Senin, 09 April 2012

WAOSAN BABAD GALUH - PENDAHULUAN by Amman Wahju

WAOSAN BABAD GALUH - PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Sebagaimana halnya naskah-naskah yang kami terjemahkan sebelumnya, naskah ini adalah juga hasil alih bahasa dari sebuah babad. Dimana sebagaimana kita ketahui bahwa sebagai sebuah babad peristiwa yang diceriterakan di dalamnya tidak sepenuhnya bernilai sejarah. Hal ini dapat dimengerti karena penulis babad bukan sejarawan, umumnya tulisan mereka tidak berdasarkan prasasti melainkan dari apa yang didengarnya atau catatan yang diturunkan secara turun temurun. Dalam naskah ini terlihat sekali sifat dari sebuah babad yaitu menonjolkan kesaktian dari tokoh yang diceritakan yang berada diatas rata-rata manusia pada umumnya, dan lebih dari itu bagaimana tokoh – tokoh ini juga mempunyai garis keturunan yang lebih dari manusia biasa misalnya pertalian dengan dewa-dewa, mahluk halus dan bahkan dengan binatang, sebagaimana dikisahkan dalam naskah ini.
Sifat lain dari sebuah babad ialah diabaikannya dimensi waktu. Misalnya tokoh yang hidup di abad 14 dikisahkan berguru pada tokoh lainnya yang hidup di abad 12, atau dalam babad ini tokoh-tokoh yang hidup dalam rentang waktu 20 generasi kisahnya ‘diperpendek’ seolah-olah hidup hanya dalam 8 generasi (Dari Ciungwanara hingga Siliwangi, dibandingkan dengan silsilah Manarah hingga Sri Baduga Maharaja, sebagaimana terlihat dalam Bagan - 06).
Babad ini mengisahkan mengenai raja-raja yang berkuasa di Tatar Sunda. Dilihat dari pembagian periode kerajaan-kerajaan di Jawa Barat sebagaimana terlihat dalam Bagan – 01, maka babad ini mengisahkan raja-raja pada periode ke - 3 yaitu periode kerajaan Sunda dan Galuh, dan berakir pada masa Prabu Siliwangi, saat mana Kesultanan Islam Cirebon mulai mengembangkan pengaruhnya.

Nama tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam naskah ini.
Urutan nama raja-raja Pajajaran yang tercantum dalam naskah ini sejalan dengan urutan yang tercantum dalam naskah-naskah yang diuraikan dalam naskah-naskah babad lain seperti misalnya naskah Babad Pajajaran, Babad Galuh, Sajarah Galuh, Carita Waruga Guru, juga dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh (lihat Bagan-02).
Babad ini mengisahkan raja – raja yang berkuasa di Galuh Pakuan yang dimulai dari Prabu Ciungwanara dan dilanjutkan oleh Dewi Purbasari, Prabu Lingga Hiyang, Prabu Lingga Wesi, Prabu Wastu Kancana, Prabu Susuk Tunggal, Prabu Mundingkawati dan diakhiri oleh Prabu Siliwangi. Dari urutan nama-nama ini jika kita bandingkan dengan nama-nama yang tercantum dalam Naskah Wangsakerta diperoleh kesan bahwa yang menjadi sumber penulisan babad-babad ialah cerita-cerita pantun yang lebih sering menyebut nama ‘julukan’ para raja, bukan nama resminya.

WAOSAN BABAD GALUH - PRAKATA


PRAKATA

Setelah menyelesaikan alih aksara dan penterjemahan naskah Sajarah Wali – Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga) dan Sajarah Wali – Sunan Gunung Jati (Naskah Kuningan), babad yang meriwayatkan anak Prabu Siliwangi yaitu Pangeran Cakrabuana, Nyi Rara Santang dan anak keturunannya yaitu Sunan Gunung Jati, hingga Sultan-sultan di Cirebon, kemudian timbul keinginan kami untuk mengetahui kisah babad dari apa yang terjadi sebelumnya. Dalam hal itu kami merasa beruntung bahwa kami telah dipertemukan dengan naskah Waosan Babad Galuh ini yang kami peroleh dari Sultan Kasepuhan Cirebon, P.R.A.Dr.H.Maulana Pakuningrat S.H.
Naskah yang kami peroleh adalah berupa buku hasil alih aksara dari naskah aslinya yang dilakukan oleh Team Kraton Kasepuhan Cirebon sebagai hasil kerjasama dengan Proyek Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Nasional 2003. Naskah aslinya merupakan salah satu dari koleksi naskah-naskah Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Setelah melakukan perbaikan-perbaikan seperlunya pada hasil alih aksara tersebut akhirnya kami terjemahkan dalam bentuk seperti yang pembaca lihat sekarang.
Tujuan kami dalam menterjemahkan naskah babad ini bukanlah untuk berpretensi menjadi ahli sejarah, ataupun filolog (ahli bahasa), akan tetapi lebih untuk melaksanakan keinginan kami untuk meneruskan ‘dongeng’ yang ada dalam babad ini, sehingga dapat diketahui dan dinikmati oleh generasi yang akan datang, dengan harapan bahwa apa yang didongengkan dapat dinikmati seperti halnya generasi dahulu menikmati penuturan dari juru-juru pantun. Dengan melampirkan hasil alih aksaranya, kami mengharapkan hal ini akan menjadi pelestarian dari sastra pantunnya.
Naskah ini pun tidak kami terjemahkan secara kata demi kata sebagaimana halnya terjemahan buku ilmiah, dan kalaupun kami membuat catatan-catatan kaki dan mencantumkan bagan-bagan/lampiran-lampiran dan kutipan-kutipan dari pemikiran sejarawan, maka hal tersebut kami lakukan lebih untuk memenuhi keinginan tahuan kami mengenai peristiwa/hal-hal yang tercantum di dalam naskah ini, dan juga untuk melengkapi gambaran dari apa yang dikisahkan. Secara keseluruhan, sesuai dengan kemampuan yang ada, buku ini masih jauh dari sempurna.

Mengenai waktu penyusunan naskah asli, sebagaimana tercantum dalam bagian pembukaannya disebutkan:  Naskah ini digubah pada bulan dua, tanggal dua puluh sembilan, hari Senin Wage atau tercatat sebagai tahun Be. Dalam tahun Hijriah Nabi adalah tahun seribu dua ratus delapan puluh. Dalam tahun Be itu, baru delapan belas hari saja yang dijalani. Tahun 1280 Hijriah atau tahun 1860 Masehi. Adapun penulis naskah ini adalah mantri dari Sultan Sepuh, bernama Kyai Serengrana yang tinggal di Pulasaren. Melihat tahun penulisannya berarti naskah ini ditulis pada masa Sultan Raja Sulaeman atau Sultan Syamsuddin II dari Keraton Kasepuhan Cirebon, yang memerintah dari tahun 1845 – 1880 M. Naskah asli ditulis tangan dalam huruf Arab pegon, dalam bahasa Jawa kuno dengan dialek Cirebon dan Sunda. Naskah babad ini berbentuk tembang yang berupa rangkaian dari pupuh-pupuh yang berjumlah  sebanyak  21 pupuh, 170 saleh dan 1.480 padan, yang terdiri dari :
                        1. Kasmaran / Asmarandana   =          5 pupuh.
                        2. Sinom                                  =          5 pupuh.
                        3. Dangdanggula                     =          6 pupuh.
                        4. Kinanti                                =          5 pupuh.
            Terjemahan ini dapat saya selesaikan berkat semangat yang telah diberikan oleh isteriku Mellie Melanie (alm), dan guru saya Bapak Ramadhan KH (alm), juga atas dukungan anak-anak : Galuh, Jalu, dan Jehan, keluarga besar R. Wahju Argawinata,
Selanjutnya dalam kesempatan ini kami ingin  menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh, ...... yang telah memberikan  bantuan moril maupun masukan-masukan serta koreksi hingga dapat  diterbitkannya buku ini. Juga kepada ......... yang telah mengizinkan kami untuk menterjemahkan naskah ini, dan last but not the least kepada Meta Oktavia yang telah membantu dalam pengetikan
Dengan keadaan yang telah kami ungkapkan diatas, kami ingin menyampaikan maaf bilamana terdapat kesalahan atau kekurangan dalam penyusunan buku ini.  Kami akan sangat berterimakasih bilamana pembaca dapat memberikan masukan-masukan untuk dapat lebih melengkapi dan menyempurnakan buku ini.

Amman N.Wahju 

NASKAH KUNINGAN ( Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran) by Amman N. W.

WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN (5 dari 5).
PUPUH V.17 – VI.17

16.       Kaping sapuluhe rara,
pandadarane ing carmin,
dadi bersihing kancana,
mas tanpa huna sinangling,
iku manusa kang wis,
abadan ruhani nipun,
kang jujuluk Muhammad,
muwah ya dipun ngaweruhi,
aniteni ning manusa ratuning sajagat.

17.       Iku jatine manusa,
kang abadan Ilahi,
kang wus teges badan Allah, 
Sari Kabunan langkunging,
percaya ing sang wali,
acengeng tiga sadulur,
sami mantep angimanaken,
sawisiking wali,
den nya anjum ing sipat purwahita.

(Hal kesepuluh anakku, ibarat bayangan dalam cermin. Emas kencana itu menjadi bersihnya tanpa harus dibersihkan. Itulah manusia yang sudah menyatu ruhaninya (dengan Illahi), yang disebut Muhammad, yang juga mengetahui dan mengikuti manusia raja sejagat (Nabi Muhammad saw.). Itulah sempurnanya manusia yang sudah menyatu dengan Illahi, yang sudah merupakan badan Allah).
Sari Kabunan meresapkan apa yang telah disampaikan oleh sang Wali, demikian juga ketiga saudara-saudaranya. Semua sudah tetap hatinya untuk mengimani wejangan yang telah diberikan tersebut.

NASKAH KUNINGAN (Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran)

WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN (4 dari 5).
PUPUH V.17 – VI.17

12.       Kaping wolu syahadat jati,
Asyhadu tiba ning rasa,
Illaha jati ning esir,
Illallahu patemu ning,
rasa ya rasa ya Rasul,
wujud tunggal sanyata,
wujudira mangko iki,
tanpa lindungan,
kang orana antara.

13.       Ora na antara lan Allah,
maka tumuli akawin,
ing sajeroning goib ira,
dudu kawin-kawin rabi,
jatining basa kawin,
patemune Sirullah agung,
kalawan tayunira, 
asengge dadi sawiji,
dingin siji mangko siji besuk tunggal.

14.       Ora nana maning liyan,
kaping sanga babu nini,
syahadat katim kaweruhana,
sabaliking tinja kari,
a’siqe iku diri,
ma’suqe iku Yang Agung,
dupi tinja kaliwat,
a’siqe iku yang widhi,
ma’suqe iku awak ingkang sampurna.

15.       Tetese ingkang sanyata,
sipat ingkang yasmitani,
curigane ingunusan,
warangkane manjing keris,
datullah den unusi,
awak manjing ming dat iku,
dudu awak kang wawag,
badan alus kang wus latip,
dingin alus mangko alus muwah benjang.

            (Hal kedelapan anakku, ketahuilah Syahadat sejati. Asyhadu sebagai turunnya rasa, Illaha sebagai jatinya sirr, Illallahu sebagai pertemuannya rasa. Baik rasa maupun Rasul adalah wujud tunggal yang sesungguhnya. Wujudmu ini kelak tanpa penghalang, tanpa antara, tidak ada jarak dengan Allah. Maka kemudian ‘kawin’ di dalam goibmu. Bukan kawin seperti halnya suami isteri, maknanya bahasa ‘kawin’ disini ialah berjumpanya sirrullah agung dengan ketetapan hatimu sehingga menjadi satu. Bila sekarang satu, nanti satu, besok juga satu, tidak ada yang lainnya.
 Hal kesembilan anakku Syahadat Khatim, ketahuilah kebalikan dari ‘tinja kari’. Asyiq-nya itu adalah diri, ma’syuq-nya itu adalah Yang Agung. Adapun dalam ‘tinja kaliwat’, asyiq-nya itu adalah Yang Widhi, ma’syuq-nya itu adalah badan yang sempurna, hasilnya yang nyata. Sifat yang diisyaratkan adalah bagaikan keris yang dihunuskan, dan sarungnya masuk kedalam kerisnya. Dzatullah dihunuskan, raga masuk kedalam dzat itu. Bukan raga yang kasar, tapi raga halus yang sudah maha halus [latip]. Bila sekarang halus nanti juga halus demikian sampai kelak di kemudian hari).

NASKAH KUNINGAN (Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran)

NASKAH KUNINGAN: WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN (3 dari 5).


WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN (3 dari 5).
PUPUH V.17 – VI.17

09.       Kaping neme iku rara,
weruha ing tinja kang kari,
tinja kaliwat ya tunggal,
iku wiwisuhing ati,
nirnakaken sakehing,
dzat liyan anging dat iku,
iku kang winasuhan,
bangsa roro den uculi,
dipun isangi idhep pira maring tunggal.

10.       Aseq ira iku Allah,
masuq ira iku diri,
kang uwis abadan Allah,
dingin beresih mangko beresih,
besuk beresih sajati,
orana retuh sa tengu,
kaping pitune rara,
deng weruh sampurna ning wari,
kang ginawe bebersih tinja kaliwat.

11.       Ya iku sengga kewala,
ingkang aran banyu urip,
sajatine iku rara,
ning Rasul kang anjateni,
Muhammad kang sajati,
jatining Muhammad iku,
pancere uripira orana liane maning,
dingin sampurna ing mangko sampurna,
ing besuk sampurna uga.

(Hal keenam anakku, ketahuilah perihal ‘tinja kang kari’ (kotoran yang tertinggal). Kotoran yang tersisa itu sebagai ibarat dari kekotoran hati. Menghilangkan semua Dzat lainnya, kecuali Dzat yang dibersihkan. Ada dua hal yang perlu dipisahkan, yaitu disisihkannya pengetahuanmu mengenai Yang Tunggal. Asyiq -mu itu Allah, dan ma’syuq -mu itu dirimu sendiri, yang sudah menyatu dengan Allah. Bila sekarang bersih nanti bersih, besok juga bersih sejati, tidak ada keraguan sedikitpun.
            Hal ketujuh anakku, ketahuilah sempurnanya ‘air’ yang dipakai untuk membersihkan tinja kaliwat  (kotoran yang tertinggal) tersebut. Yaitu dengan apa yang dinamakan air hidup. Sesungguhnya itu berarti, kepada Rasul kita harus meneladani, Muhammad yang sejati. Sejatinya Muhammad itu adalah pancaran hidupmu tidak ada lainnya lagi. Bila sekarang sempurna, nanti  sempurna, kelak ya sempurna juga).

NASKAH KUNINGAN ( Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran)

NASKAH KUNINGAN: WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN – (2 dari 5).

NASKAH KUNINGAN:
WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN  – (2 dari 5).  
PUPUH V.17 – VI.17

05.       Kaping telu iku rara,
deng penther ing tingal jati,
deng awas ajalullah,
kang luhur enggonira balik,
parwa sukma sajati,
ing mangko sukma sumurup,
maring jasmani nira,
ajir balik sukma sajati,
antepena dingin sukma mangko sukma.

06.       Besuk ya sukma wisesa,
orana lian maning,
kaping pate iku rara,
deng idhep patuting pati,
titipaning yang widhi, 
pakon cegah lan pitutur,
kinon idhep anembah,
olekena iku nini,
maring kang due titipan dipun pasrah.

07.       Sakehing pangidhep pira,
serahena ming kang den idhepi,
terusana ing sipat,
dingin idhep mangko uning,
ing besuk apa maning,
ora lian idhep iku,
kaping limane rara,
leburing papan lan tulis,
dipun teges paworing badan lan nyawa.

08.       Paworing nyawa lan rasa,
tunggal ing dzat jati,
terusana sipat nira,
leburing badan dumadi,
kari nyawa ruhani,
leburing nyawa tumulus,
kari rasa kang tunggal,
ing dzatullah kang sajati,
dingin dzat besuk dat.

Hal ketiga anakku, bentangkanlah penglihatanmu yang sejati. Waspadalah akan ajalullah yang luhur tempat engkau pulang, tempat dari sukma sejati kelak . Sukma sumurup kedalam jasmianimu, dan kemudian lebur kembali menjadi sukma sejati. Telah ditetapkan bahwa bila sekarang sukma, nanti sukma, dan kelak juga ya sukma yang luhur yang  tidak ada lainnya lagi.

Hal keempatnya anakku, ketahuilah mengenai ‘kepatutan dari kematian’ (patuting pati) sebagai titipan dari Yang Widhi. Tidak dapat dicegah dan dipersoalkan, dan harus dihormati. Oleh karena itu anakku, berserah dirilah kepada Yang Maha Memiliki titipan tersebut. Seluruh pengetahuanmu serahkanlah kepada Yang Maha Mengetahui. Kemudian ada ketentuan bahwa bila sekarang mengetahui, nanti mengetahui, kelak tidak ada lain selainnya pengetahuan itu.

Hal kelima anakku, leburnya papan dengan tulisannya. Seperti halnya berbaurnya badan dengan nyawa, berbaurnya nyawa dengan rasa, menyatu dalam Dzat sejati. Kemudian ada sifat bahwa leburnya badan menjadi nyawa ruhani, dengan leburnya nyawa menjadi rasa yang tunggal dalam Dzatullah yang sejati. Sekarang Dzat besok juga Dzat.

NASKAH KUNINGAN ( Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran)

 

NASKAH KUNINGAN - KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Setelah membaca dan memperhatikan Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Kuningan) yang diterbitkan dengan judul yang sama berdasarkan Naskah Mertasinga yang telah diterbitkan tahun 2005, sebenarnya hampir sama terutama dalam urutan cerita-sejarah meskipun lebih rinci. Yang menarik perhatian meski dalam Naskah Mertasinga ajaran Islam terutama tasawuf dan tarekat-tarekatnya secara garis besar sudah dikenalkan tetapi dalam Naskah Kuningan lebih rinci bahkan tarekat yang lebih mencuat kepermukaan ialah Tarekat Syattariyah. Dalam Naskah Mertasinga diceritakan bahwa Syekh Syarif Hidayatullah berguru kepada Syekh Najamuddin Kubra, dan tarekat-tarekat Naksabandiyah dan Satoriyah (Syattariyah).

Dalam Naskah Kuningan ajaran Tasawuf dan tarekat-tarekatnya dibentangkan lebih mendalam terlebih Tarekat Syattariyah yang dapat dikenali dari Silsilah Mursyid dari mursyid terakhir Naskah Kuningan seperti berikut: Dari mulai Nabi Muhammad, kemudian mengajarkannya kepada Sayidina ‘Ali seterusnya kepada Sayidina Husein, Sayidina Zainal Abidin, Sayidina Muhammad Al-Baqir, kemudian kepada Imam Ja’far As-Shadik, kepada Abi Yasid Al-Bisthami, Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai kepada ulama-ulama di Jawa, Cirebon, di Kuningan sampai yang terakhir kepada Kiyai Mas Demang Wedana Pensiun Atmawijaya di Kuningan.

Dari daftar nama-nama Mursid itu Syekh Syarif Hidayatullah tidak dicantumkan namun berdasarkan Naskah Mertasinga tersebut di atas bahwa ia berguru kepada Syekh Najamuddin Kubra untuk Tarekat Naksabandiyah bahkan Syattariyah, maka mungkin dapat  dikaitkan bahwa tarekat Syattariyah juga telah dilaksanakan Syekh Syarif Hidayatullah, meskipun bukan Tarekat Syattariyah yang berkembang di Indonesia sejak abad ke-17 M. yang dikembangkan mulai Syekh Abd Al-Ra’uf As-Singkili yang muridnya antara lain Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat dan Syekh Abdul Muhyi di Jawa Barat terutama di Pamijahan, Tasikmalaya. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Abd Al-Rauf dan murid-muridnya ialah tarekat yang lebih menjelaskan pengertian-pengertian Wahdatul Wujud yang mendekatkan kepada Syari’ah melalui Martabat Tujuh yang membedakan dari Wujudiyah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Samatrani yang dianggap menyimpang oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri yang mengajarkan Shuhudiyah. Jika kita perhatikan ajaran-ajaran baik dalam Naskah Mertasinga maupun Naskah Kuningan rupa-rupanya ada kaitan ajaran Syekh Syarif Hidayatullah dengan Kubrawiyah, Naksabandiyah dan Syattariyah di Cirebon dan sekitarnya termasuk daerah Kuningan  Tarekat Syattariyah Martabat Tujuh agaknya yang dikembangkan semasa Syekh Abdul Muhyi sampai masa kemudian. Konon menurut naskah-naskah lainnya ia pernah berkunjung ke Cirebon.
Dalam Naskah baik Mertasinga maupun Naskah Kuningan Syekh Syarif Hidayatullah dihubungkan dengan ajaran kesempurnaan hidup bahkan ia sendiri dijuluki Wali Kutub dan Sayid Kamil. Apakah Syekh Syarif Hidayatullah  juga ada kaitannya dengan konsep ajaran Al-Insan Al-Kamil Al-Jilli?. Baiklah kaitan ajaran-ajaran antara Tasawuf serta tarekat-tarekat satu dengan lainnya terutama dengan Syattariyah merupakan bahan bagi para pembaca terutama yang mempunyai minat untuk mempelajarinya dari Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati baik dari Naskah Kuningan maupun dari Naskah Mertasinga. Semoga Naskah-Naskah tersebut yang telah dialih aksarakan dan bahasanya serta diberi catatan-catatan penting dan telah diterbitkan Drs. Amman N. Wahju mencapai tujuannya tersebar luas dan dapat memperkaya khazanah bacaan tentang kesejarahan serta keagamaan Islam di Indonesia.

Bogor, 20 Agustus 2007
Wassalam Mu’alaikumn Wr.Wb.

Dr. H. Uka Tjandrasasmita



WEJANGAN PANDITA IDHOPI KEPADA ANAK RAJA PAJAJARAN  – (1 dari 5).  
PUPUH V.17 – VI.17
           
PENGANTAR
Kisah ini menceriterakan mengenai perjalanan tiga anak raja Pajajaran yang tengah mencari ilmu kesejatian. Ketiganya adalah Pangeran Cakrabuana, Putri Sari Kabunan atau Syarifah Mudaim yang kelak menjadi ibunda Syarif Hidayatullah, dan Pangeran Sangara. Dari Pajajaran mereka pergi ke Cirebon dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Pasai dimana mereka berguru kepada Maulana Idhopi di  Gunung Surandil.
Sebagai seorang yang taat ibadahnya, Sari Kabunan dengan penuh hormat  mohon petunjuk kepada gurunya: “Sebagai umat Islam, hamba ingin mengetahui  bagaimanakah langkah yang harus hamba jalankan dalam agama Islam itu. Hamba mohon wejangannya mengenai Kesempurnaan Ilmu yang Sejati.”  Pendita Idhopi berkata : 

VI. PUPUH SINOM
01.       Pandita Idhopi nabda,
kaweruhana nini,
kasampurnaning wong Islam,
sapuluh perkara nini,
adheping lampah iki,
dipun waspada ing kaweruh,
apaalullah taala,
kang minuhi jati iki,
puniki tanana sing kaliwat.

02.       Dadi tandane ning Yang,
ana ing jagat puniki,
ing sakatahing sawara,
iku anuduhaken maring,
Kalamullah mibuhi,
lir pangucap lan pangrungu,
muwah sa lir paningal, 
sa lir kreteging ati,
iku nini sakabeh kawibuhan.

(Ketahuilah anakku, kesempurnaan orang Islam itu ada sepuluh perkara. Arahkan perhatianmu pada kesepuluh langkah-langkah ini. Cermati pengetahuanmu mengenai  apaalullah ta’ala (perbuatan Allah ta’ala), yang memenuhi jati ini, jangan ada yang terlampaui. Jadi tandanya bahwa Dia ada di alam jagat ini ialah Dia berada di dalam banyaknya suara-suara. Itu menunjukan kebesaran Kalamullah (firman Allah). Seperti suara, dan pendengaran, penglihatan dan getaran hati, itu semua anakku, adalah tanda kebesaranNya) .

03.       Lan kapindo nini weruha,
kang basa lungguhing pati,
lamun mati ora pejah,
masih urip kadi uwine,
mapan ingkana manggih,
ing sa pandum-andum mipun,
kadi uripe saban,
kuciwa jasmani latip,
tan kenang pati langgeng tan kenang rusak.

04.       Uripira duk aneng arwah,
tunggal uripira iki,
lan uripira ing benjang,
ya uripira kang iki,
orana lian urip,
amung urip siji iku,
terusana ing sipat,
dingin urip mangko urip,
besuk urip uripira kang sawakca.

 (Hal kedua anakku, ketahuilah mengenai ‘keberadaan kematian’ (lungguhing pati). Ketika seseorang mati maka sebenarnya dia tidak mati, akan tetapi dia masih tetap hidup seperti ibaratnya umbi. Nanti di sana dia akan menemui kehidupan sesuai dengan bawaan nasibnya. Seperti halnya seseorang yang tengah dalam sebuah perjalanan yang belum selesai. Jasmani yang maha halus tidak mengenal kematian, dia abadi dan tidak dapat rusak . Hidupmu itu ada dalam arwah, hidupmu ini tungggal, dan hidupmu esok itu adalah hidupmu yang sekarang ini. Tidak ada kehidupan yang lain kecuali hidup yang satu itu. Sudah menjadi sifatnya, bahwa bila sekarang hidup, nanti juga hidup, dan kelak adalah hidupmu yang nyata).