Senin, 05 Maret 2012

Belajar dari Sastra Jendra Hayuningrat

Bagi orang yang belajar kawruh Kejawen, tentu sudah tidak asing lagi dengan kata-kata Sastra Jendra Hayuningrat. Meskipun banyak yang sudah mendengar kata-kata tersebut, tetapi jarang ada yang mengetahui apa makna sebenarnya. Menurut Ronggo Warsito, sastra jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup. Apabila semua orang di dunia ini melakukannya, maka bumi akan sejahtera.


Nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra cetha yang berarti sastra tanpa papan dan tanpa tulis. Walaupun tanpa papan dan tulis, tetapi maknanya sangat terang dan bisa digunakan sebagai serat paugeraning gesang.


Ada 7 macam tahapan bertapa yang harus dilalui untuk mencapai hal itu.

1. Tapa Jasad: Tapa jasad adalah mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik. Lakunya tidak dendam dan sakit hati. Semua yang terjadi pada diri kita diterima dengan legowo dan tabah.

2. Tapa Budhi: Tapa Budhi memiliki arti menghilangkan segala perbuatan diri yang hina, seperti halnya tidak jujur kepada orang lain.

3. Tapa Hawa Nafsu: Tapa Hawa Nafsu adalah mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka yang muncul dari diri pribadi kita. Lakunya adalah senantiasa sabar dan berusaha mensucikan diri,mudah memberi maaf dan taat pada GUSTI ALLAH kang moho suci.

4. Tapa Cipta: Tapa Cipta berarti Cipta/otak kita diam dan memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh atau dalam bahasa Jawanya ngesti surasaning raos ati. Berusaha untuk menuju heneng-meneng-khusyuk-tumakninah, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan siapapun dan selalu heningatau waspada agar senantiasa mampu memusatkan pikiran pada GUSTI ALLAH semata.

5. Tapa Sukma: Dalam tahapan ini kita terfokus pada ketenangan jiwa. Lakunya adalah ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan dengan senantiasa eling pada fakir miskin dan memberikan sedekah secara ikhlas tanpa pamrih.

6. Tapa Cahya: Ini merupakan tahapan tapa yang lebih dalam lagi. Prinsipnya tapa pada tataran ini adalah senantiasa eling, awas dan waspada sehingga kita akan menjadi orang yang waskitha (tahu apa yang bakal terjadi).

Tentu saja semua ilmu yang kita dapatkan itu bukan dari diri kita pribadi, melainkan dari GUSTI ALLAH. Semua ilmu tersebut merupakan 'titipan', sama dengan nyawa kita yang sewaktu-waktu bisa diambil GUSTI ALLAH sebagai si EMPUNYA dari segalanya. Jadi tidak seharusnya kita merasa sombong dengan ilmu yang sudah dititipkan GUSTI ALLAH kepada kita.

Minggu, 04 Maret 2012

PENGGURON PEGAJAHAN THAREQAT AGAMA ISLAM CIREBON oleh Elang Bagus Chandra Kusumaningrat


  1. A.   Sejarah Pengguron
Misi  Agama Islam Awal mula di tanah Jawa khusunya  bagian barat pada abad Ke 13 tepatnya di daerah Karawang Terdapat Pengguron Agama Islam pertama yang didirikan seorang Syekh yang
bernama Syekh Quro Karawang. Dan Misi Agama Islam di Cirebon oleh Syekh Dzatuk Khafi ( Syekh Nurjati ) bertempat di Gunung Jati . Mereka datang dari tanah Mekkah al mukaromah dan Badgdad bertujuan untuk Berdagang sekaligus menyebarkan Agama Islam yang sebelumnya di tanah jawa dimayoritaskan beragama Hindu dan budha. Adapun di tanah Jawa bagian tengah dan Timur visi dan misi Penyebaran Agama Islam di bawa oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel.
Pengguron atau disebut juga sebagai Perguruan Agama Islam ini dalam berjalannya waktu berkembang menjadi Pengguron Thareqat dan Pesantren. Dan Pesantren  berkembang menjadi madrasah atau universitas islam.

Pengguron-Pengguron Cirebon telah Bershistoriscet/mempunyai Hak sejarah sekitar 600 tahun. Sekitar tahun 1420M datanglah serombongan pedagang dari Baghdad yang dipimpin Syekh Nurjati.  Oleh Ki Gedeng Tapa , Syekh Nurjati diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yang terletak di Gunung Jati. Dia berdakwah, dan ajaran Islam berkembang begitu cepat. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam. Muridnya diantaranya adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Keduanya adalah putra Raja Pajajaran, Raden Pamanarasa (Prabu Siliwangi) dengan Nyi Mas Subanglarang putri Ki Jumajan Jati, Syahbandar Pelabuhan Muara Jati. Karena pengaruhnya yang sangat besar bagi masyarakat sekitar, Syekh Idlofi juga disebut Syekh Dzatul Kahfi (“sesepuh yang mendiami gua”) atau Syekh Nur Jati (“sesepuh yang menyinari atau menyiarkan Gunung Jati”).
Setelah dianggap mumpuni, Raden Walangsungsang bersama adik dan istrinya diperintahkan oleh Syekh Nurjati agar membuka hutan untuk dijadikan pedukuhan yang lokasinya di selatan Gunung Jati Setelah selesai babat alas, pedukuhan itu disebut Tegal Alang-Alang. Raden Walangsungsang sebagai penerus pengguron islam diangkat sebagai Kepala Dukuh dengan gelar Ki Kuwu dan dijuluki Pangeran Cakrabuana dan Atas perintah Syekh Nurjati, Cakrabuana dan Rarasantang pergi ibadah haji, sementara istrinya yang lagi mengandung tetap di Caruban. Pedukuhan kemudian diserahkan ke Ki Pengalang-Alang (Ki danusela). Di Mekkah, keduanya bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanillah. Rarasantang kemudian disunting oleh seorang pembesar Kota Isma’iliyah Mesir bernama Sulton Syarif Abdillah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Rarasantang kemudian berganti nama Syarifah Muda’im. Dari perkawinan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Pengguron di teruskan oleh Raden Walangsungsang di Pengguron pasambangan Gunung sembung dan yang pada saat itu juga menjabat sebagai Ki Kuwu cerbon dan di berikan gelar Haji Abdul imam Pangeran Cakrabuwana. Murid-murid beliau sangatlah banyak di dukung dengan status perekonomiannya sangatlah Pesat. Pedukuhan Caruban yang berkembang pesat kemudian diganti namanya menjadi Nagari Caruban Larang. Negeri ini diresmikan oleh Prabu Siliwangi -meskipun secara prinsip Raja Pajajaran ini kurang berkenan atas tindakan anaknya tersebut dan Pangeran Cakrabuana diberinya gelar “Sri Manggana“. Pangeran Cakrabuana lalu membangun Istana Pakungwati, sesuai nama puterinya yang lahir ketika dia masih di Mekkah. Untuk kunjungan tetapnya ke Syekh Nurjati, Pangeran Cakrabuana Ki Kuwu Cerbon membangun tempat peristirahatan yang disebut pertamanan Gunung Sembung. Lokasinya berada di sebelah barat Gunung Jati, jaraknya sekitar 200m. Pada akhirnya pertamanan ini menjadi pemakaman pendirinya berikut keturunannya. Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Tahun 1479M, Cakrabuana yang sudah berusia lanjut digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yaitu Syaikh Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi Panetep Agama dan Kepala Negara, Syaikh Syarief Hidayatullah Bergelar Susuhunan Jati Cirebon menjadi kepala negara sekaligus menjadi penetap Panata Agama di Cirebon, dan bergelar:" Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panata Agama Awliyai Allah Kutubid Khalifatur Rasulullah SAW, dan pada saat inilah Keraton/kesultanan cirebon mengalami Kemajuan yang sangat pesat dalam Pemerintahan yang berbasiz Agama Islam.dan seterusnya dilanjutkan oleh panembahan.
Pada era panembahan ratu Girilaya II Wafat Kesultanan Cirebon terpecah terbagi 2 yang di teruskan oleh ke dua putranya yaitu Sultan Syamsudin Kesepuhan dan Sultan Badrudin kanoman . Sultan badrudin Kanoman mempunyai Putra  Sulung/Putra mahkota Pangeran Raja Adipati Kaprabon yang kalungguihanya adalah menjadi sultan untuk pengganti ayahandanya di keraton kanoman tetapi Pangeran Raja adipati kaprabon Tidak bersedia diangkat sebagai sultan di kanoman ,beliau lebih tertarik mendalami Agama Islam,Khususnya Thareqat Agama Islam.Beliau ingin Meneruskan wasiat Sunan Gunung Jati dalam penyebaran Agama Islam.
lalu beliau berinisiatif Mendirikan untuk Meneruskan Pengguron yang pada masa sebelumnya Pengguron Berada didalam Keraton dan dengan persetujuan Ayahandanya dan diberilah sebidang tanah di sebelah timur alun-alun keraton kanoman , Maka didirikanlah sebuah bangunan sebagai pusat Perguruan(pengguron) Thareqat Agama Islam . dan untuk seterusnya di sebut dengan kaprabonan( Mengambil nama dari Pangeran Raja Adipati kaprabon).Pengguron Agama Islam berkembang menjadi 2 yaitu Pengguron Thareqat (khusus) dan Pesantren(umum)
Pengguron Thareqat Agama islam Pegajahan Cirebon adalah Sebagai Penerus dari Pengguron Kaprabonan yang pada masa Kanjeng Pangeran Syekh Muhammad Nurullah Akbarudin(P.M. Arifudin Purbaingrat) Pengguron di pindah dan berdomisili  di Pegajahan Cirebon pada tahun 1949M.dan Pengguron Thareqat Agama Islam Pegajahan Cirebon Sekarang di teruskan Oleh Putra dari Kanjeng Pangeran Syekh Muhammad Nurullah Akbarudin (P.M. Arifudin Purbaingrat ) yaitu Kanjeng Pangeran Syekh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin( P.M Nurbuwat Purbaningrat ).

Pengguron tergolong dalam ahlus sunah waljamaah,  beramaliah di atas landasan Al-Qur’ an dan sunah rasul  serta dalam ruang lingkup rukun islam ada lima dan rukun iman ada enam , serta “Imtitsalut” awamir wa ijjtinabuna’awali/ mematuhi  perintah dan  larangan-larangan syareat  rasul, menunju kepada  kebahagian  lahir-batin. Firman tuhan dalam Al-Qur’an adalah:  robbana atina fiddunya khasanah kenikmatan wafil akhirati khasanah  wakhina adzabannar yang artinya ya allah berilah kami kenikmatan hidup di dunia dan akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka. Dan Seyogyanya Pula kita berpegangan Kepada Orang-Orang bijak Terdahulu yakni: Watamassak bil Qur’anil ‘aduim wa sunnah rosulillahi karim tahtandu wa tatsbudu’ala sirotillahil mustakim yang artinya Berpeganglah anda kepada Al-Qur’an yang agung dan Sunnah Rasulullah yang mulia Niscaya akan di tunjukan dan di kokohkanatas jalan yang lurus. Disamping itu ahli Pengguron Pegajahan Cirebon  Khususnya Mengamalkan Thareqat Syatrariyah untuk menuju pembangunan manusia seutuhnya dalam derajat insanul kamil atau manusia sempurna.
Thareqat Menurut Rama Guru kanjeng Pangeran Syekh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin yaitu Suatu Jalan untuk menuju hakekat hidup yang membawa manusia diharapkan menjadi lebih baik optimis dan dinamis dalam mengarungi kehidupan.

Thareqat syatariyah adalah Ilmu Ketauhidan, Thareqat Syatoriyah adalah sebuah nama thareqat sebagai balasanillahi kepada muslim dan muslimat yang membaca surat Al-Fatikhah sebanyak 17 kali sehari semalam. Dalam Shalat 5 waktu. Dalam surat Al-fatikhah terdapat ayat-ayat yang bunyinya demikian: ih dinas sirotol mustaqim, sirotol ladzina an’amta alaihim, ghiril maghdlubi’ alaihim waladholin. Yang berarti Tunjukanlah Kami pada jalan yang lurus jalan yang mereka tuhan beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang tuhan murkai dan yang sesat.  Jalan yang lurus adalah bermakna lurus kepada mardhotillah/surga duniawi ukhrowo ialah yang tercapai oleh nabi, wali dan mukmin serta terhindar dari jalannya mereka yang di murkai sesat.

  1. B.   Riwayat dan silsilah Thareqat Syatoriyah
Riwayat Thareqat Syatariyah adalah kala Nabi muhammad Saw sedang mendirikan sholat lima waktu pada akhir salamnya terdengar ada yang membalas salamnya waalaikum’salam,ternyata yang membalas salamnya adalah seorang pemuda yang tampan sempurna, ini adalah penjelmaan malaikat jibril As yang turun menyerahkan amalan Thareqat Syatoriyah kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Kemudian beliau membaiat thareqat Syatoriyah kepada Ali ra dan Siti fatimah ra.
Rasulullah Nabi Muhammad SAW saat menjawab pertanyaan Ali bin Abi thalib setelah selali Shalatnya:Ali bertanya: Ya nabi tunjukanlah daku thuruq yang sedekat-dekatnya dan semulia-mulianya kepada allah yang semudah-mudahnya di kerjakan oleh hamba.. Nabi menjawab: Ali hendaknya engkau selalu berdzikir dan ingat kepada allah, secara terang-terangan atau dalam hati. Kata Ali: Tiap orangt berdzikir, sedang aku menghendaki dari engkau khusus untukku. Nabi Menjawab: Sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan dan yang telah di ucapkan oleh nabi-nabi sebelumku ialah kliamah la’ilahailallah’ tiada tuhan selain allah, jika di timbang dengan timbangan, pada sebelah imbangan di tumpukan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan pada timbangan yang lain di letakkan kalimah la’ilahailallah, pasti timbangan yang memuat kaliamt tersebut itu lebih berat dari pada yang lain. Kemudiaan Rasulullah Nabi muhammad SAW membaiat Thareqat Syatoriyah kepada Syyauidina Ali Ra dan Siti Fatimah Ra. Sebagaimana thareqat pada umumnya , thareqat ini memiliki sanad atau silsilah para washitah yang bersambung kepada Rasulullah nabi Muhammad SAW,. Atas petunjuk Allah SWT, menujuk Ali bin abi thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan fungsinya sebagai Ahl Adz dzikr, tugas dan fungsi kerasullanya. Dan kemudian Ali menyerahkan risalahnya sebagai ahl Adz Dzikir kepada putranya, Husein bin Ali ,dan demikian seterusnya hingga sekarang. Thareqat inipun pada abad ke-14 dipopulerkan/dinisabkan oleh Abdullah As-syatar. Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattaryah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af'al diri (wujud jiwa raga).

  • Silsilah Thareqat Syyatariyah Pengguron Pegajahan :
Syyaidina Nabi Muhammad SAW, Syyaidina Ali Karromallahu bin abi thalib, Syyaidina Imam Husein bin Ali RA, Syyaid Imam Muhammad Al-baqir, Sayyid Imam Ja'far ash Shadiq, Syaikh Abu Yazid al bustomi, Syaikh Maghrobi, Syaikh Arobiyi, Syaikh Mudloffar, Syaikh Abu Hanail al-harqoni, Syaikh khad Koniyi, Syaikh Muhammad Asyiq, Syaikh Muhammad Arif, Syaikh Abdullah As Syyatari, Syaikh Imam Qodli Syatari, Syaikh Hidayatullah Syaikh Kutubi Modari Haji, Syaikh Ghaus, Syaikh Qudratul Ulama, Syaikh Sultonul Arifin, Syaikh Ahmad bin Quraisy Asy Syanawi, Syaikh Alimur Robbaniyi, Syaikh Khotib Qubbatul Islam, Syaikh Abdul Wahab, Syaikh Imam Tobri al-makki, Syaikh Abdullah bin Abdul Qohar, Syaikh Haji Muhammad bin Muktasim, Syaikh Imam Qodli Hidayat, Pangeran Syaikh Muhammad Shofiyyudin Kanoman, Pangeran Syaikh Muhammad Nurullah Habibudin Kaprabonan(Pangeran Adikusuma Adiningrat), Pangeran Syaikh Muhammad Nurullah Badridin Kaprabonan(Pangeran M.Apiyyah Adikusuma), Pangeran Syaikh Muhammad Nurullah Akbarudin(Pangeran M.Arifudin Purbaningrat), Pangeran Syaikh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin(Pangeran M.Nurbuwat Purbaningrat)

  • Silsilah Pangeran Syaikh Haji Muhammad Nurullah Makmurudin(P.M. Nurbuwat Purbaningrat ):
Kanjeng Syyaidina Nabi Muhammad SAW. Siti Fatimah(Istri Syyaidina Ali ra.), Syyaidina Husaein, Syyaid Janeal Abidin, Syyaid Muhammad Bakir, Syyaid Imam Ja'far As Shidiq, Syyaid Kasim Al kamil , Syyaid Idris, Syyaid Al Bakir, Syyaid Akhmad, Syyaid Baidillah, Syyaid Muhammad, Syyaid Alwi, Syyaid Ali Gajam, Syyaid Muhammad, Syyaid Alwi(mesir), Syyaid Abdul Malik(India), Syyaid Al Amiir Abdulah, Syyaid Jalaludin, Syyaid Jamalludin(kamboja) , Syyaid Nurrul Alim(Mesir). Syyaid Syarif Abdullah(Sultan Mesir), Syyaidina Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati(Cirebon), Pangeran M.Tajul Arifin(P.Pasarean), Panambahan Sedang Kemuning, Panembahan Ratu I Cirebon, Panembahan Mande Gayam , Panembahan Ratu II Girilaya, Sultan Raja Muhammad Badridin(Sultan Kanoman I Cirebon), Pangeran Raja Adipati Kaprabon , Pangeran Kusumawaningyun, Pangeran Brataningrat, Pangeran Raja Suleman Sulendraningrat, Pangeran Arifudin Kusumabratawireja, Pangeran AdiKusuma AdiNingrat, Pangeran Mohammad Apiyyah AdiKusuma II, Pangeran Mohammad Arifudin Purbaningrat, Pangeran H.Mohammad Nurbuwat Purbaningrat.

  • Silsilah Rama Guru-Guru Pengguron Pegajahan Cirebon :
Syekh Nurjati, Haji Abdul Imam Mbah  kuwu cerbon Pangeran Cakrabuwana,  Syyaidina Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati(Cirebon), Pangeran M.Tajul Arifin(P.Pasarean), Panambahan Sedang Kemuning, Panembahan Ratu I Cirebon, Panembahan Mande Gayam , Panembahan Ratu II Girilaya, Sultan Raja Muhammad Badridin(Sultan Kanoman I Cirebon), Pangeran Raja Adipati Kaprabon , Pangeran Kusumawaningyun, Pangeran Brataningrat, Pangeran Raja Suleman Sulendraningrat, Pangeran Arifudin Kusumabratawireja, Pangeran AdiKusuma AdiNingrat, Pangeran Mohammad Apiyyah AdiKusuma II, Pangeran Mohammad Arifudin Purbaningrat, Pangeran H.Mohammad Nurbuwat Purbaningrat
  1.  B. Amalan dan Dzikir Thareqat Syyatariayah Agama Islam Pegajahan Cirebon:
Thareqat Syatoriyah amalannya adalah Dzikir kalimah toyibah ialah LA’ILAHAILALLAH ba’da sholat subuh dan isya, setelah dzikir tersebut diatas ditambah dengan dzikir itsbat ILLALLAH, ALLAH, HU dan ditutup dengan mengucapkan HU KHAYUN DA IM. Sebagai Firman Allah SWT: Yaa ayuhaladzina amanudz kurullaha dzikron kastsiron. Wasabihu hu bukrotan wa’asyilan. Ynag artinya: Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut Nama Allah), Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-NYA di waktu pagi dan petang.( QS.Al_ Ahzab: 41-42)
Thareqat Syatariah mengajarkan tentang tata cara pelaksanaan dzikir,didalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan dzikir yang jumlahnya lebih banyak dari pada ayat-ayat yang menjelaskan tentang shalat,zakat dan sebaginya. Hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan dzikir (secara luas) memiliki kedudukan yang cukup penting disbanding ibadah-ibadah yang lainnya. Dzikir dalam thareqat syattariyah dilakukan dengan jahar(Bersuara) dan sirri/khafi (dalam hati)pembacaan dzikir secara bersuara merupakan ibadah yang lazim dikerjkan da cukup diketahui daar-dasarnya oleh kebanyakan umat Islam, dan ini didasarkan pada firman Allah: ‘’ Berdzikirlah kau dengan hatimu secara merendahkan diri dan rasa takut, dzikir itu tidak diucapkan secara lisan (Q.S.Al A’Raf 205) dan didasarkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi sebagai berikut: Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat itu lebih utama dari pada dzikir bersuara, dengan perbandingan satu banding tujuh puluh.

Sumber Kitab Purwaka Caruban Nagari,Babad Cirebon Ps.Sulendraningrat.Al-Quran dan Hadits, serta wawancara Sesepuh Cirebon Rama Guru Syekh Haji Pangeran Mochammad Nurullah makmurudin Pangeran Moch.Nurbuwat Purbaningrat.

Selasa, 28 Februari 2012

BERDIRINYA MATARAM & HUBUNGAN MISTIS DENGAN RATU KIDUL

Kyai Ageng Pemanahan bergelar Kyai Ageng Mataram. Mataram adalah nama daerah yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Sultan Hadiwijoyo, Sultan di Kerajaan Pajang. Karena Kyai Ageng Mataram bersama putranya Hangabehi Loring Pasar (Danang Sutowijoyo) telah dapat mengalahkan Raden Adipati Aryo Penangsang pada tahun 1527 M di Jipang Panolan.
            Kyai Ageng Pemanahan selanjutnya minta ijin kepada Sultan untuk menempati daerah Mataram itu. Sultan Hadiwijoyo mengizinkan dan berpesan,” Seorang gadis dari Kalinyamat itu supaya diasuh dan dijaga baik-baik. Apalagi sudah dewasa hendaklah dibawa masuk ke Istana”.
            Pesan itu disanggupi oleh Kyai Ageng Pemanahan, tetapi ia memohon agar diperkenankan mengajak putra Sultan Hangabehi Loring Pasar untuk pindah ke Mataram. Kyai Ageng Pemanahan sekeluarga berangkatlah menuju tlatah Mataram disertai dua orang menantunya, yakni Raden Dadap Tulis dan Tumenggung Mayang. Ditambah pula Nyi Ageng Nis istri Kyai Ageng Mataram dan penasehatnya Ki Ageng Juru Martani. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pon tanggal 3 Rabiulawal tahun Jimawal. Dalam perjalanan mereka singgah berziarah ke Istana Pengging sehari semalam.
            Kyai Ageng sekeluarga melakukan doa dan sembahyang, memohon petunjuk kepada Tuhan, melakukan semedi dan shalat hajat, doanya ternyata diterima Tuhan, muncul pertanda pepohonan seketika menjadi condong, tetapi pohon serat tinggal tetap tegap. Setelah sembahyang subuh mereka berangkat menuju Mataram dan berhenti di desa Wiyoro. Selanjutnya membangun sebuah desa yakni desa Karangsari setelah singgah sementara waktu Kyai Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani mencari pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo untuk tetenger di sanalah letaknya wilayah Mataram dimaksud.
            Terdapatlah pohon tersebut di sebelah barat daya Wiyoro. Lalu memilih tanah sebelah selatan beringin yang hendak dipakai sebagai halaman dan rumah untuk bertempat tinggal Kyai Ageng Pemanahan beserta keluarga. Mereka bekerja keras, hingga pembangunan rumah beliau selesai dalam waktu singkat. Kemudian rumah baru segera  ditempati Kyai Ageng Pemanahan yang kemudian tersohor namanya dengan gelar Kyai Ageng Mataram. Banyak saudara asing ke Mataram sehingga menambah ramai dan makmurnya Mataram (sekarang dikenal dengan nama Kotagede, pusat kerajinan perak di Yogyakarta).
            Sahdan gadis pingitan Sinuhun Sultan Hadiwijoyo yang berasal dari Kalinyamat kini telah dewasa. Ngabehi Loring  Pasar (Raden Danang Sutowijoyo) pun telah dewasa. Ia mengganggu gadis pingitan tersebut. Hal ini segera diketahui oleh ayahnya Ki Ageng Mataram. Anaknya dipanggil lalu bersabda:
Ki Ageng Mataram; Anakku..mengapa kamu berani mengganggu gadis pingitan, alangkah amarahnya Sinuhun nanti apabila mengetahui.
Raden Sutowijoyo berkata; ”Saya berani melakukan hal itu, karena telah menerima wahyu.
KAM : Bagaimana kamu dapat mengatakan demikian itu ?
R.S : Ya. Demikianlah ketika mendengar daun nyiur jatuh ayah Sultan terkejut, lagi pula ketika hendak minum air kelapa itu terkejut pula.
            Kyai Ageng Mataram menyatakan, kini belum masanya dan mengajak putranya mengharap untuk berjanji tetap setia. Keduanya berangkat, pergi ke kasultanan Pajang. Sinuhun Sultan Hadiwijoyo sedang bercengkerama dihadap para putranya dan keluarganya. Melihat kedatangan Kyai Ageng Mataram diantar putranya. Lalu sesudah berjabat tangan Ngabehi Loring Pasar pun menghadap menghaturkan sembah-bakti. Sinuhun bertanya dengan keheranan mengapa datang menghadap bukan waktunya menghadap. Kyai Ageng Mataram menyatakan bahwa menghadapnya itu karena putranya telah berdosa besar berani melanggar dan mengganggu gadis pingitan dari Kalinyamat.
            Dengan bijaksana Sinuhun Sultan Hadiwijoyo berkata,”Anak tidak berdosa, kalau demikian memang salah saya, tidak memikirkan anak yang telah dewasa. Oleh karena sudah terlanjur kamipun ikut menyetujui. Tetapi anak jangan dimurka, pinta Sinuhun kepada Ki Ageng Mataram.
            Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533. Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya dan bersabda;
            “Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. Ki Jurumartani menyanggupi lalu mohon ijin kembali, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.
            Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya. Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.
            Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.
            Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.
            Demikian sejarah singkat kerajaan Mataram, yang sampai saat ini terbukti masih berdiri kokoh. Lalu dari keturunan manakah raja-raja besar Mataram ? Berikut ini saya paparkan silsilah  leluhur kerajaan Mataram:
1.    Sinuhun Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit terakhir berputera Raden Bondan Kejawan yang   bergelar Kyai Ageng Tarub ke III.
2.    Kyai Ageng Tarub III mempunyai putra yakni Kyai Ageng Getas Pandowo.
3.    Kyai Ageng Getas Pandowo berputera Ki Ageng  Selo.
4.    Kyai Ageng Selo berputera Ki Ageng Nis.
5.    Ki Ageng Nis berputera Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram).
6.    Ki Ageng Pemanahan berputera Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo.
7.    Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo berputera Sinuhun Prabu Hanyokrowati.
8.    Sinuhun Prabu Hanyokrowati berputera Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Kalipatullah  Panetep Panatagama Senopati ing Prang.

RIWAYAT BALOK
Bagi kebanyakan masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta dan Solo, percaya dengan kisah mistik raja-raja Mataram yang berhubungan erat dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul entitasnya bukan lah sejenis jin, siluman atau setan, tetapi merupakan wujud panitisan dari bidadari, yang turun ke dalam dimensi gaibnya bumi (bukan alam ruh/barzah), berperan menjaga keseimbangan alam semesta khususnya sepanjang pesisir selatan Jawa dan wilayah samodra selatan Nusantara. Menjaga kelestarian alam dengan mencegah atau menghukum manusia yang tidak menghormati alam semesta ciptaan Tuhan YME, atau manusia yang merusak keseimbangan alam dengan cara mengambil kekayaan alam secara serakah dan tamak. Kanjeng Ratu Kidul sebagaimana raja atau ratu gung binatara yang bijaksana dan sakti mandraguna, manembah tunduk kepada Gusti Ingkang Akaryo jagad. Namun demikian, Kanjeng Ratu Kidul tetap sebagai entitas mahluk halus, dalam arti tidak memiliki raga atau jasad dalam bentuk fisik.
            Kisah mistis di atas tidak terlepas dari sejarah pusaka balok kayu jati yang bernama Kyai Tunggulwulung. Saat ini diletakkan di sebelah timur makam Gusti Kanjeng Panembahan Senopati yang membujur ke utara, panjangnya 5 meter diameter 25 cm. Balok tersebut adalah bekas titihan (kendaraan/perahu) ketika Panembahan Senopati bertapa menghanyutkan diri di sungai Opak hingga sampai di kratonnya jagad halus, ialah Kanjeng Ratu Kidul. Kemudian mempunyai wilayah jajahan di jagad halus. Seperti ditulis dalam kitab Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV, dalam tembang Sinom, yang artinya sebagai berikut ;
1)    Sekalipun Kanjeng Ratu Kidul dapat menguasai samodra, apa pun kehendaknya terlaksanan. Akan tetapi masih kalah wibawa dengan Gusti Kanjeng Panembahan Senopati.
2)    Kanjeng Ratu Kidul sangat mengharapkan bisanya terjalin persahabatan antara kerajaan mahluk halus dengan kerajaan Senopaten. Selanjutnya memohon agar sekali tempo Gusti Kanjeng Panembahan Senopati sudi mengadakan pertemuan di dalam dunia mahluk halus. Sekalipun dengan susah payah Panembahan Senopati menyanggupi hingga sampai turun temurun.
Selanjutnya wawancara antara Gusti Panembahan Senopati (GPS) dengan Kanjeng Ratu Kidul (KRK), begini:
KRK    : “…Marilah Kangmas Priyagung agigit, bersama dengan kami, tinggalkan saja Sang Permaisuri serta abdi sentana putri. Anda di alam kami akan mendapatkan ganti yang lebih memuaskan hati. Pindahlah dari Mataram, hamba akan menerima dengan senang hati. Di dalam kerajaan kami Paduka akan penuh wibawa, kami sembah dan kami siap mengabdi sampai akhir zaman.
GPS     : “…Karena sudah demikian cinta Dinda dengan saya, saya pun tidak akan menyia-nyiakan, saya sambut uluran kasih persahabatan Dinda. Tetapi leluhur kami berpesan, bangsa manusia itu karena berasal dari bumi sebaiknya sampai akhir hayatnya juga dikubur di bumi. Tidak pantas dan merupakan pantangan kami merubah jenis menjadi mahluk halus. Oleh karena itu jangan khawatir saya ingkar janji, setiap hari selalu terbayang kecantikan wajah Adinda. Dalam waktu tertentu kita sekali tempo mengadakan pertemuan saja”.
            Demikian sekilas riwayat balok Mataram, yang sedikit banyak dapat menguak sejatinya hubungan gaib kerajaan Mataram secara turun temurun dengan kerajaan dunia halus di laut selatan. Bagaimana menempatkan secara tepat dan bijaksana antara manusia dengan mahluk halus yang juga ciptaan Gusti Allah Yang Maha Wisesa. Dapat sebagai contoh bagi generasi sekarang bagaimana cara memahami hubungan manusia dengan mahluk gaib. Seyogyanya manusia dapat bersikap bijaksana dan tidak sombong, menempatkan mereka yang gaib sebagaimana interaksi dengan manusia saling menghargai dan menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Karena masih sebagai mahluk Tuhan, mahluk halus tetap memiliki karakter seperti halnya manusia, ada yang baik ada yang jahat, ada yang manembah kepada Tuhan, tetapi ada pula yang membangkang.

RIWAYAT SOKO GURUSoko Guru adalah tiang penyangga atap rumah berbahan kayu jati yang dikelilingi ukiran halus dan indah, terletak di Pasarean Mataram, disebelah timur dan di pacak suji, sbb;
            Ketika Kerajaan Kartasura yang bertahta adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Mangkurat Amral tahun 1606 M, wilayah terkena bencana kelaparan, banyak orang yang sengsara dan menderita kelaparan. ISKS sangat sedih hatinya, kemudian memanggil adik Dalem Gusti Pangeran Puger. Adik Dalem lalu sowan menghadap, Sinuhun bertitah,” kalau terus begini Dimas, saya hendak bunuh diri saja dan saya minta diri. Saya sangat malu disembah rakyat senegara tetapi tidak dapat membuat rakyat bahagia. Yang hina dina adalah nama ratu. Gusti Pangeran Puger berkata, “Sabarlah dahulu Kangmas, jangan mudah putus asa. Saya mohon diri dari Praja, hendak memohon pertolongan Tuhan, hendak sowan (ziarah) ke Pasarean (makam) Mataram. Sinuhun mengijinkan, dan bersabda,”Saya hanya dapat mengurangi makan dan tidur untuk membantu Dimas”. Sang pangeran Puger mohon diri, terus mengundurkan diri dan mampir di Dalem Pugeran, untuk ganti pakaian seperti santri desa. Menghimpit golok, memakai tongkat, dan membawa tasbih, kemudian mampir ke Pleret.
            Sesudah shalat Isya’ terus menuju barat laut ke Kotagede, langsung menuju di bawah ringin sepuh Mataram. Sesudah tengah malam lalu sesuci di sungai Gajahwong, kemudian kembali duduk di bawah ringin sepuh Mataram. Masuk waktu subuh terus ke Masjid, sesudah Subuh lalu sowan di Pasarean. Duduk berdekatan dengan tiang di sebelah tenggara dan terus berdoa. Setelah selama empat puluh hari empat puluh malam Pangeran Puger bertapa, maka makbul lah doanya, dilihatnya tepat di atas tempat duduk ada tompo (gayung beras) yang bergantung pada tiang tepat di atasnya. Kemudian tompo diambil dan dihimpit terus dibawa pulang ke negara Kartasura.
            Di tengah perjalanan dari Pasarean Agung Mataram di Kotagede menuju Kartasura, Pangeran Puger mampir ke pasar-pasar yang dilewatinya, menanyakan kepada para bakul-bakul, dijawab bahwa sekarang beras dan sandang sudah murah. Sesampainya di negara Kartasura, Pangeran Puger langsung sowan menghadap ke kraton, Sinuhun baru dihadap para sentana. Melihat Rayi Dalem, Sinuhun terus merangkul dan berkata, “Dimas, terkabullah permohonanmu”.
            Dari tulisan di atas dapat diambil benang merah bahwa, Raja atau penguasa yang pantas menjadi sesembahan kawula adalah raja atau penguasa yang siap berkorban untuk kesejahteraan rakyatnya. Raja/penguasa bijaksana adalah yang selalu sadar bahwa kekuasaannya itu membutuhkan dukungan rakyatnya, tanpa rakyat maka tidak akan ada raja yang menduduki tahta kerajaan. Begitulah antara lain contoh pelajaran tentang  manunggaling kawula lan gusti, pada aras horisontal/habluminannas.


Foto Lukisan Panembahan Senopati
Foto Lukisan Panembahan Senopati

Foto Lukisan Kanjeng Sultan Agung
Foto Lukisan Kanjeng Sultan Agung
Keterangan dihimpun dari hasil wawancara Jurukunci Pasarean (makam) Agung Mataram di Kotagede dan di Imogiri Bantul dan sebagaimana dikisahkan para abdidalem di dua Pasarean Agung tersebut. Referensi; Mantri Jurukunci R.Ng. Martohastono.


Selasa, 17 Januari 2012

Jalur Mirza ke Rasulullah kerajaan Mataram dan pecahannya (Solo&Yogya)

Kerajaan Yogya dan Solo adalah keduanya keturunan Raja-Raja Mataram (sama2 turunan Amangkurat IV) Daftar Raja Mataram sebelum Yogya & Solo :

1. Panembahan Senopati
2. Sunan sedo ing krapyak / Raden Mas Jolang
3. Sultan Agung
4. Amangkurat I / Amangkurat Agung
5. Pakubuwono I / Pangeran Puger
6. Amangkurat IV

Dr ke-6 raja mataram tersebut dr grs ibu ada twtan ke Rasul jalur Azmakhan , mlalui pula jalur Kerajaan Demak dan Pajang, yakni :

I. Panembahan Senopati beribukan :
Syarifah Nyai Sabinah binti Ki Ageng Saba bin Sunan Kidul / Giri II bin Sunan Giri yang menikahi Syarifah Dewi Murtasiah putri Sunan Ampel

II. Mas Jolang beribukan :
Raden Ayu Rembe binti Pangeran Kalinyamat bin Pangeran Prawoto bin (RAJA DEMAK) Sultan Trenggono bin Raden Fatah yang menikahi Syarifah Dewi Murtasimah / Asyiqah binti Sunan Ampel

III. Sultan Agung beribukan :
Ratu Mas Adi Dyah Banowati / Ratu Alit putri Pangeran Benawa Bin (RAJA PAJANG) Jaka Tingkir/ Sultan Hadiwijaya (menantu Sultan Trenggono,RAJA DEMAK, istri beliau / ibu P.Benawa jalurnya sama seperti di atas bersambung ke Sunan Ampel) bin Ki Ageng Pengging (menikah dgn nyai ratu Mandoko binti Sunan Kalijogo + Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar) (Sama dengan Jalur ibu Amangkurat III & IV)

IV. Amangkurat I beribukan :
a) Radin Ajeng Wetan/Kanjeng Ratu Kulon binti Tumenggung Upasanta bupati Batang bin Pangeran Mandurareja bin Ki Juru Martani bin Ki Ageng Saba bin Sunan Kidul bin Sunan Giri (mantu sunan Ampel)
b) Radin Ajeng Wetan/Kanjeng Ratu Kulon, beribukan Ratu Emas Mirahaden putri dari Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir bin Ki Ageng Pengging (menikah dgn nyai ratu Mandoko binti Sunan Kalijogo + Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar

V. Pangeran Puger beribukan :
GKR Wetan keturunan Pangeran Raden bin Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir putra dari nyai ratu Mandoko putri dari Syarifah Zainab binti Syeikh Siti Jenar

VI. Amangkurat IV beribukan :
Ratu Mas Blitar/Ratu Paku Buwana, binti Pangeran Arya Blitar IV. Bupati of Madiun 1704-1709 bin Pangeran Temenggong Blitar Tumapel III. Bupati of Madiun 1677-1703 bin Pangeran Adipati Blitar. Bupati of Madiun 1645-1677 bin Radin Mas Bagus/Kanjeng Pangeran Adipati Jumina Petak/Pangeran Blitar I (s/o Jamila). Bupati of Madiun 1601-1613 beribukan Retno Dumilah binti Pangeran Timur / Rangga Jemuna bin Sultan Trenggono bin R. Patah + Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel

Jadi nyambung k Rasul melalui Sunan Giri, Ampel dan Syeikh Siti Jenar (Adalagi ke Maulana Malik Ibrahim / Syeikh Maghribi namun jalur ini belum jelas kepastiannya & Robithoh Azmatkhan belum yakin karena menurutnya lebih ke Syeikh Maghribi namun beliau bukanlah Maulana Malik Ibrahim)

I. JALUR SUNAN GIRI - Abdul Malik Azmatkhan :
Sunan Giri @ Muhammad Ainul Yakin bin Maulana Ishak bin Ibrahim Zainuddin Akbar @ Asmarakandi bin Husain Jamaludin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan

II. JALUR SUNAN AMPEL - Abdul Malik Azmatkhan :
Sunan Ampel @ Ahmad Rahmatullah bin Ibrahim Zainuddin Akbar @ Asmarakandi bin Husain Jamaludin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan

III. JALUR SYEIKH SITI JENAR - Abdul Malik Azmatkhan :
Syeikh Siti Jenar @ Abdul Jalil bin Datuk Shaleh Cirebon bin Abdul Malik bin Husain Jamaludin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan

JALUR ABDUL MALIK KE NABI MUHAMMAD :

Abdul Malik Azmatkhan bin

Alawi (Ammil Faqih) bin

Muhammd Shahib Mirbath bin

Ali Khali' Qasam bin

Alawi bin

Muhammad bin

Alawi (Asal usul marga Ba'alawi atau Al-Alawi) bin

Abdullah / Ubaidillah bin

Ahmad Al-Muhajir Ilallah bin

Isa bin

Muhammad bin
 
Ali Al-'Uraidhi bin

Ja'far Ash-Shadiq bin

Muhammad Al-Baqir bin

Ali Zainal Abidin bin

Husain bin

Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah SAW

Minggu, 15 Januari 2012

Perjalanan Spiritul Sunan Gunung Jati

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.


DI KOMPLEKS pemakaman Gunung Sembung, sering terlihat penziarah --
perorangan atau rombongan-- dari kalangan etnis Cina. Sama dengan para saudaranya dari kalangan
Islam, umat Buddha dan Konghucu itu bertujuan menyekar pemakaman yang terletak di Desa Astana, sekitar tiga kilometer di barat kota Cirebon, Jawa Barat, itu.

Untuk mereka disediakan ''kavling'' khusus di sisi barat serambi depan kompleks pemakaman. Tentu bukan karena diskriminasi. ''Kami tak membeda-bedakan penziarah,'' kata Yusuf Amir, salah seorang juru kunci kompleks pemakaman. ''Penziarah muslim ataupun nonmuslim semuanya bisa berdoa di sini,''

Yusuf, 36 tahun, menambahkan. Pemisahan tempat semata-mata karena ritual yang berbeda. Di sayap barat itu terdapat makam Ong Tien, salah seorang istri Syarif Hidayatullah, yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Dia adalah putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming. Banyak versi tentang perjodohan mereka. Yang paling spekatakuler tentulah versi ''nujum bertuah'' Sunan Gunun Jati.

Syahdan, dalam persinggahannya di Cina, Syarif Hidayatullah menyebarkan Islam sambil berpraktek sebagai tabib. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudu dan diajak salat. Manjur, si sakit sembuh. Dalam waktu singkat, nama Syarif Hidayatullah semerbak di kota raja. Kaisar pun kemudian tertarik menjajal kesaktian ''sinse'' dari Tanah Pasundan itu.

Syarif Hidayatullah dipanggil ke istana. Sementara itu, Kaisar menyuruh putrinya yang masih gadis, Lie Ong Tien, mengganjal perutnya dengan baskom, sehingga tampak seperti hamil, kemudian duduk berdampingan dengan saudarinya yang memang sedang hamil tiga bulan. Syarif Hidayatullah disuruh menebak: mana yang bener-benar hamil.

Syarif Hidayatullah menunjuk Ong Tien. Kaisar dan para ''abdi dalem'' ketawa terkekeh. Tapi, sejurus kemudian, istana geger. Ong Tien ternyata benar-benar hamil, sedangkan kandungan saudarinya justru lenyap. Kaisar meminta maaf kepada Syarif Hidayatullah, dan memohon agar Ong Tien dinikahi.

Sejarahwan Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat menyangsikan cerita ini. Dalam disertasinya di Universitas Leiden, Belanda, 1913, yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, Hoesein terangterangan menyebutkan bahwa lawatan Syarif Hidayatullah ke negeri Cina hanya legenda.

Tentu tak semua sepakat dengan Hoesein. Meski tak menyebut-nyebut soal ''nujum'' itu, dalam buku
Sejarah Cirebon, 1990, Pangeran Soelaeman Sulendraningrat menyebutkan Syarif Hidayatullah memangpergi ke Cina. Ia sempat menetap di salah satu tempat di Yunan. Ia juga pernah diundang Kaisar Hong Gie.

Kebetulan, sekretaris kerajaan pada masa itu, Ma Huan dan Feishin, sudah memeluk Islam. Dalam
pertemuan itulah Syarif Hidayatullah dan Ong Tien saling tertarik. Kaisar tak setuju. Syarif Hidayatullah lalu dipersonanongratakan. Tapi, kecintaan Ong Tien kepada Syarif Hidayatullah sudah sangat mendalam.

Dia mendesak terus ayahnya agar diizinkan menyusul kekasihnya ke Cirebon. Setelah mendapat izin, Ong Tien bertolak ke Cirebon dengan menggunakan kapal layar kerajaan Cina. Dia dikawal Panglima Lie Guan Cang, dengan nakhoda Lie Guan Hien. Putri membawa barang-barang berharga dari Istana Kerajaan Cina, terutama berbagai barang keramik.

Barang-barang kuno ini kini masih terlihat di sekitar Keraton Kasepuhan atau Kanoman, bahkan di
kompleks pemakaman Gunung Sembung. Dari Ong Tien, Syarif Hidayatullah tak beroleh anak. Putri Cina itu keburu meninggal setelah empat tahun berumah tangga. Besar kemungkinan, sumber yang dirujuk P.S. Sulendraningrat adalah Carita Purwaka Caruban Nagari.

Naskah yang ditemukan pada l972 ini ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon pada 1720. Banyak sejarahwan menilai, kisah Syarif Hidayatullah yang ditulis dalam kitab tersebut lebih rasional dibandingkan dengan legenda yang berkembang di masyarakat. Belakangan diketahui, Pangeran Arya mendasarkan penulisannya pada Pustaka Negara Kertabumi.

Naskah yang termaktub dalam kumpulan Pustaka Wangsa Kerta itu ditulis pada 1677-1698. Naskah ini dianggap paling dekat dengan masa hidup Syarif Hidayatullah, alias Sunan Gunung Jati. Dia lahir pada 1448, wafat pada 1568, dan dimakamkan di Pasir Jati, bagian tertinggi ''Wukir Saptarengga'', kompleks makam Gunung Sembung.

Carita sering dirujuk para sejarahwan kiwari untuk menjungkirbalikkan penelitian Hoesein
Djajadiningrat, yang menyimpulkan bahwa Sunan Gunung Jati dan Faletehan sebagai orang yang sama.
Berdasarkan naskah tersebut, Sunan Gunung Jati bukan Falatehan, atawa Fatahillah. Tokoh yang lahir di Pasai, pada 1490, ini justru menantu Sunan Gunung Jati.

Tapi, apa boleh buat, pemikiran Hoesein ini berpengaruh besar dalam penulisan sejarah Indonesia. Bukubuku sejarah Indonesia, sejak zaman kolonial sampai Orde Baru, sering menyebut Fatahillah sebagai Sunan Gunung Jati. Padahal, di Gunung Sembung, Astana, masing-masing tokoh itu punya makam sendiri.
''Tak satu pun naskah asli Cirebon yang menyebutkan Sunan Gunung Jati sama dengan Fatahillah,'' kata Dadan Wildan, seperti tertulis dalam disertasinya, Cerita Sunan Gunung Jati: Keterjalinan Antara Fiksi dan Fakta - Suatu Kajian Pertalian Antarnaskah Isi, dan Analisa Sejarah dalam Naskah-Naskah Tradisi Cirebon.

Dadan berhasil meraih gelar doktor ilmu sejarah dari Universitas Padjadjaran, Bandung, September lalu. Naskah yang ditelitinya, selain Carita Purwaka Caruban Nagari, adalah Caruban Kanda (1844), Babad Cerbon (1877), Wawacan Sunan Gunung Jati, Sajarah Cirebon, dan Babad Tanah Sunda --yang ditulispertengahan abad ke-20.

Di naskah-naskah itulah bertebaran mitos kesaktian Sunan Gunung Jati, dari cincin Nabi Sulaiman
sampai jubah Nabi Muhammad SAW. Tapi, mengenai asal usul Syarif Hidayatullah, semuanya sepakat ia berdarah biru, baik dari garis ayah maupun garis ibu. Ayahnya Sultan Mesir, Syarif Abdullah. Ibunya adalah Nyai Lara Santang.

Setelah menikah, putri raja Siliwangi dan adik Pangeran Walangsungsang itu memakai nama Syarifah Mudaim. Lara Santang dan Walangsungsang memperdalam agama Islam di Cirebon, berguru pada Syekh Idlofi Mahdi yang asal Baghdad. Syekh Idlofi terkenal juga dengan sebutan Syekh Djatul Kahfi atau Syekh Nurul Jati. Setelah khatam, keduanya disuruh ke Mekkah menunaikan ibadah haji.

Di situlah, seperti dikisahkan dalam Carita Purwakan Caruban Nagari, mereka bertemu dengan Patih Kerajaan Mesir, Jamalullail. Patih ini ditugasi Sultan Mesir, Syarif Abdullah, mencari calon istri yang wajahnya mirip dengan permaisurinya yang baru meninggal. Lara Santang kebetulan mirip, lalu diboyong ke Mesir.

Walasungsang pulang ke Jawa, kemudian jadi penguasa Nagari Caruban Larang --cikal bakal kerajaan Cirebon. Sejak itu dia lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Cakrabuana. Dari perkimpoian Syarif Abdullah-Syarifah Mudaim lahir Syarif Hidayatullah, pada 1448. Dalam usia 20 tahun, Syarif Hidayatullah pergi ke Mekah untuk memperdalam pengetahuan agama.

Selama empat tahun ia berguru kepada Syekh Tajuddin Al-Kubri dan Syekh Ata'ullahi Sadzili. Kemudian ia ke Baghdad untuk belajar tasauf, lalu kembali ke negerinya. Di Mesir, oleh pamannya, Raja Onkah, Syarif Hidayatullah hendak diserahi kekuasaan. Namun Syarif menolak, dan menyerahkan kekuasaan itu kepada adiknya, Syarif Nurullah.

Syarif Hidayatullah bersama ibunya pulang ke Cirebon, dan pada l475 tiba di Nagari Caruban Larang yang diperintah pamannya, Pangeran Cakrabuana. Empat tahun kemudian Pangeran Cakrabuana mengalihkan kekuasannnya kepada Syarif Hidayatullah, setelah sebelumnya menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Ratu Pakungwati.

Untuk keperluan dakwah, Syarif Hidayatullah pada tahun itu juga menikahi Ratu Kawunganten. Dari pernikahan ini, dia dikarunia dua putra, Ratu Winahon dan Pangeran Sabangkingking. Pangeran Sabangkingking kemudian dikenal sebagai Sultan Hasanudin, dan diangkat jadi Sultan Banten. Ratu Winahon, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu Ayu, dinikahkah dengan Fachrulllah Khan, alias Faletehan.

Mengubah bokor menjadi bayi

Siapa yang tak kenal Sunan Gunung Jati, salah satu wali dari Tanah Jawa. Bahkan, Yu Wang Lo, kaisar dari negeri Cina pun penasaran dengan kehebatan Sunan Gunung Jati. Maka dipanggillah sunan ke negerinya untuk beradu kesaktian. Di hadapan sang kaisar, sunan bisa mengubah bokor menjadi seorang bayi.

Di Tanah Jawa, kesaktian Sunan Gunung Jati tak pernah diragukan lagi. Lain halnya dengan orang-orang dari negeri seberang, khususnya Cina. Bahkan sang kaisar pun, Yu Wang Lo merasa penasaran dengan nama besar sang sunan. Maka, suatu hari kaisar ingin membuktikan kesaktian sunan dengan mengundangnya ke negeri Cina.

Di depan para pembesar dan prajuritnya, kaisar menyuruh putrinya Ong Tien agak memasukkan sebuah bokor di balik bajunya. Nanti, bila Sunan Gunung Jati datang maka ia akan menyuruh sunan untuk menebak isi perut putrinya.

Setelah Sunan Gunung Jati tiba di kerajaan, ia kaget ketika diminta untuk menebak isi perut Ong Tien. Sunan merasa sedang diuji kesaktiannya. Sunan pun merasa tertantang dengan ujian tersebut. Maka, Sunan mengatakan kalau Ong Tien sedang mengandung seorang bayi.

Mendengar jawaban tersebut kaisar tertawa terbahak-bahak. Ternyata, Sunan Gunung Jati tidak sehebat yang dibayangkan. Buktinya, teka-teki yang diberikannya tak bisa dijawab dengan benar.

Namun, sepeninggalan Sunan Gunung Jati, kaisar sangat terkejut. Bokor yang ada di dalam perut Ong Tien hilang. Anehnya lagi, Ong Tien benar-benar hamil, seperti yang dikatakan oleh sunan. Keanehan itu menyebabkan putri Ong tien jatuh hati pada Sunan. Kepada ayahanda, putri Ong Tien mengungkapkan keinginannya untuk menyusul ke Jawa dan menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Setelah bertemu dengan Sunan Gunung jati, kabarnya putri itupun segera menikah. Namanya diubah menjadi Ratu Mas Rara Sumanding. Konon, bayi yang berasal dari bokor itu sempat dilahirkan, tetapi meninggal dunia. Versi lainnya mengatakan bayi itu lahir selamat dan diberi nama Raya Kemuning. Kelak, Arya Kemuning ini menjadi penguasa di Kuningan, Jawa Barat.

Sampai kini, makam putri Ong Tien yang berada di samping makam Sunan Gunung Jati tetap dikunjungi oleh para peziarah. Mereka berharap mendapatkan berkah dari tempat ini.

Selasa, 20 Desember 2011

Makam di Amparan Jati (Gunung Sembung)

Di kompleks Makan sunan Gunung Jati terdapat beberapa tingkat dan gedung yang terdiri dari beberapa makam sesuai masa para pendahulu. Di bawah ini susunan gedung dan makam yang terdapat di dalam nya:

Gedung Jinem
1. Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati
2. Tubagus Paseh/Fadillah Khan/Falatehan
3. Nyi Mas Rarasantang/Nyi Mas Syarifah Mudaim
4. Nyi Mas Khuraisin/Nyi Gede sembung
5. Nyi Mas Pakungwati/Nyi Gede Tepasari
6. Pangeran Dipati Carbon
7. Pangeran Bratakelana
8. Pangeran Pasarean
9. Ratu Mas Nyawa
10. Ratu Wanawati
11. Pangeran Dipati Ratu
12. Ratu Raja Wulung Ayu
13. Pangeran Dipati Agung
14. Ratu Raja Agung
15. Pangeran sendang Lemper
16. Putra Tubagus Paseh
17. Putra
18. Putra

Kompleks Mbah Kuwu Carbon
1. Pangeran Walangsungsang/Mbah Kuwu Carbon/Pangeran Cakrabuana
2. Sayid Abdurahman/Pangeran Panjunan
3. Sayid syarifudin/Pangeran Kejaksan
4. Puti Nio Ong Tien/Nyi Mas Rara sumanding

Kompleks Ki Gede Bungko
1. Ki Gede Sembung/Gegeden Kalisapu
2. Pangeran Tuban
3. Pangeran Sendang Jayaning Laut
4. Pangeran Puyuman/Ki gede Bungko

Kompleks Panembahan Ratu
1. Pangeran Dipati Wirasuta
2. Sultan Panembahan Ratu/Sultan II Cirebon
3. Ratu Mas Gelampok/Nyi Mas Ratu Pajang
4. Pangeran Suryamajanegara
5. Ki surapati Nenggala/Dipati Keling

Kompleks Pangeran sendang Garuda
1. Pangeran Manis/Ki Penanggapan
2. Ratu Sekarwangi
3. Pangeran Jipang
4. Ratu Sandrawati
5. Raden Pandan
6. Raden Sepet
7. Pangeran Kagok
8. Pangeran Magrib
9. Pangeran Sindang Garuda

Gedung Sultan sepuh Awal
1. Pangeran Wanaon
2. Pangeran Dipati Agung
3. Pangeran Dipati Ageng
4. Nyi Mas Ratu Sewu
5. Pengeran Dipati Permadi
6. Sultan Raja samsudin/Sultan sepuh Awal
7. Guti Ayu Wedaling Asri

Gedung Sultan Gusti
1. Pangeran Dipati Anom Ngalenggah
2. Pangeran Nata Carbon
3. Ratu Dalem Kencanawungu
4. Sultan Muhammad Badridin/Sultan Kanoman Awal

Gedung Sultan Jamaludin
1. Sultan sepuh Raja Jamaludin
2. Gusti Ayu Ratnawulan
3. Pangeran Wijayakarta
4. Pangeran Tumenggung
5. Pangeran suryaningrat
6. Pangeran Giri Pamungkas
7. Pangeran Demang
8. Pangeran Arya Carbon
9. Ratu Arya Carbon
10. Ratu Ayu Raja Widianingsih
11. Panembahan Pati Tohpati
12. Ratu Ganjarpati
13. Pangeran Giri Panata
14. Pangeran Wanatapati

Gedung Sultan Komarudin
1. Sultan Muhammad Komarudin
2. Ratu Dalem Nurul Lintang

Gedung Panembahan Anom
1. Panembahan Ratu Sesangkan
2. Nyi Mas Ratu Sesangkan
3. Panembahan Mas Carbon
4. Nyi Mas Ratih Ria
5. Nyi Mas Giri Carbon

Gedung Sultan Mandurareja
1. Pangeran Dipati Raja Kesumah
2. Sultan Muhammad Mandurareja
3. Sultan Muhammad Abusoleh Alimudin
4. Pangeran Dipati Kedaton
5. Pangeran Dipati Rama Menggala
6. Pangeran Dipati Keprabon
7. Pangeran Gusti
8. Ratu Dalem sekar Kedaton
9. Pangeran Kesumahdiningrat
10. Pangeran Werak

Gedung Gedhong Malang
1. Sultan Raja Tajul Arifin
2. Pangeran Dipati Tohpati
3. Pangeran Temenggung
4. Pangeran Sebrang
5. Pangeran Natareja
6. Nyi Mas Ratu Natareja
7. Sultan Raja Jaenudin
8. Ratu Raja Wulung Ayuntiarsih
9. Pangeran Raja Ningrat
10. Pangeran Raja Kidul
11. Ratu Raja Wulung Ayu
12. Ratu Siti Khodijah
13. Pangeran Dipati Adiwijaya
14. Ki Mudin Jamiril
15. Ki Wisesa
16. Pangeran Wijayanegara
17. Pangeran Kesumaningrat
18. Ratu Endangsari
19. Ratu Kesimpar
20. Pangeran Baureksa

Gedung Sultan Nurus
1. Pangeran Wangsa Kertayasa
2. Pangeran Dipati Rama Menggala
3. Pangeran Dipati Eyang Suwargi
4. Pangeran Dipati Nayaka
5. Ratu Dalem Rosma Kencana Furi
6. Sultan Muhammad Nurbuat
7. Sultan Muhammad Zulkarnaen
8. Ratu Dalem Raja Wulung Ayu
9. Ratu Dalem Agustina
10. Sultan Muhammad Nurus
11. Pangeran sukma Gianti

Gedung Sultan Matanghaji
1. Sultan Raja Saefudin Matanghaji
2. Gusti Ayu Kesuma ningrat
3. Pengeran Dipati Ugawa
4. Pangeran Arya Carbon
5. Pangeran selang
6. Pangeran Hadibrata

Gedung Sultan sena
1. Sultan Sena Muhammad Zaenuddin
2. Gusti Ayu Raja Ratna
3. Pangeran Dipati Rajaningrat
4. Pangeran Dipati Suryaningrat

Gedung Kadipaten
1. Ki Khotib Madlain
2. Pangeran Dipati Suryamenggala
3. Pangeran Dipati Arya Kulon
4. Pangeran Dipati Arya Kidul
5. Pangeran Sendang Blimbing
6. Pangeran Dipati Anom Carbon
7. Pangeran Dipati Wiranegara
8. Pangeran Dipati Wirasuta
9. Nyi Mas Ratu Demang
10. Nyi Mas Ratu Winaon
11. Pangerang Purabaya (ada diluar gedung)

Gedung Nyi Mas Rarakerta
1. Nyi Mas Ratu Rengsari
2. Nyi Ma Ratu Dampo
3. Nyi Mas Ratu Medangsari
4. Nyi Mas Ratu Rarakerta
5. Nyi Mas Ratu Pamuji
6. Nyi MasRatu Kirana
7. Pangeran Dipati Awangga (ada diluar gedung)

Kompleks Nyi Gede Babadan
1. Pangeran Jakalelana
2. Pangeran Sukmalelana
3. Nyi Gede Babadan/Nyi Mas Selangkring
4. Nyi Mas Tanjungsari

Gedung Sultan Raja suleman
1. Pangeran Dipati Natahing Carbon
2. Pangeran Adiwinata
3. Pangeran Dipati Ragahingsukma
4. Ratu Raja Wulandari
5. Ratu Kencana
6. Sultan Sepuh Raja suleman
7. Sultan Sepuh Raja Hasanudin
8. Sultan Sepuh Raja samsudin
9. Sultan Sepuh Raja Ningrat
10. Sultan Sepuh Raja Jamaludin Aluda
11. Sultan Sepuh Rajaningrat
12. Ratu Ratna sawiji
13. Ratu Rata Kesumaning Ayu
14. Pangeran Diupati suryanegara
15. Pangeran Angkawijaya
16. Pangeran Antasena
17. Pangeran Ngalaga
18. Pangeran Wisnu Hain
19. Ratu Raja Wulangkencana
20 Ratu Raja Antarwulan

Nama-nama Pintu bagian dalem urutan dari atas
1. Pintu Gusti
2. Pintu Bachem
3. Pintu Kacha
4. Pintu soko
5. Pintu Pandan
6. Pintu Gandok
7. Pintu Pesujudan (tempat para penziarah umum)
8. Pintu Dalem Keraton
9. Pintu Beling
10. Pintu Penganten

Beberpa pintu lain nya yg terletak di komplek Makam
1. Pintu Terathe (Terletak di Makam Nyi Putri Cina)
2. Pintu Kanoman (Terletak di dekat sumur Kanoman)
3. Pintu Mregu (terletak di tempat orang Cina berziarah)
4. Pintu Krapyak (Terletak di tempat Kraman)
5. Pintu Panglubar (Pintu pertama tamu masuk/Alun-alun)

Tulisan Arab gundul berbahasa Cirebon yang terdapat di setiap pilar di kompleks Makam sunan Gunung Jati Cirebon antara lain:

"setuhune iku menusa njaluka karo pangerane kelawan madep tur khusyu, pangerane arep nyumbadani iku panjaluke manusae kelawan ngilmu kang den lakoni...."

Rabu, 14 Desember 2011

Kitab Negara Kertagama (terjemahan)

Om awignam astu namas sidam"
Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah telapak kaki sang pelindung jagat.
Raja yang senantiasa tenang tenggelam dalam samadi, raja segala raja, pelindung orang miskin, mengatur segala isi negara.
Sang dewa-raja, lebih diagungkan dari yang segala manusia, dewa yang tampak di atas tanah.
Merata, serta mengatasi segala rakyatnya, nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi.
Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.

Demikianlah pujian pujangga sebelum menggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasa Nagara, raja Wilwatikta yang sedang memegang tampuk tahta.
Bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua.
Tunduk setia segenap bumi Jawa bahkan seluruh nusantara.
Pada tahun 1256 Saka, beliau lahir untuk jadi pemimpin dunia.
Selama dalam kandungan di Kahuripan telah tampak tanda keluhuran.
Bumi gonjang-ganjing, asap mengepul-ngepul, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar.
Gunung Kelud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara.
Itulah tanda bahwa Sanghyang Siwa sedang menjelma bagai raja besar.
Terbukti, selama bertakhta seluruh tanah Jawa tunduk menadah perintahnya.
Wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian.
Durjana berhenti berbuat jahat takut akan keberanian Sri Nata.
Sang Sri Padukapatni yang ternama adalah nenek Sri Paduka.
Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya.
Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda.
Tahun 1272 kembali beliau ke Budaloka.
Ketika Sri Padukapatni pulang ke Jinapada dunia berkabung.
Kembali gembira bersembah bakti semenjak Sri Paduka mendaki takhta.
Girang ibunda Tri Buwana Wijaya Tungga Dewi mengemban takhta bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendraputra.
Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Padukapatni.
Setia mengikuti ajaran Buda, menyekar yang telah mangkat.
Ayahanda Sri Paduka Prabu ialah Prabu Kerta Wardana.
Keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian praja.
Paduka Prabu Kerta Wardana bersemayam di Singasari.
Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama.
Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara.
Mahir mengemudikan perdata bijak dalam segala kerja.
Putri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan.
Bertakhta di Daha, cantik tak bertara, bersandar enam guna.
Adalah bibi Sri Paduka, adik maharani di Jiwana.
Rani Daha dan rani Jiwana bagai bidadari kembar.

Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker.
Rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana.
Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama.
Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.
Adinda Sri Paduka Prabu di Wilwatikta :
Putri jelita bersemayam di Lasem.
Putri jelita Daha cantik ternama. Indudewi putri Wijayarajasa.
Dan lagi putri bungsu Kerta Wardana.
Bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara.
Putri Sri Baginda Jiwana yang mashur.
Terkenal sebagai adinda Sri Paduka.
Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana.
Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun.
Bergelar Rajasa Wardana sangat bagus lagi putus dalam daya raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
Sri Singa Wardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang.
Mulia pernikahannya laksana Sanatkumara dan dewi Ida.
Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
Bre Lasem menurunkan putri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri Pangeran Wirabumi.
Rani Pajang menurunkan Bre Mataram Sri Wikrama Wardana bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.

Putri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan.
Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana lukisan.
Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara.
Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Srinata.
Melambung kidung merdu pujian Sang Prabu, beliau membunuh musuh-musuh.
Bak matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa.
Girang janma utama bagai bunga kalpika, musnah durjana bagai kumuda.
Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air.
Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi.
Menghukum penjahat bagai dewa Yama, menimbun harta bagaikan Waruna.
Para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu.
Menjaga pura sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan.
Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura.
Semua para putri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih.
Namun sang permaisuri, keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan Sri Paduka.

Berputralah beliau putri mahkota Kusuma Wardani, sangat cantik rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan.
Sang menantu Sri Wikrama Wardana memegang hakim perdata seluruh negara.
Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.
Tersebut keajaiban kota : tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura.
Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit.
Pohon brahmastana berkaki bodi berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam.
Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.
Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir.
Di sebelah timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu putih-putih mengkilat.
Di bagian utara, di selatan pekan rumah berjejal jauh memanjang sangat indah.

Di selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah, bagian utara paseban pujangga dan Mahamantri Agung. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda yang bertugas membahas upacara.
Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa.
Di selatan tempat tinggal wipra utama tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat, di utara tempat Buda bersusun tiga.
Puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban.
Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga lebat.
Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira.
Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
Di dalam di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua.

Dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri.
Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela.
Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.
Inilah para penghadap : pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang, Nyu Gading Jenggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama.
Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang, Jayagung dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan dan banyak lagi.
Begini keindahan lapangan watangan luas bagaikan tak berbatas.
Mahamantri Agung, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua.
Di sebelah utara pintu istana di selatan satria dan pujangga.
Di bagian barat : beberapa balai memanjang sampai mercudesa.

Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga.
Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai.
Tempat tinggal abdi Sri Baginda Paguhan bertugas menghadap.
Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri.
Rata dan luas dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias.
Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan itulah balai tempat terima tatamu Srinata di Wilwatikta.
Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana : Wredamentri, tanda Mahamantri Agung, pasangguhan dengan pengiring Sang Panca Wilwatikta : mapatih, demung, kanuruhan, rangga.
Tumenggung lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan.

Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh.
Jika datang berkumpul di kepatihan seluruh negara lima Mahamantri Agung, utama yang mengawal urusan negara.
Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana.
Begitu juga dua darmadyaksa dan tujuh pembantunya.
Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.
Itulah penghadap balai witana, tempat takhta yang terhias serba bergas.
Pantangan masuk ke dalam istana timur agak jauh dan pintu pertama.
Ke Istana Selatan, tempat Singa Wardana, permaisuri, putra dan putrinya.
Ke Istana Utara. tempat Kerta Wardana.
Ketiganya bagai kahyangan semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni Cakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan.
Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang menarik perhatian.
Bunga tanjung kesara, campaka dan lain-lainnya terpencar di halaman.
Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng.
Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja.
Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka.
Barat tempat para arya Mahamantri Agung dan sanak-kadang adiraja.

Di timur tersekat lapangan menjulang istana ajaib.
Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci.
Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem.
Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.
Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi.
Di situ menetap patih Daha, adinda Sri Paduka di Wengker.
Batara Narpati, termashur sebagai tulang punggung praja.
Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada.
Mahamantri Agung wira, bijaksana, setia bakti kepada negara.
Fasih bicara, teguh tangkas, tenang, tegas, cerdik lagi jujur.
Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara.
Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus.
Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buda.
Terlangkahi rumah para Mahamantri Agung, para arya dan satria.
Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang.
Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama.
Negara-negara di nusantara dengan Daha bagai pemuka.
Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.

Kemudian akan diperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu: Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya.
Pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara perlak dan padang Lawas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus.
Itulah terutama negara-negara Melayu yang telah tunduk. Negara-negara di pulau Tanjungnegara : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.
Kadandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune, Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.

Di Hujung Medini, Pahang yang disebut paling dahulu.
Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah.
Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo Sang Hyang Api, Bima. Seram, Hutan Kendali sekaligus.
Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah.
Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya.
Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk.
Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.
Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor dan beberapa lagi pulau-pulau lain.
Berikutnya inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan Siam dengan Ayodyapura, begitu pun Darmanagari Marutma.
Rajapura begitu juga Singasagari Campa, Kamboja dan Yawana ialah negara sahabat.

Pulau Madura tidak dipandang negara asing.
Karena sejak dahulu menjadi satu dengan Jawa.
Konon dahulu Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
Semenjak nusantara menadah perintah Sri Paduka, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti.
Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan.
Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.
Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara.
Dilarang mengabaikan urusan negara dan mengejar untung.
Seyogyanya, jika mengemban perintah ke mana juga, harus menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.
Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata dalam perjalanan mengemban perintah Sri Baginda, dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa.
Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.

Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun dan Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan.
Bahkan menurut kabaran begawan Empu Barada, serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.
Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat melakukan persajian seperti perintah Sri Nata.
Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.
Semua negara yang tunduk setia menganut perintah.
Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa.
Tapi yang membangkang, melanggar perintah dibinasakan pimpinan angkatan laut yang telah mashur lagi berjasa.
Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara.
Di Sri Palatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia.
Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega.
Wipra pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.
Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama.
Lepas dari segala duka mengenyam hidup penuh segala kenikmatan.
Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Jenggala Kediri.
Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.
Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Sri Paduka.

Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura.
Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan.
Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.
Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling.
Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura.
Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan.
Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima.
Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati.
Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai.

Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan lingga hingga desa Bangin.
Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.
Pada tahun 1275 Saka, Sang Prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring.
Tahun 1276 ke Lasem, melintasi pantai samudra.
Tahun 1279, ke laut selatan menembus hutan.
Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman.
Tahun 1281 di Badrapada bulan tambah.
Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang.
Naik kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi Mahamantri Agung, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.

Juga yang menyamar, Empu Prapanca, girang turut mengiring paduka Maharaja.
Tak tersangkal girang sang kawi, putra pujangga, juga pencinta kakawin.
Dipilih Sri Paduka sebagai pembesar kebudaan mengganti sang ayah.
Semua pendeta Buda ramai membicarakan tingkah lakunya dulu.
Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja berkata, berdamping, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga.
Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah.
Karya kakawin, begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah.
Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci.

Ratnapangkaja serta Kuti, Haji, Pangkaja memanjang bersambung-sambungan.
Mandala Panjrak, Pongglang serta Jingan.
Kuwu, Hanyar letaknya di tepi jalan.
Habis berkunjung pada candi pasareyan Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai.
Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya.
Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.
Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak.
Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit.
Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki.
Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya.
Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap mentri lain lambangnya.
Rakrian sang Mahamantri Agung Patih Amangkubumi penata kerajaan.
Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.
Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari.
Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih.
Kendaraan Sri Nata paha bergambar Dahakusuma mas mengkilat.
Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.
Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah mala.
Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar meran indah.
Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi.
Ringkasnya para wanita berkereta merah berjalan paling muka.

Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang.
Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap.
Rapat rampak prajurit pengiring Jenggala Kediri, Panglarang, Sedah Bayangkari gemruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.
Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur, Sri Nata ingin rehat.
Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi kerabat.
Larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Paduka lalu. Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.

Dukuh sepi kebudaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang.
Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung.
Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya.
Puas sang darmadyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.

Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda.
Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam Sri Paduka memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah.
Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.
Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam.
Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes, Times.
Serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemak-lembut.
Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah.
Tanahnya anugerah Sri Paduka kepada Gajah Mada, teratur rapi.
Di situlah Sri Paduka menempati pasanggrahan yang tehias sangat bergas.
Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi bakti.

Sampai di desa Kasogatan, Sri Paduka dijamu makan minum.
Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We, Petang.
Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap. Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul.
Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan.
Itulah empat belas desa Kasogatan yang berakuwu.
Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.
Fajar menyingsing, berangkat lagi Sri Paduka melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran.
Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan.
Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang.
Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.

Di Dampar dan Patunjungan Sri Paduka bercengkerama menyisir tepi lautan.
Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintasi kereta.
Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga.
Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan.
Danau ditinggalkan menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan.
Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala.
Seperti juga Patunjungan, akibat perang belum kembali ke asrama.
Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan.
Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut.
Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut.
Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan lalu bermalam lagi.
Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam.

Malam berganti malam, Sri Paduka pesiar menikmati alam Sarampuan.
Sepeninggal-nya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai.
Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hujan.
Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan.
Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, lerus menuju Tumbu dan Habet.
Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Sri Paduka.
Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya.
Melalui Doni Bontong. Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang.
Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.
Lalu berangkat lagi ke Pakembangan.
Di situ bermalam, segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya.
Yang segera dituruni sampai jurang. Dari pantai ke utara sepanjang jalan.
Sangat sempit sukar amat dijalani. Lumutnya licin akibat kena hujan. Banyak kereta rusak sebab berlanggar.

Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan.
Dan Bangkong dua desa tanpa cerita terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat.
Lainnya bergegas berebucalan menuju Surabasa.
Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang.
Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan.
Perjalanan membelok ke utara melintas Turayan.
Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.
Panjang lamun dikisahkan kelakuan para mentri dan abdi.
Beramai-ramai Sri Paduka telah sampai di desa Patukangan.
Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Sri Baginda.
Semua Mahamantri Agung mancanagara hadir di pakuwuan.
Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap.
Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama.
Panji Siwa dan Panji Buda faham hukum dan putus sastera.
Sang adipati Suradikara memimpin upacara sambutan.

Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan.
Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan.
Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan.
Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau.
Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh ombak.
Itulah buatan sang arya bagai persiapan menyambut raja.
Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari Sri Paduka mendekati permaisuri seperti dewa-dewi.
Para putri laksana apsari turun dari kahyangan.
Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran cengang.
Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan.
Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk.
Menari topeng. bergumul, bergulat, membuat orang kagum.
Sungguh beliau dewa menjelma sedang mengedari dunia.
Selama kunjungan di desa Patukangan Para Mahamantri Agung dari Bali dan Madura.

Dari Balumbung, kepercayaan Sri Paduka Mahamantri Agung seluruh Jawa Timur berkumpul.
Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah.
Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing.
Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun.
Para penonton tercengang-cengang memandang.
Tersebut keesokan hari pagi-pagi.
Sri Paduka keluar di tengah-tengah rakyat.
Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta membuat gembira rakyat.
Hanya pujangga yang menyamar Empu Prapanca sedih tanpa upama Berkabung kehilangan kawan kawi-Buda Panji Kertayasa.
Teman bersuka-ria, ternan karib dalam upacara gama.
Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah arya megah.
Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga.
Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat.
Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah.
Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta. Melewati Tal Tunggal, Halalang panjang. Pacaran dan Bungatan Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu beralam.
Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Tersebut perjalanan Sri Baginda ke arah barat.
Segera sampai Keta dan tinggal di sana lima hari.
Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang.
Tidak lupa menghirup kesenangan lain sehingga puas.
Atas perintah sang arya semua Mahamantri Agung menghadap.
Wiraprana bagai kepala upapati Siwa-Buda.
Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang.
Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.
Keta telah ditinggalkan.
Jumlah pengiring malah bertambah.
Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora.
Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan.
Sampai di Kalayu Sri Paduka berhenti ingin menyekar.
Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan.
Tempat candi pasareyan sanak kadang Sri Paduka Prabu.

Penyekaran di pasareyan dilakukan dengan sangat hormat.
"Memegat sigi" nama upacara penyekaran itu.
Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama.
Para patih mengarak Sri Paduka menuju paseban.
Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.
Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan.
Mengunjungi desa-desa disekitarnya genap lengkap.
Beberapa malam lamanya berlumba dalam kesukaan.
Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.
Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan.
Melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam.
Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala.
Candinya Buda menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
Perjamuan Tumenggung Empu Nala jauh dari cela.
Tidak diuraikan betapa lahap Sri Baginda bersantap.
Paginya berangkat lagi ke Halses, Berurang, Patunjungan.
Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.

Segera Sri Paduka sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari.
Di tanah lapang sebelah selatan candi Buda beliau memasang tenda.
Dipimpin Arya Sujanotama para mantri dan pendeta datang menghadap.
Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.
Berangkat dari situ Sri Paduka menuju asrama di rimba Sagara.
Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh.
Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama Sagara.
Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.
Sang pujangga Empu Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap.
Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka.
Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta.
Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.
Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat.
Suka cita Empu Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cinta. Di atas tiap atap terpahat ucapan seloka yang disertai nama Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samar-samar, menggirangkan.
Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi.
Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi selokan Andung, karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya.
Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu rindu pandangan.
Tiada sampailah kata meraih keindahan asrama yang gaib dan ajaib.
Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib.
Semua para pertapa, wanita dan priya, tua muda nampaknya bijak.
Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Habis berkeliling asrama, Sri Paduka lalu dijamu.
Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap resap.
Segala santapan yang tersedia dalam pertapan.
Sri Paduka membalas harta. membuat mereka gembira.
Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan.
Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan.
Akhirnya cengkerma ke taman penuh dengan kesukaan Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.
Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat.
Pandang sayang yang ditinggal mengikuti langkah yang pergi.
Bahkan yang masih remaja putri sengaja merenung.
Batinnya : dewa asmara turun untuk datang menggoda. Sri Paduka berangkat, asrama tinggal berkabung.
Bambu menutup mata sedih melepas selubung.
Sirih menangis merintih, ayam raga menjerit.
Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.
Kereta lari cepat, karena jalan menurun.
Melintasi rumah dan sawah di tepi jalan.
Segera sampai Arya, menginap satu malam.
Paginya ke utara menuju desa Ganding.
Para mentri mancanegara dikepalai Singadikara, serta pendeta Siwa-Buda.

Membawa santapan sedap dengan upacara.
Gembira dibalas Sri Paduka dengan mas dan kain.
Agak lama berhenti seraya istirahat.
Mengunjungi para penduduk segenap desa.
Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.
Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan.
Menganut jalan raya kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan.
Segera Sri Paduka menuju kota Singasari bermalam di balai kota.
Empu Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan. Ingin terus melancong menuju asrama. Indarbaru yang letaknya di daerah desa.
Hujung Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama. Lempengan Serat Kekancingan pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.
Isi Serat Kekancingan : tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara.
Begitupula sebagian Markaman, ladang Balunghura, sawah Hujung Isi Serat Kekancingan membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura.
Bila telah habis kerja di pura, ingin ia menyingkir ke Indarbaru.
Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari.
Habis menyekar di candi makam, Sri Paduka mengumbar nafsu kesukaan.
Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pada subakala Sri Paduka berangkat ke selatan menuju Kagenengan.
Akan berbakti kepada pasareyan batara bersama segala pengiringnya Harta. perlengkapan. makanan. dan bunga mengikuti jalannya kendaraan.
Didahului kibaran bendera,sdisambut sorak-sorai dari penonton.
Habis penyekaran, Baginda keluar dikerumuni segenap rakyat.
Pendeta Siwa-Buda dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau.
Tidak diceritakan betapa rahap Sri Paduka bersantap sehingga puas.
Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.
Tersebut keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara.

Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar.
Di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya.
Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.
Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah.
Seperti gunung Meru dengan arca Batara Siwa di dalamnya.
Karena Girinata putra disembah bagai dewa batara.
Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
Sebelah selatan candi pasareyan ada candi sunyi terbengkalai.
Tembok serta pintunya yang masih berdiri, berciri kasogatan lantai di dalam.
Hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur.
Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.
Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata.
Terpencar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman.
Di luar gapura pabaktan luhur, tapi telah longsor tanahnya.
Halamannya luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut laksana wanita sakit merana lukisannya lesu-pucat.
Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung.
Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu.

Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.
Sedih mata yang memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya.
Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk.
Beliau mashur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagad.
Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan batara.
Tersebut lagi, paginya Sri Paduka berkunjung ke candi Kidal.
Sesudah menyembah batara, larut hari berangkat ke Jajago.
Habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan.
Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.
Keindahan Bureng : telaga bergumpal airnya jernih.
Kebiru-biruan, di tengahnya candi karang bermekala.
Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga.
Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.
Terlewati keindahannya, berganti cerita narpati.
Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi.

Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang.
Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa.
Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan.
Sang pujangga singgah di rumah pendeta Buda, sarjana.
Pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi.
Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan.
Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan mashur.
Meski sempurna dalam karya, jauh dari tingkah tekebur.
Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsafannya.
Tamu diterima dengan girang dan ditegur : "Wahai orang bahagia, pujangga besar pengiring raja, pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih.
Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?"
Maksud kedatangannya: ingin tahu sejarah leluhur para raja yang dicandikan, masih selalu dihadap.
Ceriterakanlah mulai dengan Batara Kagenengan.
Ceriterakan sejarahnya jadi putra Girinata.

Paduka Empuku menjawab : "Rakawi maksud paduka sungguh merayu hati.
Sungguh paduka pujangga lepas budi.
Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup. Izinkan saya akan segera mulai.
Cita disucikan dengan air sendang tujuh".
Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur. Semoga rakawi bersifat pengampun.
Di antara kata mungkin terselib salah. Harap percaya kepada orang tua. Kurang atau lebih janganlah dicela.
Pada tahun 1104 Saka ada raja perwira yuda Putra Girinata, konon kabarnya lahir di dunia tanpa ibu.
Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti.
Sri Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur.
Di situlah tempat putra Sang Girinata menunaikan darmanya.
Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, ibukota negara bernama Kotaraja, penduduknya sangat terganggu.
Tahun 1144 Saka, beliau melawan raja Kediri Sang Adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa.
Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil.
Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
Setelah kalah Narpati Kediri, Jawa di dalam ketakutan.
Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah.
Bersatu Jenggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti.
Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa.
Makin bertambah besar kuasa dan megah putra sang Girinata.
Terjamin keselatamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya.
Tahun 1149 Saka beliau kembali ke Siwapada.
Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buda.

Batara Anusapati putra Sri Paduka, berganti dalam kekuasaan.
Selama pemerintahannya. tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti.
Tahun 1170 Saka beliau pulang ke Siwaloka.
Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi pasareyan Kidal.
Batara Wisnu Wardana, putra Sri Paduka, berganti dalam kekuasaan.
Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah negara Beliau memusnahkan perusuh Linggapati serta segenap pengikutnya.
Takut semua musuh kepada beliau sungguh titisan Siwa di bumi.
Tahun 1176 Saka, Batara Wisnu menobatkan putranya.
Segenap rakyat Kediri Jenggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia.
Prabu Kerta Negara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya.
Daerah Kotaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari.
Tahun 1192, Raja Wisnu berpulang. Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Buda.
Sementara itu Batara Nara Singa Murti pun pulang ke Surapada.
Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa mahadewa.
Tersebut Sri Paduka Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat.
Bernama Cayaraja, gugur pada tahun Saka 1192.
Tahun 1197 Saka, Sri Paduka menyuruh tundukkan Melayu.
Berharap Melayu takut kedewaan beliau tunduk begitu sahaja.

Tahun 1202 Saka, Sri Paduka Prabu memberantas penjahat Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara.
Tahun 1206 Saka, mengirim utusan menghancurkan Bali.
Setelah kalah rajanya menghadap Sri Paduka sebagai orang tawanan.
Demikianlah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Sri Paduka.
Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau.
Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan.
Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.
Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Sri Paduka waspada, tawakal dan bijak.
Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali.
Karenanya tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Buda.
Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Menurut kabar sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara.
Tahun 1209 Saka, beliau pulang ke Budaloka.
Sepeninggalnya datang zaman Kali, dunia murka, timbul huru hara.
Hanya batara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagad.
Itulah sebabnya Sri Paduka teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni.
Teguh tawakal memegang Pancasila, laku utama, upacara suci Gelaran Jina beliau yang sangat mashur ialah Sri Jnanabadreswara.
Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.
Berlumba-lumba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan.
Pertama-tama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati.

Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja.
Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.
Di antara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau.
Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama.
Itulah sebabnya beliau turun-temurun menjadi raja pelindung.
Tahun 1214 Saka, Sri Paduka pulang ke Jinalaya.
Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama.
Beliau diberi gelaran : Yang Mulia bersemayam di alam Siwa-Buda.
Di pasareyan beliau bertegak arca Siwa-Buda terlampau indah permai. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan.
Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan arca Sri Bajradewi.
Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan negara Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Tatkala Sri Paduka Kertanagara pulang ke Budabuana.
Merata takut, duka, huru hara, laksana zaman Kali kembali.
Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat berkhianat, karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.
Tahun 1144 Saka, itulah sirnanya raja Kertajaya atas perintah Siwaputra Jayasaba berganti jadi raja.
Tahun Saka 1180, Sastrajaya raja Kediri.
Tahun 1193, Jayakatwang raja terakhir.
Semua raja berbakti kepada cucu putra Girinata.
Segenap pulau tunduk kepada kuasa Prabu Kerta Negara.
Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka.
Ternyata damai tak baka akibat bahaya anak piara Kali.
Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar.
Lalu ditundukkan putra Sri Paduka, ketenterarnan kembali.
Sang menantu Raden Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia Bersekutu dengan bangsa Tartar, menyerang melebur Jayakatwang.

Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang cemerlang kembali.
Tahun 1216 Saka, Raden Wijaya menjadi raja.
Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh.
Bergelar Sri Baginda Kerta Rajasa Jaya Wardana.
Selama Kerta Rajasa Jaya Wardana duduk di takhta, seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah.
Girang memandang pasangan Sri Paduka empat jumlahnya. Putri Kertanagara cantik-cantik bagai bidadari. Sang Parameswari Tri Buwana yang sulung, luput dari cela.
Lalu parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara Prajnya Paramita Jayendra Dewi, cantik manis menawan hati.

Gayatri, yang bungsu, paling terkasih digelari Rajapatni.
Pernikahan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga.
Karena Batara Wisnu dengan Batara Nara Singa Murti.
Akrab tingkat pertama, Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Buda. Dyah Lembu Tal itulah bapa Sri Baginda. Dalam hidup atut runtut sepakat sehati.
Setitah raja diturut, menggirangkan pandang.
Tingkah laku mereka semua meresapkan.
Tersebut tahun Saka 1217, Sri Paduka menobatkan putranya di Kediri.
Perwira, bijak, pandai, putra Indreswari. Bergelar Sri Paduka putra Jayanagara.
Tahun Saka 1231, Sang Prabu mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama pasareyan beliau.
Dan di pasareyan Simping ditegakkan arca Siwa.

Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta.
Dan dua orang putri keturunan Rajapatni, terlalu cantik.
Bagai dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari.
Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani Daha.
Tersebut pada tahun Saka 1238, bulan Madu Sri Paduka Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh.
Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan.
Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Paduka.
Tahun Saka 1250, beliau berpulang.
Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama.
Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah.
Di Sukalila terpahat arca Buda sebagai jelmaan Amogasidi.

Tahun Saka 1256, Rani Jiwana Wijaya Tungga Dewi bergilir mendaki takhta Wilwatikta. Didampingi raja putra Singasari atas perintah ibunda Rajapatni.
Sumber bahagia dan pangkal kuasa.
Beliau jadi pengemban dan pengawas raja muda, Sri Paduka Wilwatikta.
Tahun Saka 1253 sirna musuh di Sadeng, Keta diserang.
Selama bertakhta, semua terserah kepada Mahamantri agung bijak, Mada namanya. Tahun Saka 1265, raja Bali yang alpa dan rendah budi diperangi, gugur bersama balanya. Menjauh segala yang jahat, tenteram".

Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah.
Sungguh dan mengharukan ujar Sang Kaki.
Jelas keunggulan Sri Paduka di dunia.
Dewa asalnya, titisan Girinata.
Barang siapa mendengar kisah raja.
Tak puas hatinya, bertambah baktinya.
Pasti takut melakukan tindak jahat.
Menjauhkan diri dari tindak durhaka.
Paduka Empu minta maaf berkata : "Hingga sekian kataku, sang rakawi.
Semoga bertambah pengetahuanmu.
Bagai buahnya, gubahlah puja sastra".

Habis jamuan rakawi dengan sopan.
Minta diri kembali ke Singasari.
Hari surut sampai pesanggrahan lagi.
Paginya berangkat menghadap Sri Paduka.
Tersebut Sri Paduka Prabu berangkat berburu.
Lengkap dengan senjata, kuda dan kereta.
Dengan bala ke hutan Alaspati, rimba belantara rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.
Bala bulat beredar membuat lingkaran. Segera siap kereta berderet rapat.
Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit burung ribut beterbangan berebut dulu. Bergabung sorak orang berseru den membakar.
Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur.
Api tinggi menyala menjilat udara.
Seperti waktu hutan Alaspati terbakar.
Lihat rusa-rusa lari lupa daratan.
Bingung berebut dahulu dalam rombongan.
Takut miris menyebar, ingin lekas lari.
Malah manengah berkumpul tumpuk timbun.
Banyaknya bagai banteng di dalam Gobajra Penuh sesak, bagai lembu di Wresabapura Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci.
Biawak, kucing, kera, badak dan lainnya. Tertangkap segala binatang dalam hutan. Tak ada yang menentang, semua bersatu. Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh. Berunding dengan singa sebagai ketua.

Izinkanlah saya bertanya kepada raja satwa.
Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat?
Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari.
Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?
Seolah-olah demikian kata srigala dalam rapat.
Kijang menjawab : "Hemat patik tidak ada jalan lain kecuali lari.
Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin".
Kaswari, rusa dan kelinci setuju.
Banteng berkata : "Amboi! Celaka kijang, sungguh binatang hina lemah.
Bukanlah sifat perwira lari, atau menanti mati.
Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban." Kerbau, lembu serta harimau setuju dengan pendapat ini.
Jawab singa : "Usulmu berdua memang pantas diturut, Bung.
Tapi harap dibedakan, yang dihadapi baik atau buruk.
Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan.
Karena sia-sia belaka, jika mati terbunuh olehnya.
Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Buda.
Seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta.
Jika menghadapi raja berburu, tunggu mati saja.
Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.
Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk.
Sebagai titisan Batara Siwa berupa narpati.
Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau.
Lebih utama dari pada terjun ke dalam telaga.
Siapa di antara sesama akan jadi musuhku?
Kepada tripaksa aku takut, lebih utama menjauh.
Niatku, jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup.
Mati olehnya, tak akan lahir lagi bagai binatang.

Bagaikan katanya: "Marilah berkumpul!" Kemudian serentak maju berdesak.
Prajurit darat yang terlanjur langkahnya.
Tertahan tanduk satwa, lari kembali. Tersebutlah prajurit berkuda.
Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul. Kasihan! Beberapa mati terbunuh.
Dengan anaknya dirayah tak berdaya.
Lihatlah celeng jalang maju menerjang. Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah. Buas membekos-bekos, matanya merah. Liar dahsyat, saingnya seruncing golok.
Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru-menyeru.

Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya.
Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap. Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.
Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing. Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun.
Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang. Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.
Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun. Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak.
Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!
Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta. Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak. Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh. Lari terburu, terkejar, yang terbunuh bertumpuk timbun.
Ada pendeta Siwa-Buda yang turut menombak, mengejar. Disengau harimau, lari diburu binatang mengancam. Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila. Turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.

Tersebut Sri Paduka telah mengendarai kereta kencana. Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya, menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan.
Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai. Celeng. kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan.
Sri Paduka berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai.
Mahamantri Agung, tanda dan pujangga di punggung kuda turut memburu binatang jatuh terbunuh tertombak, terpotong. tertusuk, tertikam.
Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut di bawah terang. Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda.
Puaslah hati Sri Paduka sambil bersantap dihadap pendeta. Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.
Terlangkahi betapa narpati sambil berburu menyerap sari keindahan gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan.

Membawa wanita seperti cengkeraman, di hutan bagai menggempur, negara tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa.
Tersebut beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura.
Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan.
Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai di situ perjalanan beliau.
Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Balanak menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam Kembal! ke selatan, ke barat, menuju Jejawar di kaki gunung berapi.
Disambut penoton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi makam.
Adanya candi pasareyan tersebut sudah sejak zaman dahulu.
Didirikan oleh Sri Kertanagara, moyang Sri Paduka Prabu.
Di situ hanya jenazah beliau sahaja yang dimakamkan.
Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Buda.
Bentuk candi berkaki Siwa berpuncak Buda, sangat tinggi.
Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai.
Dan arca Maha Aksobya bermahkota tinggi tidak bertara.
Namun telah hilang, memang sudah layak, tempatnya: di Nirwana.

Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang, ada pada Sri Paduka guru besar, mashur.
Pada Paduka putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni Telah terbukti bagai mahapendeta terpundi sasantri.
Senang berziarah ke tempat suci, bermalam dalam candi.
Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah.
Menimbul-kan iri di dalam hati pengawas candi suci.
Ditanya mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.
Pada Paduka menjelaskan sejarah candi pasareyan suci.
Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas.
Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti.
Kecewa! tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.
Tahun Saka 1253 itu hilangnya arca.
Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam.

Benarlah kabuan pendeta besar bebas dari prasangka.
Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?.
Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surga turun.
Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai.
Hiasan di dalamnya naga puspa yang sedang berbunga.
Di sisinya lukisan putri istana berseri-seri.
Sementara Sri Paduka girang cengkerma menyerap pemandangan.
Pakis berserak sebar di tengah tebat bagai bulu dada.
Ke timur arahnya di bawah terik matahari Sri Paduka.
Meninggalkan candi Pekalongan girang ikut jurang curam.
Tersebut dari Jajawa Sri Paduka berangkat ke desa padameyan.
Berhenti di Cunggrang, mencahari pemandangan, masuk hutan rindang.
Ke arah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang.
Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.

Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap.
Ke barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu.
Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.
Pukul tiga itulah waktu Sri Paduka bersantap bersama-sama.
Paling muka duduk Sri Paduka lalu dua paman berturut tingkat raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan.
Di sisi Sri Paduka, terlangkahi berapa lamanya bersantap.
Paginya pasukan kereta Sri Paduka berangkat lagi.
Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring.
Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang.
Dijamu sekadarnya, karena kunjungannya mendadak.
Banasara dan Sangkan Adoh tesah lama dilalui.
Pukul dua Sri Paduka telah sampai di perbatasan kota Sepanajng jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati. Kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan. Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka. Di belakangnya tidak jauh, berikut Narpati Lasom.

Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang. Rani Daha, rani Wengker semuanya urut belakang.
Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring.
Bagai penutup kereta Sri Paduka serombongan besar.
Diiring beberapa ribu perwira dan para mentri.
Tersebut orang yang rapat rampak menambak tepi jalan Berjejal ribut menanti kereta Sri Paduka berlintas.
Tergopoh-gopoh wanita ke pintu berebut tempat.
Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk kainnya.
Yang jauh tempatnya, memanjat kekayu berebut tinggi.
Duduk berdesak-desak di dahan, tak pandang tua muda.
Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning.
Lupa malu dilihat orang, karena tepekur memandang.
Gemuruh dengung gong menampung Sri Paduka Prabu datang.
Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan.
Setelah raja lalu berarak pengiring di belakang.
Gajah. kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Yang berjalan rampak berarak-arak.
Barisan pikulan bejalan belakang.
Lada, kesumba, kapas, buah kelapa.
Buah pinang, asam dan wijen terpikul.
Di belakangnya pemikul barang berat.
Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan.
Kanan menuntun kirik dan kiri genjik.
Dengan ayam itik di keranjang merunduk.
Jenis barang terkumpul dalam pikulan.
Buah kecubung, rebung, seludang, cempaluk.
Nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk.
Gelaknya seperti hujan panah jatuh.
Tersebut Sri Paduka telah masuk pura.
Semua bubar ke rumah masing-masing.
Ramai bercerita tentang hal yang lalu
Membuat girang semua sanak kadang.
Waktu lalu Sri Paduka tak lama di istana.
Tahun Saka 1282, Badra pada.
Beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur.
Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.
Tahun Saka 1283 Waisaka, Sri Paduka Prabu berangkat menyekar ke Palah.
Dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati.
Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita.
Dari Blitar ke selatan jalannya mendaki.

Pohonnya jarang, layu lesu kekurangan air.
Sampai Lodaya bermalam beberapa hari.
Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.
Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping.
Ingin memperbaiki candi pasareyan leluhur.
Menaranya rusak, dilihat miring ke barat.
Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.
Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasati, yang dibaca lagi.
Diukur panjang lebarnya, di sebelah timur sudah ada tugu.
Asrama Gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam.
Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.
Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Inyanabadran terus ke timur.
Berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di candi Surabawana.
Paginya berangkat lagi berhenti di Bekel, sore sampai pura Semua pengiring bersowang-sowang pulang ke rumah masing-masing.
Tersebut paginya Sri naranata dihadap para mentri semua.
Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur.

Patih amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata : "Sri Paduka akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.
Atas Perintah sang rani Sri Tri Buwana Wijaya Tungga Dewi supaya pesta serada Sri Padukapatni dilangsungkan Sri Paduka.
Di istana pada tahun Saka 1284 bulan Badrapada.
Semua pembesar dan wreda Mahamantri Agung diharap memberi sumbangan." Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira.
Sri Paduka Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan mentri.
Yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Paduka.
Tersebut sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana.
Semua pelukis berlipat giat menghias "tempat singa" di setinggil
Ada yang mengetam baki makanan, bokor-bokoran, membuat arca.
Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan.
Ketika saatnya tiba tempat telah teratur sangat rapi.
Balai witana terhias indah di hadapan rumah-rumahan.

Satu di antaranya berkaki batu karang bertiang merah.
Indah dipandang semua menghadap ke arah takhta Sri Paduka.
Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja.
Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk.
Para isteri, pembesar, Mahamantri Agung, pujangga.
Serta pendeta Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.
Demikian persiapan Sri Paduka memuja Buda Sakti.
Semua pendeta Buda berdiri dalam lingkaran bagai saksi.
Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka.
Tenang, sopan budiman faham tentang sastra tiga tantra.
Umurnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur.
Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu.
Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran.
Mudra, mantra dan japa dilakukan tepat menurut aturan.
Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surga dengan doa.
Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna.
Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia.
Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucapkan puja.

Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara.
Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta genderang. Didudukkan di atas singasana, besarnya setinggi orang berdiri berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.
Berikut para raja, parameswari dan putra mendekati arca.
Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah.
Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru.
Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.
Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap Bersusun timbun seperti pohon, dan sirih bertutup kain sutera Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu. Nandini.
Terus menerus memuntahkan harta dan makanan dari nganga mulutnya.
raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat Disertai penyebaran harta di lantal balai besar berhambur-hamburan.

Elok persembahan raja Tumapel berupa wanita cantik manis Dipertunjukkan selama upacara untuk mengharu-rindukan hati.
Paling haibat persembahan Sri Paduka berupa gunung besar.
Mandara Digerakkan oleh sejumlah dewa dan danawa dahsyat menggusarkan pandang Ikan lambora besar beriembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang, di tengah-tengah lautan besar.
Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi.
Agar para wanita, Mahamantri Agung, pendeta dapat makanan sekenyangnya Tidak terlangkahi para kesatria, arya dan para abdi di pura.
Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.
Pada hari keenam pagi Sri Paduka bersiap mempersembahkan persajian.
Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah- rumahan yang terpikul.

Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung. Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan. Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambi menghaturkan. Sajian wanita sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa.
Mahamantri Agung, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian. Berbagai ragamnya, berduyun-duyun ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan. Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Sri Paduka Prabu pada hari yang ketujuh. Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan, makanan. Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta.
Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air.
Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-sesak.
Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur.
Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para putri dan para istri.
Yang duduk rapat rapi berimpit ada yang ngelamun karena tercengang memandang.

Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan.
Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara.
Tari perang prajurit yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-mengakak. Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.
Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat.
Pasti membuat gembira jiwa Sri Padukapatni yang sudah mangkat.
Semoga beliau melimpahkan barkat kepada Sri Paduka Prabu Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.
Paginya pendeta Buda datang menghormati, memuja dengan sloka. Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budaloka.
Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara.
Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.
Lodang lega rasa Sri Paduka melihat perayaan langsung lancar.
Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak.
Tanahnya telah disucikan tahun 1274.
Dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya.
Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah.
Karena cinta Sinuwun Prabu Airlangga kepada dua putranya.
Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga.
Diam di tengah kuburan lemah Citra, jadi pelindung rakyat.
Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan.
Hyang Empu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.
Girang beliau menyambut permintaan Airlangga membelah negara.
Tapal batas negara ditandai air kendi mancur dari langit.
Dari barat ke timur sampai laut, sebelah utara, selatan.
Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.
Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam.
Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan.
Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah.

Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.
Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui.
Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi.
Semoga Sri Paduka serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada.
Berjaya dalam memimpin negara, yang sudah bersatu padu.
Prajnya Paramita Puri itulah nama candi pasareyan yang dibangun.
Arca Sri Padukapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi.
Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu agama, laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Sri Paduka.
Di Bayalangu akan dibangun pula candi pasareyan Sri Padukapatni. Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya.
Rencananya telah disetujui oleh sang Mahamantri Agung demung.
Boja Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun.
Candi pasareyan Sri Padukapatni tersohor sebagai tempat keramat.
Tiap bulan Badrapada disekar oleh para Mahamantri Agung dan pendeta.
Di tiap daerah rakyat serentak membuat peringatan dan memuja.
Itulah suarganya, berkat berputra, bercucu narendra utama.

Tersebut pada tahun Saka 1285, Sri Paduka menuju Simping demi pemindahan candi makam.
Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat.
Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.
Faham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa.
Memangku jabatannya semenjak mangkat Kerta Rajasa.
Ketika menegakkan menara dan mekala gapura.
Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.
Sekembalinya dari Simping segera masuk ke pura.
Terpaku mendengar Adi Mahamantri Agung Gajah Mada gering.
Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa.
Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.
Tahun Saka 1253 beliau mulai memikul tanggung jawab.
Tahun 1286 Saka beliau mangkat, Sri Paduka gundah, terharu bahkan putus asa.

Sang dibyacita Gajah Mada cinta kepada sesama tanpa pandang bulu.
Insaf bahwa hidup ini tidak baka karenanya beramal tiap hari.
Sri Paduka segera bermusyawarah dengan kedua rama serta bunda.
Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki Patih Mada.
Yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat.
Lama timbang-menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.
Sri Paduka berpegang teguh, AdiMahamantri Agung Gajah Mada tak akan diganti.
Bila karenanya timbul keberatan beliau sendiri bertanggung jawab.
Mernilih enam Mahamantri Agung yang menyampaikan urusan negara ke istana. Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan. Sri Paduka.
Itulah putusan rapat tertutup. Hasil yang diperoleh perundingan.
Terpilih sebagai wredaMahamantri Agung.
Karib Sri Paduka bernama Empu Tandi.
Penganut karib Sri Baginda.
Pahlawan perang bernama Empu Nala.
Mengetahui budi pekerti rakyat.

Mancanegara bergelar tumenggung.
Keturunan orang cerdik dan setia.
Selalu memangku pangkat pahlawan.
Pernah menundukkan negara Dompo.
Serba ulet menanggulangi musuh.
Jumlahnya bertambah dua Mahamantri Agung.
Bagai pembantu utama Sri Paduka.
Bertugas mengurus soal perdata.
Dibantu oleh para upapati.
Empu Dami menjadi Mahamantri Agung muda.
Selalu ditaati di istana. Empu Singa diangkat sebagai saksi.
Dalam segala perintah Sri Paduka. Demikian titah Sri Baginda.
Puas, taat teguh segenap rakyat.
Tumbuh tambah hari setya baktinya.
Karena Sri Paduka yang memerintah.
Sri Paduka makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih.
Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikut undang-undang.
Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas.
Mashur nama beliau, mampu menembus jaman, sungguhlah titiaan batara.
Candi pasareyan serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala.
Yang belum siap diselesaikan, dijaga dan dibina dengan saksama.

Yang belum punya prasasti, disuruh buatkan Serat Kekancingan pada ahli sastra. Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.
Jumlah candi pasareyan raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan.
Disebut pertama karena tertua : Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan.
Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Katang Brat dan Jago.
Lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.
pasareyan rani : Kamal Pandak, Segala, Simping. Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir. Bangunan baru Prajnya Paramita Puri.
Di Bayatangu yang baru saja dibangun. Itulah dua puluh tujuh candi raja.
Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra.
Dijaga petugas atas perintah raja. Diawasi oleh pendeta ahli sastra.
Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara.

Orang utama, yang saksama dan tawakal membina semua candi.
Setia kepada Sri Paduka, hanya memikirkan kepentingan bersama Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.
Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Sri Paduka.
Darmadyaksa kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan.
Darmadyaksa kasogatan disuruh menjaga biara kebudaan.
Mahamantri Agung her-haji bertugas memelihara semua pertapan.
Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak : biara relung Kunci, Kapulungan Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna Parhyangan, Kuti Jati, Candi lima, Nilakusuma, Harimandana, Utamasuka Prasada-haji, Sadang, Panggumpulan, Katisanggraha, begitu pula Jayasika.
Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigit Nyudonta, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling, ditambah sebuah lagi Batu Putih.

Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak : Wipulahara, Kutahaji Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi serta Wadari Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang. Baryang, Amretawardani, Wetiwetih. Kawinayan, Patemon serta Kanuruhan Engtal, Wengker. Banyu Jiken, Batabata. Pagagan, Sibok dan Engtal. Wengker, Banyu Jiken, Batabata.
Pagagan, Sibok dan Padurungan. Pindatuha, Telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah lagi.
Sukalila Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara. Kulur, Tangkil dan sebagainya. Selanjutnya disebut berturut desa kebudaan Bajradara : Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tanjung.
Amretasaba Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadara Tidak juga terlangkahi Kumuda. Ratna serta Nadinagara. Wungaiaya, Palandi, Tangkil.

Asahing, Samici serta Acitahen Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng. Pojahan dan Balamasin. Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan. serta Kahuripan Ketaki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala. Badur, Wirun, Wungkilur. Mananggung, Watukura serta Bajrasana Pajambayan. Salanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu Pohaji, Wangkali, Biru. Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir. Itulah desa kebudaan Bajradara yang sudah berprasasti.
Desa keresian seperti berikut : Sampud, Rupit dan Pilan Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun.
Di situ terbentang taman didirikan lingga dan saluran air.
Yang Mulia Mahaguru demiklan sebutan beliau.
Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut Serat Kekancingan.
Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, di antaranya yang penting : Bangawan, Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas. Wasista, Palah, Padar, Siringan, itulah desa perdikan Siwa.

Wangjang, Bajrapura. Wanara, Makiduk, Hanten, Guha dan Jiwa Jumpud. Soba, Pamuntaran, dan Baru, perdikan Buda utama. Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagiri, Centing, Wekas Wandira, Wandayan. Gatawang : Kulampayan dan Talu, pertapan resi. Desa perdikan Wisnu berserak di Batwan serta Kamangsian Batu Tanggulian. Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting Sedang, Medang. Hulun Hyan, Parung, langge, Pasajan, Kelut. Andelmat Paradah, Geneng, Panggawan, sudah sejak lama bebas pajak. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa.
Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak.
Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Sri Paduka Prabu.
Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.

Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa.
Perdikan candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh.
Yang berSerat Kekancingan dipertahankan, yang tidak, segera diperintahkan.
Pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.
Segenap desa sudah diteliti menurut perintah raja Wengker raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk salurannya.
Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan Segenap penduduk Jawa patuh mengindahkan perintah Sri Paduka Prabu.
Semua tata aturan patuh diturut oleh pulau Bali.
Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya Pembesar kebudaan Badahulu.
Badaha lo Gajah ditugaskan. Membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.
Perdikan kebudaan Bali seperti berikut, biara Baharu (hanyar).
Kadikaranan, Purwanagara, Wiharabahu, Adiraja, Kuturan.
Itulah enam kebudaan Bajradara, biara kependetaan.
Terlangkahi biara dengan bantuan negara seperti Aryadadi.
Berikut candi pasareyan di Bukit Sulang lemah lampung, dan Anyawasuda Tatagatapura, Grehastadara, sangat mashur, dibangun atas Serat Kekancingan.
Pada tahun Saka 1260 oleh Sri Paduka Jiwana.

Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya : upasaka wreda mentri.
Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri.
Terjaga dan terlindungi segala bangunan setiap orang budiman.
Demikianlah tabiat raja utama, berjaya, berkuasa, perkasa.
Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.
Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan.
Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai di tepi laut.
Menenteramkan hati pertapa, yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan.
Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan negara.
Besarlah minat Sri Paduka untuk tegaknya tripaksa.
Tentang Serat Kekancingan beliau besikap agar tetap diindahkan.
Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tata gila dan adat-tutur diperhatikan.
Itulah sebabnya sang caturdwija mengejar laku utama. Resi, Wipra, pendeta Siwa Buda teguh mengindahkan tutur.

Catur asrama terutama catur basma tunduk rungkup tekun melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.
Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran.
Para Mahamantri Agung dan arya pandai membina urusan negara.
Para putri dan satria berlaku sopan, berhati teguh.
Waisya dan sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.
Empat kasta yang lahir sesuai dengan keinginan.
Hyang Maha Tinggi Konon tunduk rungkup kepada kuasa dan perindah Sri Paduka Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah.
Gandara, Mleca dan Tuca mencoba mencabut cacad-cacadnya.
Demikianlah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata.
Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat Sri Paduka menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma.
Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku Sang Prabu.
Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala.
Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang.

Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan Sri Paduka sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.
Semua Mahamantri Agung mengenyam tanah palenggahan yang cukup luas Candi, biara dan lingga utama dibangun tak ada putusnya.
Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta.
Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.
Demikianlah keluhuran Sri Paduka ekanata di Wilwatikta.
Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih. Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.
Bertambah mashur keluhuran pulau Jawa di seluruh jagad raya.
Hanya Jambudwipa dan pulau Jawa yang disebut negara utama Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya Panji Jiwalekan dan Tengara yang meronjol bijak di dalam kerja.
Mashurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur.

Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya Hyang brahmana, sopan, suci, ahli weda menjalankan nam laku utama Batara Wisnu dengan cipta dan mentera membuat sejahtera negara.
Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung Dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Karnataka Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormat di seluruh negara.
Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa Hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti.
Pekan penuh sesak pembeli, penjual, barang terhampar di dasaran.
Berputar keliling gamelan dalam tanduan diarak rakyat ramai Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Buda.
Mulai tanggal delapan bulan petang demi keselamatan Sri Paduka.

Tersebut pada tanggal empatbelas bulan petang. Sri Paduka berkirap.
Selama kirap keliling kota busana. Sri Paduka serba kencana. Ditatang jempana kencana, panjang berarak beranut runtun.
Mahamantri Agung, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.
Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut-menyahut bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka.
Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh Jawa.
Tanda bukti Sri Paduka perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.
Telah naik Sri Paduka di takhta mutu-manikam, bergebar pancar sinar.
Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti.
Yang nampak, semua serba mulia, sebab Sri Paduka memang raja agung.
Serupa jelmaan. Sang Sudodanaputra dari Jina bawana.
Sri Nata Pajang dengan sang permaisuri berjalan paling muka.
Lepas dari singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak.

Mahamantri Agung Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok.
Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.
Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya.
Lalu raja Kediri dengan permaisuri serta Mahamantri Agung dan tentara.
Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring.
Sebagai penutup Sri Paduka dan para pembesar seluruh Jawa.
Penuh berdesak sesak para penonton ribut berebut tempat.
Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang.
Tiap rumah mengibarkan bendera, dan panggung membujur sangat panjang.
Penuh sesak wanita tua muda, berjejal berimpit-impitan.
Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton.
Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil.
Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci di dulang berukir.
Mahamantri Agung serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.
Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka.
Mahamantri Agung, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir.

Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota.
Begitu pula para kesatria, pendeta dan brahmana utama.
Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat.
Tetapi menganut ajaran raja Kapa Kapa, dibaca tiap Caitra.
Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang.
Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.
Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar.
Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat.
Sering dikunjungi Sri Paduka, naik tandu bersudut Singa.
Di arak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.
Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata.
Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya.
Dan setengah krosa ke utara bertemu.tebing sungai.
Dikelilingi bangunan Mahamantri Agung di dalam kelompok.
Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang.
Tiangnya penuh berukir dengan isi dongengan parwa.
Dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana.

Tempat menampung Sri Paduka di panggung pada bulan Caitra.
Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat.
Bagian utara dan selatan untuk raja dan arya.
Para Mahamantri Agung dan dyaksa duduk teratur menghadap timur.
Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.
Di situlah Sri Paduka memberi rakyat santapan mata.
Pertunjukan perang tanding, perang pukul. desuk-mendesuk Perang keris, adu tinju tarik tambang, menggembirakan.
Sampai tiga empat hari lamanya baharu selesai. Seberangkat Sri Paduka. sepi lagi, panggungnya dibongkar.
Segala perlombaan bubar, rakyat pulang bergembira.
Pada Citra bulan petang Sri Paduka menjamu para pemenang.
Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bahan pakaian.
Segenap ketua desa dan wadana tetap tinggal, paginya mereka.
Dipimpin Arya Ranadikara menghadap Sri Paduka minta diri di pura Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan.
Sri Paduka duduk di atas takhta, dihadap para abdi dan pembesar.

Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wedana : "Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Sri Paduka Prabu Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina.
Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah perhatikan tanah rakyat jangan sampai jatuh di tangan petani besar.
Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga. Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar.
Sri Nata Kerta Wardana setuju dengan anjuran memperbesar desa.
Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan.
Bantu pemeriksaan tempat durjana terutama pelanggar susila.

Agar bertambah kekayaan Sri Paduka demi kesejahteraan negara.
Kemudian bersabda Sri Baginda Wilwatikta memberi anjuran : "Para budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi.
Rajakarya terutama bea-cukai, pelawang supaya dilunasi.
Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas.
Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati.
Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi.
Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan.
Biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.
Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan.
Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan.
Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita.
Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya "

Begitu perintah Sri Paduka kepada wadana, yang tunduk mengangguk
Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau.
Mahamantri Agung upapati serta para pembesar menghadap bersama.
Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.
Bangunan sebelah timur laut telah dihiasi gilang cemerlang.
Di tiga ruang para wadana duduk teratur menganut sudut.
Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas
Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Sri Paduka.
Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba menurut adat agama dari zaman purba.
Makanan pantangan : daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak.
Jika dilanggar mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.
Dihidangkan santapan untuk orang banyak.
Makanan serba banyak serta serba sedap.
Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak.
Berderap cepat datang menurut acara.
Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing hanya dihidangkan kepada para penggemar. Karena asalnya dari pelbagai desa.

Mereka diberi kegemaran, biar puas.
Mengalir pelbagai minuman keres segar.
Tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya. itulah hidangan yang utama.
Wadahnya emas berbentuk aneka ragam. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar.
Berisi aneka minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air yang mengelir. Yang gemar minum sampai muntah serta mabuk.
Meluap jamuan Sri Paduka dalam pesta. Hidangan mengalir menghampiri tetamu. Dengan sabar segala sikap dizinkan.
Penyombong, pemabuk jadi buah gelak tawa. Merdu merayu nyanyian para biduan. Melagukan puji-pujian Sri Paduka. Makin deras peminum melepaskan nafsu.
Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau.

Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah.
Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan.
Seolah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan.
Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.
Disuruh menghadap Sri Paduka, diajak minum bersama.
Mahamantri Agung upapati berurut mengelir menyanyi.
Nyanyian Menghuri Kandamuhi dapat bersorak pujian.
Sri Paduka berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.
Tercengang dan terharu hadirin mendengar suar merdu.
Semerebak meriah bagai gelak merak di dahan kayu.
Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis.
Resap menghalu kalbu bagai desiran buluh perindu.
Arya Ranadikara lupa bahwa Sri Paduka berlagu.
Bersama Arya Ranadikara mendadak berteriak.
Bahwa para pembesar ingin belia menari topeng.
"Ya!" jawab beliau, segera masuk untuk persiapan.

Sri Kerta Wardana tampil kedepan menari panjak.
Bergegas lekas panggung di siapkan ditengah mandapa.
Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyikan lagu.
Luk suaranya mengharu rindu, tinglahnya memikat hati.
Bubar mereka itu ketika Sri Paduka keluar.
Lagu rayuan Sri Paduka bergetar menghanyutkan rasa.
Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah.
Resap meremuk rasa, merasuk tulang sungsum pendengar.
Sri Paduka warnawan telah mengenakan tampuk topeng.
Delapan pengiringnya di belakang, bagus, bergs, pantas.
Keturunan Arya, bijak cerdas, sopan tingkah lakunya.
Itulah sebabnya banyolannya selalu kena.
Tari sembilan orang telah dimulai dengan banyolan.
Gelak tawa terus menerus, sampai perut kaku beku.
Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu.
Tepat mengenai sasaran, menghanyutkan hati penonton.
Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir.
Para pembesar meminta diri mencium duli paduka.
Katanya :"lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!".
Terlangkahi pujian Sri Paduka waktu masuk istana.

Demikianlah suka mulia Sri Paduka Prabu di pura, tercapai segala cita.
Terang Sri Paduka sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan negara.
Meskipun masih muda dengan suka rela berlaku bagai titisan Buda.
Dengan laku utama beliaumemadamkan api kejahatan durjana.
Terus membumbung ke angkasa kemashuran dan keperwiraan Sri Paduka.
Sungguh beliau titisan Batara Girinata untuk menjaga buana.
Hilang dosanya orang yang dipandang, dan musnah letanya abdi yang disapa.
Itulah sebabnya keluhuran beliau mashur terpuji di tiga jagad.
Semua orang tinggi, sedang, rendah menuturkan kata-kata pujian.
Serta berdo'a agar Sri Paduka tetap subur bagai gunung tempat berlindung.
Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Sri Paduka.
Sang pendeta Budaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali.
Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa.
Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah.
Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra.
Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian.
Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma.
Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.
Mendengar pujian para pujangga pura bergetar mencakar udara.
Empu Prapanca bangkit turut memuji Sri Paduka meski tak akan sampai pura.

Maksud pujiannya, agar Sri Paduka gembira jika mendengar gubahannya.
Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Sri Paduka dan rakyat.
Tahun Saka 1287 bulan Aswina hari purnama.
Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara.
Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desa Warnana.
Dengan maksud, agar Sri Paduka ingat jika membaca hikmat kalimat.
Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar.

Yang pertama "Tahun Saka", yang kedua "Lambang" kemudian "Parwasagara".
Berikut yang keempat "Bismacarana", akhirnya cerita "Sugataparwa".
Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.
Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin.
Terdorong cinta bakti kepada Sri Paduka, ikut membuat puja sastra berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa.
Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tinggal di dusun.
Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar manis.
Teman karib dan orang budiman meninggalkan tanpa belas kasihan.
Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan?
Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal.
Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian.
Seyogyanya ajaran sang Begawan diresapkan bagai sepegangan.
Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.
Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan.
Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan bertapa.
Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi.
Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal.

Prapanca itu pra lima buah. Cirinya: cakapnya lucu.
Pipinya sembab, matanya ngeliyap. Gelaknya terbahak-bahak.
Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru. Bodoh, tak menurut ajaran tutur.
Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa. Pantasnya ia dipukul berulang kali.
Ingin menyamai Empu Winada. Mengumpulkan harta benda. Akhirnya hidup sengsara. Tapi tetap tinggal tenang. Winada mengejar jasa. Tanpa ragu wang dibagi.
Terus bertapa berata. Mendapat pimpinan hidup. Sungguh handal dalam yuda.
Yudanya belum selesai. Ingin mencapai nirwana. Jadi pahlawan pertapa.

Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa.
Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang menghina orang-orang yang puas dalam ketetnangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah.
Segan meniru perbuatan mereka yang dicacad dan dicela di dalam pura.