Rabu, 05 Desember 2012

PERJANJIAN SALATIGA 17 Maret 1745


Karena merasakan tindakan kompeni yang sewenang-wenang terhadap rakyat Kerajaan Mataram di Kartasura, maka pada tahun 1741 RM. Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh untuk menyusun pemberontakan melawan Belanda.
RM. Said yang berganti nama menjadi RM. Suryakusuma mulai membangun perlawanan di Desa Nglaroh dengan bermodalkan pasukan permulaan yang berjumlah 40.orang. Pada awal perjuangannya, RM. Suryakusuma bergabung dengan RM. Garendi atau yang terkenal dengan Sunan Kuning bersama Laskar Cina di bawah pimpinan Kapitan Sepanjang. Pada tahun 1743, RM. Garendi tertawan oleh Belanda di Surabaya dan di buang ke Afrika Selatan. Pasukan dapat di tumpas oleh Belanda sedangkan Kapitan Sepanjang hilang dalam pengejaran.
Tahap berikutnya, RM. Said bergabung dengan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan dengan gelar Sultan Mangkubumi I. RM. Said yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa akhirnya memisahkan diri dari Pangeran Mangkubumi dan memimpin pasukannya sendiri melanjutkan perjuangannya melawan Kompeni Belanda.
Pangeran Mangkubumi pada th 1755 melakukan perundingan dengan pihak Belanda di Giyanti. Perjanjian tersebut menghasilkan kesepakatan yang antara lain memberi hak pada sang Pangeran untuk memerintah sebagian dari wilayah Kartasura ,dan oleh beliau kerajaan yang baru ini di namakan Ngayogjakarta Hadiningrat yang populer di sebut sebagai Yogyakarta, sedang rajanya bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Di saat RM. Said atau Pangeran Samber Nyawa mulai melakukan perlawanannya, Kerajaan Mataram yang berpusat di Kartasura diperintah oleh Pakubuwono II. Namun, sejak Keraton Kartasura dapat di rebut oleh RM. Garendi beserta laskar Cina pada tahun 1742, ibukota kerajaan pindah ke Surakarta. RM. Garendi beserta laskar Cinanya dapat di usir oleh Belanda setelah menduduki Keraton Kartasura selama 9 bulan. Pangeran Samber Nyawa tetap melanjutkan perjuangannya mulai dari daerah Kabupaten Sukoharjo, ke daerah Klaten,Wonogiri, Madiun, Karanganyar dan Sragen. Pakubuwono II wafat dan digantikan putranya yang bergelar Pakubuwono III dan berkedudukan di Surakarta. Raja baru ini mempunyai kebijaksanaan yang agak berbeda dengan pendahulunya. Beliau ingin mengakhiri pemberontakan Pangeran Samber Nyawa dengan melalui perundingan. Pemikiran demikian timbul antara lain karena saran dari Kompeni yang sudah kewalahan menghadapi Pangeran Samber Nyawa.
Sinuhun Pakubuwono III di paroh akhir tahun 1756 menulis surat kepada Pangeran Samber Nyawa agar kembali ke Surakarta untuk membantu beliau menjalankan pemerintahan, adapun mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wilayah pemerintahan dan kedudukan Pangeran Sambernyawa dapat dirundingkan kelak. Akhirnya pada hari Kamis Pahing tanggal 4 Jumadilakir, tahun 1682 (M.1756), Pakubuwono III menjemput Pangeran Sambernyawa di Desa Tunggon untuk di ajak kembali ke Surakarta.
Pada awal tahun 1757, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia menulis surat kepada Pakubuwono III di Surakarta, Sultan Hamengkubuwono I diYogyakarta ,dan RM. Said atau Pangeran Sambernyawa. Surat tersebut berisi undangan agar ketiganya bertemu di Salatiga untuk mengadakan perundingan.
Pada tanggal 17 Maret 1757 di dusun Kalicacing, Salatiga, perundingan tersebut dapat terlaksana. Menurut buku Babad KGPAA.Mangkunegara I,susunan formasi para peserta perundingan adalah sebagai berikut : Nicholas Harting sebagai wakil dari Gubernur Jenderal Belanda, yang dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator duduk di tengah, di apit oleh Pakubuwono III, disebelah kanan dan Hamengkubuwono I dikirinya. Di hadapan mereka duduk Pangeran Sambernyawa. Perundingan ini disaksikan oleh kepala perwakilan VOC dan kedua patih, baik dari Surakarta maupun Yogyakarta, yaitu Mangkupraja dan Suryanegara.
Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :
  1. Pangeran Sambernyawa di angkat sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara I
  2. Beliau berhak menguasai tanah seluas 4000 karya, serta semua daerah yang pernah dilewati selama mengadakan pemberontakan dan menjalankan roda pemerintahannya.
  3. Beliau berhak mendirikan sebuah istana atau Puro sebagai pusat pemerintahannya di Surakarta, tetapi dengan syarat :
    • Dilarang membuat singgasana
    • Dilarang membuat alun-alun dengan beringin kurung
    • Dilarang membuat “Siti Inggil” dan balaiurung
    • Dilarang menjatuhkan hukuman mati
Istana dan Praja Mangkunegaran selanjutnya di kenal dengan nama “Pura Mangkunegaran”. Kesepakatan tersebut di atas di kenal dengan nama “Perjanjian Salatiga” DENGAN DEMIKIAN PADA TG 17 MARET 2007, USIA PURA MANGKUNEGARAN MENCAPAI GENAP 250 TAHUN.
Pemerintah Indonesia sangat menghargai jasa Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I sebagai pejuang kemerdekaan nasional. Hal itu terbukti dengan pengangkatan beliau sebagai pahlawan kemerdekaan nasional seperti yang
tertuang dalam keputusan Presiden RI. No. 048/TK tahun 1988, tanggal 17 Agustus 1988.
Setelah Mangkunegara I wafat, beliau digantikan oleh Mangkunegara II dan seterusnya, hingga saat ini yang menjabat sebagai pimpinan Pura Mangkunegaran adalah Sri Paduka Mangkunegara IX.
Sejak pemerintahan Mangkunegara I hingga Mangkunegara IX, Pura Mangkunegaran telah memberikan sumbangan yang besar bagi bangsa dan kebesaran nama Indonesia.
Karya-karya tari dan sastra, serta berbagai ragam seni budaya bermutu tinggi banyak yang lahir dari lingkungan Mangkunegaran. Peranan Pura Mangkunegaran di bidang pendidikan menghasilkan tokoh-tokoh nasional, serta putera bangsa yang berbobot.
Dalam perjuangan kemerdekaan nasional, banyak kerabat Mangkunegaran yang langsung terlibat dalam perjuangan fisik maupun non fisik.
Sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka semua, serta untuk memupuk rasa persatuan dan kebangsaan yang akhir-akhir ini dirasakan agak pudar, maka seluruh jajaran Pura Mangkunegaran mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama berpartisipasi merayakan “250 tahun Pura Mangkunegaran”. Dalam rangka mereaktualisasi Budaya Mangkunegaran, maka panitya mempunyai rencana untuk mengadakan Pagelaran-pagelaran , seminar-seminar, pameran-pameran, dan kegiatan lainnya.
Dengan memohon Ridho Allah SWT., Tuhan Yang Maha Pengasih, Peringatan “250 tahun Pura Mangkunegaran”, akan dimulai dengan acara selamatan di Kalicacing, Salatiga pada tanggal 17 Maret 2007, dan disusul dengan kegiatan2 lainnya yg akan berlangsung sepanjang tahun 2007
"Pahlawan Nasional RM Said berjuang melawan penjajah bersama para Ulama, Pendekar, laskar Tionghoa dan prajurit wanita"
PANGERAN SAMBERNYAWA
Masalah tersebut, maka RM. Said atau Pangeran Sambernyawa, karena menyaksikan penderitaan rakyat Mataram akibat penindasan Kompeni, beliau memilih keluar dari Istana Kartasura dan membangun perlawanan terhadap VOC. Kompeni merasa kewalahan dan mengajak berdamai, tetapi selalu ditolak oleh Pangeran Sambernyawa. Namun setelah Paku Buwono III meminta beliau pulang ke Surakarta dengan maksud agar beliau membantu Sinuhun PB.III didalam mengendalikan Kerajaan Mataram, Pangeran Sambernyawa menerima ajakan tersebut dan selanjutnya bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati Mangkunegara, Menurut Babad Panambangan, pada saat PB.III menjemput RM.Said dari medan perang, beliau berkata bahwa segala sesuatu yang menyangkut kedudukan KGPAA. Mangkunegara akan dibicarakan di kemudian hari. Sebagai realisasi penyelesaian, maka diadakanlah perundingan di Desa Kalicacing Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757.
Pada dasarnya perundingan yang diadakan adalah perundingan antara RM.Said dengan PB.III. Namun, karena sejak Perjanjian Giyanti Tahun 1755 wilayah Kerajaan Mataram sudah terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta, maka dalam perundingan tersebut, diikuti juga perwakilan dari Keraton Yogyakarta dan Perwakilan dari VOC yang bertindak sebagai saksi. Perundingan ini menghasilkan suatu perjanjian yang dikenal dengan nama PERJANJIAN SALATIGA. Sejak itu maka secara defacto dan dejure terbentuklah PRAJA MANGKUNEGARAN
BARISAN ULAMA
“Subhanullah Subhanullah Subhanullah Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar”. Kalimat ini senantiasa dikumandangkankan oleh Pangeran Sambernyawa dimanapun beliau berada. RM.Said mengangkat senjata bukan karena ingin menjadi raja, tetapi karena didorong oleh cita-cita luhur untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Mulat sariro hangrasa wani, melalui introspeksi diri yang terus menerus, maka akan menimbulkan keberanian untuk bertindak demi keadilan dan kebenaran. Bagi beliau, menjaga kebersihan batin adalah merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan dalam hidup ini. Para Kyai dan ulama tanpa ragu mendukung perjuangan beliau. Kyai Penambangan selalu berada disamping beliau dalam suka dan duka. Raden Penghulu, pimpinan ulama dari Bayat gugur ditembus peluru Belanda di saat bertempur bersama RM.Said. Pangeran Sambernyawa merupakan sosok pribadi yang tabah dan pemberani, tetapi penuh dengan welas asih.
BARISAN PRAJURIT WANITA
Ada ungkapan “witing klapa Jawata ing ngarsa pada, salugune wong wanita dasar nyata”. Wanita adalah bagaikan dewi yang turun ke bumi. Keberadaannya di dunia ini harus dihormati. Mereka diibaratkan sebagai pohon kelapa yang kokoh, tetapi luwes. Prinsip-prinsip inilah yang dipegang oleh Mangkunegara I dalam memperlakukan para wanita. Di saat dunia masih mempermasalahkan kesetaraan gender, beliau telah membentuk pasukan wanita yang bertempur dengan gagah berani disamping para pasukan pria. Pasukan ini dinamakannya “Ladrang Mangungkung”, yang berarti Pasukan yang mengepung musuh hingga tak berdaya dan itu telah terbukti di berbagai pertempuran melawan VOC.
PASUKAN PRIA
Rakyat Kerajaan Mataram adalah rakyat yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal ini terbukti sejak Sultan Agung Hanyakra Kusuma memimpin rakyatnya melawan penjajah. Semangat untuk melawan penindasan tersebut diwariskan kepada keturunan beliau yang bernama RM.Said. Para prajurit RM.Said bukanlah prajurit bayaran. Sebagian besar dari mereka adalah para petani, tukang penebang kayu, pemburu dan rakyat kecil lainnya. Mereka tergerak hatinya ketika mendengar pekik perjuangan yang dikumandangkan oleh RM.Said. Berjuang dan berjuang demi keadilan. Darah mereka tertumpah, dalam pertarungan demi pertarungan.
“Jer Basuki Mawa Bea, Rawe-Rawe rantas malang malang putung,
ojo nganggu gawe, marang kamardikan”.
"Semua tujuan harus ditebus melalui pengorbanan dan segala yang penghalang untuk tercapainya kemerdekaan, akan tersapu".
PRAJURIT TIONGHOA
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, perjuangan melawan penindasan tidak mengenal sekat ethnis, suku dan agama. Pangeran Sambernyawa sangat memahami hal tersebut. Beliau berhasil mengajak seluruh masyarakat untuk “Hanebu Sa’uyun” Bersatu kokoh bagaikan seikat tebu melawan segala bentuk kejahatan. Sejarah mencatat bahwa seluruh rakyat Mataram termasuk ribuan etnis Tionghoa dibawah kepemimpinan Kapitan Sepanjang dan Tan Sin Ko alias Sinshe, bersatu padu, bahu membahu, bersama RM.Said dalam berjuang mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara. Darah para pejuang laskar Tionghoa ini tumpah menggenangi bumi pertiwi, menyatu dengan darah saudara-saudaranya dari suku Jawa. Darah yang telah tergenang berbaur tanpa dapat dibedakan lagi, apakah itu darah Tionghoa atau darah Jawa.
W A R O K
Pada saat RM.Said tiba didaerah Keduwang, Wonogiri, beliau bertemu dengan para pejuang yang gagah berani. Mereka menamakan dirinya sebagai warok. Mereka menyatakan keinginannya untuk mengikuti RM.Said berjuang melawan Kompeni. Kesaktian para pendekar ini telah terbukti dalam berbagai pertempuran.
“Suro Diro Jayaningrat lebur dening pangastuti”.
Segala kesaktian akan pudar kalau tidak menyatu dengan kebaikan.
KEMERDEKAAN
Tanggal 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Mulai saat itu bangsa Indonesia memasuki babak kehidupan yang baru dan Praja Mangkunegaran meleburkan diri pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Cita-cita agung dari para pejuang bangsa yang telah mendahului kita, termasuk Pahlawan Nasional RM.Said dan mereka yang telah berjuang bersamanya, perlu kita ujudkan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semboyan :
· Rumongso Melu Handarbeni
· Wajib Melu Hanggrumengkepi
· Mulat Sariro
· Angrosowani
Marilah kita jaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai diakhir jaman. Semoga darah para martir yang telah membasahi tanah air, di saat mereka melaksanakan kewajibannya yang berupa “Melu Hanggrumengkepi” selalu mengingatkan kita akan pentingnya menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

SALATIGA
(1740-1743
)
Peristiwa yang terjadi di Salatiga pada tahun tersebut sangat erat hubungannya dengan apa yang terjadi di Keraton Kartasura. Pada masa itu yang bertahta di Kartasura adalah Paku Buwono II. Beliau mempunyai beberapa saudara, antara lain bernama Pangeran Arya Mangkunegoro, yang kemudian di buang ke Afrika Selatan oleh Kompeni dan wafat disana. Sebelum di buang, beliau berputra seorang laki-laki yang di beri nama RM.Said (Pangeran Sambernyawa). Pada masa itu kekejaman Kompeni mencapai puncaknya. Para petani di peras dan di Batavia lebih kurang 10.000 orang Tionghoa di bantai karena tidak mampu dibebani pajak yang tinggi. Sebagian dari mereka yang hidup, melakukan perlawanan terhadap Kompeni dan lari ke Jawa Tengah. Keadaan yang demikian menimbulkan keresahan rakyat dan para pemimpin dilingkungan Kerajaan Mataram. Para Bupati membakar semangat rakyatnya untuk berontak melawan Kompeni. Pemberontakan terhadap Kompeni tersebut dipelopori antara lain oleh Bupati Mengunoneng dari Pati, Bupati Martapura dari Grobogan dan Bupati dari Lasem yang bernama Martawijaya. Dalam waktu yang hampir bersamaan, RM.Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh, mengumpulkan pasukan permulaan yang berjumlah 40 orang dan melakukan serangan pada pos-pos Kompeni. Tindakan RM.Said diikuti oleh RM.Garendi, cucu Amangkurat III, raja yang di kudeta oleh Pakubuwono I. Ayah RM.Garendi yang bernama Pangeran Teposono terbunuh dalam suatu persekongkolan dan RM.Garendi lari kearah Grobogan dan Demak, membangun perlawanan terhadap Kompeni. Dengan demikian ada dua Pangeran yang keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap kompeni pada saat itu yaitu, RM.Said dan RM.Garendi.
Laskar Cina pelarian dari Batavia di bawah pimpinan Kapiten Sepanjang bergabung dengan Laskar Cina lokal Jawa Tengah, di bawah pimpinan Sin She alias Tan Sin Ho.
Gabungan Laskar Cina ini bersatu dengan Laskar para bupati pemberontak di dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni. Sunan Pakubuwono II pada mulanya mendukung perjuangan mereka. Benteng Salatiga diduduki oleh Pasukan Kartasura, dibawah pimpinan Patih Pringgalaya. Namun tidak beberapa lama pasukan dimaksud di tarik ke Kartasura untuk membendung bala tentara Kompeni yang mengancam Keraton Kartasura. Sebagai gantinya Salatiga di pertahankan oleh satu detasemen Laskar Cina yang didatangkan dari Semarang.
Kompeni merasa tidak senang atas berpihaknya PB.II kepada pemberontak dan mengeluarkan berbagai ancaman. Disebabkan Pringgalaya takut atas ancaman Kompeni yang demikian itu dan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersekongkol dengan Laskar Cina, maka pada tahun 1741 ia memenggal kepala seorang juru tulis Tionghoa, yang bernama Gow Ham Ko di Salatiga. Kepala Gow Ham Ko oleh Patih Pringgoloyo diserahkan kepada Kompeni. Hal ini membuat marah Patih Notokusumo, seseorang yang lebih senior dari Pringgalaya. Secara diam-diam dia memerintahkan semua pengikutnya untuk bergabung dengan pasukan Tionghoa dan pemberontak lainnya untuk menyerang kompeni di Semarang. Sayang, serangan
terhadap kompeni yang di Semarang mengalami kegagalan. Pasukan pemberontak mundur dan Patih Notokusumo di tangkap Belanda.
Sebagian besar pasukan yang mundur bertahan didaerah Salatiga dengan pertahanan Kali Tuntang. Berbagai kekuatan pemberontak, seperti pasukan Pringgalaya berada di Kalicacing, Pasukan Kyai Mas Yudonegoro, seorang ulama dari Semarang berada di bagian timur dan pasukan Cina di sekitar Kali Tuntang.
Kekalahan pasukan pemberontak di Semarang membuat PB.II ragu dan akhirnya memutuskan berbalik berpihak pada kompeni. Ia memerintahkan pasukannya di bawah Pringgalaya menggempur para pemberontak. Menanggapi situasi demikian itu, para bupati pemberontak dan pimpinan laskar Tionghoa berkumpul untuk mengangkat RM.Garendi sebagai raja Mataram pada tanggal 6 April 1742. Mereka berikrar akan melawan kompeni sampai ajal tiba. Sasaran mereka merebut benteng kompeni di Kartasura. Pertempuran pertama yang harus mereka hadapi ialah di Salatiga, dimana mereka harus berhadapan dengan Pringgalaya di Kalicacing yang sekarang berpihak pada VOC.
Setelah Salatiga jahtuh ketangan RM.Garendi, dengan mudah mereka merebut benteng kompeni di Kartasura dibawah Van Hohendorf. RM.Garendi di Kartasura bertemu dengan RM.Said yang selanjutnya keduanya bergabung melawan kompeni pada pertengahan 1742. Sementara itu Salatiga telah dikuasai oleh pasukan pemberontak yang terdiri dari laskar Cina, pasukan dibawah Kyai Mas Yudonegoro dan pasukan para bupati yang setia pada Patih Notokusumo.
Belanda merencanakan mengirim pasukan gerak cepat yang terdiri dari 300 prajurit Eropa dan 500 prajurit pribumi ke Salatiga, tapi mengalami kegagalan karena pasukan yang akan menjemput mereka sebelum memasuki Salatiga telah dipukul mundur ke Ampel.
Pada tanggal 19 Juni 1742 serangan besar-besaran akan dilancarkan ke kota Salatiga. Namun sebelum sampai tujuan, mereka ketakutan dan kembali ke Semarang, karena Kompeni melihat konsentrasi kekuatan pasukan Kyai Mas Yudonegoro. Pasukan gabungan dari RM.Garendi atau Sunan Kuning terus melakukan perlawanan pada kompeni di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Tanjung, Jepara. RM.Said bersama laskar Cina yang berkekuatan 800 orang bertempur melawan pasukan kompeni dibawah Kapten Mom di Welahan pada tanggal 24 Agustus 1742, namun pasukan ini karena kekuatan persenjataan yang tak seimbang terpaksa mundur. Sebagian diantaranya membuat pertahanan di Salatiga dan memasang barikade di Kali Tuntang. Pasukan kompeni dibawah Hohendorf gagal menembus barikade ini. Ditempat ini komandan dan laskar Cina, yaitu Kapitan Sepanjang telah mengeksekusi anak buahnya yang bernama Swa Ting Giap karena mau menyeberang ke pihak Kompeni.
Sunan Kuning atau RM.Garendi beserta Laskar Cina, Kyai Mas Yudonegoro, Bupati Mangunnoneng, serta Bupati Martapura, melakukan serangan ke Salatiga dan memaksa Patih Pringgalaya yang sudah berbalik membantu Kompeni, mundur ke Tengaran, kemudian Ampel.
Pasukan RM.Garendi terus mengejar pasukan Kartasura dibawah Pringgalaya dan akhirnya menyerbu benteng Kompeni di Kartasura. Di tempat ini, RM.Garendi beserta Laskar Cina bersatu dengan RM.Said melakukan perlawanan terhadap Kompeni.
Pertempuran yang terjadi di Salatiga, mulai sejak pasukan Pringgalaya menyerbu benteng Kompeni sampai dengan insiden pembunuhan juru tulis Tionghoa dan juga pertempuran antara RM.Garendi beserta Laskar Cina menyerang pasukan Pringgalaya yang telah berbalik sebagai sekutu Kompeni, diceriterakan secara detail dalam Buku Babad Keraton dalam bentuk tembang. Buku dengan huruf Jawa yang aslinya disimpan di British Library London, telah disalin dalam huruf Latin oleh Drs. I.W. Pantja Sunyata, Drs. Ignatius Supriyanto dan Prof. Dr. J.J. Ras.

LEGIUN MANGKUNEGARAN


Cikal bakal dari Legiun Mangkunegaran ialah para anggota pasukan yang memberontak pada VOC, yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyowo. Ketangguhan tempur pasukan ini mulai terkenal sejak mereka dibawah Pangeran Suryokusumo (nama lain dari Pangeran Sambernyowo), melakukan penyerangan pos-pos militer Belanda di daerah Salatiga, waktu pemberontakan orang Cina pada tahun 1744. Setelah Pangeran Sambernyowo atau RM. Said menjadi kepala Praja Mangkunegaran pada tahun 1757, pasukan tersebut merupakan bagian resmi dari Praja Mangkunegaran.

Pasukan pemberontak yang tadinya belum mempunyai aturan-aturan militer yang baku, mulai dibenahi dengan cara penerapan tradisi dan hirarki kemiliteran yang profesional. Re-organisasi total Prajurit Mangkunegaran dilakukan pada tahun 1808 pada masa pemerintahan MN.II. Dalam re-organisasi tersebut, untuk pertama kali diangkat Komandan Legiun, yaitu MN.II dengan pangkat Kolonel. Tradisi ini berlanjut sampai dengan MN.VII, yang merupakan Kolonel Komandan terakhir dari Legiun Mangkunegaran.

Nama pasukan yang tadinya "Prajurit Mangkunegaran", diubah menjadi "Legiun Mangkunegaran". Hal ini mencerminkan sikap yang modern dari penguasa Praja Mangkunegaran waktu itu, yang ingin mempunyai tentara seperti yang dimiliki Perancis di jaman Napoleon.

Jumlah personil Mangkunegaran tergantung kebutuhan pada pemerintahan saat itu. Namun menurut catatan yang ada dalam sejarah Legiun, jumlah yang minimumnya sekitar 750 personil dan maksimum 1500 personil. Rekruitmen prajuritnya di ambil dari rakyat di wilayah Mangkunegaran, sedangkan para perwiranya diangkat dari para putera dan kerabat Mangkunegaran. Untuk menjadi kadet atau calon perwira dipersyaratkan umur 16 tahun dan menguasai bahasa Belanda dan Melayu. Agar mutu Legiun Mangkunegaran setara dengan tentara Belanda, maka beberapa tentara Belanda ditugasi untuk mendidik dan melatih para prajuritnya. Legiun Mangkunegaran terkenal sebagai tentara yang bermutu tinggi, sehingga jenjang kepangkatannya oleh pemerintah Belanda diakui sama dengan kepangkatan dalam tentara Belanda. Apabila dalam keadaan perang, Legiun Mangkunegaran akan berfungsi sebagai tentara cadangan Belanda. Hal ini terjadi waktu Perang Dunia II, dimana tentara Belanda diserang tentara Jepang pada masa pemerintahan MN.VII dan Legiun Mangkunegaran ikut bertempur bersama tentara Belanda. Dalam perang tersebut, Belanda menyerah dan Legiun Mangkunegaran dibubarkan oleh Pemerintah Jepang. Dengan demikian MN.VII tercatat sebagai Kolonel Komandan yang terakhir.

Tugas pokok dari Legiun Mangkunegaran adalah menjaga keutuhan dan keamanan Praja Mangkunegaran. Karena tugas tersebut, maka kadang-kadang Legiun Mangkunegaran melakasanakan tugas-tugas polisionil diluar Praja Mangkunegaran. Sebagai contoh, pada setiap ada suksesi tahta di Keraton Surakarta, maka selama suksesi tersebut berlangsung, penjagaan keamanan kota Surakarta seluruhnya diserahkan kepada Legiun Mangkunegaran.

Selasa, 13 November 2012

Ini adalah tulisan silsilah dari keluarga para raja, serta anak cucu semuanya. Dimulai dari Paduka Sinuhun Prabu Brawijaya V, yang terakhir.

PADUKA SINUHUN PRABU
BRAWIJAYA V PAMUNGKAS
di Majapahit  tahun 1334.

Hingkang Sinuhun Prabu BRAWIJAYA V, memperistri :
Gusti Kanjeng Ratu Handarawati, putri Campa.
Dalam riwayat Sang Prabu memegang Kekuasaan selama 50(lima puluh) tahun, karena ayahnda menjadi raja hanya  4(empat) tahun. Memperoleh banyak keturunannya  sebanyak 100(seratus) putera-puteri. Dan penulis disini hanya menyajikan 91 (sembilan puluh satu) putera-puteri, sedangkan yang meninggal tidak.

Nama putera puteri Sang Prabu BRAWIJAYA, adalah sebagai berikut :
 1. Raden Jaka Dilah, menjabat Adipati di Palembang;
 2. Raden Jayapanulih, menjabat Adipati di Sumenep;
 3. Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat, di Pengging yang terakhir.
 4. Dewi Manik, menikah dengan Hario Gumangsang;
 5. Hario Lembu Peteng, menjabat Adipati di Madura;
 6. Hario Dewa Ketul, menjabar Adipati di Bali;
 7. Raden Jaka Prabangkara;
 8. Raden Jaka Krewet, menjabat Adipati di Borneo (Kalimantan);
 9. Raden Jaka Kretek, menjabat Adipati di Makasar (Sulawesi);
10. Raden Surenggana;
11. Raden Sujana, menjabat Adipati di Palembang;
12. Putri Ratna Bintara, menikah dengan Adipati Nusabrong;
13. Raden Fatah (Syam Alam Akbar) Sultan Demak I (pertama);
14. Raden Bundan Kajawan Kiyai Ageng Tarup III;
15. Ratu Ayu, menikah dengan Hajar Windusana;
16. Raden Gajah Pramana;
17. Putri Ratna Marsandi, menikah dengan Juru Paniti;
18. Putri Ratna Marlangen, menikah dengan Adipati Marlangen;
19. Putri Ratna Sataman, menikah dengan Hario Jaranpanulih;
20. Putri Ratna Satamin, menikah dengan Hario Bangah, di Pengging;
21. Batara Katong, menjabat Adipati Katong, di Ponorogo;
22. Raden Gugur, Sunan Lawu;
23. Putri Kanistren, menikah dengan Hario Baribin, di Madura;
24. Putri Kaniraras, menikah dengan Hario Pekik, di Pengging;
25. Dewi Ambar, menikah dengan Hario Partaka;
26. Raden Hario Surongsong, meninggal di Kedu.
27. Raden Hario Wangsa, nama gelar Kyai Ageng Pilang;
28. Raden Jaka Dandun, nama gelar Syeh Belabelu;
29 Raden Jaka Dander,  nama gelar Nawangsaka;
30. Raden Jaka Balot, nama gelar Kidangsana;
31. Raden Jaka Barak, nama gelar Carang Gana;
32. Raden Jaka Paturih, nama gelar Pacangkringan;
33. Putri Dewi Sampur;
34. Raden Jaka Laweh, nama gelar Duruan;
35. Raden Jaka Jaduk, nama gelar Malang Sumirang;
36. Raden Jaka Balut,  nama gelar Megatsari;
37. Raden Jaka Suwung;
38. Putri Dewi Sukati;
39. Raden Jaka Tarwa, nama gelar Banyakwulan;
40. Raden Jaka Maluwa, nama gelar Banyak Modang;
41. Raden Jaka Lanang, nama gelar Banyak Bakung;
42. Raden Jaka Langsing, nama gelar Banyakputra;
43. Putri Dewi Rantang;
44. Raden Jaka Semprung, nama gelar Kiyahi Ageng Brandet;
45. Raden Kunijang, nama gelar Hario Tepos;
46. Raden Jaka Lemboso, nama gelar Hario Pacetlondo;
47. Raden Jaka Lirih;
48. Raden Jaka Lawu;
49. Putri Dewi Paniwet;
50. Raden Jaka Barong;
51. Raden Jaka Bindho, nama gelar Baratketigo;
52. Raden Jaka Blabur, nama gelar Saputarup;
53. Raden Jaka Budu, nama gelar Tawangbalun;
54. Raden Jaka Tarikbolong;
55. raden Jaka Lengis, nama gelar Jejeran;
56. Raden Guntur;
57. Raden Jaka Malot;
58. Raden Jaka Sinorang, nama gelar Sulangjiwa.
59. Raden Jaka Jatang, nama gelar Singapadu;
60. Raden Jaka Karawu, nama gelar Macanpuro;
61. Raden Jaka Krendo, nama gelar Panulahar;
62. Raden Jaka Jinggring, nama gelar Norowito;
63. Raden Jaka Salembar, nama gelar Panangkilan;
64. Raden Jaka Tangkeban, nama gelar Wanengwulan;
65. Raden Jaka Buras, nama gelar Palingsingan;
66. Raden Jaka Kaburu, nama gelar Pasingsingan;
67. Raden Jaka Lambang, nama gelar Hasticepi;
68. Raden Jaka Lumuru, nama gelar Katawangan;
69. Raden Jaka Doblang, nama gelar Yudasara;
70. Raden Jaka Golok, nama gelar Jatinom;
71. Raden Jaka Bluwa, nama gelar Syeh Sekardali;
72. Raden Jaka Wayah, nama gelar Syeh Bubukjanur;
73. Raden Jaka Pandak, nama gelar Syeh Kaliatu;
74. Raden Jaka Bodho, nama gelar Kiyai Ageng Majastra;
75. Raden Jaka Gapyuk, nama gelar Kiyai Ageng Palesung;
76. Raden Jaka Sengara, nama gelar Pangayat;
77. Raden Jaka Supeno, nama gelar Kiyai Ageng Tembayat;
78. Raden Jaka Pangawe, nama gelar Raden Singunkara;
79. Raden Jaka Turas, nama gelar Raden Hadangkoro;
80. Raden Jaka Suwanda, nama gelar Raden Jaka Lelana;
81. Raden Jaka Suwarno, nama gelar Raden Jaka Tanengkung;
82. Raden Jaka Ketul, nama gelar Raden Lembaksiu;
83. Raden Jaka Dalun, nama gelar Gagakpranolo, dimakamkan di pasarean Astana Laweyan Solo;
84. Raden Jaka Wirun, nama gelar Raden Sarasidho;
85. Raden Jaka Sumeno, nama gelar Raden Kenitan;
86. Raden Jaka Besur, nama gelar Raden Saragading;
87. Raden Jaka Gatot, nama gelar Raden Balaruci;
88. Raden Jaka Raras, nama gelar Raden Notosanto;
89. Raden Jaka Paniti, nama gelar Raden Panurta;
90. Raden Jaka Paniti, nama gelar Raden Lawangsari, dan
91. Raden Jaka Sawunggaling.

Diantara keturunan Prabu BRAWIJAYA V Pamungkas, sebanyak 8(delapan) putera-puteri pindah dan berkedudukan di pulau Bali, beserta banyak punggawa (abdi dalem) dan rakyat pengikutnya (kawulo). Mereka mendirikan kerajaan dan menurunkan para Stede houwer, Raja-raja. Menurut asalnya masyarakat di Bali terdapat dua turunan adalah: 1). Keturunan Bali asli; 2). Keturunan Majapahit.

RUNTUH KERAJAAN MAJAPAHIT
Para Wali menobatkan putra Prabu BRAWIJAYA V yang ke 13(tigabelas) di Majapahit, bernama Raden Fatah, satriya dari Glagahwangi, nama gelar Adipati Notopraja. Kerajaan pindah ke Jawa Tengah, dengan ibukotanya Demak. Kemudian nama gelar beliau Sultan Bintara I(pertama), atau diebut juga dengan gelar nama Syah Alam Akbar, memegang kekuasaan kerajaan selama 5(lima) tahun.
Setelah wafat kedudukan beliau digantikan oleh putranya Raden Prawata, nama gelar Sultan Bintara II(kedua), memegang kekuasaan kerajaan selama 2(dua) tahun. Setelah wafat digantikan saudaranya Raden Trenggono, nama gelar Sultan Bintara III(ketiga), memegang kekuasaan kerajaan selama 33(tiga puluh tiga) tahun. Mereka dimakamkan dibelakang masjid Demak.
Dalam riwayat putra Sultan Bintara II(kedua) bernama Hario Penangsang, satriya di Jipang tidak menyetujui penobatan Sultan Trenggono, sehingga terjadi perang antara Hariao Penangsang dengan Jaka Tingkir  Sultan Pajang adalah sebagai putra mantu Sultan Demak III di Demak. Karena kerajaan Demak tahun 1458 pindah ke Pajang.
Perang dimulai oleh pihak Raden Danag Sutawijaya, yang dipimpin oleh Kiyai Ageng Jurumartani, beliau adalah kakek pamannya, disertai pula oleh Kiyai Agneg Pati, serta ayhnda Kiyai Ageng Pemanahan. Dan dalam riwayat Raden Hario Penangsang gugur dalam medan perang. 
Raden Danang Sutawijaya, diberikan hadiah tanah wilayah Mantaok; sedangkan Kiyai Ageng Penjawi mendapat hadiah tanah wilayah Pati.

PUTRA PUTRI DALEM KANJENG SULTAN BINTARA III
(RADEN TREANGGONO)

Keturunan Sultan Bintara III, sebanyak 10(sepuluh) putera puteri, adalah :
  1. Panembahan Mangkurat;
  2. Ratu Mas Pambayun, menikah dengan Kiyai Ageng Lang;
  3. Panembahan Prawata I(pertama);
  4. Ratu Mas Mantingan, menikah dengan Pangeran Made Pandan;
  5. Ratu Mas Kalinyamat;
  6. Ratu Mas Hario di Surabaya;
  7. Ratu Mas Katambang;
  8. Ratu Mas Cepaka, menikah dengan Sultan Pajang Hadiwijaya;
  9. Panembahan Mas di Madiun, dan
10. Ratu Sekarkedaton.

Kanjeng Sultan Bintara III, mempunyai isteri / garwa, adalah :
 * Garwa/isteri yang pertama (no:1) adalah putera Kiyai Ageng Malaka;
 * Garwa/isteri yang kedua (no:2) adalah putera Sunan Kalijaga.

Nyi Mas Ratu Kalinyamat, bertapa tanpa busana hanya terselimutkan oleh rambut beliau di wukir Bonoraja, hal ini dilakukan karena suaminya dibunuh oleh Raden Hario Panangsang. Beliau berikrar "Ora pati bubar singku tapa yen ora keset rambute Hario Panangsang" / "Jika karena mati bertapa ini tidak disudahi kalau tidak keset rambutnya Hario Penangsang".

Panembahan Prawata I, menurunkan 4(empat) putera puteri adalah :
 1. Raden Ayu Juru.
 2. Panembahan Prawata II.
 3. Raden Ayu Surajaya, dan
 4. Panembahan Pruwita di Ngreden Delanggu. Cucu dari Kanjeng Sultan Bintara III.

Panembahan Mas di Madiun, menurunkan 13(tiga belas) putera puteri adalah:
 1. Raden Ayu Semi, di Kalinyamat;
 2. Raden Ayu Pengulu;
 3. Pangeran Kanoman;
 4. Raden Ayu Pasangi;
 5. Raden Mas Lontang Hirawan, di Japan;
 6. Raden Ayu Dumilah, menikah dengan Sinuhun Panembahan Senapati di Mataram, isteri ke 2(dua);
 7. Raden Mas Tangsang Hirawan, di Madiun;
 8. Raden Mangkurat Wiryawan, di Madiun;
 9. Raden Hario Sememi;
10. Raden Hario Sumantri;
11. Raden Ayu Pamegatan;
12. Panembahan Hawuryan, dan
13. Raden Hario Kanoman.

Raden Mas Lontang Hirawan, menurukan 3(tiga) putera puteri, adalah :
 1. Panembahan Juminah II(kedua), di Madiun;
 2. Raden Mas Julik, dan
 3. Raden Hario Partoloyo, di Madiun.

Panembahan Juminah II(kedua), menurunkan putera puteri, adalah:
 *) Raden Balitar, menurunkan Raden Tumenggung Balitar, menurunkan Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwana, Prameswari Pakubuwana I(pertama), menurunkan Sinuhun Prabu Mangkurat Jawa.


RATNA PAMBAYUN PUTRIDALEM HINGKANG
SINUHUN PRABU BRAWIJAYA V, PAMUNGKAS DI MAJAPAHIT.

Menikah dengan Srimakurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging. Runtuhnya keadaan Kerajaan Pengging senasib dengan Kerajaan Majapahit dari penyerbuan Islam.

Ratna Pambayun menurunkan 3(tiga) putera puteri, adalah :
 1. Kiyai Ageng Kebokanigara, tidak mempunyai keturunan;
 2. Kiyai Ageng Kebokenanga, menurunkan Mas Karebet, dan
 3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat.

Mas Karebet pada waktu masih balita telah ditinggal wafat ayah, dan tak lama kemudian ibunya wafat. Sepeninggalan orang tuanya diasuh oleh Kiyai Ageng Tingkir, beliau adalah seperguruan dengan ayah Mas Karebet. Oleh karenya tempat tinggal berpindah dari Pengging ke Tingkir (letaknya dekat kota Slatiga), dan kebetulan Kiayi Ageng Tingkir tidak mempunyai keturunan.
Dalam riwayat Mas Karebet setelah dewasa mengabi ke Demak menjadi prajurit Tamtama, karena berparas tampan dan cerdik diambil menantu oleh Sang Prabu, dinikahkan dengan Ratu Mas Cepaka.

Menurunkan 7(tujuh) putera puteri, adalah:
 1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya;
 2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban;
 3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya;
 4. Ratu Mas Banten, dinikahi Adipati Mondoroko, sebagai Patih dari Sinuhun Panembahan Senopati.
 5. Ratu Mas Japara;
 6. Adipati Benawa, nama gelar Sultan Hawijaya, di Pajang, dan
 7. Pangeran Sindusena.

Tahun 1458 Sultan Hadiwajaya, dinobatkan raja di Pajang, dan berkuasa selama 32(tiga puluh dua) tahun.
Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3(tiga) tahun.
Adipati Benawa Sultan Hawijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasan selama 1(satu) tahun.

Setelah wafat Kanjeng Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen.

Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3(tiga) putera puteri
yaitu  :
1. Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang.
2. Pangeran Kaputrah, di Pajang.
3. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram.

Ratu Mas Banten, menikah dengan Adipati Mondoroko Ki Jurumartani, menjabat Patih Paduka Sinuhun Panembahan Senapati ing Ngalaga, di Mataram, menurunkan putera puteri :
1. Adipati Jagabaya Banten, menurunkan putra :
    a. Adipati Senabaya Banten, menurunkan putra :
    b. Kanjeng Panembahan Bagus Banten, mwnurunkan putra :
    c. Raden Ayu Tirtokusumo ing Pancuran, menurunkan putra :
    d. Raden Ajeng Temu, menikah dengan Adipati Sindurejo, menjabat Patih dari Hingkang Sinuhun
        Paku Buwana III di Surakarta, menurunkan putra :
    e. Kanjeng Bandara Raden Ayu Adipati Mangkunegoro II di Surakarta, menurunkan putra :
    f. Raden Ayu Notokusumo (Raden Ajeng Sayati) menurunkan putra :
    g. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro III.

Ini adalah Trah Keturunan dari Adipati Mondoroko Ki Jurumartani.
Adipati Mondoroko menurunkan putra :
Pangeran Hupasanta hing Batang, menikah dengan putri Adipati Benawa hing Pajang, menurunkan putra :
1. Kanjeng Ratu Batang, sebagai Prameswari Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu 
    Hanyokrokusumo, di Mataram.
2. Panembahan Mas, menjabat Adipati di Pajang putra dari Adipati Benawa, peputra Panembahan
    Radin, Panembahan Ramawijaya, dan Raden Ayu Purbaya III.
3. Kanjeng Ratu Kulon, sebagai prameswari dari Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung ing
    Mataram.
4. Pangeran Pujamenggala.
5. Pangeran Adipati Wiramenggala.

Ini adalah putra dari Pangeran Mas Adipati hing Pajang.

Pergantian Dinasti ke Putra Majapait No.14
RADEN BUNDANKAJAWAN / BONDAN KEJAWEN

Asal keturunan Raja di Mataram sampai dengan Raja Surakarta.
Kiyai Ageng Tarup II,mempeisteri widadari bernama Dewi Nawangwulan, menurunkan putra :
Dewi Nawangsih, kagarwa Raden Bunda Kajawan, putra Sinuhun Prabu Brawijaya V di Majapait. Kemudian memakai nama gelar Kiyai AGENG TARUP III, menurunkan 3(tiga) putra putri adalah :
1). Raden Dukuh Kiyai Ageng Wonosobo, menjadi putra menanatu Sunan Maja Agung.
2). Raden Depok, Syeh Abduliah, demikian pula menjadi putra menantu Sunan Maja Agung
3). Rara Kasihan, menikah dengan Kiyai Ageng Ngerang I.

2). Raden Depok, kemudian memaki nama gelar Kiyai Ageng Getaspandawa. menurunkan putera :
     (1). Bagus Sogam, setelah dewasa bernama: Abdulrachman.
            Tempat kediaman di desa Selo, memakai nama gelar Kiyai Ageng Selo.
            Kiyai Ageng Selo menikah dengan :
            1. putrinya Kiyai Ageng Wonosobo, masih keponakan dari saudara.
            2. putrinya Kiyai Ageng Ngerang, masih keponakan dari saudara.

Putra dari isteri no.2, bernama: Bagus Anis, wafat dimakamkan di Astana Lawiyan Sala. Garwanipun Kiyai Ageng Anis adalah putra dari Kiyai Ageng Wonosobo, menurunkan putra :

Bagus Kacung, nama gelar Kiyai Ageng Pemanahan, karena semula bertempat tinggal di desa Manahan Sala. Dan setelah putranya dinobatkan sebgai Raja Mataram, berganti nama gelar yaitu: Kiyai Ageng Mataram.
Beliau wafat dimakamkan di Astana Kota Cede, Yogyakarta.
Isteri dari putranya Pangeran Made Pandan menurunkan putra :
1. Adipati Manduranegara.
2. Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati di Ngalaga.
3. Pangeran Ronggo.
4. Nyai Ageng Tumenggung Mayang.
5. Pangeran Hario Tanduran.
6. Nyai Ageng Tumenggung Jayaprana.
7. Pangeran Teposono.
8. Pangeran Mangkubumi.
9. Pangeran Singasari.
10. Raden Ayu Kajoran.
11. Pangeran Gagak Baning, wafat dimakamkan berdampingan dengan Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati di makam Astana Kota Gede.
12. Pangeran Pronggoloyo.
13. Nyai Ageng Haji Panusa, di Tanduran.
14. Nyai Ageng Panjangjiwa.
15. Nyai Ageng Banyak Potro, di Waning.
16. Nyai Ageng Kusumoyudo Marisi.
17. Nyai Ageng Wirobodro, di Pujang.
18. Nyai Ageng Suwakul, wafat dimakamkan di  Astana Lawiyan.
19. Nyai Ageng Mohamat Pekik di Sumawana.
20. Nyai Ageng Wiraprana di Ngasem.
21. Nyai Ageng Hadiguno di Pelem.
22. Nyai Ageng Suroyuda Kajama.
23. Nyai Ageng Mursodo Silarong.
24. Nyai Ageng Ronggo Kranggan.
25. Nyai Ageng Kawangsih Kawangsen.
26. Nyai Ageng Sitabaya Gambiro.

Jenjang urutan dari Prabu Brawijaya V.
Prabu Brawijaya V di Majapait, menurunkan putera puteri adalah :
Raden Bundan Kajawan, peputra :
Raden Getas Pendawa, peputra :
Kiyai Ageng Selo, peputra :
Kiyai Agepg Anis, peputra :
Kiyai Ageng Pemanahan, peputra :
Hingkang Sinuhun Panembahan Senapati ing Ngalaga.


HINGKANG SINUHUN PANEMBAHAN SENAPATI ING NGALAGA

Dinobatkan sebagai Raja Mataram pada tahun 1586.
Belia wafat  pada tahun 1601.
Pernikahan 1(pertam) dengan putri dari Kiyai. Ageng Pati (Panjawi).
Pernikahan 2(kedua) dengan putra dari Adipati Mas hing Madiun.
Putra putri beliau adalah :

  1. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun Garwa Kiayi Ageng Mangir. Setelah berstatus janda menikah
      dengan Kiyai Ageng Karanglo.
  2. Pangeran Ronggo, Raden Ronggo diriwayatkan bertarung dengan Uling Laut Selatan. Bibi dari
      Kalinyamat.
  3. Pangeran Puger, menjabat sebagai Adipati di Demak.
  4. Pangeran Teposono.
  5. Pangeran Purbaya, diberikan sebutan Purbaya terbang. Bibi dari Giring.
  6. Pangeran Rio Manggala.
  7. Adipati Jayaraga di Ponorogo.
  8. Hingkang Sinuhun Hadi Prabu Hanyakrawati.
  9. Gusti Raden Ayu Demang tanpa Nangkail.
10. Gusti Raden Ayu Wiramantri,  di Ponorogo.
11. Pangeran Pringgalaya.
12. Panembahan Juminah, putra dari isteri No.2.
13. Adipati Martalaya, di Madiun.
14. Pangeran Tanpa Nangkil

Paduka Sinuhun Panembahan Senapati, raja Mataram wafat dimakamkan di Astana Kota Gede, demikan juga Pangeran Ronggo.

KERAJAAN PINDAH DUMATENG MATARAM. IBU KOTA, PLERET.

Pergantian Dinasti adalah Bondan Kejawan, putra Majapahit nomor: 14.
Paduka Sinuhun Panembahan Senapati, dinobatkan menjadi Raja pertama kali.

Sekar Sinom
"Nulata laku utama, tumraping wong Tanah Jawi.
Priyagung hing Ngeksigondo, Panembahan Senapati.
Kapati amarsudi, sudaning hawa lan napsu.
Pinesu tapa brata, tanapi hing siyang ratri.
Amemangun karyanak tyasing sasama."



ASALSILSILAH PADUKA SINUHUN PRABU HADI HANYAKRAWATI
di Mataram. Menurut Pancer dari garis Ibu

Dinobatkan menjadi Raja tahun 1601, dan wafat pada tahun 1613 .
Silsliah :
a. Sunan Maulana Mahribi, menurunkan putera :
b. Kiyai Ageng Ngerang I, menurunkan putera :
c. Kiyai Ageng Ngerang II, menurunkan putera :
d. Kiyai Ageng Ngerang III, menikah dengan Ratu Panengah, putra dari Sunan Kalijaga, menurunkan
    putera :
e. Kiyai Ageng Penjawi (Pati), menurunkan putera :
f. Kanjeng Ratu Mas, menikah dengan Paduka Sinuhun Penembahan Senapati Ing Ngalaga, menurunkan putera :
g. Paduka Sinuhun Prabu HANYAKRAWATI di Mataram.

Wafat dimakamkan di Astana Kota Gede, disebelah bawah makam ayahnda.
Paduka Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, menikah yang pertama dengan Gusti Kanjeng Ratu MASHADI putri dari Adipati Benawa di Pajang. Menikah yang kedua dengan Ratu Lungayu di Ponorogo.
Menurunkan putra putri sebanyak 12(duabelas) yaitu :

  1. Paduka Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma.
  2. Pangeran Hario Mangkubumi.
  3. Pangeran Bumidirja.
  4. Pangeran Martapura.
  5. Ratu Mas Sekar, garwa Pangeran Pekik Surabaya.
  6. Ratu Mas Sekar, garwa Pangeran Ronggo hing Pati.
  7. Pangeran Buminata.
  8. Panger.an Notopuro.
  9. Pangeran Pamenang.
10. Pangeran Sularong.
11. Gusti Kanjeng Ratu  Wirakusuma hing Jipang.
12. Pangeran Pringgoloyo.

Paduka Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, mendapat gelar nama yaitu: Sinuhun sedho Krapyak.
berkenaan dengan peristiwa saat Paduka Sinuhun wafat pada saat berburu di hutan Krapyak.

ASALSILAHIPUN 
PADUKA SINUHUN KANJENG SULTAN AGUNG PRABU HANYAKRAKUSUMA Dari garis pancer Ibu


Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1613.
Beliau wafat pada tahun 1645.
Wafat dimakamkan di Pesarean Astana Pajimatan Imogiri, Ngayugyakarta; yang pertama-kali.
Isteri beliau masih saudara keponakan putri dari Pangeran Hupasanta di Batang, bernama Kanjeng Ratu Kulon utawi Kanjeng Ratu Batang.

a. Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hadiwijaya Jaka Tingkir di Butuh Sragen, menurunkan putera :
b. Pangeran Adipati Benawa hing Pajang, menurunkan putera :
c. Gusti Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Paduka Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati,
    menurunkan putera :
d. Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma hing Mataram.
    menurunkan putera putri sebanyak 8(delapan) adalah :
   1). Pangeran Demang Tanpa Nangkil.
   2). Pangeran Ronggo Kajiwan.
   3). Gusti Ratu Ayu Winongan.
   4). Pangeran Ngabehi Loring Pasar.
   5). Pangeran Purubaya.
   6). Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Hamangkurat Agung, di Mataram.
   7). Gusti Raden Ayu Wiromantri.
   8). Pangeran Danupaya.

Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indoneisa, pada tahun 1980, dengan Piagam yang ditandatangani Presiden Soeharto.

Yen Sinuhun ing Mataram Sultan Agung tan kena tiniru yekti. Sebab iku Wali Ratu.
Mujijate wus dadiyo pratanda. Wali miwah jumeneng Ratu. Pindha Kang Maha Suci, hangejawantah dadi Sang Prabu. Lir Njeng Rasullolah nguni, wus kaliyang nunggal.
Mula mintaha Barkah kemawon.

H1NGKANG SINUHUN
PRABU HAMANGKURAT AGUNG, HING MATARAM, SAKING HINGKANG IBU

Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1645. Wafat pada tahun 1677.

Prameswari Paduka Hamangkurat Agung yang Pertama, adalah putri dari Pangeran Pekik, di Surabaya.
Prameswari Paduka Hamangkurat Agung yang Kedua, adalah putri dari Panembahan Radin.
a. Kiyai Ageng Dukuh di Wonosobo, menurunkan putra :
b. Pangeran Made Pandan, menurunkan putra :
c. Adipati Mondoroko, nama gelar Ki Jurumartani, menurunkan putra :
d. Pangeran Huposonto di Batang, menurunkan putra :
e. Kanjeng Ratu Kulon, menikah dengan Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma.
    Dsebut juga dengan nama gelar: Kanjeng Ratu Batang, menurunkan putra :
f. Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Harnangkurat Agung, di Mataram,

Putra putri beliau seluruhnya adalah :

  1. Paduka Sinuhun Hamangkurat Mas (Amral), dilahirkan dari Isteri Pertama: Kanjeng Ratu Kulon,
      adalah putri dari Pangeran Pekik, di Surabaya.
  2. Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I(pertama) atau Pangeran Puger, dilahirkan dari
      isteri kedua :  Kanjeng Ratu Wetan, adalah putri  dari Panembahan Radin,
  3. Gusti Raden Ayu Pamot.
  4. Pangeran Martosana.
  5. Pangeran Singasari.
  6. Pangeran Silarong.
  7. Pangeran Notoprojo.
  8. Pangeran Ronggo Satoto.
  9. Pangeran Hario Panular.
10. Gusti Raden Ayu Adip Sindurejo, menikah dengan Patih Sindurejo di Kartasura.
11. Gusti Raden Ayu Kletingkuning, garwanipun Raden Trunajaya, Hingkang ngraman. 1674 - 1680
12. Gusti Raden Ayu Mangkuyudo.
13. Gusti Raden Ayu Adipati Mangkupraja.
14. Pangeran Hario Mataram.
15. Bandara Raden Ayu Danureja.
16. Gusti Raden Ayu Wiromenggolo.

Paduka Sinuhun Susuhunan Prabu Hamangkurat Agung, wafat dimakamkan di Tegal Arum. Dusun Jelak Kota Tegal.

ASALSILAHIPUN 
PADUKA SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN PAKU BUWANA I
DI KARTASURA

Garis Pancer dari Trah/Keturunan Ibu.
Dinobatkan menjadi Raja pada thaun 1704. Wafat pada tahaun 1719.
Paduka yang dinobatkan sebagai Raja yang pertama kali di Kartasura, Paduka inuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Amral. Kemudian tapuk kerajaan digantikan oleh putranya Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Kencet.
Kemudian digantikan oleh paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I (Puger).
Adik Paduka Sinuhun Hamangkurat Amral, mempersunting Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana, putrinipun Tumenggung Balitar.
a. Kanjeng Gusti Adipati Benawa di Pajang, menurunkan putra :
b. Panembahan Radin, menurunkan putra :
c. Kanjeng Ratu Wetan, Prameswari dari Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung, menurunkan putra :
d. Paduka Sinuhun Paku Buwana I, di Kartasura; menurunkan putra putri :
    1). Gusti Raden Ayu Lembah.
    2). Pangeran Ngabehi.
    3). Paduka Sinuhun Hamangkurat Jawa,
    4). Gusti Raden Ayu Mangkubumi.
    5). Pangeran Herucakra Hing Madiun.
    6). Pangeran Hario Prangwadono.
    7). Pangeran Ngalaga.
    8). Pangeran Pamot.
    9). Adipati Sindurejo.
  10). Pangeran Purubaya, di Lamongan, saking garwa.
  11). Pangeran Balitar.
  12). Kanjeng Ratu Ajunan, menikah dengan Pangeran Tjakraningrat di Madura.


PAMBRONTAKAN RADEN TRUNAJAYA

Semasa keuasaan pemerintahan Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Hamangkurat Agung di Kerajaan Mataram, terjadi peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Trunajaya.
Dalam peristiwa ini Paduka Sinuhun terdesak namun dapat meloloskan diri dari Karaton, dan mengungsi sampai di Tegal. Setelah beberapa waktu lamanya di Tegal, memerintahkan kepada putranya Pangeran Puger, agar menyirnakan Raden Trunajaya.
Kehendak Sinuhun dapat terwujut dengan terbunuhnya Raden Trunojoyo di Ardi Ngantang Jawa Timur.

Setelah Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Agung wafat dimakamkan di Tegal Arum, sebuah desa dekat dengan kota Tegal. Sedangkan keadaan Karaton Mataram rusak, kemudian Gusti Pangeran Puger mendirikan bangunan keraton di Kartasura, yang kemudian diberikan kepada kakak Hamangkurat Mas (Amral).


KRATON PINDAH DATENG KARTASURA.

Yang dinobatkan Raja pertama kali adalah, Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Mas (Amral).
Kemudian Raja kedua adalah, Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Kencet .
Selanjutnya Paduka Sinuhun Paku Buwana I (Puger). Terhitunh masih saudara muda dengan Hamangkurat Mas.



PADUKA SINUHUN
KANJENG SUSUHUNAN PRABU HAMANGKURAT MAS (AMRAL)

Dinobatkan Raja di Karaton Kartasura
Menurunkan putra putri adalah :
1. Paduka Sinuhun Prabu Hamangkurat Kencet.
2. Pangeran Lembah.
3. Pangeran Teposono.
4. Raden Mas Garandi, Sunan Kuning, dilarkan dari isteri selir keturunan Cina.
5. Gusti Raden Ayu Dandun Matengsari.
Paduka Sinuhun tidak menurunakan Raja. Wafat dimakamkan di  Astana Pajimatan Imogiri.


ASALSILAHIPUN PADUKA SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN HAMANGKURAT JAWA, HING KARTASURA

Garis Pancer dari Trah/Keturunan Ibu.
Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1719. Wafat pada tahun 1727.
Menikah dengan Kanjeng Ratu Kencana, putrinipun Ki Tumenggung Tirtakusuma.

a. Kanjeng Sultan Demak Bintara III, menurunkan putra :
b. Kanjeng Panembahan Mas, di Madiun, menurunkan putra :
c. Gusti Kanjeng Ratu Retnodumilah, menikah dengan Paduka Sinuhun Panembahan Senapati di Ngalaga,
    menurunkan putra :
d. Panembahan Juminah Hing Madiun, menurunkan putra :
e. Pangeran Adipati Balitar, menurunkan putra :
f.  Ki Tumenggung Balitar, menurunkan putra :
g. Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana I, di  Kartasura menurunkan putra :
h. Paduka Sinuhun Hamangkurat Jawa di Kartasura.

Putra Putri dalem :
  1. Kanjeng Pangeran Hario Mangkunegoro, di Kartasura.
  2. Gusti Raden Ayu Suroloyo, di Brebes.
  3. Gusti Raden Ayu Wiradigda.
  4. Gusti Pangeran Hario Hangabehi.
  5. Gusti Pangeran Hario Pamot.
  6. Gusti Pangeran Hario Diponegoro.
  7. Gusti Pangeran Hario Danupaya.
  8. Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II
  9. Gusti Pangeran Hario Hadinagoro.
10. Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, garwa Pangeran Hindranata.
11. Gusti Raden Ajeng Kacihing, dewasa sedho.
12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijaya, sedho Kali Abu.
13. Gusti Raden Mas Subronto, wafat dalam usia dewasa.
14. Gusti Pangeran Hario Buminoto.
15. Gusti Pangeran Hario Mangkubumi, Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana I.
16. Sultan Dandunmatengsari, melakukan pemberontakan dan tidak berhasil.
17. Gusti Raden Ayu Megatsari.
18. Gusti Raden Ayu Purubaya.
19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat. di Sampang
20. Gusti pangeran Hario Cokronegoro.
21. Gusti Pangeran Hario Silarong.
22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono.
23. Gusti Raden Ayu Suryawinata. di Demak.
24. Gusti Pangeran Hario Panular.
25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo.
26. Gusti Raden Mas Jaka, wafat usia muda
27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro.
28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto.
29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I.

Urutan putera pertama (1) Kanjeng Pangeran Hario Mangkunegoro Kartasura, menurukan putra :
Raden Mas Sahit, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (K.G.P.A.A.) Mangkunegara I Surakarta.

Urutan putera kedelapan (8), Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buawan II.
Urutan putera keduabelas(12) Gusti Pangeran Hario Hadiwijaya, wafat Kali Abu, menurunkan putra : Pangeran Kusumodiningrat, menurunkan putra :

Pangeran Hadiwijaya, mantudalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (K.G.P.A.A.) Mangkunegoro II, angsal B.R.AJ. Sakeli, peputra :

Pangeran Hadiwajaya, menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Adalah putra dari Paduka Sinuhun Paku Buwana VIII.
Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana IX, peputra : Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan P.B. X.

Urutan putera kelimabelas (15) Gusti Pangeran Hario Mangkubumi,  Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana No.1, di Yogyakarta.


ASALSILAHIPUN HINGKANG SINUHUN KANJENG SUSUHUNAN
PAKU BUWANA II, HING KARTASURA

Garis Pancer dari Trah/Keturunan Ibu.

Dinobatkan menjadi Raja pada tahun 1727. Wafat pada tahun 1749.
Pindah dan mendiami Keraton Surakarta, hari Rebo Paing,  Februari Th. 1745
Menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Mas.

a. Kalifah Husen, putranipun Syeh Madi, kamantu Hario Baribin hing Madura, peputra :
b. Sunan Nguduipg Wall Prajurit agul-agul nlgari Dernak,peputra: c. Panembahan Kali hing Poncowati Demak, asma Panembahan Kudus,. peputra : ...
d. Pangeran Demang, peputra :
e. Pangeran Rajungan, peputra :
f. Pangeran Kudus, peputra : ^
g. Adipati Sumodipuro hing Pati, peputra :
h. Raden Adipati Tirtokusumo, peputra :
i. Gusti Kanjeng Ratu Kencana, Prameswaridalem Hingkang Sinuhun Hamangkurat Jawa hing Kartasura, peputra :
j. Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan P.B.II.

Putra putri dalem :
  1. Gusti Kanjeng Ratu Timur, garwanipun Pangeran Pakuningrat.,
  2. Gusti Pangeran Hario Priyombodo, dewasa sedho.
  3. Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan P.B. III.
  4. Gusti Raden Ayu Puspokusumo.
  5. Gusti Raden Ayu Puspodiningrat.
  6. Gusti Raden Ayu Kaliwungu.
  7. Gusti Raden Ayu Mangkupraja hing Demak.
  8. Gusti Raden Ayu Pringgodiningrat.
  9. Gusti Pangeran Hario Puruboyo.
10. Gusti Pangern Hario Balitar.
11. Gusti Pangern Hario Danupaya.
12. Gusti Raden Ayu Jungut.

(bhs jawa)
Pada waktu Pemerintahan Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, terjadi pembrontakan Cina, yang dipimpin Sunan Kuning (Raden Mas Garandi) adalah putradalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Mas, dari isteri selir/garwa ampil keturunan Cina.

Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan P.B.II, melarikan diri mengungsi sampi di Ponorogo. Dan stelah Sunan Kuning dapat taklukan, Paduka Sinuhun kemudian memerintahakan meneliti keadaan Kraton, karena bangunan banguna di Kartosura kondisinya sudah hancur.

Banyak tempat / Bangunan yang diberi tiang penyanggah, dengan maksud agar bangunan tersebut (pagar, tembok rumah, pendapa tidak mengalami keruntuhan. Kemudian mememrintahkan punggawa Karaton Kartosuro yaitu Ki Tumenggung Harung Binang I memeriksa keadaan Kraton.

Dalam riwayat pemilihan lokasi Karatob baru adalah di Dusun Sala, sebelah timur Kartasura untuk dilaksanakan Pembangunan baru Kedaton/Karaton. Setelah jadi bangunan Kararton Sala, Paduka Sinuhun melaksanakan boyongnan pindah dengan arak-arakan secara besar besaran, Paduka Sinuhun naik Kreta Kencana Kiyai Garuda.

Rebo Paing Februari tahun 1745. Ki Tumenggung Harung Binang I, diwisuda menjadi Bupati Kebumen, nama gelar Adipati Honggowongso. Pindah ke Surakarta tahun 1745.

Putradalem Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hamangkurat Jawa, Gusti Pangeran Mangkubumi nama saat usia muda Bandoro Raden Mas Sujono. Putra dari isteri selir / garwa ampeyan bernama Mas Ayu Tejawati. Setelah Raka(kakak) Paduka Sinuhun Kanjeng Susuhunan P.B.II wafat, terjadi pemberontakan (mbalelo) Gusti Pangeran Mangkubumi.

Dalam kisah terjadi hukuman pemenggalan kepala terhadap Pahlawan Surakarta adalah Ki Ngabehi Djoyokartiko Delu Penewu Keparak Gedong Tengen.

PERJANJIAN GIYANTI WONTEN TAHUN 1735.

Dalam pemerintahan Paduka Nata hing Surakarta Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana III.
Kanjeng Pangeran Mangkubumi dinobatkan di Karaton Yogyakarta, dengan nama gelar Paduka Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana I,  Ngayogyakarta Hadiningrat.




SULTAN SUROSOWAN I PUTERA SULUNG KI SUNAN GUNUNG JATI SYARIF HIDAYATULOH

Berdasarkan buku Sejarah Cirebon, tulisan PS Sulendraningrat, di temukan data berdasarkan tahun kelahirannya, putera sulungnya Ki Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatullah ialah Pangeran Sebakingkin atau kemudian bergelar Sultan Surosowan I, Maulana Hasanuddin yang lahit pada tahun 1479 masehi.

Berikut kesimpulan urutan keterangan mengenai keturunan-keturunan Pangeran Cakrabuwana dan Sunan Gunung Jati/ Syekh Syarif Hidayatuloh dari buku sejarah Cirebon, tulisan PS Sulendraningrat : Prabhu Siliwangi menikah dengan Ratu Mas Subang Larang yang lahir pada tahun 1404 m., pada tahun 1422 m., dan wafat pada 1441 m., menurunkan tiga orang : Yang pertama Pangeran Walangsungsang pada tahun 1423 m., dan yang setelah berguru kepada Syekh Nuruljati di beri nama pula Pangeran Cakrabuana, sesudah membabat dan pembangun dukuh caruba pada I Sura 1302 J / 1389 m., ( Kodya Cirebon 1 Sura 1358 J / 1445 M bernama pula Sri Mangana.

Yang kedua Ratu Mas Rara Santang pada tahun 1427 m., yang dapat jodoh dengan Sultan Abdullah, Sultan Mamluk dari Mesir pada tahun 1448 m., pada waktu menunaikan ibadah haji yang di perintah oleh Rama Guru Syekh Nuruljati yang pada tahun 1448 m., melahirkan Syarif Hidayatulloh di Mekah dan pada tahun 1450 m., adiknya bernama Syarif Nurullah. Yang ketiga Pangeran Raja Sengara Kian Santang pada tahun 1429 m., setelah menunaikan ibadah Haji bernama pula Haji Mansur. Pangeran Sengara Kian Santang kemudian menjadi Raja di Garut, Jawa barat. Pangeran Cakrabuana setelah di tinggal mati ibundanya pada tahun 1441 m., keluar istana Pajajaran pada umur X 17 tahun ( 1442 m ) agama sang Hiang yang bernama Nyai Indhang Geulis ( Ayu ). Tidak lama kemudian adiknya Nyai Lara Santang ( Ratu Mas Rara Santang ) menyusul. Pernikahan dengan Nyai Indhang Geulis menurunkan seorang puteri yang bernama Ratu Mas Pakungwati pada tahun 1446 m. Setelah menunaikan ibadah haji pula Pangeran Cakrabuana telah menjadi Wali dari pernikahan Ratu Mas Rara Santang dengan Sultan Abdulloh dari Mesir. Sepulangnya dari ibadah haji dari tanah suci Mekah, Pangeran Cakrabuana singgah di Campa / Kamboja berguru sarengat Rosul pada Syekh Jati Suara, menikah dengan seorang puterinya Guru Besar itu pada tahun 1449 m., yang bernama Nyai Rasa Jati, dan dari puteri ini setelah kembali ke Jawa mendapatkan 7 orang anak, yang masing-masing di beri nama : 1. Nhay Lara Konda. 2. Nhay Lara Sejati. 3. Nhay Jatimerta. 4. Nhay Jamaras. 5. Nhay Mertasinga. 6. Nhay Cempa. 7. Nhay Rasa Melasih. Selanjutnya Haji Abdulloh Iman /

Pangeran Cakrabuana menikah lagi dengan Nyai Retna Riris, seorang puteri dari Ki Gedheng Alang-alang, Kuwu pertama dukuh Caruban ( Cirebon ) yang setelah menikah dengan Pangeran Cakrabuana ( haji Abdullah Iman ) di ganti namanya dengan Kencana Larang. Pernikahan ini menurunkan seorang putera bernama Pangeran Caruban / Carbon yang menetap di rumah kakeknya di Caruban Girang, kuwu Caruban Girang. Pada tahun 1677 m., atas persetujuan Sultan Banten, kasultanan Cirebon di bagi 2 menjadi Keraton Kasepuhan ( Keraton Pakungwati yang di bangun 1479 m), dan keraton kannoman ( di bangun 1675 m ).

Peristiwa ini menandakan Sultan Surosowan juga punya pengaruh kekuasaan yang besar pada kedaerahan kekerabatannya di kasultanan Cirebon, berhubungan urusan kemaslahatan. Syarif Hidayatulloh setelah berumur X 20 tahun ( 1468 m., ) berguru ilmu agama Islam kepada beberapa Syekh di daratan Timur Tengah, setelah selesai berguru menuju ke Jawa ( Indonesia ) pada tahun 1470 m. Setelah beberapa lama berada di Jawa, beliau menikah dengan Nyai Babadan pada tahun 1471 m., seorang puteri Ki Gedhe Babadan. Tidak lama kemudian Nyai Babadan wafat tanpa putera pada tahun 1477 m. Isteri kedua beliau Nyai Lara Bagdad, yang di sebut pula Syarifah Bagdad, seorang adik dari Maulana Abdurrokhman Bagdad. Isteri ketiga Ki Syarif Hidayatulloh adalah Nyai Kawunganten seorang adik Bupati Banten bawahan kerajaan Pajajaran Pakuan. Pada tahun 1475 m menurunkan 2 orang putera-puteri. Yang pertama Ratu Winahon pada tahun 1477 m., dan yang kedua Pangeran Sebakingkin pada tahun 1479 m., yang pada tahun 1526 m., menjadi Bupati Banten di negara Banten sebagai wakil ayahandanya ialah Sunan Gunung Jati bergelar Pangeran Hasanuddin yang pada tahun 1568 m., setelah wafatnya Syarif Hidayatulloh menjadi Sultan Hasanuddin Sultan Banten/ Surosowan pertama yang berdaulat penuh
.

Tahun kelahiran Pangeran Sebakingkin / Maulana Hasanuddin menandakannya sebagai putera tertuanya Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh / Syekh Nuruddin.

Baru pada tahun 1484 m., dari rahim Nyai Lara Bagdad / Syarifah Bagdad lahir 2 orang putera : Yang pertama Pangeran Jayakelana pada tahun 1486 m. Yang kedua Pangeran Bratakelana pada tahun 1489 m., alias Pangeran Gung Anom. Pada tahun 1478 m., Ki Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyai Pakungwati, seorang puteri Rama Uwanya ialah Pangeran Cakrabuana sebagai permaisuri, bersemayam di Keraton Pakungwati ( dalam bahasa Cirebon padmi, yang kemudian mengangkat dua orang puteranya Nyai Lara Bagdad dan Pangeran Adipati Muhammad Arifin/ Pangeran Pasarean sebagai anaknya sendiri. Pangeran Arifin ini kemudian di angkat menjadi Sultan Cirebon pengganti  Sunan Gunung Jati