudahkan campur tangan politik VOC Belanda. Antara Kesultanan Cirebon dan VOC, terjadi persahabatan melalui perjanjian-perjanjian pada 7 Januari 1681 yang dilanjutkan dengan perjanjian tanggal 4 Desember 1685, 5 Desember 1688, 4 Agustus 1699, 17 Januari 1708, dan 18 Januari 1752 (Uka Tjandrasasmita, 1997: 55-75).
Sejak perjanjian 7 Januari 1681, dinyatakan bahwa gubernur jenderal dan Dewan Hindia, mengakui keberadaan ketiga raja di Cirebon. Masing-masing berdiri sendiri, dan dari status vassal dan bawahan, mereka menjadi rekan dan sahabat (van vassalen en onderhorigen tot bondgenoten en vrienden) (F. De Haan, 1910: 53). Meskipun demikian, hal itu tetap merupakan keuntungan bagi VOC untuk mencampuri urusan-urusan politik Kesultanan Cirebon dan juga memonopoli perdagangan. Sejak adanya campur tangan politik di antara sultan-sultan di Cirebon, bibit perselisihan yang ada, makin menjadi.

Tahun 1700, kesultanan menjadi empat kekusaan. Selain Kasepuhan dan Kanoman, terdapat juga kesultanan Kacirebonan di bawah Pangeran Arya Cirebon, dan Kaprabonan (Panembahan) di bawah Pangeran Wangsakerta. Sejak itu perdagangan internasional melalui pelabuhan Cirebon sudah berada di tangan VOC. Untuk memudahkan monopoli perdagangan dan pengumpulan hasil-hasil pertanian, terutama lada dari daerah Priangan Timur, Pangeran Arya Cirebon diangkat menjadi pengawas para bupati di Priangan Timur (Mason Claude Hoadley, 1975: 77) pada tahun 1706, sehingga hasil bumi dari daerah itu mudah dikumpulkan untuk dibawa ke Cirebon demi kepentingan VOC. Pengangkatan Pangeran Arya bertujuan agar kedudukannya menjadi terpandang, meskipun ia tidak bergelar Sultan. Sejak awal abad ke-18, Kesultanan Cirebon, baik di bidang politik maupun ekonomi-perdagangan, mengalami keruntuhan karena dikendalikan VOC yang berlanjut hingga pemerintahan kolonial Hindia-Belanda sejak abad ke-19 dan masa pendudukan Jepang tahun 1942, di mana sultan-sultan mendapat gaji dari pemerintah kolonial itu.

Keagamaan

Di atas sudah dikemukakan bahwa sejak sebelum kedatangan Syarif Hidayatullah di Cirebon, Islam sudah masuk melalui pelabuhan Muara Amparan Jati di Dukuh Pasambangan. Di antara mereka, Syekh Hasanuddin terus mendirikan pondok pesantren di Quro, Karawang. Kemudian datang pula Syekh Datuk Kahfi dengan rombongannya yang membangun pondok di sebelah timur Bukit Amparan Jati, di mana Nyai Lara (Rara) Santang dan Pangeran Cakrabuwana atau Walangsungsang, yang setelah pergi ke Mekkah, mendapat gelar Syarifah Mudha’im dan Syekh Abdullah Iman atau Syekh Duliman. Sekembalinya ke Cirebon, Syekh Abdullah Iman menjadi kuwu, kepala desa Kebon Pesisir atau Tegal Alang-Alang atau Lemahwungkuk yang kemudian terkenal dengan Cirebon.

Syarif Hidayatullah, putra Syarifah Mudha’im, datang ke Cirebon tahun 1470. Dan pada tahun 1479, ia dijadikan pengganti Syekh Abdullah Iman atau Pangeran Cakrabumi sebagai Ki Kuwu Cirebon yang akhirnya menjadi penguasa utama dengan gelar Sinuhun Cirebon. Ia bukan hanya berkedudukan sebagai kepala pemerintahan, tetapi juga sebagai wali dari Walisanga yang berusaha mengislamkan masyarakat di Tatar Sunda. Sehubungan dengan dua jabatan itulah, ia mendapat gelar Pandita Ratu. Pada tahun 1525-1526, ia dengan putranya, Maulana Hasanuddin menyebarkan Islam di Banten sehingga menjadi kesultanan yang maju sejak Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusuf dan terutama pada masa Sultan Abdul Fatah Abdul Fathi atau terkenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) yang oleh VOC dianggap sebagai musuh terbesar (Uka Tjandrasasmita, 1965).
Berdasarkan Babad Cirebon, Sunan Gunung Jati merupakan penganut Ahlu al-Sunnah wal-Jama’ah dari Mazhab Syafi’i. Pernikahan Syarifah Mudha’im, ibu Syarif Hidayatullah, dengan Maulana Hud di Mekkah, di mana Syekh Abdullah Iman yang menjadi walinya, juga memakai cara-cara Mazhab Syafi’i (haji ngabdullah pinangka walinira sang Mudha’im imam Syafi’i angijab aken paningkah sang dewi maring maulana Hud….) (D.A. Rinkers, 1911: 35).

Dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa, sebelum kepergiannya ke tanah Jawa, ia telah mendalami akidah, syari’ah, bahkan tasawuf dengan tarekatnya. Berdasarkan Sajarah Banten Rante-Rante dan Hikayat Hasanuddin, Martin van Bruinessen berpendapat bahwa Sunan Gunung Jati merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah, dan Bruinessen membahasnya secara luas (Martin van Bruinessen, 1995: 223-245). Seperti telah dikatakan bahwa sumber lokal membahas guru-guru Sunan Gunung Jati dan 27 nama teman-teman seperguruannya yang tercantum pada silsilahnya dalam sumber babad tersebut. Tarekat Kubrawiyah ialah tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra yang dalam Babad Cirebon dan Hikayat Hasanuddin selalu disebut-sebut. Setelah itu, ia berguru kepada Ibnu Atha’illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. Ia juga belajar Tarekat Syattariyah, Qadiriyah, dan Naqsyabandiyah.
Tarekat Syattariyah berkembang di Cirebon mungkin diajarkan oleh Syekh Abdul Muhyi yang pernah berguru kepada Syekh Kuala atau Abdu al-Rauf al-Singkili di Aceh. Syekh Abdul Muhyi, sekembalinya dari Timur Tengah ke Jawa, menetap beberapa lama di daerah Cirebon. Ia mengajarkan ajaran Syattariyah yang di dalamnya menerangkan tentang “Martabat Tujuh” (Alifya M. Santrie, 1992: 105-129; Azyumardi Azra, 1998: 189-211). Setelah dari Cirebon, Syekh Abdul Muhyi akhirnya pergi ke Pamijahan sampai meninggal dan dimakamkan di kampung tersebut (Kabupaten Tasikmalaya) yang sampai kini banyak diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.

Di Cirebon, selain Tarekat Syattariyah juga terdapat Tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah. Karena tarekat dianggap sebagai sumber kekuatan spiritual sekaligus melegitimasi dan mengukuhkan posisi raja (Martin van Bruinessen, 1995: 197). Di Banten, Cirebon, Aceh, dan Maluku, terdapat permainan debus yang biasanya dihubungkan dengan Tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, dan Syattariyah. Di daerah Cirebon dan Garut (Jawa Barat) juga terkenal ajaran Tarekat Tijaniyah yang mula-mula dicetuskan Ahmad al-Tijani (1757-1815). Tetapi di daerah lainnya di Nusantara, tarekat ini mendapat tantangan dari tarekat-tarekat lainnya (Martin van Bruinessen, 1995: 201).

Di dalam sejarah keagamaan Kesultanan Cirebon, selain pada umumnya menjadi penganut Mazhab Syafii, yang berarti termasuk golongan Sunnah wal-Jama’ah, juga terdapat unsur-unsur aliran Syi’ah seperti terbukti dari cerita-cerita tentang Ali bin Abi Thalib. Dalam naskah kuno seperti Babad Cirebon, juga terdapat silsilah yang tidak dipisahkan dari beberapa nama yang dapat dikaitkan dengan tokoh Syi’ah. Lukisan di Cirebon yang menggambarkan “Macan Ali” banyak didapatkan pada Mushaf Al-Qur’an dan pada ukiran kayu. Pendapat Hasan Mu’arif Ambary bahwa di Cirebon Islam pernah berkembang dalam dua bentuk madzhab, yaitu Sunni dan Syi’ah, mungkin ada benarnya (Hasan Mu’arif Ambary, 1997: 35-53). Perkembangan keagamaan Islam di Cirebon sudah tentu berefleksi pada bidang kebudayaan yang akan dibicarakan di bawah.

Seni Bangun dan Ragam Hias

Berdasarkan tinjauan teori proses akulturasi, yang terjadi di Cirebon sejak berkembangnya kesultanan, jelas tidak dapat dipisahkan dari adanya unsur-unsur budaya sebelumnya, yaitu Hindu-Budha yang tumbuh dan berkembang dengan unsur-unsur budaya refleksi dari keagamaan Islam. Contohnya adalah pada pembentukan kota dari segi morfologis, bangunan keraton, bangunan masjid, seni ukir atau hiasan, naskah-naskah kuno (manuskrip), dan lainnya.
Cirebon tumbuh dan berkembang hingga menjadi kota, terutama sejak pemerintahan Cirebon dipimpin Syarif Hidayatullah tahun 1479. Karena itu, tidak mengherankan apabila musafir Portugis, Tome Pires, ketika singgah di tempat ini, mengatakan bahwa Coroboum (Cirebon) merupakan kota yang sudah berpenduduk 1000 orang dengan bandar yang ramai dan sudah melakukan ekspor dan impor barang-barang yang diperlukan. Jika diperhatikan dari segi morfologi, kota Cirebon, baik Kesultanan Kasepuhan maupun Kanoman, mempunyai tatanan letak sebagai berikut: Keraton Pakungwati yang kini tinggal reruntuhannya terletak di bagian selatan, menghadap ke utara dengan tiga pelataran sampai ke alun-alun di sebelah utaranya. Di sebelah barat alun-alun terletak Mesjid Agung, dan di sebelah timur laut terletak pasar. Demikian juga Keraton Kanoman meskipun letak pasarnya di sebelah utara alun-alun. Dari segi morfologi, kota Cirebon tidak berbeda dengan kota-kota pusat kesultanan di pesisir utara Jawa seperti Demak, Banten, dan daerah lain (Uka Tjandrasasmita, 2000: 56-60).

Di Keraton Kesultanan Kasepuhan, yakni di tempat Sultan Sepuh, masih terdapat pelataran: pelataran pertama, kedua, dan yang paling belakang, pelataran ketiga, dengan bangunan keraton. Tiga pembagian pelataran mengingatkan kepada letak kompleks percandian di Jawa Timur masa Kerajaan Majapahit, seperti candi Panataran di daerah Blitar. Nama-nama bangunan, baik yang dimiliki Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon maupun keraton-keraton di Yogyakarta dan di Surakarta (Solo), juga menggunakan istilah lokal Jawa. Keraton Kasepuhan itu sendiri dibagi atas tiga bagian, yakni Pancaniti, Prabayaksa-Paseban sampai dalem, ruangan khusus Sultan. Sitinggil di pelataran depan sebelah kanan mempunyai bentuk-bentuk bangunan dengan gerbang berupa bentuk Candi Bentar. Bangunan-bangunan yang berada di Sitinggil itu ada yang dinamakan dengan Islam, seperti di bagian terdepan yang bertiang 20 dan menjadi tempat sultan dengan para pembesarnya duduk melihat upacara-upacara yang diselenggarakan di alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat umum. Bangunan bertiang 20 itu dihubungkan dengan “sifat dua puluh”. Di atas Sitinggil bagian kanan belakang terdapat bangunan kecil bertiang dua yang disebut Semar Tinandu dan diberi sebutan Islam dengan ucapan Kalimat Syahadat; di bagian kiri belakang bangunan yang bertiang dua puluh ada bangunan bertiang lima Pancapandawa yang dihubungkan dengan Rukun Islam.

Bangunan Masjid Agung di Kasepuhan yang dinamakan Sang Cipta Rasa oleh para Walisanga, juga mempunyai gaya arsitektur khas Indonesia kuno yang mengingatkan pada bentuk meru seperti pada relief-relief beberapa candi di Jawa Timur dan bangunan pura di Bali. Masjid Agung Cirebon yang sekarang atapnya hanya dua, sebenarnya merupakan suatu arsitektur untuk susunan atap tiga. Bagian dalam masjid dibuat dari tembok batu-bata dengan pintu masuk yang besar di tengah; sedangkan di tembok sampingnya dibuat pintu-pintu masuk yang rendah. Mihrab masjid dihiasi unsur-unsur hiasan pola teratai. Jadi, dalam arsitektur masjid dan juga ragam hiasannya lebih cenderung kepada gaya arsitektur pra-Islam.
Ragam hiasan yang terdapat di keraton mempunyai kekhasan bentuk wadasan. Menarik bahwa pada tiang-tiangnya terdapat hiasan pattra dan lainnya. Tetapi dinding tembok Keraton Kasepuhan sekarang banyak dihiasi oleh tegel-tegel delf dan juga piring-piring porselen China. Bagian-bagian tembok bata dan ukiran-ukiran pada tiang-tiang Sitinggil dan Keraton, menunjukan gaya campuran, antara lain geometrik yang memberikan gambar akulade dan jalinan tambang yang agaknya menunjukkan pengaruh ragam hiasan Islam.

Pengaruh kesenian hiasan China terlihat sangat jelas pada hiasan dinding tembok dan gerbang keraton yang menggunakan piring-piring China. Adanya unsur-unsur bangunan bata dan juga hiasan wadas seperti sisia awan, kemudian hiasan teratai dalam bentuk hati, dimungkinkan karena, menurut cerita dalam babad-babad lokal, pernah terjadi bahwa kepala tukang dari Majapahit bernama Raden Sepet, setelah mengerjakan bangunan-bangunan di Demak, juga diminta mengerjakan bangunan Cirebon (Uka Tjandrasasmita, 1975: 93-98; Uka Tjandrasasmita, 1976).

Bangunan lainnya, Guha Sunia Ragi yang dibuat tahun 1703 sebagai tempat peristirahatan Sultan, juga menunjukkan arsitektur gaya China dibuat dari batu karang dan batu yang ditambah dengan pot-pot bunga dan bale kambang dan lorong-lorong yang mengingatkan kita kepada bangunan yang berada di Forbidden City di Beijing, yang saya lihat pada waktu menghadiri seminar Internasional Arkeologi tahun 1983.

Yang menarik adalah bangunan dan tata letak kompleks Makam Sunan Gunung Jati yang serupa dengan sebuah bukit yang dibuat 9 tingkatan. Tingkatan paling atas adalah jinem, yakni bangunan untuk makam Sunan Gunung Jati beserta keluarganya. Menarik perhatian karena, setelah terjadi perpecahan politik, di mana terjadi pembagian Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman, kemudian Kesultanan Cirebon dan Panembahan-Keprabonan, maka tata letak kuburan para Sultan Kasepuhan berada di sebelah kanan yang dipisah oleh jalan bertingkat-tingkat. Sedang di sebelah kirinya untuk kuburan para Sultan Kanoman. Di bawahnya terdapat deretan kuburan Sultan Kacirebonan dan Panembahan Keprabon sampai tingkat tiga. Perpecahan politik ketika di dunia, dibawa setelah di kubur dengan ditempatkan secara terpisah. Ketika belum ada perpecahan politik, sangat jelas masa Sunan Gunung Jati dan beberapa sultan lainnya ditempatkan dalam jinem atau cungkup teratas, seperti halnya di kompleks makam Imogiri yang terpisah, di mana tempat kuburan para Sultan Yogyakarta berada di sebelah kanan, sedangkan kuburan Susuhunan Solo berada di sebelah kiri terpisah oleh sebuah jalan bersama; tempat kubur Sultan Agung Hanykrokusumo berada paling atas (Uka Tjandrasasmita, 1999: 285-300).

Kompleks makam yang dibuat sembilan tingkat itu mungkin pula memberikan simbol sanga, Walisanga; nilai sembilan juga untuk masa sebelum Islam Nawsanga. Sedangkan bukit juga dapat dipandang sebagai meru yang mungkin sekali mempunyai kaitan dengan pikiran bahwa gunung merupakan tempat tinggi ruh-ruh nenek moyang. Seperti halnya sebutan Imogiri untuk Himagiri. Jadi, membuat kompleks makam orang-orang yang dianggap suci di atas bukit-bukit seperti halnya kompleks makam Sunan Giri di Gresik Jawa Timur, kompleks makam Sunan Muria di Solo, atau kompleks makam Sunan Bayat di Tembayat, Klaten, merupakan hal biasa dan mentradisi.
Terakhir adalah kereta-kereta kuno. Di Keraton Kasepuhan terdapat Kereta Singa Barong atau Singa Naga Liman yang menurut Candrasangkala Iku Pandito Buto Rupanane, berarti nilainya 1751 dibaca 1571 Saka, sama dengan 1649 M. Kereta ini, dari segi rodanya, bukan untuk ditarik kuda tetapi oleh sapi. Bentuk itulah yang menyerupai burung, naga, dan gajah dengan penuh ukiran pada sayapnya. Di Keraton Kanoman juga terdapat kereta Paksi Naga Liman yang memuat angka tahun Jawa pada medallion ban lehernya tahun 1350 yang berarti sama dengan 1428 M (Drs. H.B Vos, 1986: 39-42).

Wayang dan Topeng

Di Cirebon terdapat wayang kulit dan wayang cepak (papak, menak). Wayang kulit menyajikan cerita-cerita yang diambil dari episode (kisah) Mahabrata dan Ramayana. Wayang cepak menyajikan cerita Panji dan Menak yang mengambil kisah-kisah kepahlawanan Amir Hamzah yang berkaitan erat dengan penyebaran Islam. Wayang cirebon masih kuat dengan ritus-ritus bagi komunitas dan dalang-dalangnya. Faktor yang menunjang ketahanan motivasi ritusnya ialah bahwa komunitas Cirebon ada di antara dua budaya besar, yakni Jawa Tengah (Solo, Yogyakarta) dan Jawa Barat. Demikian pula dari segi bahasa yang khas sebagai Jawa-Cirebon, bertahan untuk jati dirinya.
Ungkapan dalam kesenian, selain pertunjukan wayang, juga dalam topeng Cirebon yang sampai kini pembuatan topengnya masih hidup di Gresik. Selain itu, kekhasan seni yang disebut tarling (permainan gitar dan suling), gamelan Cirebon, kuda lumping, sintren, lais, barongan (bengberokan), lukisan kaca, dan angklung bungko yang kesemuanya sampai kini masih cukup terpelihara keberadaannya (Saini K.M., 1997: 163-167).

Wayang Cirebon termasuk seni yang sangat penting sebagai pengungkap jati diri kecirebonannya. Faktor lain yang mendukung adalah keberadaan keraton-keraton (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan). Ketiga keraton ini, selain menjadi buhul tali pengikat yang menghubungkan masyarakat budaya Cirebon, yang terpenting adalah upacara Panjang Jimat dalam Maulud Nabi Muhammad SAW.
Topeng bukan hanya terdapat di Cirebon, tetapi di mana-mana. Namun demikian, topeng Cirebon mempunyai kekhasannya sendiri. Pertunjukan topeng biasanya dilakukan di siang hari dan dilakukan di desa sampai kota. Dalang topeng, seperti juga dalang wayang, biasanya berasal dari keturunan dan ternyata juga kadang-kadang punya pertalian keluarga. Pertunjukan topeng secara tradisional diselenggarakan untuk merayakan upacara semalaman, khitanan, perkawinan, dan juga pada upacara penting yang kini sudah menipis tetapi masih ada, adalah sedekah bumi, kaulan, dan upacara-upacara keagamaan. Pertunjukan topeng seperti tari Panji, tari Pamindo, tari Patih, tari Tumenggung dan Jingganamon, dan tari Klana, semua itu memerlukan keterampilan tarian masing-masing (Endo Suanda, 1997: 169, 192).

Seni Sastra

Cirebon sebagai pusat keagamaan Islam, dikenal pula dalam bidang seni sastra yang pada umumnya bersifat keagamaan Islam, terutama sejak adanya perkembangan Kesultanan Cirebon. Naskah-naskah kuno (manuskrip) yang berasal dari daerah Cirebon yang dapat dicatat oleh hasil penelitian Pudjiastuti, terdapat lebih kurang 200 naskah. Naskah-naskah dari Cirebon itu sudah dibicarakan pula oleh Agus Arismunandar dan Pudjiastuti sendiri (Agus Arismunandar dan Pudjiastti, 1997: 193-202). Naskah-naskah tersebut ditulis dalam berbagai bentuk penyajian, yakni prosa dan pupuh (macapat, tembang, skema dan gambar-gambar).
Tulisan yang dipergunakan juga bermacam-macam: tulisan Arab bahasa Jawa atau Pegon dan Jawi (tulisan Arab bahasa Melayu). Berdasarkan isinya, naskah-naskah Cirebon dapat ditafsirkan ke dalam 13 kategori jenis sastra. Ketiga belas kategori itu adalah sejarah, silsilah yang umumnya ditulis dalam bentuk skema (wayang sastra, ajaran agama, doa-doa, cerita Islam, primbon, obat-obatan, mantra, hukum, dongeng, legenda, dan lain-lain. Termasuk dalam kategori lain-lain, adalah naskah-naskah yang isinya mengenai jimat (biasanya dalam bentuk gambar), adat istiadat, dan pelajaran asmara.

Dari sejumlah 200 naskah yang telah berhasil di data, naskah yang berisi sejarah cukup banyak, yakni sekitar 31 naskah. Naskah sejarah ini tampil dengan judul yang bermacam-macam. Di antaranya yang berbahasa Cirebon adalah Babad Cirebon, Carub Kanda, Catur Kanda, Carang Satus dan Carang Sewu. Naskah-naskah yang berisi tentang sejarah Cirebon, antara lain adalah Babad Cirebon, Carita Purwaka Caruban Nagari, dan naskah Wangsakerta. Belum lama ini ditemukan sebuah naskah dari Metasinga oleh Amman N. Wahyu dan sudah dialihaksarakan dengan judul Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.
Di Cirebon juga terdapat sejumlah naskah-naskah kuno yang berisi tentang suluk atau tasawuf yang ditulis oleh kalangan ulama dari keraton seperti Pangeran Wangsakerta dan Pangeran Arya Cirebon. Karena itu, keraton-keraton di Cirebon dapat disebut sebagai pusat kebudayaan. Naskah-naskah kuno, baik Mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab fikih, juga sering ditemukan dari pesantren-pesantren antara lain, Pesantren Buntet.

Penutup

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan: pertama, pertumbuhan Cirebon sampai menjadi kesultanan, baik dari segi politik maupun perdagangan, sudah dimulai sejak Cirebon di bawah pemerintahan Kerajaan Sunda Pajajaran. Kedua, pada masa sebelum menjadi kesultanan di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, agama Islam sudah datang dan mulai menyebar melalui pesantren, bukan hanya oleh ulama dan para syekh, tetapi juga oleh penguasa desa (Kuwu) Cirebon, yaitu Syekh Abdullah Iman atau Pangeran Cakrabuwana(Cakrabumi).

Ketiga, agama Islam makin luas disebarkan ke daerah-daerah Talaga, Kuingan, Galuh, dan terutama ke Banten, oleh Syarif Hidayatullah dan disusul kemudian oleh Fadhillah Khan, atas perintah Sultan Demak, Pangeran Trenggono, dan dorongan Syarif Hidayatullah untuk menyerang Kalapa yang berhasil tahun 1527 hingga Kalapa diganti menjadi Jayakarta. Keempat, dari segi politik, agama, dan ekonomi-perdagangan, sejak Syarif Hidayatullah, Cirebon menjadi pusat kesultanan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan sampai pemerintahan Panembahan Ratu dan Girilaya.

Kelima, setelah kesultanan dipecah menjadi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman, dan karena timbul perpecahan yang dipicu oleh perjanjian dengan VOC Belanda, Kesultanan Cirebon mulai mengalami keruntuhan. Bahkan pada awal abad ke-18, kesultanan praktis tak berdaya, baik di bidang politik maupun di bidang perdagangan, karena sudah jatuh ke tangan VOC dan seterusnya Hindia-Belanda.

Keenam, meski demikian, masih dapat dicatat bahwa Kesultanan Cirebon masih mempunyai peran dalam menghasilkan seni bangunan, seni ukir, dan seni hias, bahkan menonjol pula dalam seni sastra dengan banyaknya naskah-naskah kuno yang dapat ditemukan. Ketujuh, hasil-hasil seni bangunan, seni ukir, seni pertunjukan, serta seni hias Kesultanan Cirebon, memberikan bukti hasil proses akulturasi yang tetap memiliki jati dirinya yang Islami.

Minggu, 08 April 2012

WISATA SEJARAH DI CIREBON: Banyak Ilmu Tersembunyi di Keraton Kanoman










Kota Cirebon.Siapa yang tidak kenal dengan daerah ini. Cirebon merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang patut dikunjungi saat libur seperti sekarang. Banyak tempat wisata di kota ini.Terutama wisata sejarah yang terlihat dari bentuk bangunannya.

Cirebon terkenal dengan Kota Sunan.Banyak keraton di Kota Cirebon dan salah satunya adalah Keraton Kanoman.Jika ingin mengenal sejarah Kesultanan Cirebon, datanglah ke Keraton Kanoman di Jalan Winaon,Kampung Kanoman,Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk,Kota Cirebon. Keraton Kanoman memiliki kandungan sejarah yang kental.Arsitektur bangunannya sangat menarik. Tidak heran jika Keraton Kanoman sebagai salah satu objek wisata di Cirebon.

Keraton ini merupakan pecahan dari Kesultanan Cirebon.Selain Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan, pecahan lainnya dari Keraton Kacirebonan,juga Keraton Kaprabonan yang hingga kini status kekeratonannya masih mengundang prokontra di lingkungan Kesultanan Cirebon. Terlepas dari itu,Keraton Kanoman telah menjadi salah satu daya tarik wisata.Sejumlah referensi mengatakan,Keraton Kanoman didirikan Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya yang bergelar Sultan Anom I,sekitar tahun 1510 Saka (1588 M).

Serupa dengan keraton lainnya,Keraton Kanoman juga menjadi tempat tinggal penguasanya yakni Sultan Kanoman XII Sultan Emirudin beserta keluarga.Selain Sultan Emirudin,tinggal pula penguasa lain Keraton Kanoman yakni Sultan Kanoman XII Sultan Saladin. Dualisme kekuasaan yang lahir dari konflik internal ini telah lama menjadi salah satu fenomena menarik dari keseluruhan kehidupan Keraton Kanoman.Di luar itu,keindahan arsitektur Keraton Kanoman yang multikultur,menjadi salah satu hal yang bisa dinikmati para pengunjung.

Juru bicara Keraton Kanoman Cirebon Ratu Raja Arimbi Nurtina menyebutkan, jumlah kunjungan rata-rata 300 orang/bulan.Di antara mereka,terdapat pula wisatawan asing maupun akademisi dalam dan luar negeri untuk kepentingan penelitiannya,seperti dari UPI, Unpad, Unbraw,dan masih banyak lagi. Kunjungan wisatawan biasanya melonjak lebih banyak pada hari libur seperti saat ini.

Bahkan,wisatawan biasanya membludak saat keraton menggelar acara-acara ritual, seperti pencucian benda pusaka menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW.”Kami masih mempertahankan tradisitradisi itu bukan hanya sebagai bentuk penghormatan,tapi juga untuk mempererat silaturahmi antar kerabat keraton dan masyarakat lain di luar dinding keraton, ”ungkap dia.

Salah satu bangunan menarik yang terdapat di lingkungan keraton seluas sekitar enam hektare ini adalah Witana yang berasal dari bahasa Cirebon awit atau asal/mula dan anaatau ada.Jika diartikan, witana berarti asal mula ada yang dalam konteks ini asal mula berdirinya Cirebon. Dia menyebutkan,Witana merupakan satu-satunya bangunan ketika Cirebon masih berbentuk pedukuhan Caruban.

Witana didirikan Pangeran Cakrabuana,putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran, yang digunakannya sebagai tempat tinggal. Sementara itu,Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon Abidin Aslich mengatakan, potensi wisata terbesar di Kota Cirebon khususnya adalah sejarah.

Sabtu, 07 April 2012

Ontran-ontran Keraton Kanoman Cirebon bag I


Keraton Kanoman, Pudarnya Sebuah Pamor
Dulu Dihancurkan Dari Luar, Kini Dihancurkan Dari Dalam

Pasar  Kanoman di pusat Kota Cirebon, kini  menjadi  salah satu  sentra  perdagangan bagi masyarakat  setempat.  Sebagaimana pasar,  maka  seluruh  barang  kebutuhan  masyarakat   keseharian dijajakan,  dari  mulai buah-buahan, sayuran sampai  pada  barang kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bahkan  untuk  ukuran Cirebon dan daerah di Wilayah  III  Cirebon lain  meliputi  Kab Indramayu, Majalengka  dan  Kuningan,  selain masyarakat  Cirebon  sendiri  (kota  dan  kabupaten:Red.),  Pasar Kanoman  dikenal  memiliki  ciri  tersendiri.  Yakni  pasar  yang menyediakan  segala  macam buah lokal, serta pasar  khusus  untuk segala macam kain atau konveksi.
Bersama  perjalanan waktu, seiring dengan mewabahnya  gaya  hidup hedonis dan konsumtif masyarakat Cirebon, ketika orang  berbicara "Kanoman", maka asosiasi yang pertama muncul di benak  masyarakat ialah  pasar.  Sebuah  fasilitas umum  yang  menyediakan  beragam barang  kebutuhan, bagi rata-rata wanita di Wilayah III  Cirebon,
asosiasinya bahkan lebih spesisik lagi, yaitu pusat  perbelanjaan kain dan segala macam barang konveksi.
Kanoman  di  benak  masyarakat  tidak  lagi  diidentikan   dengan kerajaan  atau  kesultanan.  Bahkan  sebagian  besar   masyarakat mengaku tidak tahu kalau kata "Kanoman" atau "Pasar Kanoman"  itu mengambil  dari nama sebuah kerajaan (kesultanan), tidak  sedikit masyarakat  yang mungkin belasan kali belanja di  Pasar  Kanoman, tapi  tidak  tahu kalau di belakangnya itu  ada  sebuah  bangunan besar berusia ratusan tahun yang bernama Keraton Kanoman.
Hal  di  atas  menunjukan bahwa  Keraton  Kanoman,  atau  Kanoman sebagai sebuah entitas kekuasaan tradisional (kesultanan),  sudah sedemikian kalah pamor dibanding dengan pasar yang justru usianya jauh  lebih  muda.  Keraton Kanoman yang  dirintis  abad  13  dan dibangun  Pangeran  Kartawidjaya atau Sultan Kanoman I  pada  thn 1677, sepertinya telah kehilangan aura kekuasaannya.
Padahal,   Keraton  Kanoman  pada  masa  lalu   memiliki   cerita kepahlawanan  tersendiri.  Bahkan  diantara  keraton-keraton   di Jabar,  khususnya  Cirebon,  Kanoman  satu-satunya  keraton  yang secara  politik  dan militer ernah sangat ditakuti  dan  disegani pemerintah kolonial Belanda.
Pada  masa lalu, Kesultanan Kanoman menjadi pusat dari  peradaban Islam  di  Cirebon. Dari keraton yang memiliki luas sekira  5  ha itu,  keturunan  Sunan  Gunung Djati  atau  yang  disebut  dengan Kanjeng Sinuhun Djati, terus melakukan penyebaran Agama Islam.
Dari keraton itu pula, lahir beberapa ahli agama yang berdiam  di Pengguron  Keprabonan  (bagian dari Keraton  Kanoman),  antaranya yang  mashur ialah Syekh Sholeh Benda Kerep. Ahli-ahli agama  itu juga  merintis berdirinya pesantren-pesantren besar  yang  sampai sekarang  sangat disegani, antaranya Buntet,  Gedongan,  Babakan,
Ciwaringin sampai Kempek.
Dari  pondok-pondok  pesantren  itu,  berbagai  ilmu  agama  atau pengetahuan umum lain disebarkan. Sampai kemudian lahirlah putra-putra  bangsa  pilihan  yang berani secara  politik  dan  militer menentang dominasi kolonialisme Belanda. 
Pada  masa  silam, Keraton Kanoman menjadi  semacam  "duri  dalam daging"  bagi  penjajah  Belanda.  Gerakan  perlawanan   terhadap
Belanda, banyak disponsori dan disokong oleh pejuang-pejuang dari Keraton  Kanoman,  termasuk  para  sultan  dan  punggawa-punggawa keraton tersebut. Perlawanan  dari  Keraton Kanoman membuat Belanda  kerepotan  dan kewalahan.       Apalagi,  gerakan perlawanan  itu  memperoleh  banyak simpati  dari  masyarakat  Cirebon,  dan  yang  paling  ditakuti, perlawanan Keraton Kanoman itu akan mempengaruhi  keraton-keraton lain di Cirebon seperti Keraton Kasepuhan.
Karena   itulah,  Belanda  terpaksa  harus  melumpuhkan   Keraton Kanoman,  secara  politik maupun militer.  Dengan  berbagai  cara dilakukan  Belanda  melumpuhkan pengaruh  Keraton  Kanoman,  dari mulai  politik pecah belah (devide et impera) sampai cara  paling kasar,  ialah  pemaksaan  dibangunnya pasar  dan  gedung  bioskop persis di depan alun-alun Keraton Kanoman.
Dengan dibangunnya pasar, Belanda ingin memutus jaringan  Keraton Kanoman  dengan kelompok-kelompok perlawanan. Melalui  pasar  itu pula,  Belanda  lebih  leluasa  melakukan  infiltrasi   mata-mata (telik  sandi)  untuk  memantau  serta  menyerap  informasi setiap gerakan Keraton Kanoman.
Mengenai  bioskop  yang sekira thn 1975,  dibongkar  jadi  gedung pasar kain berlantai II (namanya Bioskop "Garuda"), Belanda ingin meruntuhkan moral masyarakat di sekitar keraton (magersari)  yang dicurigai  sebagai pejuang perlawanan Belanda. Penjajahan  budaya ala Belanda dilakukan secara intensif, yakni dengan memutar film-film bernuansa barat.
Pendeknya,  Keraton Kanoman telah dijepit secara politik,  sosial maupun  kebudayaan. Usaha Belanda itu ternyata  berhasil,  dengan adanya  pasar  yang  mendatangkan kotoran  dan  kekumuhan,  serta gedung bioskop yang meruntuhkan moral masyarakat Magersari maupun Cirebon umumnya, Keraton Kanoman akhirnya terkucil.
Pergerakan perlawanan terhadap Belanda pun reda bersamaan  dengan makin  berkembangnya pasar dan gedung bioskop.  Masyarakat  tidak lagi  mempedulikan  soal penjajahan, mereka  lebih  suka  melihat film-film  Eropa, di sisi lain, jaringan Keraton  Kanoman  dengan pejuang-pejuang anti Belanda menjadi putus.
Sejak  Belanda melakukan pembunuhan kultural dan politik  itulah, kegagahan Keraton Kanoman hilang. Pamornya pun kemudian  memudar, Kesultanan Kanoman yang semula disegani menjadi penyokong gerakan perlawanan  terhadap Belanda, menjadi lebih sibuk dengan  urusan-urusan  internal,  sejak itu pula, benih-benih  konflik  diantara para kerabat dan keluarga Sultan Kanoman mulai tumbuh subur.

Hancur Dari Dalam

Diantara  keraton-keraton  lain  yang  ada  di  Cirebon,  seperti Keraton Kasepuhan dan Keraton Kacirebonan, hanya Keraton  Kanoman yang  menjadi pusatnya peradaban Kesultanan Cirebon. Keraton  ini juga  dikenal  lebih  taat dan konservatif  dalam  memegang  adat istiadat  dan  pepakem, ini sangat berbeda  dengan  Keraton
Kasepuhan  yang  dalam sejarahnya masih saudara  tua,  atau  juga
Keraton Kacirebonan yang menurut sejarah, dikenal hanya ada  satu sultan atau sultan sepengadegan, yakni Sultan Carbon  (abad 18) dimana anak cucu mereka, sesuai keputusan pengadilan  Belanda ketika itu, ditetapkan tidak memiliki hak lagi sebagai sultan.
Contohnya  tradisi  Grebeg Syawal, seminggu  setelah  Idhul Fitri,  Keraton Kanoman masih menyelenggarakan. Dalam acara  yang intinya  ziarah  sultan dan kekuarganya ke  Makam  Sinuhun  Sunan. Gunung  Djati  di Ds Astana, Kec Cirebon Utara,  Keraton  Kanoman memegang adat dengan penuh ketaatan.
Misalnya pada masa Sultan Djalaludin atau Sultan Kanoman XI, pada acara  Grebeg  Syawal,  prameswari  Ratu  Sri  Mulya   dan keluarganya (Emirudin) yang berhak naik sampai ke atas dan  masuk ke  pintu  Pasujudan.  Juga  pada  saat  acara  Panjang  Jimat  atau  pencucian  jimat  pada  pelal  atau  puncak Maulud, hanya keluarga dari prameswari yang boleh memegang  jimat dan benda pusaka yang disucikan di keraton itu.
Akan  halnya  dengan apa yang disebut adat istiadat  dan  pepakem tentang   tahta  kesultanan.  Ontran-ontran  atau   konflik internal  keluarga Keraton Kanoman juga merupakan konflik  antara 'hukum  besi'  adat  istiadat dan pepakem,  dengan  sesuatu  yang dianggap  menyimpang dan adat istiadat dan pepakem di  lingkungan Keraton Kanoman Cirebon tersebut.
Munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya  penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad  Saladin  sebagai Sultan Kanoman XII, memperoleh perlawanan keras. Wasiat itu  oleh kerabat  keraton  tidak dikenal dalam  sistim  suksesi  kekuasaan kesultanan di dalam keraton itu.
Hingga  saat surat wasiat itu muncul, menjadi sesuatu yang  tidak lazim,  itu  pula kemudian menuai protes keras  sampai  klimaknya. Pengusiran  keluarga  Saladin oleh  keluarga  Emirudin.  Keluarga Emirudin  yang  diukung mayoritas  kerabat  keraton,  menjatuhkan hukuman  adat berupa pengusiran terhadap saudaranya sendiri  atas dasar tuduhan telah menyalahi adat istiadat dan pepakem.
Dalam  adat  istiadat dan pepakem khas Keraton  Kanoman,  suksesi kepemimpinan  tidak pernah dikenal melalui surat wasiat,  apalagi isi  surat  itu menunjuk Saladin yang merupakan anak  dari  selir sebagai  sultan.  Adat dan pepakem Keraton Kanoman  yang  berlaku ratusan  tahun,  bahwa hak suksesi kepemimpinan hanya  pada  anak lelaki tertua dari istri prameswari atau permaisuri.
Setelah wafatnya Sultan Djalaludin pada Noember 2003 lalu, sesuai adat dan pepakem, tahta harus jatuh kepada Pangeran Raja Muhammad Emirudin.  Dengan  alasan dia merupakan anak lelaki  tertua  yang lahir dari ibunda ratu atau permaisuri, yaitu Ratu Sri Mulya.
Dalam  pemberian  gelar saja, tampaknya jadi penanda  soal  siapa yang   berhak  atas  tongkat  suksesi.  Saladin  hanya   bergelar "Pangeran", sedangkan Emirudin gelarnya "Pangeran Raja",  artinya pangeran yang kelak dipersiapkan menjadi raja atau sultan.
Anak dari selir, sepertihalnya keluarga Saladin, untuk yang laki-laki  hanya  bergelar  "pangeran"  dan  "ratu"  untuk  perempuan. Sedangkan  keluarga Emirudin, yang lahir dari ibunda  permaisuri, bergelar  "pangeran raja" untuk laki-laki dan "ratu  raja"  untuk perempuan,  dan  adat istiadat ini berlaku  tegas  di  lingkungan Keraton Kanoman Cirebon.
Perdebatan  mengenai adat istiadat dan pepakem yang menjadi  tema sentral dari konflik suksesi kesultanan di Keraton Kanoman, tanpa disadari   keluarga   Emirudin  maupun  Saladin,   kini   tambah menterpurukan  Keraton  Kanoman. Pamornya  sebagai  keraton  atau entitas kekuasaan kesultanan, lengkaplah sudah makin pudar.
Dan kehancuran Keraton Kanoman makin lengkap. Bila Belanda  mampu memudarkan  dan  menghancurkan Keraton Kanoman  dari  luar,  kini diperparah  dengan kehancuran yang dilakukan justru  dari  dalam lingkungan keraton itu sendiri.
Keluarga  Emirudin dan Saladin mungkin tidak sadar, bahwa  posisi kesultanan  yang kini diperebutkan dianggap sebagai sesuatu  yang biasa  saja. Sebab siapapun sultannya, bagi  masyarakat  Cirebon, tidak  akan  ada pengaruhnya langsung  terhadap  mereka,  apalagi pengaruh  keraton memang telah lebih dulu pudar,  bahkan  sebelum konflik antar keluarga itu mencuat

Ontran-ontran Keraton Kanoman Cirebon bag II




Keseharian yang Biasa-biasa Saja
Kehidupan Putra-putri di Balik Tembok Keraton Kanoman

Orang  awam mungkin berpikiran bahwa  kehidupan  bangsawan yang  hidup  di  balik  tembok  keraton  pastilah   bergelimangan kemewahan dan kesenangan. Di dalam kehidupan umum, para  keluarga bangsawan  dianggap  memiliki hak-hak istimewa  (previlise)  yang tidak dimiliki oleh masyarakat umum lainnya.
Anggapan  itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya  yang  tercermin dari kehidupan sehari-hari di lingkup Keraton Kanoman Cirebon.Konflik  Keraton  Kanoman,  paling tidak  telah  membukakan  mata masyarakat  umum  akan kehidupan keluarga 'darah biru'  cucu  dan cicit  Sunan Gunung Djati. Konflik antara keluarga Pangeran  Raja
Muhammad  Emirudin dan Pangeran Muhammad Saladin, keduanya  anak-anak Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin), tak dapat  dihindari, telah mengungkapkan apa kehidupan sehari-hari mereka.
Selama  ini,  tak  ada yang  tahu  bagaimana  kehidupan  keluarga bangsawan  keraton.  Kehidupan mereka bahkan  dinilai  masyarakat sangat  tertutup, hingga masyarakat berpandangan bahwa  kehidupan keluarga di balik tembok keraton yang tinggi dan gagah itu selalu dibayangkan penuh kemewahan.
Padahal  tidaklah demikian. Ratu Raja Arimbi Nurtina,  S.T,  adik perempuan  orang  kepercayaan Emirudin  yang  dinobatkan  kerabat keraton  sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Sultan  Djalaludin, mengaku   bahwa  kehidupan  mereka  tidak  jauh  berbeda   dengan masyarakat umumnya.
"Tidak ada yang istimewa. Kami hidup seperti umumnya  masyarakat. Yang  membedakan  rumah  atau tempat  tinggal  kami  itu  bernama keraton.  Kami memang punya gelar yang tidak dimiliki  masyarakat umum, tapi itu sebenarnya biasa saja," tutur dia.
Ratu  Arimbi  justru mengaku kehidupan sehari-hari  yang  dialami keluarganya   sepenuhnya  penuh  dengan  keprihatinan.   Mengenai kemewahan atau kemudahan seperti anggapan masyarakat, sama sekali tidak benar.
"Justru kehidupan keluarga kami penuh dengan keprihatinan.  Kalau masyarakat beranggapan kami bergelimang kemewahan dan kesenangan, sangatlah  keliru. Mungkin kehidupan bangsawan ada jaman  dahulu, kalau  sekarang,  kehidupan  saya tidak  beda  dengan  masyarakat umumnya," tutur Ratu Arimbi.
Sebagai  contoh soal hidup yang biasa, setidaknya status  dirinya yang  kini  bekerja  di  bagian  laboratorium  Fakultas   Teknik-Unswagati  Cirebon.  Itu menandakan bahwa  meski  dirinya  adalah putra seorang raja (sultan:Red.), tapi tetap saja butuh pekerjaan untuk membiayai kehidupannya.
Di tengah masyarakat juga tidak ada perbedaan. Previlise  sebagai putri  keraton  dengan  gelar Ratu  Raja,  tidak  dirasakan  sama sekali, masyarakat juga bergaul apa adanya dengan dirinya.
"Dan  saya  juga keluarga juga tidak ingin dibedakan.  Tidak  ada yang namanya hak-hak kehormatan. Itu khan dulu," tutur dia dengan senyu khasnya yang ramah.Hal  sama juga dituturkan Ratu Setyawati, Ratu Kenanga  dan  Ratu Mawar,  adik dari keluarga Saladin. Di kehidupan umum, dia  tidak merasakan ada sesuatu yang lebih sebagai putri bangsawan keraton. Di  dalam keraton, kehidupan yang mereka jalani tampaknya  memang tidak  ada yang istimewa. Bahkan dalam konteks kehidupan  'sehat'
dalam khasanah kekinian, kehidupan keluarga darah biru itu  belum bisa dikatakan sepenuhnya 'sehat'.
Misalnya  soal  rasio kehidupan rumah tangga kekinian  soal  satu rumah satu keluarga. Putra-putri Keraton Kanoman itu malah  hidup dalam suasana yang tampak berdesak-desakan.
Keluarga  Emirudin  dan Saladin, mereka hidup  dalam  satu  rumah berupa  gedung berusia ratusan tahun yang luasnya sekira 50 x  25 meter. Mereka menempati gedung Kaputren, terletak persis di sebelah   Bangsal   Djinem  dan  Mande  Mastaka,   gedung   pusat pemerintahan kesultanan.
Gedung  terbagi dalam 6 kamar besar berukuran 10 x 10 m  di  sisi utara dan selatan, ruangan tengah terbagi jadi ruang tamu,  ruang keluarga  dan  ruang  belakang, termasuk dapur.  Di  dalam  kamar berukuran besar itu, terdapat kamar mandi dan WC.
Dan  kamar-kamar berukuran besar itulah yang kini  telah  disulap menjadi rumah oleh masing-masing penghuninya. Emirudin  misalnya, dia  bersama  adiknya Pangeran Raja Hamzah menempati 2  kamar  di bagian belakang sebelah utara.
Emirudin yang dinobatkan sebagai Sultan Kanoman XII, hidup  dalam ruangan  yang terlihat pengap. Di 2 kamar itu, dia hidup  bersama istri  dan  anaknya, calon penggantinya kelak,  bernama  Pangeran
Raja Muhammad Qodirudin (2 thn) dan istrinya, di situ, hidup pula keluarga adiknya Pangeran Raja Hamzah beserta anak dan istrinya. Di  dalam  2 kamar yang digabung menjadi satu,  Emirudin  membuat dapur  yang  dipakai  bersama  keluarga  adiknya.  Kamar  itu  di dalamnya juga disekat-sekat menjadi ruangan lebih kecil.
Adik-adik  Emirudin lainnya, seperti Ratu Raja  Arimbi,  Pangeran Raja Qodiran   dll,  hidup  bersama  ibunda  ratu   di   Gedung Pedaleman,  di belakang museum. Di gedung  itu,  prameswari Ratu  Sri  Mulya beserta 4 anaknya, juga  hidup  dengan  keluarga lain, yakni Pangeran Patih Imamudin, adik Sultan Djalaludin (alm) dan keluarga adik-adik Djalaludin lainnya.
Kemudian   keluarga   Saladin,  mereka  hidup  satu   gedung   di Kaputren  dengan  Emirudin dan Hamzah.  Hanya  saja  mereka kebagian  menempati 4 kamar termasuk ruang tengah  bagian  depan, ruang tamu dan belakang atau dapur.
Ratu  Mawar Kartina, S.H, menempati kamar di depan sebelah  utara gedung  Kaputren.  Sedangkan  selir  Ny  Suherni   (ibunda Saladin)  di kamar depan bagian selatan, lalu  berturut-turut  di belakangnya  kamar  Saladin dan keluarga,  serta  kamar  belakang untuk adik-adik lain seperti Ratu Setyawati, Ratu Kenanga dll.
Di  dalam gedung itu, Emirudin dan Saladin yang bersitegang  satu sama  lain  terkait soal hak sebagai sultan,  hidup.  Ratu  Mawar menuturkan,  selama ini, meski ada konflik, sebenarnya  kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa.
Bahkan  antara anak Emirudin dan Saladin sering terlihat  bermain bersama. Hanya saja untuk urusan rumah tangga ke dalam, satu sama lain tidak pernah saling peduli.
Memang  semasa Sultan Djalaludin masih hidup, Sultan  Kanoman  XI itu berusaha mepersatukan keluarga dengan membuat agenda  bersama seperti  jalan-jalan  mengajak anak-anak dari selir  Suherni  dan Ratu  Sri  Mulya. Namun kebersamaan yang coba  diciptakan  Sultan Djalaludin  atas  anak-anaknya, kini hancur  berantakan  menyusul konflik soal tahta pengganti Sultan Kanoman XI itu.
Setelah  konflik  mencuat, komunikasi boleh  dibilang  putus  dan tidak  pernah  terjalin.  Bahkan  sekedar  ngobrol  hal-hal  yang sifatnya biasa dan wajar sebagimana layaknya saudara.
"Mungkin karena ada konflik, sehingga sama-sama jaga diri. Antara kami  seperti menjaga supaya tidak saling bertemu  secara  fisik. Lagipula antara kami tampaknya saling menahan diri. Emirudin juga lebih  banyak  berada di kamarnya di bagian  belakang,  sedangkan kami lebih banyak di ruangan depan," tutur Ratu Mawar.
Sultan Emirudin, seperti dituturkan Achmad, pembantu dan pengawal setianya,  lebih sering menghabiskan waktu untuk dzikir. Baik  di dalam  ruangannya maupun di Bangsal Witana,  sebuah  tempat terletak di belakang keraton.
"Saya  sering  mendampingi Sultan Emirudin berdzikir  di  Bangsal Witana.  Sultan juga lebih banyak diam. Hanya mau ngobrol  dengan adik-adiknya,  ibunda  ratu  maupun kerabat  keraton  yang  dekat dengannya," tutur dia yang mengaku hidupnya hanya untuk  mengabdi kepada  Sultan  Emirudin  meneruskan  kakek  buyutnya  yang  dulu mengabdi ke keluarga Sultan Kanoman sebelumnya.

Keraton Kanoman yang Tak Terawat

Mungkin karena kehidupan yang berdesak-desakan, apalagi  diwarnai dengan  konflik  yang  meruncing,  anak-anak  pewaris  Kesultanan Kanoman, menjadi tidak peduli dengan perawatan terhadap bangunan-bangunan  di lingkungan keraton. Padahal bangunan  itu  merupakan peninggalan  sejarah kejayaan Cirebon sebagai pusat  syiar  Islam pertama di tanah Jawa, bahkan diyakini tempat keberadaan  Keraton Kanoman sebagai puser (titik pusat) bumi.
Ini  bisa dilihat dari bangunan-bangunan yang ada.  Bahkan  kalau melihat  ke  dalam, kesan tidak terawat sangat  terlihat,  banyak batu bata dan tembok yang rusak dan berlumut, tapi dibiarkan saja tanpa  ada perawatan memadai, padahal itu merupakan cagar  budaya yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Cirebon.
"Gimana mau dirawat, mereka konflik terus. Berbeda dengan Keraton Kasepuhan  yang  lebih  terawat rapi.  Padahal  dari  sisi  nilai historis,  Kanoman jauh lebih strategis," tutur beberapa  kerabat keraton yang prihatin dengan kondisi fisik keraton.
Konflik  juga  telah  menjadikan  keraton  itu  makin  jauh  dari masyarakat.  Misalnya  soal pengunjung,  sebelum  konflik,  meski jumlahnya tidak sebanyak diharapkan, pengunjung selalu ada, namun belakangan, boleh dikatakan hanya segelintir orang saja.
Keraton Kanoman yang dibangun thn 1677 oleh Pangeran  Martawijaya atau  Sultan  Badridin (Sultan Kanoman I) berdiri di  atas  lahan seluas  5  ha lebih. Sebagaimana keraton raja-raja  Jawa,  selalu menghadap ke arah utara, memiliki beberapa gedung.
Di  depan,  setelah  alun-alun ada dua  bangunan  kembar  bernama Pancaratna dan Pancaniti. Pancaratna di sebelah timur,  digunakan sebagai  tempat  para perwira beristirahat,  sedangkan  pancaniti (sebelah barat) tempat prajurit beristirahat.
Kemudian  di  belakangnya, terdapat dua bangunan  yang  temboknya bercat merah. Sebelah timur ialah Mande Manguntur, tempat  sultan duduk  untuk melihat apel prajurit maupun saat menikmati  gamelan setiap  perayaan  Maulid  Nabi Muhammad  di  Bangsal  Sekaten  di sebelah timurnya.
Dahulu,  untuk  keluar dan masuk ke lingkungan  keraton,  melalui pintu  gerbang  yang bernama Si Belawong yang di  belakangnya  ada   langgar  atau  mushola. Pintu Si Belawong sekarang  tertutup  dan diganti dengan pintu gerbang lain di sebelah barat.
Masuk  lebih  ke  dalam, terdapat  Bangsal  Paseban,  tempat  ini biasanya digunakan sultan menerima tamu atau punggawa dan kerabat keraton.  Di bangsal ini, sultan banyak berdiskusi tentang  soal-soal pemerintahan maupun kehidupan apa saja.
Di  sebelah Bangsal Paseban, terdaat bangunan yang  kini  menjadi museum.  Di  tempat inilah, terdapat benda-benda  pusaka  Keraton Kanoman,  diantaranya Paksi Naga Liman, kereta kencana  bersimbol burung, naga dan harimau yang pada jaman dahulu digunakan  sultan dan permaisuri untuk berkeliling kota Cirebon.
Pusat  bangunan  di Keraton Kanoman ialah  Pendopo  atau  Bangsal Djinem, tempat upacara-upacara formal keraton. Dan di belakangnya terdapat   Mande   Mastaka  tempat   singgasana   sultan,   pusat pemerintahan  dijalankan  dari  titah-titah  sultan  di   ruangan berukuran 10 x 15 meter ini.
Bangunan  lain,  ialah Gedung Kaputren, di gedung  inilah  tempat keluarga  Saladin dan Emirudin tinggal bersama. Lalu  ada  gedung lain  yang ukurannya hampir sama dengan Kaputren, sekira 50 x  30 meter,  di  gedung  ini,  dulu  tempat  sultan  tinggal   bersama permaisuri, sekarang dipakai rumah permaisuri Ratu Sri Mulya  dan keluarga Pangeran Patih Imamudin.
Tempat  terakhir  ialah  Bangsal Witana.  Gedung  yang  digunakan sebagai  tempat jimat atau benda-benda sakti, di  tempat  inilah, Sultan Kanoman termasuk Emirudin menjadikan sebagai tempat dzikir atau bertapa.
Di  sekitar  keraton,  di balik tembok  yang  melingkari  Keraton Kanoman, terdapat puluhan rumah warga. Disebut sebagai Magersari, ialah  rumah tempat abdi dalem keraton, tempat lain ialah  Masjid serta  gedung  besar yang kini digunakan  untuk  perguruan  Taman Siswa,    letaknya    di    sebelah    barat    keraton

Jumat, 06 April 2012

Ciribon, Cirebon, Ki Semar, Ki Samar


Wafatnya Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) membawa permasalahan perebutan kekuasaan antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dengan Pangeran Muhammad Saladin.

Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.

Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.

Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar.

Semar simbol Sang Pamomong, sosok yang serba samar rahasia lambang hakekat hidup disebut juga Sipat Sampurna telah kehilangan jarinya. Sementara para raja Jawa meyakini bahwa untuk mengukuhkan kekuasaan mereka haruslah diemong oleh Semar yang juga adalah symbol legitimasi dari rakyat.

Bila ada raja tanpa rakyat, raja macam apa itu? Mungkin itulah raja Kethoprak. Raja yang bukan lagi menjadi tuntunan namun hanya sekedar tontonan.

Tuntunan yang menjadi kewajiban raja bagi rakyatnya tak lagi mampu dipenuhi. Jari sebagai penunjuk arah telah hilang, dan mungkin tak lama lagi Semar Sang Pamomong akan sungguh2 oncat meninggalkan mereka.

Kaum spiritual Kasultanan menjadi makin prihatin akan keadaan ini. Mereka kembali melakukan meditasi guna memperoleh petunjuk lebih lanjut bagaimana mengembalikan jari Sang Pamomong. Dan diperolehlah petunjuk untuk mengutus salah satu dari mereka berjalan menuju kearah Timur ke sebuah kota yang memakai nama Semar. Nanti ditengah perjalanan mereka akan mendapatkan petunjuk lagi.

Setelah berembug, diutuslah dua orang dari mereka untuk melakukan perjalanan menuju Timur. Kebetulan salah satunya adalah seorang muda yang punya istri orang Semarang. Semar-ang ah mungkin itu maksud dari wisik yang mereka dapat.

Tak dicerita dalam perjalanan, mereka berdua sampai di Semarang & kebetulan bertemu Kyai kampung yang lalu ngomong-ngomong ngalor ngidul sampai menyinggung masalah Kanoman kehilangan jari Semar.

“Hmmm… Kasultanan Cirebon kehilangan jari Semar”, kata Mbah Kyai,

“Coba kalo diwayang itu Semar khan tangan kanannya selalu menunjuk seperti ini…Nah lalu coba kita lihat, dengan jari menunjuk seperti ini kamu yang suka ngaji pasti tahu dong huruf Arab apa yang ditunjukkan oleh telunjuk Semar..”

“Itu Alief…”kata mereka

“Nah kalo yang dibentuk oleh telunjuk dengan ibu jari?”

“Itu Lam…”

“Nah kalo yang dibentuk telunjuk dengan jari tengah?”

“Itu Miem…”

“Jadi jari Semar yang sedang menunjuk ini bila dibaca akan berbunyi Alief Lam Miem Dzalikal Kitab…”

“Surat Al Baqarah ayat pertama…Oh.. betul..”

“Lalu apa arti ayat tersebut…?”

“lha itu Mbah…guru ngaji saya nggak ngajari soal itu..katanya yang tahu cuma yang disana, nggak tahu juga sananya mana..”

“Welhadalah Kasultanan Cirebon… kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati salah satu Wali Sangha tak lagi mampu mengartikan Alief Lam Miem Dzalikal Kitab?” Si Mbah Kyai geleng-geleng.

“Begini…Semar adalah jarwadhosok dari HASEMING SAMAR-SAMAR yang secara harafiah berarti Sang Penuntun Makna Kehidupan, maka tangan kanannya selalu menunjuk. Jari yang seperti katamu tadi menyimbolkan Alief bagi orang urakan seperti saya adalah Urip, Hidup, Keesaan”

“Bener Mbah..” sahut mereka

“Hidup itu Esa, Tunggal, Manunggal dalam segala Sifat. ADA yang mendahului ada…. Ada inilah yang lalu berkembang menjadi kesadaran dalam diri manusia yang mulai berkata AKU…dan terus mencoba mencari kesejatian AKU. Hidup yang mendapatkan kesadaran dalam diri manusia ini berasal dari Alief Lam Miem atau bagi orang urakan seperti saya dinamakan Gatholoco, bersatunya Rasa yang melahirkan Kitab…dzalikal kitab….bukan Taurat, Zabur, Injil atau Quran. Namun adalah diri manusia itu sendiri Kitab Basah yang ditulis dari air & darah.

Maka dikatakan sebagai ADAMMAKNA, Hidup yang berkesadaran. Kitab yang tak akan pernah berhenti ditulis selalu berkembang seiring perkembangan hidup manusia.” Jelas Si Mbah Kyai nerocos terus

“Jadi teruslah berjalan jangan pernah berhenti memaknai seperti yang telah ditunjukkan oleh Semar…maka kalian tak akan kehilangan lagi jarinya hehehehe…”

“Lalu apa hubungannya dengan suksesi di Kanoman Cirebon?”

“Suksesi itu tak berdampak apa-apa…selain bahwa ikon feodal itu tengah hancur sendiri dari dalam & itu memang telah dinubuatkan bahwa kalo Indonesia ingin jadi mercusuar dunia, Kraton-kraton seperti itu harus hancur terlebih dulu..”

“Maksudnya..?”

“Yah..khan sudah diberi tahu sama Kyai Semar kalo semua itu hanyalah belenggu yang menghalangi manusia menuju kepenuhan hidup..berhenti memaknai Hidup dan membebek saja dengan apa yang telah diklaim sebagai menara gading kebenaran…sejatinya tonggak rusak yang tak bisa dijadikan pathokan lagi.”

“Hmmm…..”

“Semar adalah suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Kyai Semar terkenal dengan sabdanya HAYWA SAMAR DUR SUKERING KAMURKAN, MRIH DU KAMARDIKAN BAYA SIRA HARSA MARDIKA, artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, berani mbirat dur sukering kamurkan, membersihkan jiwa yang dalam bahasa Jawa ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu atau dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh kaum spiritual seperti kalian & juga oleh seluruh bangsa Indonesia ini.”

”Maksudnya untuk sungguh merdeka kita tak boleh tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian?”

”Begitu juga bisa, namun secara holistik petunjuk Semar tadi mengisyaratkan kita untuk melakukan REVOLUSI KULTUR, kultur yang berarti mencakup pula mental spiritual kita sebagai makhluk bernama manusia ini.”

”Dilanjut Mbah..”

”Diakui dong kalau kita telah dibentuk sedemikian rupa oleh doktrin yang membuat kita jadi bebek tadi, jari Semar memberi petunjuk kita untuk terus berjalan menjadi manusia utuh. Merevolusi kultur yang telah dibelenggu doktrin untuk menjadi manusia baru.Manusia baru yang memahami Alief Lam Miem Dzalikal Kitab bahasa Arabnya. Bahwa semua manusia dimuka bumi ini sama berasal dari Hidup yang sama & dijadikannya juga sama pakai Gatholoco hehehehe… dengan ini kita secara pribadi mampu menuju kepada kepenuhan hidup dan secara luas sebagai bangsa mampu menjadi mercusuar dunia”

”Maksudnya kita akan menjadi negara & bangsa adidaya dimuka bumi ini?”

”Hahahaha..mercusuar itu khan penanda agar kapal tidak menabrak karang..”

”Lalu apa maksudnya?”

”Ya dengan merevolusi kultur & menjadi manusia baru kita dapat jadi titisan-titisan Semar yang mampu memberi petunjuk yang benar & pamong seluruh umat..bahasanya Memayu Hayuning Bawana yang tidak cuma sekedar slogan… Kita akan mampu mendamaikan keturunan Ibrahim, si Ishak & Ismail yang tak jemu & bosannya terus menumpahkan darah saudara…karena berebut kebenaran. Kebenaran yang fasis & bengis.

“Semar disebut juga Ismaya, Maya adalah cahaya hitam, guna membuat semua Samar. Jadi yang ada itu sesungguhnya tidak ada. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan. Yang bukan dikira iya.Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.Tidak ada lagi fasis, bengis & otoriter.”

“Waduh terima kasih banyak Mbah atas penjelasannya yang gamblang.”

“Wah saya yang harus berterima kasih sudah ada yang mendengarkan saya ndobos….. hehehe…. sama ini rokoknya sudah nggak bikin mulut saya kecut lagi…”

Senin, 02 April 2012

Makam Para Raja Mataram Jawa

Kali ini blusukan jogja, akan mengulas tentang makam atau tempat peristirahatan terakhir para raja mataram jawa yakni makan raja di kotagede, makam imogiri, makam girigondo, makam Astana Mangadeg, dan makam Astana Girilayu
1. Makam Raja di Kota Gede 
Kotagede merupakan sebuah kawasan yang terletak sekitar 10 km sebelah selatan Kota Yogyakarta. Dahulu, kawasan Kotagede merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pada pertengahan abad XVI M. Di kawasan ini terdapat kompleks makam raja-raja Mataram, yang menjadi tempat dimakamkannya Panembahan Senapati, raja pertama Mataram Islam.
Kompleks Makam ini, berada sekitar 50 m sebelah selatan Pasar Gede, Kecamatan Kotagede. Selain terdapat makam Panembahan Senapati, di kompleks pemakaman ini juga terdapat makam keluarga raja lainnya. Di antaranya adalah, Ki Ageng Pemanahan yang merupakan ayah dari Panembahan Senapati, Nyai Ageng Nis dan P. Djoyo Prono yang merupakan eyang dari Panembahan Senapati, Sri Sultan Hamengku Buwono II, dan juga Pangeran Adipati Pakualam I

2. Makam Imogiri
Terletak di lereng perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Makam Imogiri seolah menegaskan status sosial dan politik orang-orang yang dikuburkan di tempat ini. Bukit dengan + 409 tangga ini memang dikhususkan untuk makam raja dan kerabat Kerajaan Mataram Islam serta keturunannya. Bagi masyarakat Jawa, gunung atau bukit menyimbolkan status yang tinggi sekaligus merupakan upaya mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.
Selain makam Sultan Agung, di tempat ini juga dimakamkan 23 raja keturunan Sultan Agung, termasuk dari dinasti Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Yogyakarta. Makam raja-raja ini terbagi ke dalam delapan kelompok, yaitu: 1. Kasultanan Agungan (makam Sultan Agung, permaisuri, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas); 2. Paku Buwanan (makam PB I, Hamangkurat Jawi, dan PB II); 3. Kasuwargan Yogyakarta (makam HB I dan HB III); 4. Besiyaran Yogyakarta (makam HB IV, HB V, dan HB VI); 5. Saptorenggo Yogyakarta (HB VII, HB VIII, dan HB IX); 6. Kasuwargan Surakarta (makam PB III, PB IV, dan PB V); 7. Kapingsangan Surakarta (makam PB VI, PB VII, PB VIII, dan PB IX); 8. Girimulya Surakarta (makam PB X, PB XI, dan PB XII).
Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Yogyakarta. Pemisahan makam raja-raja keturunan Sultan Agung merupakan imbas dari perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) terhadap kakaknya, Paku Buwono II. Akibat perang tersebut, muncul Perjanjian Giyanti (tahun 1755 M) yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
3. Makam Girigondo
Terletak di area perbukitan menoreh, Komplek Pemakaman Astana Girigondo ini diperuntukkan bagi para Raja dan kerabat Pakualaman. Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Kompleks makam ini secara garis besar dibagi menjadi 6 teras, dan tiap-tiap teras dihubungkan dengan tangga. Pada teras I (yang paling tinggi) dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 m dengan gapura masuk dan pintu gerbang dari besi.
Makam ini merupakan tempat pemakaman kerabat Paku Alam. Di sini dimakamkan KGPAA Paku Alam V, VI, VII, VIII beserta keluarganya, sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta. Penuhnya areal pemakaman di Hastorenggo, membuat Paku Alam V akhirnya mencari tempat lain untuk pemakaman kerabat Paku Alam, yaitu di Girigondo ini. Latar belakang pemilihan lokasi makam di Kulonprogo ini berkaitan erat dengan asal-usul KGPAA Paku Alam V yang merupakan putra KGPAA Paku Alam II dari Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulonprogo  
 
3. Makam Girigondo
Terletak di area perbukitan menoreh, Komplek Pemakaman Astana Girigondo ini diperuntukkan bagi para Raja dan kerabat Pakualaman. Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Kompleks makam ini secara garis besar dibagi menjadi 6 teras, dan tiap-tiap teras dihubungkan dengan tangga. Pada teras I (yang paling tinggi) dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 m dengan gapura masuk dan pintu gerbang dari besi.
Makam ini merupakan tempat pemakaman kerabat Paku Alam. Di sini dimakamkan KGPAA Paku Alam V, VI, VII, VIII beserta keluarganya, sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta. Penuhnya areal pemakaman di Hastorenggo, membuat Paku Alam V akhirnya mencari tempat lain untuk pemakaman kerabat Paku Alam, yaitu di Girigondo ini. Latar belakang pemilihan lokasi makam di Kulonprogo ini berkaitan erat dengan asal-usul KGPAA Paku Alam V yang merupakan putra KGPAA Paku Alam II dari Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulonprogo  
 
4. Makam Astana Mangadeg 
Kompleks pemakaman untuk penguasa awal ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja mangkunegara . Di kompleks ini dimakamkan Mangkunegara I (MN I), MN II, dan MN III; pemakaman ini berada di puncak bukit kecil (bernama Bukit Mangadeg) di kaki Gunung lawu, di sebelah timur pusat Kecamatan Matesih. Tempat ini sendiri sebelumnya adalah tempat Mangkunagara I bersemedi pada masa perjuangannya (sebelum menjadi raja ia bernama R.M. Said)

5. Makam Astana Girilayu
Kompleks pemakaman  untuk penguasa ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegara. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunegara IV, Mangkunegara V, mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII (penguasa terakhir yang mangkat) 



Menguak Pangilan dan Gelar Bangsawan untuk para raja Mataram Jawa




Mari kita menguak sapaaan para raja jogja. untuk sekedar informasi  panggilan sri sultan HB X adalah Ngarso Dalem. itu diambil  dari gelar sri sultan HB X yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram. Sedangkan pangilan untuk paku Alam IX adalah Sri Paduka. bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo (KGPAA). Dahulu sebelum dinobatkan sebagai raja di istana Puro Pakualaman bernama KPH/Pangeran Ambarkusumo. sedangkan untuk pangilan Paku Buwono XIII adalah Sinuhun. diambil dari gelar Sisuhunan paku buwono XII yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping telulas .untuk pangilan Mangkunegara IX adalah Gusti Mangku yang bergelar kanjeng Gusti pangeran Adipati haryo (KGPAA)


Berikut Gelar Bangsawan dari pecahan kerajaaan Mataram
1. Kasunanan Surakarta
  • Penguasa Kasunanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping ... (SISKS)
  • Permaisuri Susuhunan Pakubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:
  1. Ratu Kilen (Ratu Barat)
  2. Ratu Wetan (Ratu Timur)
  • Selir Susuhunan Pakubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan:
  1. Bandara Raden Ayu
  2. Raden Ayu
  3. Raden
  4. Mas Ayu
  5. Mas Ajeng
  6. Mbok Ajeng
  • Pewaris tahta Kasunanan (Putra Mahkot) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram.
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Raden Mas Gusti (RMG)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Gusti Pangeran (KGP), dengan urutan:
  1. Mangku Bumi
  2. Bumi Nata
  3. Purbaya
  4. Puger
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)
  • Cucu lelaki dari garis pria: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Cicit lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:
  1. Sekar-Kedhaton.
  2. Pembayun.
  3. Maduratna.
  4. Bendara.
  5. Angger.
  6. Timur.
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Anak perempuan tertua dari selir ketika sudah dewasa: Ratu Alit
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan : Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)
2. Kasultanan Yogyakarta
  • Penguasa Kesultanan: Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping ... (yang berarti pemimpin yang menguasai dunia, komandan besar, pelayan Tuhan, Tuan semua orang yang percaya)
  • Permaisuri Sultan Hamengkubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
  • Selir Sultan Hamengkubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Pewaris tahta Kesultanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH)
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Pangeran Harya (BPH)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan tertua dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan:Raden Ayu (RAy)
3. Kadipaten Pakualam Yogyakarta
  • Penguasa Paku Alaman:Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Paku Alam Kaping ...
  • Permaisuri Raja Paku Alam: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Selir Raja Paku Alam: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)
  • Pewaris tahta Paku Alaman (putra mahkota): Bandara Pangeran Harya Suryadilaga
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Bendara Raden Mas (GBRM)
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa:Kanjeng Pangeran Harya (KPH)
  • Anak lelaki dari selir ketika masih muda: Raden Mas (RM)
  • Anak lelaki dari selir ketika sudah dewasa: Bendara Raden Harya (BRH)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria:Raden Mas (RM)
  • Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria:Raden 
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: Raden Ayu (RAy)
4. Praja Mangkunegaran Surakarta
  • Penguasa Mangkunagaran: Kanjeng Gusti pangeran Adipati Haryo  Mangku Negara Senapati ing Ayuda Kaping ... (KGPAA)
  • Permaisuri Raja Mangkunagara: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)
  • Selir Raja Paku Mangkunagara: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)
  • Pewaris tahta Mangkunagaran (putra mahkota): Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana
  • Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri: Gusti Raden Mas (GRM)
  • Anak lelaki dari selir: Bendara Raden Mas (RM)
  • Cucu lelaki dan keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: Raden Mas (RM)
  • Keturunan lelaki setelah generasi keempat lain dari garis pria: Raden
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)
  • Anak perempuan dari permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)
  • Anak perempuan dari selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)
  • Anak perempuan dari selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: Raden Ajeng (RA)
  • Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan:Raden Ayu (RAy)
Semoga Bermanfaat....