Sabtu, 08 Juni 2013

Pemberontakan Santri Cerbon 1818

Nyi Silabrangti amuwus aris
“Bibi Candhini sira mantuka
maring Wanamarta rekeh
warakaken sanakisun
miwah rekeh ing rama kalih
warakaken yen wis pejah
pemi dipun katur
lawan sira mradikaa
angungsia wangsa kadangira bibi
‘lah, sira mradikaa”.

-          Kidung Candhini Bab III pasal 31.

SUARA kemerdekaan masih terngiang di kalangan jiwa para santri Cerbon yang telah kalah perang melawan Kolonialis Belanda. Kepedihan dan keterhinaan akibat dinjak-injak kaki penjajah membuat mereka seperti kehilangan harga dirinya. Mereka ingin bebas, merdeka tanpa harus tunduk pada kekuasaan asing. Suara kebebasan itu mereka tuangkan dalam sebuah puisi panjang dalam bentuk kidung. “Kidung Candhini” nama puisi yang terdiri dari 17 bab dan 538 bait itu. Ditulis para santri dalam pengembaraannya di tahun 1838 M (1760 Jawa) dengan menggunakan bahasa Cerbon Pegon – bahasa Cirebon pertengahan.
Seputar tahun itu memang merupakan tahun penderitaan panjang para santri di Jawa. Setelah kekalahan santri Cirebon pada tahun 1818 yang kemudian disusul dengan kekalahan para ulama Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825 – 1830). Dalam kekalahnnya itu, mereka melakukan pengembaraan ke berbagai pelosok daerah.
Dalam kidung itu pula disinggung tentang kegalauan jiwa yang tak terperikan. Seperti keterkekangan untuk membebaskan diri dari pembelengguan pihak penjajah. Meski Kidung Candhini sendiri ditulis sebagai buku untuk kepentingan dakwah Islamiyah dengan gaya puisi, namun akar dari permasalahannya adalah “gugatan” kemerdekaan terhadap penjajah Belanda. Seperti pada bait puisi di atas :

Nyi Silabrangti menjawab dengan nada lembut

“Bibi Candhini, datanglah kamu

ke Wanamarta
berikan kabar kepada sanak keluargaku
juga kepada ayah bunda
katakanlah, bahwa aku telah mati
jangan lupa, katakanlah
dan kamu kuberi kebebasan
pergilah kamu kepada sanak saudaramu sendiri
nah, kamu merdeka.

Kidung Candhini sangat mungkin merupakan alat bukti yang monumental dari pergerakan santri di sekitar Cirebon ketika berperang untuk melepaskan diri dari kekangan pemerintah Hindia Belanda. Sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20, gerakan kaum santri ini, bukan tak ditengarai pihak Belanda, sehingga mereka (Belanda) bahkan melakukan penggrebekan secara militer di tempat-tempat tertentu. Meski kidung panjang tersebut ditulis dengan bahasa tersamar, namun gerakan “pensucian” jiwa kalangan santri dari pengaruh sekularisme Eropa nampak terasa. Warakaken yen wis pejah/pemi dipun katur/lawan sira mradikaa. Katakan, bahwa aku telah mati/jangan lupa, katakanlah/dan kamu kuberi kebebasan (kemerdekaan).
Kata “mati” bisa jadi dalam artian gerakan fisik. Kematian pemberontakan, memang tak harus dibarengi dengan kematian jiwa. Maka jika para santri itu masih terus bersemangat untuk menumbangkan penjajahan, pesan yang diberikannya adalah “Kamu Merdeka.” Pemberontakan rakyat terjadi di antaranya akibat ketidakpuasan kalangan santri yang telah dikecewakan pemerintah kolonial dengan cara-cara penetrasi yang tak sesuai dengan perilaku agama. Penetrasi birokrasi yang Eropa sentris, termasuk bidang pendidikan, sekularisasi, komersialisasi yang notabene sebagai wujud westernisasi.
Dalam kondisi seperti itu, para ulama, kyai, haji dan guru-guru agama Islam yang memiliki kharisma besar semakin menjadi tumpuan harapan rakyat Jawa. Melalui gerakan tarekat – seperti dinyatakan DH Burger yang dikutip H. Ibnu Qoyim Isma’il dalam Kiai Penghulu Jawa (Gema Insasi Pers – Jakarta 1997), orang-orang Jawa dengan cepat merambat hampir merata ke seluruh pelosok perdesaan menjadi pengikutnya.


 

Pemberontakan Besar


DESEMBER 1816
Daerah Cirebon yang tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan adanya suatu berita yang menghebohkan. Ada huru-hara di daerah itu. Ratusan tentara disiagakan di berbagai sudut kota. Terutama di ibukota Cirebon, Tangkil penjagaan mulai diperketat. Setiap orang yang lewat selalu diperiksa tentara Belanda. Mereka yang dicurigai segera ditangkap dan dipisahkan dalam sel khusus. Tak terkecuali di gedung Karesidenan, pusat kekuasaan yang dipegang Servatius saat itu setiap saat selalu dipenuhi para petinggi pemerintahan, baik sipil maupun militer.
Dari gedung bercat putih itu acapkali keluar perintah-perintah penangkapan. Sementara puluhan meriam yang siap tembak moncongnya selalu diarahkan ke jalan raya. Dari Pelabuhan Cirebon yang jaraknya kurang dari empat kilometer dari gedung itu, Residen seringkali menerima para pembesar dan bantuan militer dari Batavia.
Ternyata Cirebon tengah dilanda suatu pemberontakan rakyat yang cukup besar. Suatu pemberontakan yang mampu menarik perhatian Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, sehingga ia harus mengundang tentara bantuan dari Semarang dan Ambon. Peristiwa besar yang digalakkan kalangan santri itu, memang hanya berlangsung beberapa bulan saja. Tetapi dampaknya cukup luas bagi kalangan militer Belanda sendiri. Puluhan tentaranya tewas, demikian pula perwira menengah dan bintara harus dipecat secara tidak hormat lantaran tak mampu menjalankan perintah atasannya.
Ketidakpuasan rakyat, terutama kalangan santri yang berpusat di sekitar daerahCiwaringin dan Kedondong terhadap pemerintah Hindia Belanda yang semena-mena. Penarikan pajak yang berlebihan dan tatacara Eropa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari membuat kalangan santri tersinggung atas cara-cara mereka. Akibat dari sikapnya yang tak pantas itulah, masyarakat santri dipimpin Ki Bagus Serrit dan Ki Bagus Rangin mengangkat senjata dan melakukan pemberontakan besar-besaran.
Namun di pihak Belanda tak kalah akal. Mereka tak mau kehilangan citra di bumi jajahannya. Maka seperti yang dituliskan PH van der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818(Penerbit dan penerjemah Yayasan Idayu – Jakarta 1979), mereka justru menuduh pemberontakan Cirebon yang terjadi Februari 1818, akibat raja-raja di Cirebon dari zaman VOC menjadi sumber kemelaratan dan kekacauan. Terlalu banyak bangsawan yang tak bekerja, hidup dari perasan keringat rakyat yang menyebabkan timbulnya kegelisahan dan gangguan keamanan.
Bertitik-tolak dari kesimpulan seperti itulah di tahun 1792, Residen Cirebon J.L. Umbgrove memandang perlu untuk mengurangi jumlah pangeran dan ratu dengan mengubah fungsi mereka menjadi abdi masyarakat agar dengan begitu dapat diharapkan, negeri itu tidak lagi dihisap habis-habisan dan dapat memperoleh lebih banyak berkat demi kepentingan penduduknya. Sejak pemerintahan Rafles yang menggantikan Daendels, ketiga kesultanan di Cirebon dihapuskan, meskipun gelar sultan dan keturunannya tetap diakui. Para sultan hanya mendapatkan pensiun dari pemerintah. Sultan Kacirebonan mendapatkan dana pensiun 600 gulden sebulan. Jumlah yang paling kecil dibandingkan dengan kedua kesultanan lainnya, mengingat keturunannya tak sebanyak Sultan Kasepuhan dan Kanoman.
Akibat tekanan dan aturan yang tak masuk akal itulah, ketiga kesultanan di Cirebon menyatakan ketidakpuasannya. Meskipun secara politis mereka telah diturunkan kedudukannya, namun pengaruh ketiga kesultanan tersebut masih tetap kuat. Para bangsawan kesultanan dengan sembunyi-sembunyi melakukan “gerakan bawah tanah” menyusun kekuatan bersama rakyat. Kondisi panas ini makin menunjukkan temperamen sejak akhir November dan Desember 1816, tak lama setelah masa pemulihan kekuasaan oleh Inggris terhadap Belanda.
Desember 1816, seorang tokoh masyarakat yang oleh pihak Belanda disebut “Begal Jabin” dilaporkan telah melakukan kekacauan di daerah Kandanghaur Indramayu. Ia bersama 20 anak buahnya telah pindah dari Laummalang (Orimalang) ke Desa Legun di wilayah Cirebon. Melalui Keputusan Pemerintah no. 41 tanggal 8 Desember 1816 kepada residen diberitahukan agar jangan melakukan penahanan “kalau tidak terpaksa.” Namun segala sesuatu diserahkan kepada kewaspadaannya. Jabin harus diikuti secara seksama, diperiksa semua alasan dan sebabnya ia pindah tempat dan diusahakan agar ia kembali ke tempatnya semula.
Tanggal 19 Juni 1817 Inggris meninggalkan pulau Jawa, begitu catatan dalam arsip Van der Kemp, pemerintah kita memperkeras peraturan bagi tuan-tuan partikelir untuk mencegah ksewenang-wenangan menghadapi pajak landrente(tanah) di Cirebon, pemerintah mengambil sikap seluwes mungkin.
Hanya beberapa hari setelah itu, timbullah kerusuhan besar-besaran di distrik Blandong – diduga nama lain dari Balongan, Indramayu – Cirebon. Oleh masyarakat setempat, nama Jabin diperhalus menjadi “Bagus Jabin”. Jabin sendiri diduga pihak Belanda mendapat perlindungan dari Kepala Desa Pamanukan dan Ciasem (kini kedua daerah itu masuk dalam wilayah Kabupaten Subang, pen).
Sementara itu di saat yang hampir bersamaan, Demang Desa Pedagangan (Pagedangan, pen) Distrik Indramayu bernama Nairem atau Neirem bersama para pengikutnya juga melakukan pemberontakan kepada Belanda. Neirem sendiri merupakan bekas anak buah Bagus Rangin yang pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal daendels di tahun 1811 melarikan diri ke hutan-hutan sekitar Karawang, setelah banyak membuat “kerusuhan.” Bersama dia ikut pula seorang pegawai dari Distrik Semarang bernama Rono Diwongso. Induk semangnya memberikan nama kepada anak buahnya dengan julukan “Bagus Serrit.” Ia konon dipercaya masyarakat setempat sebagai seorang bangsawan yang memiliki kekuatan supranatural.
Lewat tangan besi Daendels, Belanda berhasil membangun jaringan ekonomi antarkota. Jalur-jalur ekonomi terpenting di Jawa Barat saat itu di antaranya jalan raya yang menghubungkan antara Bogor – Sukabumi – Cianjur – Bandung – Sumedang. Terus ke arah timur laut menuju Tomo – Karangsambung di pinggir Kali Cimanuk yang merupakan perbatasan Karesidenan Priangan dan Cirebon.
Di jalur-jalur penting itulah Belanda membangun gudang-gudang penyimpan kopi. Jalur penting lainnya adalah Majalengka mengarah ke timur hingga ibukota Cirebon, Tangkil melalui Desa Leuwimunding dan Palimanan hingga Tegal. Van der Kemp, pegawai arsip pemerintah Hindia Belanda yang turut pula dalam penumpasan gerakan tersebut mencatat, bahwa pergolakan terjadi pada dua tingkat. Masing-masing terjadi pada Januari – Februari dan Juli – Agustus.
Hanya dalam tempo empat bulan pemberontakan terjadi. Saat itu pemberontak Neirem telah ditangkap dan ketika ditahan tanpa ada kepastian mengenai kesalahannya sebagai pemimpin dan perencana pemberontakan. Sedangkan nama Bagus Serit pada pemberontakan yang pertama belum dikenal namanya sama sekali. Dalam pemeriksaan pengadilan, Neirem menjadi terdakwa utama. Namun dalam surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 12 Oktober 1818 no. 3 dinyatakan, ada cukup alasan untuk menetapkan bahwa tahanan yang bernama Bagus Serit dalam bulan Februari tahun ini terang-terangan menimbulkan pemberontakan dan mengangkat dirinya sebagai kepala pemberontak. Ia menggerakkan anak buahnya yang dipersenjatai melawan pasukan yang dikirim pemerintah ke sama untuk mengembalikan ketenteraman dan bertempur dengan mereka. Selama pemberontakan itu telah terbunuh pegawai-pegawai pemerintah atas perintahnya. Menurut bukti-bukti sementara, terjadi perampokan dan pembakaran yang menimbilkan kekacauan besar, tidak mengindahkan sama sekali perintah yang dikeluarkan pemerintah.
Surat itu juga memuat nama-nama keluarga Sultan Cirebon yang terlibat dalam pemberontakan. Di antaranya Sominta Raja, kelahiran Cirebon. Ia menyebut dirinya sebagai Pangeran Ario dan termasuk keluarga Sultan Kanoman. Ia disertai wanita-wanita dan dua orang anak, beserta dua orang haji. Kesemuanya berasal dari Cirebon.


KERUSUHAN JANUARI 1818

JANUARI 1818.
Pertengahan kedua bulan Januari 1818 pecahlah kerusuhan besar. Kepala Distrik Blandong, Demang Among Pances bersama jurutulisnya dibunuh pemberontak yang berjumlah 100 orang. Pusat pemberontakan berada di Kedondong – kini berada di wilayah Kecamatan Susukan Cirebon. Pihak Belanda menyebutnya sebagai negorij (kampung)utama yang terpenting di daerah itu. Seperti dilaporkan Residen Cirebon, Servatius, 21 Januari 1818 kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, sulit untuk pergi ke daerah itu. “ Saya kira ini adalah ibukota Distrik Jatiwangi terletak di Kabupaten Majalengka.” Ternyata Kedondong bukan merupakan ibukota distrik, tetapi hanya sebuah desa kecil yang jaraknya kira-kira 15 kilometer dari Jatiwangi.
Di Desa Jatiwangi berkedudukan kepala distrik yang memakai nama yang sama. Di tempat itu berdiri sebuah pabrik (pabrik gula – pen) yang sekarang masih ada. Terletak antara Cirebon dan Palimanan. Kerusuhan kemudian berkembang ke daerah Majalengka yang merupakan perbatasan dengan Priangan. Saat itu Van Motman menjabat sebagai Residen Priangan.
Pada waktu berita kerusuhan pertama diterima, tak diketahui bahwa pemberontak memulai tindakannya dari daerah Karawang, seperti yang terjadi pada tahun 1816, karena mereka telah menyeberangi Kali Cimanuk. Belanda memang masih diliputi perasaan teka-teki untuk menebak, siapa sebenarnya pemimpin pemberontakan tersebut. Servatius – Residen Cirebon – menyatakan dalam laporannya tanggal 23 dan 24 Januari 1818, menyebut nama Bagus Kundor. Residen menduga sebagai anak dari Bagus Rangin yang pada tahun 1816 pernah memimpin pemberontakan di Cirebon.
Mengenai sebab-sebab terjadinya pemberontakan, Residen pun masih belum bisa memberikan jawaban pasti. Ia hanya menjelaskan, para pemberontak seringkali mempengaruhi para kepala desa agar memihak mereka. Ajakan tersebut nampaknya tidak sia-sia, meski banyak kepala desa yang berusaha “menghindar” dari pengaruh para “perampok”. Namun ada juga di antara mereka yang memperkuat barisan pemberontak. Menjelang akhir Januari, baru didapatkan informasi bahwa dalam pemberontakan tersebut terdapat nama-nama baru sebagai tokoh yang mengangkat senjata.
Setelah menerima berita pertama tentang timbulnya kerusuhan, Servatius segera mengutus Bupati Bengawan Wetan (Brebes – pen), Raden Adipati Nitidingrat ke daerah pusat pemberontakan. “Ia seorang bupatu yang telah beruban, usianya sekitar 70 tahun dan dihormati semua bawahannya,” kutip suratkabar Hindia Belanda Bataviaasche Courant.Karena itu ia dipilih residen sebagai urusan pendamai. Turut dalam misi itu seorang opsiner kehutanan Banyaran bernama Prudant. Nama Prudant saat itu dikenal sebagai orang yang sangat disegani dan sanggup mempertahankan nama baiknya. Konon tempat kediamannya seringkali diserbu pemberontak, namun ia selalu bisa menyelematkan diri.

Bupati Nitidiningrat Terbunuh

Keperkasaan Jabin, Bagus Rangin, Bagus Serit dan Bagus Kundor ternyata membuat pasukan yang dipimpin Bupati Bengawan Wetan, Raden Adipati Nitidiningrat kocar-kacir. Walaupun pasukan mereka atas perintah Residen Cirebon Servatius diperkuat dengan pasukan Bupati Linggajati (Kuningan). Diungkapkan dalam arsip PH van der Kemp, kondisi yang lebih buruk dilaporkan residen 26 Januari 1818 – termaktub dalam beslit pemerintah no.13 tanggal 30 Januari 1818, bahwa Bupati Nitidiningrat terpaksa mundur ke Palimanan. Nasib malang menimpa sang bupati yang sepuh itu. Mereka akhirnya tak sanggup lagi berhadapan dengan pemberontak dan ia terbunuh di sana bersama dua orang mantrinya.
Mayat mereka diangkut ke Desa Cikal dan menunjukkan tanda-tanda penganiayaan yang berat. Enam bulan kemudian “abdi setia” itu diberi penghargaan oleh Komisariat Jenderal. Sedangkan pada kejadian itu, Prudant – opsiner kehutanan Banyaran – dilaporkan melarikan diri ke daerah Leuwimunding. Melihat kondisi seperti itu Residen Cirebon segera mengambil keputusan untuk melakukan tindakan militer. Dengan alasan kaum pemberontak begitu berani melakukan gerakannya. Demikian pula penjara Palimanan dan Banyaran – tempat tinggal Prudant – diacak-acak hingga menimbulkan kerugian harta yang tak sedikit.
Sedangkan Asisten Residen Cirebon, Heyden berusaha menyelamatkan diri ternyata membuat langkah yang sangat berbahaya. Dengan menunggang kuda, ia pergi bersama 60 orang pembantunya tanpa diiringi tentara menyerbu tempat-tempat yang diduga menjadi sarang pemberontak. Namun apa yang terjadi ? Ia mendapat serangan yang berlangsung secara tiba-tiba dan pada 27 Januari 1818 pagi, asisten residen itu terbunuh. Mayatnya ditemukan di sekitar Rajagaluh dan dimakamkan dengan penghormatan militer yang cukup besar.
Dalam laporan Residen Priangan, 27 Januari 1818, dinyatakan bahwa Heyden tertangkap di tangan pemberontak. Heydenreich – nama lengkap sang asisten itu – menyerbu dengan bantuan beberapa kepala desa di sekitar Rajagaluh. Namun ia telah menjadi korban akibat “keikhlasan”nya sendiri dalam memikul beban berat yang sangat berbahaya. Residen juga meminta agar daerah Indramayu diperkuat. Rumah residen di Rajagaluh dan rumah Prudant di Banyaran dilaporkan pula telah musnah dimakan api. Namun opsiner hutan itu selamat. Sangat ajaib, ungkap PH van der Kemp dalam bukunya De Cheribonsche Onlusten van 1818. Naar Oorpronkelijke Stukken.
Sebelumnya pada tanggal 21 Desember 1817 sebuah kapal kecil milik Amerika Serikat bernama Retrievetelah sampai di Semarang dalam perjalanannya dari Batavia. Kaptennya bernama Joseph Gerris, justru tidak turut dalam kapal tersebut. Ia lebih memilih jalan darat. Namun malang, di tengah perjalanan ia dihadang kawanan pemberontak. Kapten itu pun akhirnya jatuh ke tangan kaum pemberontak. Pemberontak tak mengetahui, jika kapten kapal tersebut berkebangsaan Amerika. Bagi mereka siapapun yang berkulit bule dianggap sebagai orang Belanda.
Bataviaasche Courant memberitakan, bahwa kapten kapal bersama beberapa orang kepala kampung telah menjadi korban nafsu membunuh kaum pemberontak. Tanggal 20 Januari ia bertemu dengan pemberontak di jalan raya 15 pal sebelah barat Cirebon. Setelah dianiaya ia dibawa ke Desa Kedondong sebagai markas besar para pemberontak. Di sana ia telah disiapkan untuk dieksekusi. Namun syarat-syarat yang diberikannya telah menimbulkan rasa kasihan para pemberontak, sehingga salah seorang pimpinan pemberontak mengerti dan menjaganya baik-baik hingga 4 Februari 1818.
Ketika terjadi pertempuran, seorang Cina memberikan petunjuk padanya agar ia meloloskan diri. Setelah mengembara selama 36 jam, ia bertemu dengan pasukan Belanda pada 5 Februari 1818. Residen Servatius dalam laporannya 23 dan 24 Januari menyatakan, penjara Palimanan telah diobrak-abrik bersama beberapa jembatan yang ada di sekitarnya. Namun perusakan itu hanya terbatas sampai di situ saja, karena menurut dugaan residen tidak mendapat dukungan rakyat dalam penyerangan mereka di daerah Cirebon. Keadaan itu membuat gerakan mereka terhenti.
Sementara itu Residen Priangan, Van Motman, seperti juga di tahun 1816, setelah mendengar adanya kerusuhan tidak tinggal diam. Ia segera berangkat ke perbatasan untuk melindungi gudang-gudang di daerah Tomo – Karangsambung. Residen bermaksud akan terus ke Cirebon untuk berunding dengan sejawatnya Residen Cirebon Servatius. Namun ia tertahan di Karangsambung, karena pemberontak telah memutuskan segala sarana perhubungan yang ada.

KEKALAHAN PASUKAN HINDIA BELANDA

Atas perintah Kepala Staf Angkatan Perang Hindia Belanda, Van Schelle, ditugaskan seorang perwira muda yang baru dipromosikan sebagai ajudan kepala staf, Letnan Kolonel Taets van Amerongen. Melalui Surat Keputusan (beslit) no.1 tanggal 25 Januari 1818, ia diperintahkan berangkat melalui laut dengan membawa pasukan infantri, kompi pribumi dari Batalyon 19 Infantri dan 30 anggota artileri yang dilengkapi dua meriam.
Mereka berangkat dengan menumpang kapal Helena pada 26 Januari dan dua hari kemudian tiba di Cirebon. Pasukan tersebut dipimpin Letkol Richemont dari Resimen V Batalyon 1 yang berada di Weltevreden. Melalui darat juga dikirim pasukan dari Bogor. Di sana terdapat dua macam pasukan kavaleri (pasukan berkuda). Di antaranya satu pasukan tombak Benggal yang terdiri dari tentara yang telah diberhentikan dan menetap di Jawa.
Kompi ini berangkat atas perintah lisan Gubernur Jenderal yang berangkat lewat Sumedang di bawah pimpinan Halshuher von Harlach. Pasukan tersebut ditugaskan hanya sampai di perbatasan Cirebon sebagai bantuan untuk Residen Cirebon dan Priangan. Gubernur Jenderal memerintahkan pula kepada Laksamana Muda Wolterbeek agar memberangkatkan kapal meriam no.7 ke Cirebon di bawah pimpinan Letnan WH Hunther. Hunther juga membawa pesan kilat untuk Residen Cirebon, bahwa pasukan akan segera datang.
Surat Residen Cirebon kepada Gubernur Jenderal tanggal 30 Januari yang memberitakan pendaratan pasukan dari Batavia juga berisi pemberitahuan yang penting, yakni bahwa serangan umum ditetapkan pada tanggal 2 Februati 1818. Residen yang menunggu surat balasan dari Gubernur Jenderal dengan harap-harap cemas itu, makin dicemaskan lagi dengan munculnya berita pada suratkabar Bataviaasche Courant terbitan 7 Februari 1818. Koran itu memberitakan, bahwa untuk pertama kali tentang pecahnya pemberontakan pada tanggal 23 Januari yang telah diketahui di Bogor.
Pengiriman pasukan ternyata sangat perlu – karena adanya pemberontakan tidak dapat lebih lama lagi dirahasiakan terhadap umum, walaupun dengan “rasa puas” orang mendengar , bahwa hanya sedikit penduduk Cirebon yang ikut ambil bagian dalam pemberontakan yang telah terjadi di bagian barat. Sedangkan daerah-daerah Cirebon lainnya tetap menikmati adanya ketenangan yang tidak terganggu. Pembunuhan terhadap Bupati Nitidingrat, Among Pances, Heydenreich dan pelancong asing, juga diberikan suratkabar tersebut.
Dalam laporan komisariat jenderal kepada pemerintah tinggi pada 5 Februari 1818, dikatakan di bagian barat Cirebon pada hari-hari terakhir bulan Januari secara tak terduga terjadi beberapa gerakan kerusuhan. Untuk menenangkan pihak atasan, dalam surat itu pula dinyatakan rasa optimisme dalam menghadapi pemberontak. Melalui tindakan militer yang segera diambil akan segera memulihkan kembali daerah itu dalam waktu yang singkat.
Letkol Richemont yang memimpin ekspedisi itu mulai melakukan operasinya pada 1 Februari 1818. Ia berangkat dari Cirebon menuju Desa Camblang (Jamblang). Di tempat itu ia dan pasukannya menunggu dengan harapan pada hari berikutnya bisa melancarkan serangan. Namun pada saat itu juga muncul Overste Hoorn dengan menunjukkan putusan panglima untuk mengangkat dia sebagai komandan operasi. Richemont dengan pasrah mematuhi perintah panglima tentara, walaupun ia lebih tua dan diangkat atas dasar surat keputusan dari Gubernur Jenderal sebagai Wali Negara Hindia Belanda. Dengan perasaan tersinggung ia menyerahkan tongkat komandonya. Namun di balik sikapnya yang terpuji itu ia melakukan tindakan desersi. Ia meninggalkan detasemennya dan kembali ke Tangkil, ibukota Cirebon.
Hari itu juga – masih tanggal 1 Februari 1818 – Richemont menulis kepada Gubernur Jenderal yang menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Sudah tentu Gubernur Jenderal merasa “dikerjai” oleh Panglima Perangnya Jenderal Anthing. Tak lama kemudian keluarlah Keputusan Pemerintah No. 8 tanggal 6 Februari 1818 yang memerintahkan kepada panglima tentara untuk mengirim penjelasan tentang alasan-alasan penyerahan komando kepada Letkol Hoorn atas pasukan-pasukan yang berada di Cirebon.
Jenderal Anthing kemudian menjawabnya lewat surat no. 31 tanggal 17 Februari, bahwa Reichmont telah menunjukkan sikap yang tercela pada saat itu. Hoorn juga menerima peringatan keras tentang tingkah lakunya. Namun hal itu dianggap sebagai hukuman yang paling ringan baginya. Sebab hukuman yang berat adalah kegagalan dalam ekspedisinya lantaran kepemimpinan yang kurang baik.

SEJARAH CIREBON, TAUTAN YANG TERSERAK

MEMBICARAKAN sejarah tentu tak ada habisnya. Setiap orang punya versi sejarah sendiri-sendiri dan pasti berbeda dengan yang lain. Setiap penulis sejarah pun memiliki versi sendiri menyoal sejarah. Maka berlangsung terus pengetahuan dan pemahaman yang beragam terhadap satu peristiwa sejarah. Sejarawan yang menulis buku pun saling berbeda versi sehingga menimbulkan pemahaman yang selalu tidak bersentuhan, terutama menyangkut hal-hal yang krusial. Ketika sejarawan itu mengajarkan versi sejarahnya kepada mahasiswa dan murid sekolah, kesalahpahaman sejarah tidak terhindarkan. Dan begitulah berlangsung terus sepanjang masa, sehingga sejarah tidak pernah lurus, sehingga sejarah seakan hanya mampu bicara angka tahun, periodesasi kekuasaan, saling tikam dan bunuh demi mempertahankan kekuasaan, nama-nama besar yang menindas (kendati kerap ditulis masa keemasan sejarah).

Membicarakan sejarah Cirebon, ingatan kita akan menerawang kepada nama-nama Susuhan Jati atau Sunan Gunungjati atau Syekh Syarif Hidayatullah atau Walisanga ke-9 yang menyebarkan agama islam di jawa barat pada 600 tahun ke belakang. Juga Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabumi atau Pangeran Cakrabuana, Prabu Siliwangi dari Pajajaran yang ditautkan sebagai leluhur Sunan Gunungjati karena menurunkan Walangsungsang. Begitu pula Nyi Mas Rarasantang, Nyi Mas Gandasari, Syekh Magelung yang punya kisah monumental dengan rambut gondrongnya, Panembahan Girilaya, Pangeran Sutajaya atau Pangeran Losari dan sebagainya. Demikian pula Ong Tien Nio yang ditautkan dengan pelawatan Sunan Gunungjati ke Cina. Tak lepas pula sejumlah keraton yang hingga kini masih tegak berdiri di Cirebon.

Demikian juga akan menyeret nama Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serit, Ki Bagus Arsitem dengan peristiwa heroik Pemberontakan Cirebon 1818 yang sudah ditulis Van der Kemp, tentara Belanda yang ikut menumpas pemberontakan santri pertama di Indonesia dari desa Kedondong kabupaten Cirebon. Belanda yang merugi ribuan gulden dan sejumlah kapal perangnya hangus terbakar itu bagai terlupakan dari catatan sejarah nasional, mungkin kalah keren dengan Perang Jawa atau Perang Diponegoro 1825-1830 karena sumbu pemberontakan bermula dari keraton Mataram, sedangkan Ki Bagus Rangis cs hanya seorang ustad dengan ratusan santrinya.

Namun ketika di tahun 2002 saya berbincang dengan budayawan Kuningan, nampak jelas ada penolakan hegemoni budaya Cirebon terhadap kuningan, karena menurutnya sejarah kuningan bukan berawal dari perjalanan Putri Ong Tien Nio dari Luragung ke Cirebon, melainkan dari Kerajaan Seuweu Karma yang berdiri sebelum ada kerajaan Cirebon.
Tidak keliru jikalau kolumnis Mahbub Djunaidi menulis di Asal Usul, munculnya satu penulisan sejarah akan menambah jumlah versi sejarah yang baru. Tak keliru pula jikalau sejarawan Asvi Warman Adam begitu ngotot berupaya meluruskan pemahaman sejarah yang bengkok itu. Dan begitu pula yang dilakukan sejarawan kampus dan sejarawan kampong manakala mencoba menceritakan sejarah pada berbagai kesempatan publik.
Membicarakan sejarah Cirebon sebagaimana digagas akan munculnya buku sejarah Cirebon yang ditulis keroyokan oleh sejarawan Sobana, Mumuh Mz (keduanya dari F Sejarah Unpad), Prapto dari jurusan sejarah kontemporer UI, Zaenal dari STAIN Cirebon, serta dosen lain yang dihadirkan sebagai nara sumber pada seminar draft penulisan sejarah Cirebon di Cirebon 12-13 Agustus lalu; menyegerakan sejumlah peserta yang diundang dari Cirebon, indramayu, kuningan dan majalengka untuk saling mengungkap pemahaman sejarah yang selama ini mendekam di benaknya.

Sejarah tak pernah lurus, itu kata-kata saya dalam seminar di atas lantaran setiap orang punya versi sendiri. Ini pun melanda sejarah Cirebon yang kerap merujuk buku babad Purwaka Caruban Nagari (PCN) yang ditulis Pangeran Ariacarbon pada 1720 berdasarkan ingatan pada dialog Wangsakerta. Menurut hemat saya, ingatan manusia memiliki keterbatasan apalagi dituliskan ratusan tahun setelah dialog. Maka saya menyebut sejarah Cirebon ditulis berdasar ingatan yang lupa. Akibatnya, banyak hal-hal yang luput sebagai substansi sejarah itu sendiri lantaran lupa juga yang membentuk bangun sejarah Indonesia.

Imagined community yang dirilis Ben Anderson menjelaskan bangsa yang ada jika ada yang membayangkannya merupakan penanda betapa lemahnya ingatan manusia, dan unsur lupa adalah sangat manusiawi. Maka ketika Prapto sejarawan UI mengatakan bahwa babad merupakan sastra yang dilegitimasi seakan-akan bernama sejarah, bagi saya jadi menarik. Simpel saja, pertama, PCN lebih mirip cerita yang ditautkan dengan merangkai Cirebon ke masa lalu semisal hubungan budaya dengan Cina, Campa (sekitar Kamboja), India, dan Arab lantas meluncurlah cerita lisan dalam babad yang selalu dirujuk sejarawan yang menggulati sejarah jawa barat. Dengan cara merangkaikan peristiwa demi peristiwa yang berlatar pantai utara jawa barat yang bernama Karesidenan Tjirebon dan diberi status Kotapradja oleh Belanda, wilayah ini menorehkan catatan sejarah yang antara lain ditulis berdasar sifat lupa.

Kedua, saya curiga PCN ditulis bukan pada tahun 1720 tetapi paska kemerdekaan karena meminjam ujaran Mumuh Mz, catatan sejarah Cirebon pada masa pendudukan jepang amat minim. Bagaimana mungkin sejarah 1942-1945 di Cirebon tidak ada yang menuliskan sementara di tahun 1720 sudah ada yang menuliskan babad menjadi buku “babon” sejarah Cirebon? Pada seminar itu saya menyampaikan jangan-jangan penulisan tahun PCN dibuat muncur agar Nampak tua dan bersejarah. Ketiga, membicarakan sejarah Cirebon sepertinya pekerjaan berat karena dituntut untuk mempertautkan catatan-catatan yang terserak terutama ketika VOC bangkrut pada 1799 dan semua imperiumnya di Indonesia dibeli Belanda. Sayang sekali, saat itu raja-raja di Cirebon tidak melakukan perlawanan bersenjata kepada Belanda. Setelah itu kerajaan Cirebon menjadi milik belanda termasuk pengangkatan sultan pun atas restu dan penunjukkan belanda. Sebelumnya ada peran Sultan Agung Mataram yang mempunyai wewenang mengangkat raja Cirebon, mengeksekusi Pangeran Dipati Ukur dan menentukan batas wilayah kerajaan Cirebon sebagai bagian pemekaran kerajaan Mataram.

Keempat, penulisan sejarah akan lebih mengena bila mendatangkan saksi sejarah yang dalam kata-kata Nurdin M Noer, budayawan Cirebon, “Saksi sejarah adalah nara sumber dalam penelitian. Itu pun terbatas pada peristiwa kekinian. Lebih dari 100 tahun sejarah sering berawal dari katanya”. Begitulah maka dalang Askadi Sastrasuganda pun menyatakan sejarah identik sejare-jare (katanya). Kelima, penulisan sejarah Cirebon akan mengundang multi tafsir tatkala masuk ke fase islam dan masa penjajahan. Keenam, bagaimana mungkin sejarah Cirebon ditulis dari masa prasejarah hingga 1950 seandainya referensi dan rujukannya sangat minim. Sekali lagi saya mengingatkan agar penulisan sejarah Cirebon dibatasi per peristiwa, misalnya menyoal kekejaman kemanusiaaan pada 1965, catatan tentang Darul Islam di Cirebon karena masih banyak pensiunan tentara yang masih hidup dan baik ingatannya pada peristiwa Pagar Betis menumpas gerakan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 1963.

Sampai sekarang saya tidak tahu apakah di Cirebon ada artefak tua berupa punden berundak atau waruga, dolmen sehingga tertorehkan catatan pemerintahan dan raja-raja pada masa pra sejarah Cirebon. Bukankah pada masa itu sejarah atau peraturan raja dan sebagainya ditulis di sebongkah batu atau di di permukaan daun lontar? Jika tidak ada artefak atau situs tua, mungkin aka nada catatan pra sejarah Cirebon?

Kembali ke masalah awal. Penulisan sejarah Cirebon sebaiknya dilakukan berdasarkan peristiwa heroic. Di Jakarta, Hermawan Sulistyo dari LIPI sempat berujar, jarang sekali buku sejarah yang mengungkap peristiwa getir 1965 bahkan hingga wafatnya Marsekal Udara Omardhani Juli 2009 ybll realitas 1965 dan tahun-tahun sekitarnya tetap buram. Ah, sulit ditaut dan dibayangkan sebuah buku induk sejarah Cirebon yang konon ditulis sejak masa pra sejarah hingga 1950, didanai dari APBD Propinsi Jabar tahun anggaran 2010 dan digerakkan oleh tim yang disusun berdasarkan seminar di cirebon 12-13 Agustus 2009 yang diadakan oleh dinas pariwisata dan budaya jawa barat.

Sebagai anak bangsa, sudah seharusnya kita paham sejarah. Kita pahami dia untuk menarik pertautan masa lalu dan masa kini sehingga kendati tidak ada pengulangan sejarah yang sama persis, namun setidaknya kita dapat mengambil hikmah dari tautan itu. Akan tetapi penulisan sejarah tetap harus bermula dari kesungguhan tim dalam mengumpulkan dan mengolah data, termasuk diantaranya mendatangkan saksi sejarah yang memahami item sejarah Cirebon. Jika tidak, terus terang saya khawatir penulisan buku sejarah Cirebon yang kelak akan dianggap sebagai buku babon itu pun akan tersungkur menjadi proyek yang tergesa-gesa.***

”Hibriditas” Budaya Cirebon Sebuah Identitas

“IBARAT bulan tanpa awan. Semburat sinarnya yang begitu indah tidak lebih dari pantulan sinar matahari!” Demikian Nurdin M. Noor, budayawan Cirebon, mengandaikan kebudayaan daerah kelahirannya. Hasilnya, Nurdin menyimpulkan bahwa sosok kebudayaan Cirebon yang berkembang hingga saat ini bukan merupakan cerminan “karya, karsa, dan rasa” (buah pikiran; akal budi) manusia Cirebon itu sendiri, melainkan lebih merupakan pem-bias-an dari kebudayaan asing (Sunda, Jawa, Cina, Arab, India, dll.). Hal itu pun kemudian diamini oleh Ahmad Syubbanuddin Alwy, yang dengan segenap ketegasannya mengatakan bahwa budaya Cirebon tidak memiliki identitas yang jelas?

Pernyataan kedua orang putra Cirebon yang terbilang cukup kontroversial itu mengemuka dalam sebuah forum resmi, yakni pada saat keduanya didaulat menjadi nara sumber (pembicara) dalam seminar sehari kebudayaan Cirebon. Perhelatannya itu sendiri digelar oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM (28/1/03) di Wisma Kagama Yogyakarta. Pernyataan-pernyataan dua dari lima orang pembicara yang notabene pelaku budayanya itu sendiri cenderung spekulatif. “Alih-alih mengidentifikasi Cirebon sebagai topik pembicaraan utama, sebaliknya malah keduanya mengumumkan ketidakjelasan sosok Cirebon!”, tulis diding Adut Karyadi, sengit (Mitra Dialog, 1/2/03).

Tentu saja hal itu tidak hanya menimbulkan berbagai pertanyaan bernada heran, tetapi sekaligus memicu perdebatan panjang, khususnya bagi peserta dari Cirebon — sebanyak satu bus — yang sengaja didatangkan oleh pihak panitia. Persoalannya adalah benarkah Cirebon tidak memiliki kepribadian yang jelas? Namun, lepas dari semua persoalan di atas, tulisan ini tidak bermaksud mengadili Nurdin dan Alwy, tetapi akan mencoba lebih jauh menelisik berbagai faktor dan indikator yang pada akhirnya diharapkan dapat mengungkap, paling tidak mendekati, apa dan siapa Cirebon yang sebenarnya?
 
Memperbincangkan dirinya

Dalam perspektif kebudayaan, diakui atau tidak, Cirebon sesungguhnya merupakan sebuah fenomena menarik yang banyak menyedot perhatian berbagai kalangan. Cirebon ternyata tidak hanya diperbincangkan, tetapi juga memperbincangkan dirinya. Bagai sebuah misteri, pada saat-saat peristiwa budaya berlangsung, Cirebon menjadi pusat perhatian, dari yang hanya sekadar ingin tahu sampai yang melakukan berbagai penelitian. Sehingga — menurut istilah Arthur S. Nalan — dewasa ini Cirebon telah menjadi sebuah wilayah yang sudah lidig (tanah yang penuh dengan jejak kaki). Hal itu secara eksplisit memberi petunjuk pada kita bahwa sosok daerah itu memiliki daya tarik tersendiri, terutama yang menunjuk pada relasinya dengan tipikal seni budayanya yang unik.

Terbentuknya unikum budaya Cirebon yang menjadi ciri khas masyarakatnya
hingga dewasa ini lebih disebabkan oleh faktor geografis dan historis. Dalam konteks ini, sebagai daerah pesisir, Cirebon sejak sebelum dan sesudah masuknya pengaruh Islam merupakan pelabuhan yang penting di pesisir Utara Jawa. Oleh karena itu, dalam posisinya yang demikian itu,
Cirebon menjadi sangat terbuka bagi interaksi budaya yang meluas dan mendalam. Cirebon menjadi daerah melting pot, tempat bertemunya berbagai suku, agama, dan bahkan antarbangsa.
Menurut Pustaka Jawadwipa, pada tahun 1447 M, kaum pendatang yang kemudian menjadi penduduk Cirebon saat itu, berjumlah sekira 346 orang yang mencakup sembilan rumpun etnis, seperti Sunda, Jawa, Sumatera, Semenanjung, India, Parsi, Syam (Siria), Arab, dan Cina. Sebagai konsekuensi logis dari realitas masyarakat yang sedemikian plural, proses akulturasi budaya dan sinkrentisme menjadi sebuah keniscayaan yang tak terlekan.

Suatu hal yang menarik dalam konteks sosial masyarakat penghuni wilayah yang sebelumnya dikenal dukuh Kebon Pesisir itu, secara budaya kelompok-kelompok etnis tersebut di atas berbaur satu sama lain, saling melengkapi. Secara kasat mata, kita dapat melihat dan menyimak bagaimana pengaruh Hindu-Budha, Cina, Islam dan Barat — di samping tetap adanya budaya leluhur (primadona) — menyatu yang kemudian membentuk struktur peradaban yang khas. Bermula dari situ pulalah, konstruksi budaya Cirebon dibangun. Sentuhan-sentuhan genetika budaya primordial yang beragam, secara demografis memainkan peranan yang cukup signifikan dalam pembentukan karakteristik, dan sekaligus melahirkan budaya yang cenderung hibrid.

Demikianlah realitas budaya Cirebon. Identitas yang hibrid itu kemudian diejawantahkan ke dalam berbagai bentuk budaya material, mulai dari kain (batik), seni boga, seni pertunjukan, hingga bangunan-bangunan ibadah (Setiadi Sopandi), Kompas 16/3/03). Namun, serapan-serapan budaya sering kali tidak hanya berbentuk seni, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari yang sifatnya sangat mendasar, seperti pada sistem kepercayaan masyarakatnya.

Secara simbolik hibriditas kebudayaan Cirebon tampak pada bentuk ornamen kereta Paksi Nagaliman. Kereta kebesaran kesultanan Cirebon di masa lampau itu berbentuk hewan bersayap, berkepala naga, dan berbelalai gajah. Hal tersebut menyiratkan makna yang sangat mendalam bahwa konstruksi kebudayaan Cirebon terbentuk dari tiga kekuatan besar, yakni kebudayaan Cina (naga), kebudayaan Hindu (gajah), dan kebudayaan Islam (liman).

Inilah realitas yang tak terbantahkan, Paksi Nagaliman adalah simbol identitas budaya Caruban. Kata caruban itu sendiri yang mengandung makna campuran, kelak kemudian menjadi cikal bakal nama daerah yang didirikan oleh putra sulung Prabu Siliwangi, Walangsungsang. Dari kata Caruban itu kemudian berubah ucapan menjadi Carbon, Cerbon, Crebon dan akhirnya Cirebon sampai sekarang.

Kecenderungan kultural yang hibrid itu, seperti telah disinggung di atas, tampak pada berbagai jenis kesenian tradisional. Sebut saja Topeng Cirebon misalnya, terutama dalam unsur-unsur visualnya adalah pengaruh budaya Cina. Dalam hal ini Saini KM mengungkapkan, betapa miripnya hiasan kepala (tekes, siger) dan topeng (kedok) yang dikenakan oleh tokoh-tokoh

Topeng Cirebon dengan tokoh-tokoh Opera Peking. Memang, pengaruh budaya Cina begitu kuat mewarnai bentuk-bentuk kesenian milik masyarakat Cirebon. Simak saja batik Trusmi dan lukisan kaca, ornamentasi kedua bentuk karya seni rumpun seni rupa itu (mega mendung dan wadasan) hasil adopsi dari motif-motif lukisan Cina. Juga seni helaran Berokan mirip
benar dengan seni pertunjukan Barongsay. Harus diakui pula, dalam sistem kepercayaan masyarakatnya sekalipun atas kehebatannya Sunan Gunung Jati yang telah menjadikan Islam sebagai basis religi, tetapi apabila kita cermati lebih seksama, reduksi arkais budaya asli dan Hindu bercampur menjadi bagian folkways (tradisi, adat kebiasaan) wong Cerbon. Hal-hal semacam itu perwujudannya dapat kita lihat pada berbagai peristiwa keadatan, seperti dalam upacara adat Ngunjung, Nadran, Bancakan, Mapag Sri, Bubarikan, Mider tanah/Sedekah Bumi, dll. Tradisi yang sampai saat ini dipertahankan dan dijalani oleh pewarisnya di berbagai wilayah budaya Cirebon, secara sadar atau tidak mampu memunculkan pemandangan yang
eksotik, di mana aura sinkretisme begitu kental tampak dalam prosesi ritual tersebut.

Fenomena lain yang turut mempertegas hibriditas budaya Cirebon adalah bahaya, di mana dalam sistem komunikasi masyarakatnya, bahasa Cirebon merupakan campur aduk antara bahasa Sunda dan Jawa. Tentu saja hal ini terjadi lebih merupakan sebagai akibat logis dari posisi Cirebon yang secara geografis berada pada wilayah perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dalam posisi yang demikian, tidak mengherankan apabila masyarakat dan kebudayaan Cirebon kemudian menempatkan diri dalam posisi ambivalen. Seperti diungkapkan oleh Ketua Pusat Studi Kebudayaan UGM, Dr. Faruk, di satu pihak Cirebon dapat disebut sebagai daerah yang paling
rendah tingkat aksesnya ke dalam pusat kebudayaan dan kekuasaan di kedua wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Akan tetapi, di lain pihak, ia bisa pula dianggap sebagai suatu wilayah yang paling bebas dari kontrol kedua pusat di atas.

Dari kecenderungan yang disebut terakhir, masyarakat Cirebon relatif tidak memiliki beban kultural untuk menerima hal-hal baru, yang asing sekalipun. Lalu mereka adaptasi menurut kebutuhan mereka sendiri. Bahasa Cirebon tidak alergi terhadap ekspresi Sunda dan begitu sebaliknya. Jangan heran jika orang Cirebon dapat berkomunikasi ya Nyunda ya Njawa.
Kelincahan imajinatif dalam memainkan berbagai kekuatan kultural dari luar adalah sisi lain dari kelebihan masyarakat Cirebon dalam mengekspresikan emosional estetisnya. Proses kreatif imajinatif seperti itu akhirnya kemudian berimplikasi pada terbentuknya local colur dan sekaligus local genius budaya Cirebon. Tarling, topeng Cirebon, dan lukisan kaca adalah contoh yang paling nyata dari kecenderungan demikian. Ketiganya merupakan bentuk presentasi artistik adaptif dari berbagai kekuatan kultural tersebut di atas. Yang paling penting adalah tiga dari sekian
banyak genre kesenian tradisional khas Cirebon itu, hingga saat ini menjadi pusat perhatian masyarakat luas, dan bahkan telah menjadi aset nasional.
 
Tak ada alasan bimbang

Dalam konteks perbincangan di atas, tak ada alasan bagi masyarakat Cirebon untuk merasa bimbang dan ragu akan jati dirinya, terlebih lagi apabila sampai terjebak pada situasi yang inferior. Alasannya, betapa pun letak wilayah Cirebon berada pada posisi “marginal”, dalam arti jauh dari pusat kebudayaan dan kekuasaan propinsial, tidak berarti eksistensi masyarakat dan kebudayaan Cirebon menjadi tidak penting (periferal) ke dalam posisi sentral. Hanya masyarakat pemilik kebudayaannya itu sendiri lebih cenderung merasa sebagai komunitas yang terabaikan.
Sebaliknya, apabila jauhnya jarak geografis wilayah Cirebon dari pusat kebudayaan dan kekuasaan itu mampu dibaca dan dimaknai sebagai besarnya peluang untuk merdeka, bebas dari kontrol pusat untuk menentukan hak berbudaya, semestinya wong Cerbon dapat dengan leluasa melakukan berbagai eksplorasi sebagaimana yang dilakukan pendahulunya yang dengan segala daya upaya mereka mampu menciptakan sebuah formulasi kultural dari berbagai sistem kepercayaan yang tak ternilai harganya. Hibriditas budaya Cirebon adalah realitas sejarah.

Kenyataan itu telah diakui kalangan pemerhati kebudayaan sebagai sebuah karya kolaborasi multikultural yang memiliki daya tarik tersendiri. Oleh karena itu, hal yang paling urgen untuk dilakukan saat ini adalah merekonstruksi sejarah Cirebon itu sendiri. Dengan demikian, upaya-upaya pembaruan adalah tindakan yang patut dilakukan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan menciptakan inovasi baru karena bagaimanapun sifat dasar kebudayaan adalah perubahan. Kebudayaan senantiasa memperbaharui dirinya seiring dengan perkembangan zaman.
Di sinilah pentingnya kreativitas, namun agar tetap terjaganya daya survive, di samping dapt dikembangkan melalui dialog dengan budaya-budaya lain, tapi yang utama tetap harus merujuk pada tradisi sendiri, budaya primordial (leluhur). Dengan demikian, masyarakat Cirebon dapat mendefinisikan dirinya sebagai masyarakat yang terbuka tanpa harus menafikan adikarya nenek moyangnya.***



Perang Kedongdong alah satu perang besar sekaligus monumental di Kasultanan Cirebon

Syahdan, karena menolak tunduk terhadap tekanan pemerintah kolonial Belanda, Pangeran Raja Kanoman memilih melepaskan takhta kesultanan. Haknya sebagai sultan dilepas begitu saja. Putra mahkota Sultan Kanoman IV itu keluar dari keraton, lalu bergabung dengan rakyat Cirebon yang menentang Belanda.

Alhasil, perlawanan rakyat Cirebon dalam menolak pajak paksa yang diterapkan Belanda kian sengit. Di sana-sini terjadi pemberontakan. Belanda kewalahan menghadapinya dan mengalami kerugian yang sangat besar. Secara materiil, sedikitnya Belanda menderita kerugian 150.000,00 Gulden. Ribuan prajuritnya pun tewas.

Untuk meredam pemberontakan itu, Belanda sampai harus menjalin aliansi militer strategis dengan Portugis. Ribuan prajurit Belanda dan Portugis tambahan didatangkan.Mereka diangkut dengan menggunakan enam kapal perang besar dan mendarat di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon.
Kedatangan ribuan prajurit tambahan itu, tidak membuat rakyat Cirebon gentar. Pangeran Raja Kanoman itu justru makin menggencarkan perlawanan. Salah satu perang besar sekaligus monumental ialah Perang Kedondong, terjadi si salah satu daerah di Kecamatan Susukan, di perbatasan Kabupaten Cirebon-Indramayu. Ribuan korban jatuh dari kedua belah pihak. Dari pihak rakyat, perang itu dipimpin oleh Raden Bagus Serangin.

Kecamuk Perang Kedondong, bahkan ditulis dengan gaya naratif-deskriptif oleh prajurit Belanda bernama Van Der Kamp. Buku Van Der Kamp itu, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ejaan lama 1952. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Belanda dan tersimpan rapi di perpustakaan di Negeri Kincir Angin itu.

Dalam pemberontakan itu, melalui siasat licik Belanda, Pangeran Raja Kanoman tertangkap. Setelah sempat ditahan di benteng Belanda di Batavia (Jakarta), sultan pemberani itu kemudian ditahan di benteng Viktoria, di Ambon, Maluku. Sebelum dibuang ke Ambon, Belanda telah melucuti seluruh gelar darah birunya. Putra mahkota itu dicabut haknya atas takhta sultan di Keraton Kanoman.

Sebagai gantinya, diangkatlah adik Pangeran Raja Kanoman yang kemudian menjadi Sultan Kanoman V, bergelar Sultan Muhammad Iman Udin. Peristiwa bersejarah itu terjadi dalam rentang waktu 1793-1808 masehi, tujuh belas tahun sebelum pecah Perang Diponegoro yang oleh Belanda, disebut sebagai Perang Jawa.

“Perang Diponegoro itu dipicu persoalan pribadi, karena Belanda memasang patok di makam raja-raja Mataram. Kalau pemberontakan rakyat Cirebon yang melibatkan Pangeran Raja Kanoman, itu murni perlawanan rakyat terhadap penindasan Belanda. Putra mahkota itu menolak menjadi sultan, karena tidak mau tunduk kepada Belanda yang menarik pajak paksa kepada rakyat Cirebon. Akan tetapi, kenapa yang tercatat dalam sejarah nasional, hanya Perang Diponegoro? Perang Cirebon seolah-olah hanya menjadi sejarah lokal,” kata Dadang Kusnandar, budayawan dan pemerhati sejarah Cirebon.
**

Berdasarkan catatan sejarah Keraton Kacirebonan, meski Pangeran Raja Kanoman dibuang ke Ambon, perlawanan rakyat Cirebon justru kian menjadi-jadi. Setiap hari selalu ada penyerangan terhadap prajurit maupun pembakaran rumah-rumah dan bangunan, yang menjadi simbol kekuasaan Belanda di Kota Cirebon.

Belanda makin kewalahan. Para petinggi Belanda memerintahkan agar Pangeran Raja Kanoman dikembalikan ke Cirebon. Melalui para pimpinan pemberontak, Belanda meminta syarat: bila Pangeran Raja Kanoman dikembalikan, pemberontakan dihentikan. Sebagai jalan tengah, status darah biru Pangeran Raja Kanoman dikembalikan. Kendati demikian, dia tak berhak atas kesultanan di Keraton Kanoman.

Belanda memang menepati janjinya. Hak darah biru Pangeran Raja Kanoman dipulihkan. Hanya, putra mahkota itu diminta membuat keraton baru dan kasultanan baru, yang bukan di Keraton Kanoman. Pada 1808, Pangeran Raja Kanoman memilih tinggal di kompleks Gua Sunyaragi di daerah Sentul (kini Jln. By Pass Brigjen Dharsono). Pangeran itu kemudian bergelar Sultan Amiril Mukminin Muhammad Khaerudin atau sering disebut sebagai Sultan Carbon.
Meski menjadi raja, Sultan Carbon tidak pernah memiliki keraton. Dia hidup sederhana bersama istrinya, Ratu Raja Resminingpuri. Sikap tegasnya tetap berlaku, dengan menolak uang pensiun dan seluruh pemberian dari Belanda. Pada 1814, Sultan Carbon mangkat.

Karena putra lelakinya masih berusia lima tahun, bernama Pangeran Raja Madenda, Kesultanan Carbon diwakili (volmak) janda Sultan Carbon, Ratu Raja Resminingpuri. Pada saat itulah, Ratu Raja membangun Keraton Kacirebonan di Pulosaren, tak jauh dari Keraton Kasepuhan dan Kanoman, dengan memanfaatkan uang pensiunan dari Belanda yang selama menjadi Sultan Carbon selalu ditampiknya. Setelah besar, mahkota diserahkan kepada putranya yang bergelar Pangeran Raja Madenda I.

“Belanda menolak gelar sultan pada ahli waris Sultan Carbon. Ini berbeda dengan Keraton Kasepuhan dan Kanoman, yang rajanya diperbolehkan bergelar Sultan,” kata Elang Heri Komarahadi, kerabat Keraton Kacirebonan yang kini menjadi Ketua “Sekar Pandan”, sanggar seni tradisional di areal keraton.
**

PADA 1960, setelah Indonesia merdeka, raja di Keraton Kacirebonan kembali bergelar sultan. Ketika itu, keraton dipimpin Sultan Karta Natadiningrat, lalu putranya Sultan Amir Natadiningrat. Dan, sejak 1997 sampai sekarang, keraton dipegang oleh Sultan Abdul Gani Natadiningrat.
“Kalau melihat sejarahnya, Keraton Kacirebonan sebenarnya bukti dan simbol perlawanan terhadap Belanda. Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara malah menyebut bahwa pemberontakan Cirebon itu merupakan pemberontakan santri pertama di tanah Jawa. Bisa jadi, itu menjadi inspirasi bagi Pangeran Diponegoro untuk bangkit melawan Belanda,” ujar Dadang Kusnandar.

Sampai sekarang, Keraton Kacirebonan menjadi simbol sejarah bahwa rakyat dan raja Cirebon juga memiliki rasa nasionalisme tinggi. Perjuangan mereka tak kalah heroik dengan rakyat Banten dan Sultan Ageng Tirtayasa yang menolak Belanda, termasuk Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro pada 1825-1830.

Oleh karena itu, menurut Dadang, sudah saatnya peristiwa-peristiwa bersejarah di Cirebon itu diapresiasi dan ditulis secara lebih komprehensif di buku-buku sejarah nasional. “Bila perlu, Pangeran Raja Kanoman, Raden Bagus Serangin, dan dua saudaranya yang memimpin perang Kedondong dijadikan pahlawan setingkat Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Pattimura, dan Pangeran Antasari, “ujar Dadang Kusnandar.

 Ia pun berharap Pemerintah Kota dan Kabupaten Cirebon, memberi penghormatan kepada mereka. Misalnya dengan menjadikannya sebagai nama jalan atau nama-nama tempat strategis yang menjadi ikon Cirebon






SUNAN BUNGKUL (Besan Sunan AMPEL), Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Mbah Bungkul yang makamnya berada di komplek Taman Bungkul menyimpan misteri kesejarahan yang tak mudah diungkap. Sebuah hikayat menyebutkan Mbah Bungkul atau Sunan Bungkul adalah Empu Supa, seorang tokoh masyarakat dan agama pada masa kerajaan Majapahit di abad 15.

Ia adalah tetua desa Bungkul, yang sekitar 600 tahun silam pernah disinggahi Raden Rahmat atau Sunan Ampel kala menempuh perjalanan dari Trowulan Majapahit menuju Kalimas di Ampel Denta. Ki Supa kemudian memeluk agama Islam dan berganti julukan menjadi Ki Ageng Mahmudin. Karena menghuni desa Bungkul, Ki Supa akhirnya lebih dikenal dengan Sunan Bungkul.

Ikatan kedua sunan itu pun berlanjut hingga kemudian Sunan Bungkul menjadi mertua Raden Rahmat. Karena ikatan itu pula, upaya Sunan Ampel menyebarkan agama Islam menjadi lebih cepat berkembang, terutama di wilayah Surabaya Selatan.

Mbah Bungkul pun kini diyakini sebagai salah satu wali besar di Surabaya. Peziarah yang berkunjung ke makam Ampel pasti akan berkunjung pula ke komplek makam yang berada di Jalan Progo ini.

Anggapan lain meyakini bahwa Mbah Bungkul dapat dikategorikan sebagai wali lokal, seperti konsep sejarawan Sartono Kartodirdjo dengan sebutan tokoh Islamisasi tingkat lokal. Keberadaan Mbah Bungkul sejajar dengan Syeh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Panggung (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), dan wali lokal lainnya yang banyak tersebar di berbagai kota. Makam Mbah Bungkul pun terasa sunyi di antara ingar-bingar warga kota yang terus meramaikan taman Bungkul setiap saatnya.

sumber:
http://way4x.wordpress.com/kyai-abdu...gkul-di-ampel/

(mohon dikoreksi bila da kesalahan dari kami.... karena keterbatasan dari kami)

-----------------------------------------------------------------------------

Sunan Bungkul

Sunan Bungkul mempunyai nama asli Ki Ageng Supo atau Empu Supo. Beliau sebenarnya adalah keturunan Ki Ageng dari Majapahit yang berkediaman di Bungkul Surabaya. Sunan Bungkul dikenal sebagai tokoh masyarakat dan penyebar agama Islam pada masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit di abad XV di tanah Jawa.

Sumbangsih Sunan Bungkul dalam penyebaran Islam di tanah Jawa tak bisa diabaikan begitu saja. Ki Supo atau Sunan Bungkul juga membantu Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Sunan Bungkul adalah mertua dari Raden Paku atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Giri.

Mbah Bungkul bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk Islam, berganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia diperkirakan hidup di masa Sunan Ampel pada 1400-1481. Supa mempunyai puteri bernama Dewi Wardah. Makam beliau berada tepat di belakang Taman Bungkul Surabaya.

Ada suatu cerita menarik tentang Ki Supa. Ki Supo ingin menikahkan puterinya. Namun ia belum mendapatkan sosok lelaki yang sesuai. Lalu Supa membuat sayembara, siapapun laki-laki yang dapat memetik delima yang tumbuh di kebunnya akan saya jodohkan dengan putriku Dewi Wardah.

Sudah banyak orang yang mencoba mengikuti sayembara itu, namun belum ada yang berhasil memetik buah delima yang dimaksud. Bahkan sebagian dari mereka ketika memanjat berusaha untuk mengambil buah delima mereka jatuh dan berakhir dengan kematian.

Pada suatu hari Raden Paku berjalan melewati pekarangan Ki Ageng Supo dimana terdapat pohon delima itu, sesampai di bawah pohon delima tiba-tiba pohon delima itu jatuh. Kemudian Raden Paku menyerahkan buah Delima tersebut kepada Sunan Ampel

Sunan Ampel berkata kepad Raden Paku “Berbahagialah engkau, karena sebentar lagi engkau akan diambil menantu oleh Ki Ageng Supo. Engkau akan dijodohkan dengan putri beliau yang bernama Dewi Wardah”

“Kanjeng Sunan, saya tidak mengerti apa maksud Kanjeng Sunan, bukankah sebentar lagi saya akan menikah dengan putri kanjeng Sunan”

“Agaknya ini sudah menjadi suratan takdir bahwa engkau akan mempunyai dua orang istri, putriku Dewi Murtosiah dan putri Ki Ageng Supo, Dewi Wardah”

Kemudian Sunan Ampel menceritakan perihal sayembara yang telah dibuat Ki Ageng Supo. Raden Paku mengangguk-angguk mendengar cerita Sunan Ampel.

Ada cerita dengan versi lain. Bahwa Ki Ageng Supo sengaja memetik buah Delima dan menghanyutkan ke sungai.

Delima itu dihanyutkan ke Sungai Kalimas yang mengalir ke utara. Alur air sungai ini bercabang di Ngemplak menjadi dua. Percabangan sebelah kiri menuju Ujung dan sebelah kanan menuju kali Pegirikan. Buah delima itu terapung dan hanyut ke kanan. Suatu pagi seorang santri Sunan Ampel yang mandi di Pegirikan Desa Ngampeldenta, menemukan delima itu.

Sang santri (Raden Paku) pun menyerahkannya ke Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel delima itu disimpan. Besoknya, Supa menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran, ia melihat banyak santri mandi di sungai. Supa, yakin disinilah delima itu ditemukan oleh salah satu diantara pasa santri tersebut. Apakah ada yang menemukan delima, tanya Supa setelah bertemu Sunan Ampel. Raden Paku, murid Sunan Ampel dipanggil dan mengaku. Singkat cerita Raden Paku dinikahkan dengan anak Ki Ageng Supa, Dewi Wardah.

Ki Ageng Supo akhirnya memperoleh mantu seorang santri dari Ampeldenta yakni Raden Paku. Sedangkan Raden Paku pada akhirnya menikahi dua orang putri Dewi Murtosiah, putri Sunan Ampel dan Dewi Wardah putri Ki Ageng Supo. Mereka hidup berbahagia selamanya.

 Kyai Edor atau Mbah Edor – Bungkul - Surabaya

(beliau masih keturunan sayyid badruddin bin ali akbar bin sulaiman basyaiban)

Jika kita berziarah kemakam sayyid iskandar bin ali akbar bin sulaiman , maka kita harus menanyakan kejuru kunci letak makam mbah edor ini. kenapa begitu ? ya karena sosok kyai satu ini sangat dekat dimasa hidupnya dengan sayyid iskandar bin ali akbar. ya benar ! mereka berdua memang berjuang menghadapi belanda bersama-sama dibumi nusantara ini, tepatnya dikota Surabaya .

Banyak yang tak tahu siapa nama asli mbah edor ini. sejak dulu Cuma sebutan itu yang ada. yang saya tahu berdasarkan informasi yang sangat bisa dipercaya adalah, beliau ini masih keturunan sayyid badruddin bin ali akbar. atau bisa jadi beliau adalah salah satu putra atau cucu dari sayyid badruddin bin ali akbar .

Kenapa nama aslinya seakan sirna berganti dengan nama panggilan beliau yaitu mbah edor ? . itu dikarenakan tubuh beliau sangat gemuk sekali dan jika berjalan seakan perutnya itu bergoyang krn kebanyakan lemak , yg kata orang jawa kuno mengatakan : edar – edor … edar – edor ... hehehe … yah begitu lah istilah jawanya . beliau ini tak bisa dipisahkan kisahnya dengan saudara dekatnya , sayyid iskandar .

Dalam hal membantu perjuangan sayyid iskandar, mbah edor ini tergolong unik . dengan cara berjualan kue keliling. kue yg dia jual adalah kue khas Surabaya yg ukurannya super besar namanya kue kucur. bahkan besarnya kue itu sangat tidak umum. namun kue itu tidak gratis jika yg beli itu adalah para tentara belanda atau para antek2-nya yg pribumi. namun jika yg beli adalah penduduk pribumi yg miskin, maka di kasih gratis. ada hal yang unik lagi , yaitu kue yang diberikan pada para pejuang pengikut sayyid iskandar akan terdapat pistol didalamnya. pistol itu hasil rampasan dari tentara belanda yg apabila dia memergoki para tentara belanda yg berbuat sewenang2 pada rakyat kecil. maka dari itulah, dia sengaja pembuatan kue-nya diperbesar agar bisa dimasuki pistol .

Meski beliau itu terkenal dengan penjualan kue-nya , tapi beliau sangat sakti dan kuat. tak salah jika sayyid iskandar bin ali akbar yg sakti itu memberi kepercayaan penuh terhadap dirinya .

Atas kepiawaiannya, banyak tentara belanda yg beliau bunuh. meski para tentara itu bersenjatakan lengkap , seakan tak berpengaruh terhadap tubuh mbah edor ini. banyak tembakan yg diarahkan ketubuh beliau. banyak pisau atau bayonet yg mereka tancapkan ketubuh beliau, namun sedikitpun tak bisa melukai atau menggores kulitnya. itulah kesaktian sayyid yang satu ini . jika para tentara sudah terlalu capek ingin membunuh beliau dan tak pernah berhasil , maka giliran beliau yang mengobrak abrik tempat markas mereka . banyal yg mati dan lari jika sudah kyai edor ini yang datang. jika para tentara berlarian dan meninggalkan senjata2-nya, maka beliau mengambil dan mengumpulkan senjata2 itu. jika dirasa sudah cukup , maka dibawa pulang . satu persatu senjata itu (konon yg sering diambil adalah pistol dan granat ) dimasukkan kedalam kue kucur. jadi jika dilihat dari luar , kue itu ya terlihat kue . namun jika disobek atau dibuka maka terdapat satu buah pistol atau granat . nah , kue yang berisi senjata itulah yg beliau khususkan untuk para pejuang pengikut sayyid iskandar bin ali akbar .

Perjuangan beliau dengan sayyid iskandar bin ali akbar melawan penjajahan belanda tak pernah lelah . hingga membuat pusing dan takut para tentara penjajah. menghadapi satu orang seperti sayyid iskandar saja sudah angkat tangan, apalagi sekarang ditambah dengan sayyid satu ini , yaitu kyai edor . segala tak-tik dan rencana selalu gagal total jika menghadapi beliau berdua . konon, sejak wafatnya sayyid iskandar bin ali akbar (baca artikel-ku yg berjudul sayyid iskandar bin ali akba ), beliau dengan setia menunggu dan menjaga makam beliau . karena beliau pikir , tak ada lagi teman seperjuangan dan saudara dekat yg sesakti dan secerdas sayyid iskandar kala itu. maka, volume perjuangan kyai edor ini agak berkurang tidak seperti dulu lagi . beliau tetap meneruskan penjualan kue-kuenya yg berisikan senjata tersebut . dan tak lama setelah wafatnya saudara dekatnya, sayyid iskandar, beliaupun wafat dan dimakamkan didekat makam kembar sayyid iskandar .

Tentang wafatnya beliau, ada kisah menarik yg patut kita contoh. yaitu menjelang hari wafat beliau, seperti biasanya beliau mencuci bahan pembuatan kue disumur dekat makam sunan bungkul. disaat mencuci bahan2 itu, tiba2, bahan2 adonan kue tersebut berubah menjadi emas murni dan jamrut hijau yg menawan. coba bayangkan jika kita ini mengalami hal seperti itu ? apalagi kita dalam keadaan serba kekurangan ekonomi ? bukan tak mungkin akan membuat kita senang atas emas dan jamrut tadi . lain halnya dengan kyai edor ini, beliau langsung menangis tersedu-sedu dihadapan harta2 tadi , sambil mengatakan :

“ Ya allah , sungguh … bukan untuk ini saya mau hidup . bukan ini yang saya cari . saya hanya ingin pengampunan dan ridho-MU saja . biarlah saya hidup serba miskin asal Engkau ridho “

kalimat itulah yg beliau ucapkan berulang-ulang sambil menangis. akhirnya emas dan jamrut tadi berubah menjadi bentuk asalnya, yaitu berupa adonan kue. nah, tak lama dari peristiwa itulah beliau wafat dengan husnul khotimah. namun sayang beliau tidak mempunyai keturunan. bahkan ada yang berkisah bahwa beliau selama hidupnya masih belum menikah. yak arena disibukkan dengan berjuang melawan penjajah . wallahu a’lam bis-showab .

semoga kisah dari para sesepuh basyaiban dan adzamatkhan ini bisa kita ambil manfaatnya sehingga membawa hikmah buat kita semuanya . amin

Sayyid Iskandar Bin Sayyid Ali Akbar

diantara putra-putra sayyid ali akbar, sayyid iskandarlah yang paling unik perjalanan hidupnya. beliau sangat sayang pada ibundanya hingga nyawa sebagai taruhan demi ibundanya .

setelah kelahiran adik beliau yaitu sayyid ali ashghor, beliau meneruskan perjuangannya dalam melawan penjajahan belanda. seperti ayahandanya yang dulu yakni sangat merepotkan pihak kolonial belanda , sayyid iskandar pun juga tak kala merepotkan mereka. beliau tuh orangya tinggi besar berkulit putih dan penyabar sesungguhnya. tak banyak bicara. sangat 'alim, zuhud dan wara'. terkenal dengan ahli ilmu alat (nahwu, sharaf). berwajah jawa-arab. namun meski penyabar, jika sudah berhadapan dengan penjajah belanda yg dholim, maka tak ada ampun lagi. beliau lebih suka melawan belanda tanpa harus melibatkan keluarganya. tidak saudaranya juga tidak para santri-santrinya yang berada di-ndresmo. beliau selalu tahu kapan ada rombongan belanda yang akan melewati jalan yang beliau kuasa. maka tak pernah ada satu orang belandapun kala itu yang bisa menghadapi beliau . senjata apapun yg dibuat melawan beliau hampir dipastikan tak ada artinya .

ada kelebihan dari beliau yang sudah bukan rahasia lagi. beliau sangat cepat dalam bergerak. jika orang biasa menempuh perjalanan dengan sejam , maka beliau sampai dalam waktu sangat sebentar. beliau pernah membuat mata para belanda tak bisa melihat pesantren ayahandanya yg ada dindresmo. seakan pesantren itu hilang dan musnah. ada lagi yang beliau punya yaitu ilmu semacam rawerontek (bila tubuhnya dipotong maka kembali nyambung lagi) . nah jadi hanya seorang sayyid iskandar saja, sudah membuat para tentara belanda kalang kabut. kalaupun tertangkap , itu hanya semata-mata unsur kesengajaan dari beliau sendiri agar bisa semakin banyak yang beliau hadapi, dan itupun sudah menjadi strategi perang gerilya beliau untuk membantu mempermudah penyerangan para pejuang lain seperti pamannya sayyid baqer .

meski banyak hal dan tugas yg beliau hadapi, namun beliau masih sering menyempatkan diri untuk pulang kerumah yg saat itu ibundanya masih di sidoarjo bersama adik paling kecilnya sayyid ali ashghor. beliau dengan telaten ikut membantu ibundanya dalam mendidik sayyid ali ashghor dalam hal ilmu agamanya. jika sudah selesai, maka beliau berjuang lagi seperti biasanya. beliau jarang kedesanya sendiri, ndresmo . itu semata-mata agar desa suci itu tak dilibatkan oleh para penjajah dan para santripun bisa belajar dg tenang. makanya jika menyerang belanda beliau mencari tempat yang jauh dari ndresmo .

pihak belanda sangat marah sekali karena cuma seorang saja kok bisa membunuh para tentaranya sangat banyak. dan apalagi kebiasaan sayyid iskandar adalah, jika habis melawan rombongan tentara belanda dan berhasil membunuh semuanya, maka beliau ambil senjata mereka. lalu beliau menyerahkan seluruh senjata2 itu pada seseorang yg berbadan gemuk penjual kue yang biasa disebut 'mbah edhor'( makamnya juga disekitar makam beliau ). oleh mbah edhor senjata2 itu dibagi-bagikan kepara pejuang yang dipimpin paman sayyid iskandar sendiri yaitu sayyid baqer didaerah nggeluran surabaya .

kemarahan belanda sudah memuncak. maka segera mereka membuat sayembara barang siapa yg bisa membunuh sayyid iskandar akan diberikan sebidang tanah dan uang. banyak yang mendaftar, namun tak ada satupun yang bisa mengalahkan beliau. hingga akhirnya tersebutlah se-orang pribumi sendiri yang kebetulan sangat mengenal beliau. dia sangat meng-inginkan hadiah itu. dia cuma bisa memberitahukan kelemahan sayyid iskandar. mendengar akan hal itu, para belanda sangat antusias mendengarnya. orang pribumi (jawa) itu mengatakan :

" untuk membunuh beliau memang sulit. tak ada yang tahu kelemahan kesaktian beliau. hanya satu yang saya tahu , beliau itu sangat sayang dan menghormati ibundanya. tangkap ibunya ! pasti beliau akan menyerahkan diri " .

namun usul itu masih membuat orang2 belanda masih ragu. mana mungkin mereka bisa menangkap ibunda sayyid iskandar , sedang beliau sedang dalam perlindungan sayyid imam asy'ari singonoto disidoarjo desa singkil (kalau g' salah nama desanya) . sedangkan pemerintah belanda yg berada disidoarjo saja sudah cukup dibikin repot juga dengan kesaktian sayyid imam tersebut . akhirnya orang pribumi yg membuat usul tadi berjanji akan mengajak sayyid imam keluar dari rumahnya dg tipu dayanya. sebab dia sudah kenal baik dan sering bertemu dg sayyid imam itu .

singkat kisah, dengan tipu daya yang sangat halus akhirnya orang pribumi itu berhasil mengajak sayyid imam keluar (entah alasan apa yg dia pakai). maka para tentara belanda berhasil menahan ibu sayyid iskandar . bagaimana dengan sayyid ali ashghor ? saat itu beliau tak berada dirumah . sedang bermain seperti layaknya anak kecil lainnya. semua Allah yang mengaturnya .

mendengar ibundanya ditangkap, sayyid iskandar sangat marah sekali . namun karena ancaman belanda yang akan membunuh ibundanya jika tak menyerahkan diri, maka beliau segera berangkat untuk menyerahkan diri . dihadapan para pemerintah belanda beliau rela menyerahkan diri dan dihukum mati asal ibundanya dibebaskan. dan satu sarat lagi yg beliau sampaikan pada belanda , yaitu semua syarat yang pernah ayahanda beliau (sayyid ali akbar) ajukan pada kolonial belanda agar ditepati.

pemerintah kolonial belanda menerima syarat yg diajukan beliau hanya didepan beliau saja . sekedar tipuan maksudnya. maka segera beliau dieksekusi mati. namun sebelum dieksekusi mati, orang pribumi yg berkhianat tadi menambah informasi yg dia tahu tentang sayyid iskandar. bahwa setelah ditembak, tubuh beliau harus dipotong menjadi dua dan dikuburkan di-dua tempat. maka infirmasi itupun diterima baik oleh pihak belanda. eksekusi-pun dilaksanakan. namun tak ada satu senjata pun yg mampu menembusnya . berkali-kali mereka muntahkan peluru , namun tak membuat beliau luka . sampai akhirnya sayyid iskandar berkata :

" kalian akan bisa membunuhku jika kalian berjanji lagi melaksanakan semua tuntutan dan perjanjian yg kita sepakati " .

akhirnya belanda berjanji untuk itu. dan beliaupun wafat. lalu tubuh beliau dipotong menjadi dua bagian dan dikuburkan di 2 tempat yg berbeda .

dasar memang belanda situkang tipu . setelah berhasil membunuh sayyid iskandar, mereka mengingkari janji yg telah disepakati. ibunda sayyid iskandar tak dibebaskan. malah berencana dipakai umpan untuk menangkap pejuang2 lainnya dari keturunan sayyid ali akbar. sebenarnya orang pribumi yg berkhianat tadi sudah mengingatkan pemerintah belanda agar segera menepati janji mereka pada sayyid iskandar. tapi mereka malah tertawa dan tak menghiraukannya .

" buat apa menuruti janji pada orang yang sudah mati ? " . begitu kata mereka .

tiga hari telah berlalu namun pihak belanda tak kunjung membebaskan ibunda sayyid iskandar. akhirnya terjadilah suatu hal yang menghebohkan. ternyata suatu hari sayyid iskandar hidup lagi dan memporak-porandakan pasukan belanda disegala tempat . beliau langsung ketempat markas dimana ibundanya ditahan .

" sekali lagi saya katakan , sampai kapanpun jika kalian mengingkari janji kalian , maka aku akan menghabiskan kalian semua " .

ancam beliau dihadapan para pemimpin pemerintah kolonial belanda .jelas hal itu membuat para tentara belanda ketakutan. itu adalah hal yg mustahil terjadi menurut mereka. gimana engga' ? wong tadinya sudah dibunuh dan dikuburkan kok sekarang muncul lagi ? .maka akhirnya para tentara belanda membebaskan dan mengantarkan pulang ibunda beliau langsung dirumah beliau yg asal, yaitu desa ndresmo . setelah itu sayyid iskandar dieksekusi lagi dan dipotong lagi tubuhnya menjadi 2 bagian . yg satu bagian dikuburkan dibungkul dan yang satunya lagi atas perintah beliau didaerah koanyar madura dipesisir pantai .

nah setelah itu pemerintah kolonial belanda tak berani lagi meng-ingkari janjinya pada sayyid ali akbar dan sayyid iskandar , putranya .

adapun perjanjiannya sudah saya sebutkan sebelumnya diartikel :
'sayyid ali akbar bin sayyid sulaiman' .

sumber:
http://ndresmo.blogspot.com/2009/03/artikel-3.html








Kompleks Pemakaman Sunan Bayat di Gunung Jabalkat, Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Membayar tiket masuk seharga Rp 2.000 mungkin bukan hal yang memberatkan untuk memasuki sebuah kawasan wisata. Tetapi jika harus menaiki 250 anak tangga yang cukup menanjak terlebih dahulu untuk bisa menikmati kawasan itu baru terasa berat bagi sebagian orang.
Adalah Makam Tembayat, makam dari Sunan Bayat yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, yang terletak di atas perbukitan Gunung Jabalkat. Lokasi makam yang berada di ketinggian 860 meter dpl ini dapat dicapai dengan terlebih dahulu menaiki 250 anak tangga.

Sunan Bayat adalah seorang tokoh religius penyebar agama Islam di kawasan Jawa Tengah pada abad 16. Sunan Bayat berjuang menyebarkan agama Islam pada waktu yang sama dengan Wali Sanga. Dan karena kebesaran nama dan pengaruhnya, Sunan Bayat bahkan dianggap sebagai Wali yang kesepuluh dari Wali Sanga.

Sunan Bayat yang memiliki banyak nama dan sebutan adalah murid dari Sunan Kalijaga. Setelah mendapatkan pencerahan dan menyebarkan agama Islam dari kawasan Bayat, sosoknya mendapatkan julukan Sunan Bayat. Namun ada juga yang menamainya sebagai Sunan Tembayat, Sunan Padang Aran, Sunan Pandanaran, atau Ki Ageng Pandanaran.

Kompleks pemakaman Sunan Bayat dibangun pada tahun 1620 M oleh raja besar Mataram, Sultan Agung. Sebelum dijadikan kompleks pemakaman oleh Sultan Agung, makam Sunan Bayat diperkirakan sudah dibangun sejak tahun 1526 M, seperti yang tertera pada Gapura Segara Muncar (1448 Saka) yang terdapat di bawah bukit dan berfungsi sebagai pintu gerbang pertama pemakaman.

Kompleks pemakaman yang pernah dianggap sebagai salah satu kompleks pemakaman termegah di era Kerajaan Mataram ini memiliki bagian-bagian yang menunjukan budaya peralihan dari Hindu ke Islam. Hal itu dapat dilihat dari keberadaan gapura-gapura Hindu di dalam kompleks pemakaman. Namun yang membuat gapura ini berbeda adalah tidak adanya ornamen binatang seperti yang biasa ada dalam gapura Hindu.


Dan memang masa perjuangan Sunan Bayat dalam menyebarkan agama Islam adalah pada masa transisi kekuasaan dan kebudayaan dari kerajaan Hindu Buddha Majapahit ke kerajaan Islam Mataram.
Sunan Bayat yang dipercaya sebagai seorang Bupati Semarang sebelum dirinya menjadi seorang pemimpin agama adalah tokoh utama dalam kompleks pemakaman Tembayat. Kompleks pemakaman yang berada di Gunung Cokro Kembang (bagian dari perbukitan Gunung Jabalkat) terbagi dalam beberapa bagian penting sebelum peziarah mencapai makam Sunan Bayat yang berada pada bagian paling atas.

Dimulai dari pintu gerbang pertama adalah Gapura Segara Muncar, lalu Gapura Dhuda, dan pintu ketiga yaitu Gapura Pangrantungan. Gapura Pangrantungan berada di “garis finis” dari 250 anak tangga menuju makam. Di kompleks gapura ini terdapat Bangsal Nglebet (untuk tamu wanita) dan Bangsal Jawi (untuk pria) sebagai lokasi beristirahat dan menghela nafas setelah lelah menapaki anak tangga.

Di bangsal ini pula, pengunjung wajib mendaftarkan diri sebelum masuk ke area pemakaman. Pengunjung kembali harus mengeluarkan “uang donasi” di bangsal ini untuk biaya tiket. Dari bangsal ini pengunjung kemudian mengarah ke kompleks pemakaman sahabat Sunan dan kembali akan menemukan Gapura Panemut yang juga memiliki gaya bangunan Hindu.

Masuk lebih dalam lagi kita akan melewati Gapura Pamuncar, Gapura Balekencur, dan Gapura Prabayeksa, gapura terakhir sebelum memasuki makam Sunan. Dari gapura terakhir tadi pengunjung akan bertemu dengan seorang juru doa yang duduk di depan sebuah perapian yang terletak di bawah Regol Sinaga.

Juru doa ini adalah seseorang yang dapat dimintai bantuan untuk memintakan izin dan mendoakan peziarah yang datang mengunjungi makam Sunan Bayat. Di kanan dan kiri Regol Sinaga yang berpintu tiga diletakan masing-masing sebuah gentong yang diberi nama Gentong Sinaga, yang dipercaya sebagai padasan atau tempat air wudhu Sunan Bayat.


Beberapa peziarah yang datang atau meninggalkan makam Sunan selalu menyempatkan diri untuk meminum air dari dalam gentong atau menyimpan sedikit dalam botol untuk dibawa pulang. Dari Regol Sinaga pengunjung dapat langsung masuk ke dalam bangunan utama yang terdapat di puncak bukit ini.

Di dalam bangunan inilah Sunan Bayat dimakamkan. Makam Sunan Bayat terdapat di tengah bangunan tersembunyi dalam bilik kayu berbentuk persegi mirip seperti Ka’bah di Mekah. Banyak peziarah yang masuk, akan mengantri di samping makam untuk dapat mendekati makam Sunan. Beberapa dari mereka juga terlihat sibuk menyalin teks Jawa yang tertulis pada sebuah batu yang diletakan di samping makam.

Di samping makam Sunan Bayat terdapat dua makam istri Sunan Bayat yaitu Nyi Ageng Kali Wungu dan Nyi Ageng Krakitan. Sementara (bagian dalam) di depan pintu masuk bangunan utama terdapat beberapa makam sahabat-sahabat Sunan Bayat.
Dari dalam makam Sunan Bayat pengunjung kemudian dapat mengunjungi dua makam sahabat Sunan yang berada di bagian luar bangunan utama. Dua makam itu adalah makam Dampu Awang dan Ki Pawilangan.

Dampu Awang dipercaya sebagai seorang pedagang dari Semarang dan dia adalah seorang keturunan Tionghoa. Makam Dampu Awang tampak berbeda dengan makam lainnya karena ukuran panjang yang tidak biasa. Ukuran makam Dampu Awang tampak sangat panjang daripada makam-makam lain yang ada didekatnya termasuk milik Ki Pawilangan.


Sebuah tradisi unik sering dilakukan oleh para peziarah saat mengunjungi makam Dampu Awang dan Ki Pawilangan. Tersebar cerita kuno bahwa bagi siapa yang berhasil menyentuh dua batu nisan (masing-masing di bagian ujung) makam Dampu Awang dengan membentangkan tangannya, maka keinginannya akan terkabul. Dan bagi kerabat yang pertama menyentuh orang yang berhasil tadi juga akan mendapatkan sebagian dari berkahnya.

Sedangkan cerita kuno pada makam Ki Pawilangan adalah bagi siapa yang menghitung jumlah batu hias pada makam sebanyak tiga putaran dengan jumlah berbeda dan membesar. Maka dia akan mendapatkan berkah. Sementara jika hasil perhitungan selama tiga kali menghasilkan jumlah menurun maka dia akan mendapatkan kebalikannya.

Kebanyakan pengunjung yang datang ke kompleks pemakaman Sunan Bayat adalah para peziarah yang datang dari Jawa Tengah terutama Semarang. Hal ini bisa jadi karena latar belakang asal-usul Sunan yang datang dari Semarang sebelum menjalani hidup religius di bawah bimbingan Sunan Kalijaga.

Selain makam Sunan Bayat, pengunjung juga dapat mengunjungi Masjid Golo, dengan bedugnya, yang dibangun oleh Sunan Bayat. Ada juga makam Syeh Domba di Gunung Cakaran, pengikut setia Sunan, yang diceritakan pernah berkepala domba karena merampok istri Sunan. Atau makam Syeh Kewel di Makam Sentana, pengikut setia Sunan, yang diceritakan pernah berkepala Ular karena juga turut merampok istri Sunan.

Dan seperti halnya kawasan sakral lainnya di Jawa, lokasi ini juga menggelar sebuah acara budaya yang sudah menjadi tradisi. Upacara Ruwatan atau Jodangan digelar oleh warga di sana setiap tanggal 27 pada hari Jum’at Kliwon di bulan Ruwah. Upacara ini adalah upacara peringatan jasa besar Sunan Bayat yang digelar dengan rangkaian upacara bersih makam, mengganti kain penutup makam, selamatan, serta pertunjukan Reog.

Untuk dapat mencapai lokasi kompleks pemakaman Sunan Bayat yang terletak di Kecamatan Bayat, perjalanan dengan mobil atau motor dapat dipilih. Kurang lebih perjalanan akan memakan waktu kurang dari satu jam dari kota Solo. Jalur terdekat yang dapat diambil adalah jalur Wonosari, Juwiring, Pedan, Cawas/Trucuk kemudian Bayat. Jalur ini lebih cepat ditempuh daripada harus masuk melalui jalur Klaten kota.