Selasa, 10 April 2012

NASKAH KUNINGAN: KISAH KI GEDENG TRUSMI

Sebelumnya dalam naskah ini dikisahkan mengenai perjalanan spiritual sang Anom bersama gurunya Syekh Mad Kurullah, untuk melihat keadaan di dalam bumi. Kemudian sang Anom melepaskan lelah di puncak Gunung Jati yang dinamakan Jabul Muqamat, tempat bertapa lahir bathin. Jalannya tyembus ke Gunung Sembung, dan kelak tempat tersebut akan dipakai sebagai pemakaman. Dua buah gunung menjadi satu, hubungannya satu, gunung Sembung – gunung Jati.

Kisah Nyi Rara Konda anak Pangeran Cakrabuana.
Ketika sang Anom tengah duduk tafakur di Jabul Muqamat, di bawah pohon Bambu Gading, dia melihat ada seorang gadis berlalu di kaki bukit, yaitu Nyi Rara Konda, anaknya Nyi Gedeng Jati. Melihat gadis itu hati sang Anom tergetar tiada hentinya, sebagaimana halnya jejaka melihat gadis, hatinya merasa berbahagia sekali, sang Anom kemudian meraga sukma.
Rara Konda pulang dan menangis tersedu-sedu di hadapan ibundanya, dia merajuk tak bisa dibujuk lagi menginginkan rebung (anak pohon bambu) mangsa katiga. Nyi Gedeng Jati sangat masygul hatinya melihat putrinya resah seperti itu. Maka dia pun pergi mencari rebung hingga ke puncak bukit.
Ketika itu, sang Anom telah meninggalkan tempat itu, dia turun dan kembali menerobos masuk ke dalam bumi. Dia pergi ke arah barat pantai, menerobos ke arah barat ke sebelah utaranya jalan yang menuju ke bawah Gunung Surandil di negara Pasai, ke Madinah terus ke Gunung Baitul Kadas, menerobos lagi ke atas ke arah barat laut ke Pulau Majeti tempat makamnya Nabi Sulaiman. Setelah berkelana di dalam bumi, Sang Anom naik ke atas dan muncul kembali di Gunung Gundul.

Anak keturunan Pangeran Cakrabuana dari Nyi Gedeng Jati 
(pupuh XII.07 – XII.24)
Kita tinggalkan dahulu sang Anom yang sedang melakukan perjalanan, dikisahkan kembali mengenai Rara Konda. Sang ibu akhirnya memperoleh anak pohon bambu (rebung) Gading dari puncak bukit yang besarnya hanya sekepal. Kemudian rebung itu diberikan kepada putrinya. Nyi Rara Konda sangat gembira dan tidak menunggu dimasak lagi, didorong oleh keinginannya yang demikian besar dia segera menyantapnya mentah-mentah.

Nyi Rara Konda
Setelah makan rebung tersebut, konon Rara Konda menjadi hamil tanpa bersuami, dan melahirkan seorang anak laki-laki. Nyi Gedeng Jati sangat berbahagia karena memperoleh seorang cucu laki-laki. Mengenai peristiwa rebung tunggal ini, semua orang pernah mendengarnya. Anak itu lah yang kelak bernama Gedeng Trusmi , dan kelak dia akan menggugat waris  pusaka dari Wali. Permintaan itu ditolak dengan jawaban ‘ora olih sing konone’ (tidak dapat dari sana-nya), sehingga kemudian dikenal ada peribahasa ‘ora olih sing Konda’, ya dari situlah asal mulanya. Gedeng Trusmi kenyataannya bukan anak dari perkawinan, itulah yang disebut ‘yuga’, bukan anak sebenarnya, sehingga dia tidak memperoleh pusaka. Tapi itu adalah masalah duniawi, karena tak ada yang menyamai dengan derajat yang diwarisinya, yaitu kewaspadaan nya dalam hal ilmu pengetahuan.

CATATAN:
Versi yang sedikit berbeda dikisahkan dalam naskah “Carios Ki Gedeng Trusmi”, sebagai berikut:
Tersebutlah Ki Gedeng Jati yang mempunyai seorang anak gadis. Ketika gadis itu lewat ke Kedaleman, kebetulan di situ, di Gunung Jati Kulon, Sinuhun sedang duduk – duduk di bawah rindangnya awi gading (bambu gading). Ketika melihat gadis cantik itu, teteslah titisnya dan jatuh di atas rebung.
            Pada suatu hari gadis itu berkata kepada ayahnya bahwa ia ingin sekali makan rebung bambu gading. Ki Gedeng Jati pun pergilah memintanya ke Kadaleman. Tidak lama kemudian gadis itu hamil dan setelah sampai waktunya, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Bungcikal. Tidak dikisahkan masa kecilnya anak itu, tetapi setelah menginjak dewasa ia datang menghadap ke Kedaleman untuk meminta warisan. Pada waktu itu yang menjadi sultan adalah Panembahan Cerbon I, karena Sinuhun Gunung Jati sudah meninggal.

       
   
Sunan Kalijaga yang kebetulan sedang berada di situ menolak permintaan Bungcikal dengan mengatakan. “He Bungcikal sia teu boga waris sabab lain putra (He Bungcikal kamu tidak punya waris sebab bukan anak)”, dan kemudian memerintahkan membersihkan atau membuka leuweung kulon (hutan barat).  Bungcikal menebas semua pepohonan yang ada di hutan itu sehingga berubah menjadi tegalan gundul. Setelah terlihat demikian keadaannya, Bungcikal diperintahkan lagi untuk mengolahnya. Maka ditanamilah lagi tegalan yang telah gundul itu dengan pohon buah-buahan. Lama kelamaan daerah yang dahulu hutan belantara itu kini berubah menjadi dataran yang amat subur dan menjadi pemukiman baru yang diberi nama dayeuh Trusmi.

NASKAH MERTASINGA: SUMPAH ARYA KUNINGAN ( II )

ARYA KUNINGAN GAGAL MENYERBU DERMAYU 
(pupuh XLIII.15 - XLIV.11)
Dikisahkan bahwa keinginan berperang Arya Kuningan masih terus berlanjut. Arya Kuningan masih belum puas karena kekalahannya dalam perang tanding. Dengan Arya Pandelegan dia datang lagi menghadap Sinuhun dan berkata, "Mohon maaf Gusti Sinuhun, hamba mohon izin untuk menundukkan Dermayu (Indramayu) itu. Sampai saat ini mereka belum menunjukkan tanda-tanda untuk tunduk kepada agama Rasul". Permintaan tersebut dijawab oleh Sinuhun, "Besar betul keinginanmu untuk berperang Arya Kuningan, baiklah pergilah sesuai dengan keinginanmu. Namun berhati-hatilah, janganlah engkau terlampau memperturutkan keinginan hatimu itu".
Maka Pangeran Kuningan pun sangat gembira hatinya, dan segera mohon pamit dari hadapan Sinuhun. Dia mempersiapkan pasukan beserta persenjataannya. Pangeran Kuningan dengan menunggang kuda yang bernama Sawindu, berkeliling memeriksa pasukannya. Barisan di depan membawa bendera merah bertuliskan nama Nabi yang ditulis dengan huruf emas. Pasukannya sudah berjalan jauh dan hampir tiba di Dermayu.

Dikisahkan Arya Kiban yang telah menghilang itu, masih juga berkeinginan untuk mengganggu Arya Kuningan. Begitulah Arya Kiban merubah dirinya menjadi Kidang Kencana, berdiri menghadang di tengah jalanan hingga terlihat oleh Pangeran Kuningan. Ketika tampak ada kijang berdiri di tengah jalan, maka kuda Sawindu segera lari mengejarnya hingga melampaui barisan. Dengan cepat kuda itu memburu sehingga bala tentara Arya Kuningan tertinggal di belakang dan menjadi kacau balau kehilangan pemimpinnya yang telah jauh meninggalkan mereka. Arya Kuningan dengan semangat memburu kijang itu hingga lupa daratan. Arya Kuningan berkata, "Engkau kijang, tak mungkin aku akan gagal menangkapmu, walaupun engkau masuk lubang semut sekalipun aku pasti akan menemukanmu. Karena memburu kijang itu adalah memang keahlianku".
Kijang itu berlari terus hingga akhirnya melompat kedalam sebuah sungai besar, dan kuda Sawindu pun ikut melompat ke dalam air menubruk ke tempat dimana kijang itu tadi terjun. Akan tetapi kijang itu menghilang tak tentu rimbanya. Arya Kuningan terlempar dari kudanya dan dengan susah payah dia berusaha menepi, sedangkan kudanya dengan menjerit-jerit akhirnya berhasil naik ke daratan. Kijang itu kemudian merubah dirinya menjadi banjir besar sehingga Arya Kuningan terbawa hanyut ke tengah laut. Hampir saja Arya Kuningan menemui ajalnya, sudah hampir dua hari dia terombang ambing di tengah laut. Pada waktu tengah hari, di tengah laut itu datang seorang nelayan yang sangat tinggi ilmunya. Nelayan itu kemudian mengangkat Arya Kuningan naik ke perahunya, dan kemudian membawanya kembali ke daratan.

Arya Kuningan kemudian diangkat menjadi muridnya, resi itu berkata kepadanya, "Bilamana engkau ingin lebih digjaya, ini kuberikan minyak bertuah, adapun kemampuannya ialah bilamana kau siram minyak ini pada gabah padi, dan kemudian ditebarkan di lapangan, maka gabah itu akan berubah menjadi bala-tentara yang banyak sekali". Arya Kuningan menerima pemberian resi itu yang tersimpan di dalam sebuah cupu. Selanjutnya resi itu berkata, "Juga akan kuberikan sebuah Jala yang sangat sakti, yang bernama Jala Sutra Kamandin. Gunanya ialah bilamana ada orang yang mengunggulimu, maka tebarkan Jala Sutra ini. Pasti jala ini akan dapat meringkus orang tersebut tanpa membahayakannya". Setelah Arya Kuningan menerima pemberian itu, resi itu pun kemudian menghilang dari penglihatannya, meninggalkan Arya Kuningan seorang diri.

SUMPAH ARYA KUNINGAN 
(pupuh XLV.01 - XLV.09)
Tidak lama kemudian lalu Arya Kuningan bertemu kembali dengan bala-tentaranya. Mereka semua mohon ampun karena tidak dapat menolongnya dan menyatakan lagi sumpah setianya. Arya Kuningan memaafkan para pengikutnya itu, lalu Arya Kuningan mengucapkan sumpah di depan para sentana mantri, beserta para tetua dan bala-tentaranya. Mereka semua harus ingat sumpahnya yaitu, "Jangan sampai ada anak cucuku kelak yang berburu Kijang, atau memakan dagingnya atau memakai kulitnya, termasuk tulang belulangnya. Ingatlah itu semuanya".

Setelah Pangeran Kuningan bersumpah demikian, kemudian  dari langit turun Jala Sutra Kencana dan tergantung di lengan kirinya. Kemudian terdengar suara yang memberikan peringatan kepadanya, "He Arya Kuningan, dengan Jala Pupuh Banyu itu, tak ada musuh yang akan kuat melawannya. Akan tetapi kelak jala itu akan musnah kembali", demikian terdengar suara itu. Arya Kuningan pun sudah menerima pemberian pusaka  itu. Arya Kuningan kemudian bermaksud hendak menyelesaikan tujuannya semula, yaitu menyerang Dermayu. Maka Pangeran Kuningan beserta bala tentaranya melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi barisan tersebut seperti kehilangan arah. Mereka berjalan dengan kebingungan, mereka berputar-putar dari lohor hingga magrib. Hingga malam hari mereka masih tidak tahu arah dan semuanya berjalan dengan penuh kebingungan. Kemudian salah seorang perwiranya menghadap kepadanya dan berkata, "Barangkali ini adalah pertanda bahwa jika kita lanjutkan perjalanan ini maka tuan akan menemui mara bahaya seperti yang baru terjadi itu. Demikian pendapat hamba orang yang bodoh dan bingung, mudah-mudahan Pangeran bersedia untuk pulang saja".  Arya Kuningan menjawab, "Apakah kita tidak akan malu, kita telah pamit untuk berperang, akan tetapi sekarang kita kembali pulang dengan kegagalan". Salah seorang dari lurahnya menjawab, "Permohonan hamba, lebih baik kita pulang saja dahulu, dari pada kita sekarang kebingungan di tengah hutan. Maksud tujuan tuan ke Dermayu  sekarang ini sepertinya tidak memperoleh jalan. Barangkali kita harus pulang dahulu untuk memperoleh pertolongan Sinuhun Jati". Pangeran Kuningan terdiam sambil berpikir, kemudian dia berkata, "Betul katamu, baiklah aku akan mengikuti usulmu itu". Kemudian mereka semuanya pulang kembali ke Carbon.
 
by Amman Wahju

NASKAH MERTASINGA: SUMPAH ARYA KUNINGAN ( I )

(Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran)


Kisah dari pertempuran antara Arya Kuningan dengan Dalem Kiban dari Palimanan yang belum menganut agama Islam.

PERTEMPURAN ARYA KUNINGAN DENGAN DALEM KIBAN
(pupuh XL.07 - XLI.02)
Dalem Kiban melihat Arya Kuningan datang dengan gagah berani sambil berteriak, "Hadapi aku kalau kamu berani, jangan bertanding dengan yang lain". Mendengar itu Arya Kiban pun berteriak kepada Sinuhun Purba, "Kalau benar kamu orang yang berlebih, datanglah kesini dan hadapilah aku. Bukannya kamu Arya Sangling yang kuminta, kamu menyingkirlah segera. Suruhlah Sinuhun Jati menandingi aku, bertempur denganku dan jangan yang lainnya. Akan kucincang kesombongan orang-orang yang beragama Islam".
Arya Kuningan sangat marah mendengar tantangan Dalem Kiban itu, dia berkata seraya menudingkan telunjuknya kepada musuhnya, "Kamu tidak usah menyebut-nyebut nama tuanku Kanjeng Sinuhun, lawanlah pembersih kakinya ini dahulu sampai puas. Akulah yang akan menandingimu. Belum pantas kamu menghadapi Sinuhun Jati". Setelah berkata demikian Arya Kamuning segera melarikan kudanya dan bagaikan kilat menyambar Arya Kiban. Akan tetapi yang disambar mengelak, dan kemudian menjejakan kakinya. Dalem Kiban berubah menjadi seekor gajah, yang kemudian dengan belalainya melilit kuda Arya Kuningan sehingga tak bisa bergerak. Kemudian kuda itu dilambungkannya ke atas dan kemudian ditangkap dengan gadingnya. Kuda Arya Kuningan tergelincir, dengan tangkas penunggangnya melompat turun. Arya Kuningan tidak gentar menghadapi kesaktian lawannya itu. Lalu Arya Kuningan maju menerjang gajah tersebut hingga terpelanting jauh, sejauh peluru ditembakan, akan tetapi gajah itu bangun lagi.
Arya Kuningan kemudian menunjukan kesaktiannya, dia segera membaca ajiannya, Aji Pupuh Bayu yang bernama Aji Raga. Dengan kesaktiannya itu dia berhasil melumpuhkan sang gajah hingga lumpuh tak bisa bergerak, dan terguling lemah di tanah. Arya Kiban kemudian melompat dan mencoba untuk menangkap Arya Kuningan. Maksudnya dia ingin mengangkat Arya Kuningan dan kemudian membantingnya. Akan tetapi ternyata dia tak kuat mengangkatnya. Dalem Kiban kemudian mencabut pedangnya dan ditusukan ke dada Arya Kuningan. Akan tetapi pedang itu tak mampu menembus dadanya. Arya Kuningan berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Silahkan keluarkan semua kesaktianmu, akan kulayani". Dalem Kiban berkata, "Jangan banyak bicara karena nyawamu akan kuambil dan kulitmu akan kubuat tambur". Arya Kuningan lalu melemparkan tombaknya, hingga Dalem Kiban jatuh dan terlempar jauh. Dalem Kiban bangun lagi dan kembali menangkap Arya Kuningan. Keduanya bergumul, saling tendang saling beradu kekuatan, yang satu menjatuhkan yang lainnya, mereka saling memukul, akan tetapi keduanya sama kuatnya.

Keduanya bertarung dari pagi hingga malam. Meskipun demikian keduanya tidak merasa lelah karena keduanya sama saktinya. Tidak terhitung lagi banyaknya lembah dan jurang serta karang dan rawa-rawa yang mereka lalui dalam pergumulan ini. Binatang-binatang penghuninya semua terganggu, tidak ketinggalan yang ada di sungai-sungai. Binatang-binatang, baik di air maupun yang di darat melarikan diri sejauh - jauhnya karena ketakutan akan akibat pertempuran kedua orang ini.
Dari langit bangsa Jin banyak yang turun menonton, bangsa Bunendra, bangsa Jar datang berduyun-duyun melihat, juga bangsa Jabal Kap dan bangsa Darujatbana, Raja Tajera juga datang menonton kedua orang yang tengah bertempur ini. Bangsa Banis dan bangsa Darudarja, semua bangsa Jin datang menyaksikan. Pertempuran berlangsung dengan sangat serunya, keduanya saling mendesak dan saling mendorong hingga ke Gunung Maja dan menghantam lereng gunung itu hingga keduanya jatuh terjungkal dan mengeluarkan api. Semua Jin yang menonton di langit gempar membicarakannya.
Melihat itu salah seorang raja Jin, Sultan Baduran, berkata, "He kalian manusia yang tak bosan-bosannya berkelahi, menyingkirlah kalian dari sini. Jangan berkelahi disini dan merusak surganya para Jin". Begitulah seruan itu terdengar oleh yang tengah bertempur. Mereka pun melanjutkan pergumulannya ke lembah, dimana  keduanya jatuh terjembab masuk ke dalam danau sehingga airnya menjadi panas bergolak, dan mengakibatkan banyak ikan mati. Maka keluar Raja Ikan mencari penyebabnya, dan kemudian menegur keduanya, "He kalian berdua yang tengah bertempur, sebaiknya menyingkirlah dari sini, sadarlah kalian dan kasihanilah rakyatku". Mendengar itu, keduanya lalu keluar dari air. Pangeran Kuningan dan Dalem Kiban keduanya merasa bahwa badannya menjadi lebih segar setelah masuk kedalam air.
Kemudian Pangeran Kuningan mohon kepada Yang Maha Esa agar supaya diberikan kemenangan dalam pertempuran ini, akan tetapi rupanya doanya itu tidak dikabulkan karena alam tiba-tiba menjadi gelap gulita dan hujan turun dengan derasnya sehingga tanah berubah menjadi lumpur. Sementara itu Dalem Kiban pun berdoa mohon diberi kemenangan dalam pertempuran ini, yang rupanya dikabulkan doanya. Kekuatannya menjadi berlipat ganda sehingga musuhnya menjadi kewalahan menghadapinya.

SUMPAH ARYA KUNINGAN 
(pupuh XLI.02 - XLI.06)
Seperti sudah sengaja disiapkan sebelumnya, di tanah yang penuh lumpur itu ada tumbuhan menjalar yaitu pohon Oyong , dengan akar dan batang menjalar sangat lebatnya. Dikisahkan, kaki Pangeran Kuningan terjerat batang pohon yang menjalar itu sehingga dia jatuh terjembab. Pangeran Kuningan jatuh dan terbenam dalam lumpur, tak bisa bergerak bagaikan tertindih oleh gunung. Peristiwa ini terjadi pada waktu dhuhur, hari Saptu tanggal 25 bulan Syura. Itu adalah juga waktu yang naas bagi Nabi Muhammad S.A.W. ketika dahulu berperang di Gunung Uhud.
Melihat itu Dalem Kiban gembira dan mengejek musuhnya, "Berdirilah kamu sekarang, jika benar bisa menandingi aku. Walaupun meronta-ronta seperti apa pun kamu tak kan bisa membebaskan dirimu". Mendengar itu Pangeran Kuningan bagaikan diiris kupingnya, dia sangatlah marahnya. Akan tetapi dia tak bisa bergerak karena kakinya terbelit  sangat kuatnya bagaikan diikat oleh rantai besar. Pangeran Kuningan yang tampak hanyalah dari kepala hingga ke dadanya saja, selebihnya terbenam dalam lumpur. Ketika itu keluarlah sumpah Arya Kuningan kepada keturunannya : "Dengan kepastian janji Allah, jangan ada anak keturunanku yang seperti diriku menderita karena pohon Oyong. Kepada anak cucuku janganlah ada yang menanam ataupun menyantapnya".
 
by. Amman N.W.

Senin, 09 April 2012

WAOSAN BABAD GALUH - KISAH PRABU SILIWANGI by Amman Wahju

X.04    Siliwangi mengusir Kidang jejadian (pupuh XLIII.04) – XLIII.12)
Setelah sekian lamanya, timbul keinginan Siliwangi untuk mengusir para menjangan jejadian, hal mana dicegah oleh Rara Sigir. “Jangan lakukan itu, aku khawatir kamu tidak akan mampu melawannya karena kesaktian mereka itu tidak tertandingi. Mereka telah mampu mengalahkan Prabu Mundingkawati”. Pemuda Siliwangi menjawab, “Mati dalam membela negara adalah permata bagi seorang laki-laki. Mencari apa lagi, bukankah dengan perbuatan itu surga indah akan diperolehnya kelak”.
Tidak dapat dihalangi lagi, kemudian Siliwangi berangkat. Tanpa membawa pengiring dan hanya dengan membawa panah dan busurnya dia pergi menantang bahaya yang menantinya. Kyan Manjangan Gumulung sudah bersiap-siap menghadapi kehebatan manusia yang datang itu. Siliwangi diterjangnya namun lolos seperti menerjang bayangan saja. Kemudian serangan Manjangan Gumalunggung itu dibalasnya, anak-anak panahnya dilepaskan dan kemudian diamuk dengan pemukul, hingga akhirnya rusa itu pun rebah dan mati. Kemudian anaknya, yaitu Manjangan Gumaringsing, datang membela dengan bala tentaranya. Namun Manjangan Gumaringsing segera disambut oleh senjatanya Siliwangi. Senjata itu mengenainya dan dia terbawa terbang, dan ketika jatuh dia berubah menjadi manusia. Kemudian Manjangan Gumaringsing segera datang menyerahkan diri dengan memberikan hormatnya kepada Siliwangi.
Betapa kagumnya para menak dan kuwu yang menyaksikan kesaktiannya junjungannya. Selama sebelas tahun kota-kota telah kosong dan baru sekarang ada Jaka Siliwangi yang mampu merebut lagi puri, dan lebih dari itu Manjangan Gumaringsing telah menyerahkan diri dan berbakti kepadanya. Dia diampuni dan diberi daerah kekuasaan di Gunung Galunggung tempatnya.

X.05    Jaka Siliwangi membebaskan Parahiyangan (pupuh XLIII.13 – XLIII.22)
Kemudian Jaka Siliwangi pergi ke arah barat, menuju Parahiyangan. Kidang Panawungan waktu melihat berkelebatnya kedatangan manusia segera dia memburunya dan Jaka Siliwangi pun kemudian dihadapinya. Namun dengan mudah Kidang itu disabet dan dipanah oleh Siliwangi hingga Kidang Panawungan pun mati. Kemudian sang anak, Kidang Pananjung, datang hendak membela ayahandanya. Dia menghadapi Siliwangi namun diapun segera terkena oleh panahnya Siliwangi. Kidang Pananjung jatuh dan berubah menjadi manusia. Kemudian dia datang menyembah kehadapan Siliwangi. Itulah awalnya bagaimana menak-menak Parahiyangan bisa kembali lagi ketempatnya dan berkedudukan lagi seperti waktu dahulu. Sebelas tahun lamanya mereka mengungsi dan sekarang bisa dipulihkan kembali oleh Jaka Siliwangi. Kidang Pananjung kemudian diampuni dan diberi daerah di Panawungan.
Pulih sudah keamanan di Bumi Pajajaran, Siliwangi mulai menghimpun pemerintahan di Pajajaran yang kelak bakal diperintahnya sebagai raja yang kuat. Tidak antara lama Prabu Sepuh Ciungwanara pergi ke Ujungbana. Dia sangat berterimakasih atas pertolongan jejaka perwira muda yang sakti ini, yang telah merebut kemuliaan yang sangat besar, dia akan menjadi penerus raja Pajajaran. Tidak lama kemudian datang Sanghyang Parwatali, Sanghyang Talibarat, Gelap Nyawang dan para saudaranya yang lain memberitahukan bahwasanya pemuda itu adalah anaknya Mundingkawati yang dilahirkan di tegal padang Siliarum. Ketika diburu oleh Kidang Manjangan, waktu itu sudah waktunya sang bayi lahir hingga dilahirkan di perjalanan. Sang bayi jatuh tertinggal di Tegal Siliwangi. Adapun kedua orang tuanya masuk ke gunung meninggalkan bayi itu. Sang bayi dibersihkan oleh seekor induk harimau, kemudian ditemukan oleh Ki Borih dimana dia memperoleh kekebalan dan kesaktian (bersambung).
 
 

WAOSAN BABAD GALUH - KISAH PRABU SILIWANGI

X.02    Pajajaran sepeninggal Prabu Mundingkawati (pupuh XLII.07 – XLII.24)

Tidak diceriterakan perjalanan hidup si kecil Siliwangi, dikisahkan Kidang jejadian mengetahui hilangnya sang Prabu dan mereka pun menjadi marah dengan mengobrak-abrik Pajajaran. Para menak dan kuwu hilang melarikan diri dikejar ketakutan sehingga tidak ada lagi yang mau tinggal di kota. Pemukiman ditinggal pergi hingga keadaannya kosong dan sekarang diisi Kidang dan Menjangan yang bergerombol hilir mudik siang dan malam. Keangkuhannya bagaikan tentara yang telah memenangkan peperangan dan dia yang sekarang menjadi penguasanya. Disitulah awalnya tempat tinggal para menak dan kuwu menjadi seperti kena tulah, mereka takut untuk menyerang karena takut diamuk. Dalam ketakutan mereka semua minggir ke tempat yang jauh-jauh.
Kidang Panawungan dan Menjangan Gumalunggung terus melampiaskan amarahnya mengamuk ke arah barat, menyerang Pakuan Parahyangan. Tempatnya Prabu Sepuh Ciungwanara digempur habis-habisan. Menak Parahiyangan pun menghilang, mereka pergi mengungsi menghindar ke gua-gua dan ke gunung-gunung yang jauh. Tidak ada yang bisa bertindak, semua pergi melarikan diri. Prabu Ciungwanara mengungsi ke tempat sunyi di pertapaannya Ajar Ujung Banaliwung. Di situ dia dilindungi oleh Ki Ajar. Prabu Ciungwanara sudah mengerti bahwa anak cucunya sudah bercerai berai berlarian menyelamatkan diri dari kerusuhan, keadaannya kacau mereka sudah tidak menghiraukan lagi yang membuat keributan. Mereka semua berlarian tidak memikirkan lagi kedudukan. Negara sudah porak poranda dikalahkan oleh Kidang jejadian dan ditempati oleh Kidang menjangan inton-inton.
Dalam keangkuhannya mereka mengusir raja, membalas dendam karena diburu oleh Mundhingkawati. Yang semula memburu sekarang berganti diburu. Kidang Panawungan beserta pengikutnya menguasai di Pakuan Barat yaitu Parahiyangan. Malahan mereka sudah mempunyai anak bernama Kidang Pananjung yang kemudian berubah menjadi manusia. Adapun Manjangan Gumlunggung dengan pengikutnya menguasai wilayah Pajajaran, para kuwu Pakuan sebelah timur. Sedangkan daerah Pajajaran sebelah tenggara sudah dikuasai oleh Kidang Sampati, sebelah baratnya oleh Kidang Panawung, dan sebelah timurnya oleh Manjangan Kumlingking yang sudah menurunkan anak bernama Manjangan Gumaringsing yang berupa manusia.
            Asal muasalnya mengapa waktu itu Kidang Manjangan tertarik berhubungan dengan manusia sebab dimulai pada waktu dahulu oleh Linggahiyang. Sama halnya dengan Kidang Panawungan, akhirnya menjadi manusia. Bilamana manjangan yang di Galunggung suka kepada manusia, maka monyet Cogowang ya sama juga, mereka suka kepada manusia sebab asal-usulnya dari Lutung Kasarung dahulu. Itulah asal muasalnya seperti begitu. Bilamana dikisahkan bahwa pada waktu itu ada penduduk yang berkerabat dengan raja hewan, memang sesungguhnya ada, hal ya menyimpang selamanya.

X.03    Siliwangi diambil Nyi Rara Sigir (pupuh XLII.24 – XLIII.04)
Siliwangi masih kecil dan masih menjadi anak penggembala. Jelek dan kotor, anak kecil yang tidak mengetahui adat istiadat. Tidak lama kemudian dia memperoleh kebahagiaan. Puteri dari menak Sindangkasih yang bernama Nyi Rara Sigir[i] tertarik untuk mengambil si kecil Siliwangi. Anak itu diurus serta dimandikannya sehingga muncul cahaya kebesarannya. Sekarang tampak tanda-tanda bahwa dia adalah keturunan dari bangsawan besar. Gilang-gemilang bersinar cahayanya, memancar keluar sehingga sang Ayu Rara Sigir jatuh cinta kepadanya dan menginginkannya untuk menjadi jodohnya. “Jadikanlah Jaka Siliwangi ini menjadi jodohku, semoga tercapai keinginan hatiku”, begitulah permintaannya.
            Dikisahkan kemudian, pada waktu itu terjadi malapetaka. Ciptaannya Dalem Palimanan bermaksud akan menculik Putri Rara Sigir. Raksesa itu datang menyambar sang putri, namun sang putri Sigir dapat mengelak dan segera ditolong oleh Siliwangi. Dua raksesa itu dilawannya, ditendang hingga raksesa itu jatuh terguling-guling. Ketika itu semua orang di Sindangkasih menyaksikan akan kesaktian Siliwangi. Mereka menduga bahwa anak itu pastinya bukan anak sembarangan, dia telah mampu mengusir kedua raksesa itu. Dengan kejadian itu orang Sindangkasih mulai melihat Siliwangi sebagai seseorang yang tidak bisa diremehkan (bersambung).

Catatan: Nyi Rara Sigir, atau Ambetkasih putri Gedeng Sindangkasih, Cirebon (Sejarah Jawa Barat:54).

WAOSAN BABAD GALUH - KISAH PRABU SILIWANGI

KELAHIRAN DI TEGAL SILIARUM.

PENGANTAR
Dalam bab-bab sebelumnya dikisahkan mengenai Prabu Mundingkawati ayah dari Prabu Siliwangi yang gemar berburu kijang. Dikisahkan sang raja melakukannya secara berlebihan, hal mana telah meresahkan kijang-kijang siluman yang kemudian melakukan serangan balik kepada sang raja beserta rakyatnya. Tak ada yang mampu mengalahkan kijang-kijang siluman tersebut sehingga akhirnya sang raja melarikan diri ke gunung Tarogong yang terletak di kaki Gunung Guntur di arah barat laut kota Garut sekarang.

IX.06   Prabu Mundingkawati mengungsi (pupuh XLI.10 – XLI.18)
Menghadapi serangan kidang menjangan yang bertubi-tubi ini, raja Mundhing-kawati bersama sanak keluarga, isteri dan para pengikutnya pergi mengungsi. Habis semuanya menyingkir ke segala penjuru, mereka keluar dari kutha Pajajaran. Mereka pergi berduyun-duyun dengan tergesa-gesa semua melarikan diri dengan caranya masing-masing. Gunung Tarogong lah yang menjadi tujuan, tepatnya ke arah utaranya ke Tegal Uwar ayu. Maksudnya akan pergi bersembunyi untuk menghindar, disitulah tempatnya pandhe siluman, yang awalnya bernama Pagongan alimun. Dahulu gunung itu termashur dengan nama Gunung Antragangsa. Itulah gunung yang dituju untuk mengungsi oleh sang Prabu bersama isteri dan para selirnya yang ikut serta. Dengan tergesa-gesa mereka pergi berduyun-duyun ke tempat itu, yang tertinggal sudah tidak diperdulikan lagi.
Pada waktu itu permaisuri raja sang Dewi Terusgandarasa sedang hamil sembilan bulan, sang Permaisuri berjalan dengan perlahan-lahan seperti layaknya yang sedang hamil tua. Dalam perjalanan mereka melalui Tegal Sili yang harum baunya, disitu sang putri dikejutkan oleh Kijang Langgon, dan Menjangan Gumalunggung.

IX. 07  Kelahiran Siliwangi (pupuh XLI.18 – XLI.27)
Adapun Prabu Mundhingkawati kepergiannya seperti diburu oleh musuh. Tidak ingat anak isteri, mereka berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing, sehingga sang puteri yang sedang hamil pun melahirkan bayinya di Tetegal Sili yang baunya wangi. Sang bayi tidak terasa keluar karena terburu-buru mengikuti suaminya lari untuk berlindung di gunung Antragangsa.
            Prabu Mundhingkawati berseru,“He Gunung Tarogong, tolonglah kami yang sedang prihatin ini yang tengah diburu oleh Kidang sakti dan Menjangan racun. Semula kidang-kidang itu banyak yang kami buru, adapun sekarang kami ini yang diburu oleh mereka. Kami diamuki, sedangkan mentri - mentri kami tidak ada yang mampu menghadapinya. Prajurit kami banyak yang mati, ditendangi atau digigit. Orang Pakuan semua bubar ke sini dengan maksud akan menghindar, cepat tolonglah kami”. Dimintai pertolongan dengan beramai-ramai seperti itu gunung Sanghyang Gunung Tarogong kemudian terbuka, dan terlihat di dalamnya ada alam lain di perut gunung.
Maka kemudian Mundhingkawati beserta rombongannya masuk ke dalamnya, ke alam yang berada di dalam perut gunung. Sesudah masuk semua kemudian gunung itu menutup kembali seperti semula. Hal ini merupakan meradnya Prabu Mundhingkawati ke Gunung Tarogong. Mereka tidak akan keluar lagi selamanya, dan Kidang dan Menjangan itu pun tidak bisa menggangu sang Prabu lagi. Dikisahkan Dewi Trusgandarasa terkejut ketika dia sadar bahwa perutnya sudah kosong, perasaannya akan melahirkan namun dia tidak merasa hamil lagi karena lupa waktu lari tadi.
Permaisuri menangis dengan sangat sedihnya, “Anakku dimanakah kau berada, dimana gerangan jatuhnya, siapa yang bisa menemukan bayi kami yang tertinggal itu?”. Prabu Mundhingkawati menghibur dengan lembut kepada sang permaisuri yang tengah berduka, “Perihal anak kita yang tertinggal itu, tentunya dialah yang akan meneruskan peninggalan kita”.

X.01  Kisah bayi Siliwangi yang  tertinggal di Tegal Siliarum (pupuh XLII.01 – XLII.07)
Dikisahkan sekarang mengenai sang bayi yang tertinggal di Tegal Siliarum. Bayi itu ternyata telah diketemukan oleh seekor induk harimau. Sang harimau menjilati pepelem sang bayi itu seperti halnya memandikannya, ari-arinya yang tertinggal digigitnya hingga putus dan puput. Tindakannya sama seperti halnya induk kucing yang tengah membersihkan anaknya. Sang bayi meronta-ronta, dan tidak lama kemudian induk harimau itu pergi meninggalkannya.
Lalu ada seorang pencari kayu bernama Kakek Borit yang melihat ada bayi tergolek menangis di tengah hutan maka dia pun merasa belas kasihan dan segera mengambilnya. Bayi itu dibawanya pulang dan diberi nama Siliwangi, karena asalnya diketemukan di Tegal Siliarum, di pinggir hutan di gunung. Bayi Siliwangi kemudian dibesarkan di tengah keluarga pencari kayu itu. Begitulah sebagai anak Kakek Borit, Siliwangi seperti halnya anak pemungut kayu penampilannya kumuh, dan badannya kotor. Dengan keadaan seperti itu waktu kanak-kanak, tidak terlihat petunjuk bahwa dia adalah anak seorang raja. Siliwangi tumbuh sebagai anak kecil dari gunung yang kotor dan tidak pernah mandi, dengan rambut yang gimbal tidak terurus (bersambung).  by Amman Wahju

WAOSAN BABAD GALUH - DAFTAR ISI by Amman N.W.

PRAKATA
DAFTAR SINGKATAN
PENDAHULUAN
           
BAGIAN - I :  ALIH BAHASA
           
PEMBUKAAN
           
BAB - I  KISAH PRABU CIUNGWANARA
I.01      Ciungwanara mendirikan negara Pakuan 
I.02      Para pembantu Prabu Ciungwanara
I.03      Daerah - daerah yang tunduk kepada Prabu Ciungwanara
I.04      Raja Mongkara memberontak kepada Prabu Ciungwanara
I.05      Prabu Ciungwanara mendirikan Saptaloka dan menjadi Raja di raja
I.06      Kelahiran puteri Dewi Purbasari
I.07      Prabu Ciungwanara membagi Kerajaan Pajajaran
I.08      Dewi Purbasari membangun Saptaloka
I.09      Daerah kekuasaan Prabu Ciungwanara
I.10      Pengaturan kekuasaan di Pakuan
I.11      Kehidupan perekonomian Pajajaran
I.12      Para raja datang melamar Dewi Purbasari
I.13      Dewi Purbasari akan melabuh kedalam api
I.14      Para raja berlomba mematikan kobaran api
I.15      Prabu Pajajaran memperoleh empat pusaka
I.16      Para raja seberang berusaha mematikan api
I.17      Dewi Purbasari mengumumkan sayembaranya
I.18      Lutung Kasarung berhasil memenangkan sayembara
           
BAB - II  KISAH DEWI PURBASARI
II.01    Lutung Kasarung memerintah Pajajaran Timur
II.02    Keturunan Lutung Kasarung dari selir-selirnya
II.03    Kehadiran Bramana Lingga di Pajajaran
II.04    Lutung Kasarung memperoleh keturunan dari Dewi Purbasari
II.05    Pembalasan dendam Bramana Linggabuana
II.06    Lutung Kasarung menerima ajaran Pameradan
II.07    Linggahiyang diangkat anak oleh Ki Pethes Peres
II.08    Linggahiyang diambil oleh Ki Calancang
II.09    Linggahiyang membangun rumah besi
II.10    Linggahiyang membalas dendam kepada Lutung Kasarung
II.11    Lutung Kasarung dikalahkan Linggahiyang
II.12    Lutung Kasarung merad meninggalkan Pajajaran
           
BAB - III  KISAH PRABU LINGGAHIYANG
III.01   Linggahiyang menjadi raja di Pakuan
III.02   Prabu Linggahiyang mencari isteri
III.03   Prabu Linggahiyang memperisteri Rara Brajawati
III.04   Utusan Linggahiyang menjemput Dewi Brajawati
III.05   Dewi Brajawati mengandung calon raja Pajajaran
III.06   Dendam Sanghiyang Panggung Kancana
III.07   Prabu Linggahiyang menerima pembalasan
           

BAB - IV  KISAH PRABU LINGGAWESI
IV.01   Kelahiran Linggawesi anak Prabu Linggahiyang
IV.02   Nyai Indhang Sakati memberikan pertolongan
IV.03   Linggawesi kecil mempunyai isteri
IV.04   Kelahiran anak-anak Linggawesi
IV.05   Para pembantu pemerintahan Prabu Linggawesi
IV.06   Delapan Banaspati mengganggu Pajajaran
IV.07   Perjanjian Maharaja Banaspati dengan Prabu Pajajaran
IV.08   Kang Kaprabon Pitu ing Pajajaran
IV.09   Prabu Linggawesi berganti selir-selirnya
IV.10   Prabu Linggawesi memperoleh anak dari permaisuri
IV.11   Prabu Linggawesi memperoleh malapetaka
           
BAB - V  KISAH PRABU WASTUKANCANA
V.01    Kelahiran Prabu Wastukancana
V.02    Prabu Wastukancana menjadi raja di Pajajaran
V.03    Para pembantu Prabu Wastukancana
V.04    Prabu Wastukancana memperisteri puteri Susuk Lampung
V.05    Patih Burung Krendha melarikan puteri Tulang Bawang
V.06    Dewi Sekarati pulang untuk berobat
V.07    Dewi Sekarati kembali dari Lampung
V.08    Dewi Sekarati diusir dari Pajajaran
V.09    Susuk Tunggal berkelana di Laut Selatan
V.10    Peperangan antara Tulang Bawang dengan Pajajaran
V.11    Prabu Wastukancana merad di Sanghyang Talaga
V.12    Prabu Kakarawana menggantikan raja Pajajaran
V.13    Prabu Sepuh Ciungwanara mencari pewaris Pajajaran
V.14    Prabu Ciungwanara bertemu dengan Susuk Tunggal
V.15    Susuk Tunggal menaklukan Prabu Kakarawana
           
BAB - VI  KISAH PRABU SUSUKTUNGGAL
VI.01   Susuk Tunggal dinobatkan menjadi raja di Pajajaran
VI.02   Para pembantu Prabu Susuk Tunggal
VI.03   Isteri-isteri Prabu Susuk Tunggal
VI.04   Kisah Anggalarang yang mencari ayahnya
VI.05   Pertemuan Anggalarang dengan ayahandanya
VI.06   Anggalarang diuji Prabu Susuk Tunggal
VI.07   Prabu Susuk Tunggal meninggalkan Pajajaran
VI.08   Prabu Susuk Tunggal melarikan diri ke Sindangkasih
           
BAB - VII  KISAH PRABU ANGGALARANG
VII.01 Anggalarang menjadi raja di Pajajaran
VII.02 Prabu Anggalarang menunjuk para pembantunya
VII.03 Anak keturunan Prabu Anggalarang di Pajajaran
VII.04 Pemberontakan Jaya Lengkara
VII.05 Patih Bentang Lompang dikalahkan Jaya Lengkara
VII.06 Prabu Anggalarang menghadapi Jaya Lengkara
           

BAB - VIII KISAH PRABU JAYA LENGKARA
VIII.01            Kisah Permaisuri Prabu Anggalarang yang melarikan diri
VIII.02            Keturunan Atmajaya Lengkara
VIII.03            Kelahiran Mundingkawati
VIII.04            Mundingkawati diikuti Dewa Asmara
VIII.05            Mundingkawati mengganggu isteri-isteri Jaya Lengkara
VIII.06            Mundingkawati diperangi balatentara Talaga
VIII.07            Ki Tumenggung Paracutan menghadapi Mundingkawati
VIII.08            Mundingkawati menghadapi Jaya Lengkara
           
BAB - IX KISAH PRABU MUNDINGKAWATI
IX.01   Mundingkawati menjadi raja Pajajaran
IX.02   Para pembantu Prabu Mundingkawati
IX.03   Para Bupati yang menjadi Sunan
IX..04  Perburuan Kidang Menjangan di hutan
IX.05   Pajajaran diamuk Kidang Menjangan jejadian
IX.06   Prabu Mundingkawati mengungsi
IX.07   Kelahiran Siliwangi
           
BAB - X  KISAH PRABU SILIWANGI
X.01    Kisah bayi Siliwangi yang tertinggal di Tegal Siliarum
X.02    Pajajaran sepeninggal Prabu Mundingkawati
X.03    Siliwangi diambil Nyi Rara Sigir
X.04    Siliwangi mengusir Kidang jejadian
X.05    Jaka Siliwangi membebaskan Parahiyangan
X.06    Siliwangi dinobatkan menjadi  raja di Pajajaran
X.07    Para Pembantu pemerintahan Prabu Siliwangi
X.08    Anak keturunan Prabu Siliwangi
X.09    Prabu Ciungwanara merad
X.10    Prabu Siliwangi mengirim patihnya ke Gunung Jati
X.11    Prabu Siliwangi batal masuk agama Islam dan merad
X.12    Kisah puteri Prabu Siliwangi yang tertinggal
X.13    Keturunan Sunan Kabu
X.14    Keturunan Pucuk Umun
           
           
BAGIAN - II :  ALIH AKSARA
                           

LAMPIRAN – LAMPIRAN
Bagan – 01.0   Lima Periode Kerajaan di Jawa Barat
Bagan – 02.0   Urutan Raja - Raja Galuh Menurut Beberapa Wawacan, dan Babad
Bagan – 03.0   Padanan Raja - Raja Galuh Menurut Babad vs Naskah Wangsakerta
Bagan – 03.1   Padanan Tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam Waosan Babad Galuh vs
                        Naskah Wangsakerta
Bagan – 04.0   Silsilah Raja - Raja Pajajaran dari  Prabu Ciungwanara  s/d  Prabu Wastukancana
Bagan – 05.0   Silsilah Raja - Raja Pajajaran dari  Prabu Wastukancana  s/d  Pabu Siliwangi
Bagan – 05.1   Silsilah Keturunan dari Prabu Anggalarang / Prabu Dewa Niskala
Bagan – 06.0   Silsilah Raja-Raja Sunda dan Galuh Menurut Naskah Wangsakerta ( I )
Bagan – 06.1   Silsilah Raja-Raja Sunda dan Galuh Menurut Naskah Wangsakerta  ( II )
Bagan – 06.2   Silsilah Raja-Raja Sunda dan Galuh Menurut Naskah Wangsakerta ( III )
Bagan – 06.3   Silsilah Raja-Raja Sunda dan Galuh ( I )
Bagan – 06.4   Silsilah Raja-Raja Sunda dan Galuh ( II )
Bagan – 07.0   Silsilah Keturunan Prabu Dewaniskala : Sri Baduga Maharaja ( I )
Bagan – 07.1   Silsilah Keturunan Prabu Dewaniskala : Sri Baduga Maharaja ( II )
Bagan – 07.2   Silsilah Keturunan Prabu Dewaniskala : Amuk Murugul
Bagan – 08.0   Silsilah Keturunan Prabu Dewaniskala : Prabu Jayadiningrat - Kawali
Bagan – 09.0   Silsilah Keturunan Prabu Dewaniskala : Prabu Kusumalaya - Talaga
Bagan – 09.1   Silsilah Keturunan Raja Raja Talaga ( I )
Bagan – 09.2   Silsilah Keturunan Raja Raja Talaga ( II )
Bagan – 09.3   Silsilah Keturunan Raja Raja Talaga ( III )
Bagan – 10.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 1 – 2 )
Bagan – 11.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 3 – 4 )
Bagan – 12.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 5 – 6 )
Bagan – 13.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 7 )
Bagan – 14.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 8 )
Bagan – 14.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Liman Sanjaya
Bagan – 15.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 9 )
Bagan – 15.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Bandung / Timbanganten ( I )
Bagan – 15.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Bandung / Timbanganten ( II )
Bagan – 15.3   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Bandung / Timbanganten ( III )
Bagan – 16.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 10 )
Bagan – 17.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 11 )
Bagan – 18.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 12 )
Bagan – 19.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 13 )
Bagan – 20.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 14 )
Bagan – 21.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 15 )
Bagan – 21.0.1Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Dipati Ukur
Bagan – 21.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Wangsa Cianjur Dan Garut ( I )
Bagan – 21.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Wangsa Cianjur Dan Garut ( II )
Bagan – 21.3   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Wangsa Cianjur Dan Garut ( III )
Bagan – 21.4   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Wangsa Cianjur Dan Garut ( IV )
Bagan – 21.5   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Wangsa Cianjur Dan Garut ( V )
Bagan – 21.6   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Wangsa Cibalagung
Bagan – 22.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 16 – 17 )
Bagan – 23.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 18 )
Bagan – 24.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 19 )
Bagan – 24.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Taji Malela ( I )
Bagan – 24.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Taji Malela ( II )
Bagan – 25.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Geusan Ulun ( I )
Bagan – 25.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Geusan Ulun ( II )
Bagan – 25.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Geusan Ulun ( III )
Bagan – 26.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 20 )
Bagan – 26.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Panjalu ( I )
Bagan – 26.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Panjalu ( II )
Bagan – 26.3   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi – Panjalu ( III )
Bagan – 26.4   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Panjalu ( IV )
Bagan – 27.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 21 )
Bagan – 27.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( I )
Bagan – 27.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( II )
Bagan – 27.3   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( III )
Bagan – 27.4   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( IV )
Bagan – 27.5   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( V )
Bagan – 27.6   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( VI )
Bagan – 27.7   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( VII)
Bagan – 27.8   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Cirebon ( VIII )
Bagan – 27.9   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Sultan-Sultan Banten (I)
Bagan – 27.10 Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Sultan-Sultan Banten (II)
Bagan – 27.11 Silsilah Keturunan Sultan-Sultan Banten (I)
Bagan – 27.12 Silsilah Keturunan Sultan-Sultan Banten (II)
Bagan – 27.13 Silsilah Keturunan Sultan-Sultan Banten (III)
Bagan – 27.14 Silsilah Keturunan Sultan-Sultan Banten (VI)
Bagan – 27.15 Silsilah Keturunan Sultan-Sultan Banten (V)
Bagan – 27.16 Silsilah Keturunan Sultan-Sultan Banten (VI)
Bagan – 27.17 Silsilah Keturunan Syarif Hidayatullah dari garis bapak.
Bagan – 27.18 Silsilah Keturunan Syarif Hidayatullah dari garis ibu
Bagan – 28.0   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Menurut Naskah ini ( 22 )
Bagan – 28.1   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning
Bagan – 28.2   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Maraja Upama - Cibatu
Bagan – 28.3   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Galuh Kertabumi ( I )
Bagan – 28.4   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Galuh Kertabumi ( II )
Bagan – 28.5   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Gara Tengah ( I )
Bagan – 28.6   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Gara Tengah ( II )
Bagan – 28.7   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Gara Tengah ( III )
Bagan – 28.8   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Gara Tengah ( IV )
Bagan – 28.9   Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Gara Tengah  ( V )
Bagan – 28.10 Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Gara Tengah ( VI )
Bagan – 28.11 Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Kawasen ( I )
Bagan – 28.12 Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Kawasen ( II )
Bagan – 28.13 Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Cihideung
Bagan – 28.14 Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi : Prabu Haur Kuning, Cihideung
Bagan – 29.0   Silsilah Keturunan Bupati – Bupati  Sukapura
Bagan – 30.0   Silsilah Penguasa Kuningan
Bagan – 30.1   Silsilah Penguasa Galuh Ciancang / Galuh Utama ( I )
Bagan – 30.2   Silsilah Penguasa Galuh Ciancang / Galuh Utama ( II )
Bagan – 30.3   Silsilah Penguasa Galuh Ciancang / Galuh Utama ( III )
Bagan – 30.4   Silsilah Penguasa Galuh Ciancang / Galuh Utama ( IV )
Bagan – 31.0   Perbandingan Silsilah – Silsilah ( I )

GAMBAR :
Gambar 1 –  Peta Pajajaran – Galuh sebagaimana terlampir dalam History of Java, 1881.
Gambar 2 – Batas Kerajaan Pakuan Pajajaran, dari Kali Cilutung – Kali Cipamali