Rabu, 05 Desember 2012

PERJANJIAN SALATIGA 17 Maret 1745


Karena merasakan tindakan kompeni yang sewenang-wenang terhadap rakyat Kerajaan Mataram di Kartasura, maka pada tahun 1741 RM. Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh untuk menyusun pemberontakan melawan Belanda.
RM. Said yang berganti nama menjadi RM. Suryakusuma mulai membangun perlawanan di Desa Nglaroh dengan bermodalkan pasukan permulaan yang berjumlah 40.orang. Pada awal perjuangannya, RM. Suryakusuma bergabung dengan RM. Garendi atau yang terkenal dengan Sunan Kuning bersama Laskar Cina di bawah pimpinan Kapitan Sepanjang. Pada tahun 1743, RM. Garendi tertawan oleh Belanda di Surabaya dan di buang ke Afrika Selatan. Pasukan dapat di tumpas oleh Belanda sedangkan Kapitan Sepanjang hilang dalam pengejaran.
Tahap berikutnya, RM. Said bergabung dengan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan dengan gelar Sultan Mangkubumi I. RM. Said yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa akhirnya memisahkan diri dari Pangeran Mangkubumi dan memimpin pasukannya sendiri melanjutkan perjuangannya melawan Kompeni Belanda.
Pangeran Mangkubumi pada th 1755 melakukan perundingan dengan pihak Belanda di Giyanti. Perjanjian tersebut menghasilkan kesepakatan yang antara lain memberi hak pada sang Pangeran untuk memerintah sebagian dari wilayah Kartasura ,dan oleh beliau kerajaan yang baru ini di namakan Ngayogjakarta Hadiningrat yang populer di sebut sebagai Yogyakarta, sedang rajanya bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Di saat RM. Said atau Pangeran Samber Nyawa mulai melakukan perlawanannya, Kerajaan Mataram yang berpusat di Kartasura diperintah oleh Pakubuwono II. Namun, sejak Keraton Kartasura dapat di rebut oleh RM. Garendi beserta laskar Cina pada tahun 1742, ibukota kerajaan pindah ke Surakarta. RM. Garendi beserta laskar Cinanya dapat di usir oleh Belanda setelah menduduki Keraton Kartasura selama 9 bulan. Pangeran Samber Nyawa tetap melanjutkan perjuangannya mulai dari daerah Kabupaten Sukoharjo, ke daerah Klaten,Wonogiri, Madiun, Karanganyar dan Sragen. Pakubuwono II wafat dan digantikan putranya yang bergelar Pakubuwono III dan berkedudukan di Surakarta. Raja baru ini mempunyai kebijaksanaan yang agak berbeda dengan pendahulunya. Beliau ingin mengakhiri pemberontakan Pangeran Samber Nyawa dengan melalui perundingan. Pemikiran demikian timbul antara lain karena saran dari Kompeni yang sudah kewalahan menghadapi Pangeran Samber Nyawa.
Sinuhun Pakubuwono III di paroh akhir tahun 1756 menulis surat kepada Pangeran Samber Nyawa agar kembali ke Surakarta untuk membantu beliau menjalankan pemerintahan, adapun mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wilayah pemerintahan dan kedudukan Pangeran Sambernyawa dapat dirundingkan kelak. Akhirnya pada hari Kamis Pahing tanggal 4 Jumadilakir, tahun 1682 (M.1756), Pakubuwono III menjemput Pangeran Sambernyawa di Desa Tunggon untuk di ajak kembali ke Surakarta.
Pada awal tahun 1757, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia menulis surat kepada Pakubuwono III di Surakarta, Sultan Hamengkubuwono I diYogyakarta ,dan RM. Said atau Pangeran Sambernyawa. Surat tersebut berisi undangan agar ketiganya bertemu di Salatiga untuk mengadakan perundingan.
Pada tanggal 17 Maret 1757 di dusun Kalicacing, Salatiga, perundingan tersebut dapat terlaksana. Menurut buku Babad KGPAA.Mangkunegara I,susunan formasi para peserta perundingan adalah sebagai berikut : Nicholas Harting sebagai wakil dari Gubernur Jenderal Belanda, yang dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator duduk di tengah, di apit oleh Pakubuwono III, disebelah kanan dan Hamengkubuwono I dikirinya. Di hadapan mereka duduk Pangeran Sambernyawa. Perundingan ini disaksikan oleh kepala perwakilan VOC dan kedua patih, baik dari Surakarta maupun Yogyakarta, yaitu Mangkupraja dan Suryanegara.
Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :
  1. Pangeran Sambernyawa di angkat sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara I
  2. Beliau berhak menguasai tanah seluas 4000 karya, serta semua daerah yang pernah dilewati selama mengadakan pemberontakan dan menjalankan roda pemerintahannya.
  3. Beliau berhak mendirikan sebuah istana atau Puro sebagai pusat pemerintahannya di Surakarta, tetapi dengan syarat :
    • Dilarang membuat singgasana
    • Dilarang membuat alun-alun dengan beringin kurung
    • Dilarang membuat “Siti Inggil” dan balaiurung
    • Dilarang menjatuhkan hukuman mati
Istana dan Praja Mangkunegaran selanjutnya di kenal dengan nama “Pura Mangkunegaran”. Kesepakatan tersebut di atas di kenal dengan nama “Perjanjian Salatiga” DENGAN DEMIKIAN PADA TG 17 MARET 2007, USIA PURA MANGKUNEGARAN MENCAPAI GENAP 250 TAHUN.
Pemerintah Indonesia sangat menghargai jasa Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I sebagai pejuang kemerdekaan nasional. Hal itu terbukti dengan pengangkatan beliau sebagai pahlawan kemerdekaan nasional seperti yang
tertuang dalam keputusan Presiden RI. No. 048/TK tahun 1988, tanggal 17 Agustus 1988.
Setelah Mangkunegara I wafat, beliau digantikan oleh Mangkunegara II dan seterusnya, hingga saat ini yang menjabat sebagai pimpinan Pura Mangkunegaran adalah Sri Paduka Mangkunegara IX.
Sejak pemerintahan Mangkunegara I hingga Mangkunegara IX, Pura Mangkunegaran telah memberikan sumbangan yang besar bagi bangsa dan kebesaran nama Indonesia.
Karya-karya tari dan sastra, serta berbagai ragam seni budaya bermutu tinggi banyak yang lahir dari lingkungan Mangkunegaran. Peranan Pura Mangkunegaran di bidang pendidikan menghasilkan tokoh-tokoh nasional, serta putera bangsa yang berbobot.
Dalam perjuangan kemerdekaan nasional, banyak kerabat Mangkunegaran yang langsung terlibat dalam perjuangan fisik maupun non fisik.
Sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka semua, serta untuk memupuk rasa persatuan dan kebangsaan yang akhir-akhir ini dirasakan agak pudar, maka seluruh jajaran Pura Mangkunegaran mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama berpartisipasi merayakan “250 tahun Pura Mangkunegaran”. Dalam rangka mereaktualisasi Budaya Mangkunegaran, maka panitya mempunyai rencana untuk mengadakan Pagelaran-pagelaran , seminar-seminar, pameran-pameran, dan kegiatan lainnya.
Dengan memohon Ridho Allah SWT., Tuhan Yang Maha Pengasih, Peringatan “250 tahun Pura Mangkunegaran”, akan dimulai dengan acara selamatan di Kalicacing, Salatiga pada tanggal 17 Maret 2007, dan disusul dengan kegiatan2 lainnya yg akan berlangsung sepanjang tahun 2007
"Pahlawan Nasional RM Said berjuang melawan penjajah bersama para Ulama, Pendekar, laskar Tionghoa dan prajurit wanita"
PANGERAN SAMBERNYAWA
Masalah tersebut, maka RM. Said atau Pangeran Sambernyawa, karena menyaksikan penderitaan rakyat Mataram akibat penindasan Kompeni, beliau memilih keluar dari Istana Kartasura dan membangun perlawanan terhadap VOC. Kompeni merasa kewalahan dan mengajak berdamai, tetapi selalu ditolak oleh Pangeran Sambernyawa. Namun setelah Paku Buwono III meminta beliau pulang ke Surakarta dengan maksud agar beliau membantu Sinuhun PB.III didalam mengendalikan Kerajaan Mataram, Pangeran Sambernyawa menerima ajakan tersebut dan selanjutnya bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati Mangkunegara, Menurut Babad Panambangan, pada saat PB.III menjemput RM.Said dari medan perang, beliau berkata bahwa segala sesuatu yang menyangkut kedudukan KGPAA. Mangkunegara akan dibicarakan di kemudian hari. Sebagai realisasi penyelesaian, maka diadakanlah perundingan di Desa Kalicacing Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757.
Pada dasarnya perundingan yang diadakan adalah perundingan antara RM.Said dengan PB.III. Namun, karena sejak Perjanjian Giyanti Tahun 1755 wilayah Kerajaan Mataram sudah terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta, maka dalam perundingan tersebut, diikuti juga perwakilan dari Keraton Yogyakarta dan Perwakilan dari VOC yang bertindak sebagai saksi. Perundingan ini menghasilkan suatu perjanjian yang dikenal dengan nama PERJANJIAN SALATIGA. Sejak itu maka secara defacto dan dejure terbentuklah PRAJA MANGKUNEGARAN
BARISAN ULAMA
“Subhanullah Subhanullah Subhanullah Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar”. Kalimat ini senantiasa dikumandangkankan oleh Pangeran Sambernyawa dimanapun beliau berada. RM.Said mengangkat senjata bukan karena ingin menjadi raja, tetapi karena didorong oleh cita-cita luhur untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Mulat sariro hangrasa wani, melalui introspeksi diri yang terus menerus, maka akan menimbulkan keberanian untuk bertindak demi keadilan dan kebenaran. Bagi beliau, menjaga kebersihan batin adalah merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan dalam hidup ini. Para Kyai dan ulama tanpa ragu mendukung perjuangan beliau. Kyai Penambangan selalu berada disamping beliau dalam suka dan duka. Raden Penghulu, pimpinan ulama dari Bayat gugur ditembus peluru Belanda di saat bertempur bersama RM.Said. Pangeran Sambernyawa merupakan sosok pribadi yang tabah dan pemberani, tetapi penuh dengan welas asih.
BARISAN PRAJURIT WANITA
Ada ungkapan “witing klapa Jawata ing ngarsa pada, salugune wong wanita dasar nyata”. Wanita adalah bagaikan dewi yang turun ke bumi. Keberadaannya di dunia ini harus dihormati. Mereka diibaratkan sebagai pohon kelapa yang kokoh, tetapi luwes. Prinsip-prinsip inilah yang dipegang oleh Mangkunegara I dalam memperlakukan para wanita. Di saat dunia masih mempermasalahkan kesetaraan gender, beliau telah membentuk pasukan wanita yang bertempur dengan gagah berani disamping para pasukan pria. Pasukan ini dinamakannya “Ladrang Mangungkung”, yang berarti Pasukan yang mengepung musuh hingga tak berdaya dan itu telah terbukti di berbagai pertempuran melawan VOC.
PASUKAN PRIA
Rakyat Kerajaan Mataram adalah rakyat yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan. Hal ini terbukti sejak Sultan Agung Hanyakra Kusuma memimpin rakyatnya melawan penjajah. Semangat untuk melawan penindasan tersebut diwariskan kepada keturunan beliau yang bernama RM.Said. Para prajurit RM.Said bukanlah prajurit bayaran. Sebagian besar dari mereka adalah para petani, tukang penebang kayu, pemburu dan rakyat kecil lainnya. Mereka tergerak hatinya ketika mendengar pekik perjuangan yang dikumandangkan oleh RM.Said. Berjuang dan berjuang demi keadilan. Darah mereka tertumpah, dalam pertarungan demi pertarungan.
“Jer Basuki Mawa Bea, Rawe-Rawe rantas malang malang putung,
ojo nganggu gawe, marang kamardikan”.
"Semua tujuan harus ditebus melalui pengorbanan dan segala yang penghalang untuk tercapainya kemerdekaan, akan tersapu".
PRAJURIT TIONGHOA
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, perjuangan melawan penindasan tidak mengenal sekat ethnis, suku dan agama. Pangeran Sambernyawa sangat memahami hal tersebut. Beliau berhasil mengajak seluruh masyarakat untuk “Hanebu Sa’uyun” Bersatu kokoh bagaikan seikat tebu melawan segala bentuk kejahatan. Sejarah mencatat bahwa seluruh rakyat Mataram termasuk ribuan etnis Tionghoa dibawah kepemimpinan Kapitan Sepanjang dan Tan Sin Ko alias Sinshe, bersatu padu, bahu membahu, bersama RM.Said dalam berjuang mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara. Darah para pejuang laskar Tionghoa ini tumpah menggenangi bumi pertiwi, menyatu dengan darah saudara-saudaranya dari suku Jawa. Darah yang telah tergenang berbaur tanpa dapat dibedakan lagi, apakah itu darah Tionghoa atau darah Jawa.
W A R O K
Pada saat RM.Said tiba didaerah Keduwang, Wonogiri, beliau bertemu dengan para pejuang yang gagah berani. Mereka menamakan dirinya sebagai warok. Mereka menyatakan keinginannya untuk mengikuti RM.Said berjuang melawan Kompeni. Kesaktian para pendekar ini telah terbukti dalam berbagai pertempuran.
“Suro Diro Jayaningrat lebur dening pangastuti”.
Segala kesaktian akan pudar kalau tidak menyatu dengan kebaikan.
KEMERDEKAAN
Tanggal 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Mulai saat itu bangsa Indonesia memasuki babak kehidupan yang baru dan Praja Mangkunegaran meleburkan diri pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Cita-cita agung dari para pejuang bangsa yang telah mendahului kita, termasuk Pahlawan Nasional RM.Said dan mereka yang telah berjuang bersamanya, perlu kita ujudkan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semboyan :
· Rumongso Melu Handarbeni
· Wajib Melu Hanggrumengkepi
· Mulat Sariro
· Angrosowani
Marilah kita jaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai diakhir jaman. Semoga darah para martir yang telah membasahi tanah air, di saat mereka melaksanakan kewajibannya yang berupa “Melu Hanggrumengkepi” selalu mengingatkan kita akan pentingnya menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

SALATIGA
(1740-1743
)
Peristiwa yang terjadi di Salatiga pada tahun tersebut sangat erat hubungannya dengan apa yang terjadi di Keraton Kartasura. Pada masa itu yang bertahta di Kartasura adalah Paku Buwono II. Beliau mempunyai beberapa saudara, antara lain bernama Pangeran Arya Mangkunegoro, yang kemudian di buang ke Afrika Selatan oleh Kompeni dan wafat disana. Sebelum di buang, beliau berputra seorang laki-laki yang di beri nama RM.Said (Pangeran Sambernyawa). Pada masa itu kekejaman Kompeni mencapai puncaknya. Para petani di peras dan di Batavia lebih kurang 10.000 orang Tionghoa di bantai karena tidak mampu dibebani pajak yang tinggi. Sebagian dari mereka yang hidup, melakukan perlawanan terhadap Kompeni dan lari ke Jawa Tengah. Keadaan yang demikian menimbulkan keresahan rakyat dan para pemimpin dilingkungan Kerajaan Mataram. Para Bupati membakar semangat rakyatnya untuk berontak melawan Kompeni. Pemberontakan terhadap Kompeni tersebut dipelopori antara lain oleh Bupati Mengunoneng dari Pati, Bupati Martapura dari Grobogan dan Bupati dari Lasem yang bernama Martawijaya. Dalam waktu yang hampir bersamaan, RM.Said meninggalkan Keraton Kartasura menuju Desa Nglaroh, mengumpulkan pasukan permulaan yang berjumlah 40 orang dan melakukan serangan pada pos-pos Kompeni. Tindakan RM.Said diikuti oleh RM.Garendi, cucu Amangkurat III, raja yang di kudeta oleh Pakubuwono I. Ayah RM.Garendi yang bernama Pangeran Teposono terbunuh dalam suatu persekongkolan dan RM.Garendi lari kearah Grobogan dan Demak, membangun perlawanan terhadap Kompeni. Dengan demikian ada dua Pangeran yang keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap kompeni pada saat itu yaitu, RM.Said dan RM.Garendi.
Laskar Cina pelarian dari Batavia di bawah pimpinan Kapiten Sepanjang bergabung dengan Laskar Cina lokal Jawa Tengah, di bawah pimpinan Sin She alias Tan Sin Ho.
Gabungan Laskar Cina ini bersatu dengan Laskar para bupati pemberontak di dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni. Sunan Pakubuwono II pada mulanya mendukung perjuangan mereka. Benteng Salatiga diduduki oleh Pasukan Kartasura, dibawah pimpinan Patih Pringgalaya. Namun tidak beberapa lama pasukan dimaksud di tarik ke Kartasura untuk membendung bala tentara Kompeni yang mengancam Keraton Kartasura. Sebagai gantinya Salatiga di pertahankan oleh satu detasemen Laskar Cina yang didatangkan dari Semarang.
Kompeni merasa tidak senang atas berpihaknya PB.II kepada pemberontak dan mengeluarkan berbagai ancaman. Disebabkan Pringgalaya takut atas ancaman Kompeni yang demikian itu dan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersekongkol dengan Laskar Cina, maka pada tahun 1741 ia memenggal kepala seorang juru tulis Tionghoa, yang bernama Gow Ham Ko di Salatiga. Kepala Gow Ham Ko oleh Patih Pringgoloyo diserahkan kepada Kompeni. Hal ini membuat marah Patih Notokusumo, seseorang yang lebih senior dari Pringgalaya. Secara diam-diam dia memerintahkan semua pengikutnya untuk bergabung dengan pasukan Tionghoa dan pemberontak lainnya untuk menyerang kompeni di Semarang. Sayang, serangan
terhadap kompeni yang di Semarang mengalami kegagalan. Pasukan pemberontak mundur dan Patih Notokusumo di tangkap Belanda.
Sebagian besar pasukan yang mundur bertahan didaerah Salatiga dengan pertahanan Kali Tuntang. Berbagai kekuatan pemberontak, seperti pasukan Pringgalaya berada di Kalicacing, Pasukan Kyai Mas Yudonegoro, seorang ulama dari Semarang berada di bagian timur dan pasukan Cina di sekitar Kali Tuntang.
Kekalahan pasukan pemberontak di Semarang membuat PB.II ragu dan akhirnya memutuskan berbalik berpihak pada kompeni. Ia memerintahkan pasukannya di bawah Pringgalaya menggempur para pemberontak. Menanggapi situasi demikian itu, para bupati pemberontak dan pimpinan laskar Tionghoa berkumpul untuk mengangkat RM.Garendi sebagai raja Mataram pada tanggal 6 April 1742. Mereka berikrar akan melawan kompeni sampai ajal tiba. Sasaran mereka merebut benteng kompeni di Kartasura. Pertempuran pertama yang harus mereka hadapi ialah di Salatiga, dimana mereka harus berhadapan dengan Pringgalaya di Kalicacing yang sekarang berpihak pada VOC.
Setelah Salatiga jahtuh ketangan RM.Garendi, dengan mudah mereka merebut benteng kompeni di Kartasura dibawah Van Hohendorf. RM.Garendi di Kartasura bertemu dengan RM.Said yang selanjutnya keduanya bergabung melawan kompeni pada pertengahan 1742. Sementara itu Salatiga telah dikuasai oleh pasukan pemberontak yang terdiri dari laskar Cina, pasukan dibawah Kyai Mas Yudonegoro dan pasukan para bupati yang setia pada Patih Notokusumo.
Belanda merencanakan mengirim pasukan gerak cepat yang terdiri dari 300 prajurit Eropa dan 500 prajurit pribumi ke Salatiga, tapi mengalami kegagalan karena pasukan yang akan menjemput mereka sebelum memasuki Salatiga telah dipukul mundur ke Ampel.
Pada tanggal 19 Juni 1742 serangan besar-besaran akan dilancarkan ke kota Salatiga. Namun sebelum sampai tujuan, mereka ketakutan dan kembali ke Semarang, karena Kompeni melihat konsentrasi kekuatan pasukan Kyai Mas Yudonegoro. Pasukan gabungan dari RM.Garendi atau Sunan Kuning terus melakukan perlawanan pada kompeni di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Tanjung, Jepara. RM.Said bersama laskar Cina yang berkekuatan 800 orang bertempur melawan pasukan kompeni dibawah Kapten Mom di Welahan pada tanggal 24 Agustus 1742, namun pasukan ini karena kekuatan persenjataan yang tak seimbang terpaksa mundur. Sebagian diantaranya membuat pertahanan di Salatiga dan memasang barikade di Kali Tuntang. Pasukan kompeni dibawah Hohendorf gagal menembus barikade ini. Ditempat ini komandan dan laskar Cina, yaitu Kapitan Sepanjang telah mengeksekusi anak buahnya yang bernama Swa Ting Giap karena mau menyeberang ke pihak Kompeni.
Sunan Kuning atau RM.Garendi beserta Laskar Cina, Kyai Mas Yudonegoro, Bupati Mangunnoneng, serta Bupati Martapura, melakukan serangan ke Salatiga dan memaksa Patih Pringgalaya yang sudah berbalik membantu Kompeni, mundur ke Tengaran, kemudian Ampel.
Pasukan RM.Garendi terus mengejar pasukan Kartasura dibawah Pringgalaya dan akhirnya menyerbu benteng Kompeni di Kartasura. Di tempat ini, RM.Garendi beserta Laskar Cina bersatu dengan RM.Said melakukan perlawanan terhadap Kompeni.
Pertempuran yang terjadi di Salatiga, mulai sejak pasukan Pringgalaya menyerbu benteng Kompeni sampai dengan insiden pembunuhan juru tulis Tionghoa dan juga pertempuran antara RM.Garendi beserta Laskar Cina menyerang pasukan Pringgalaya yang telah berbalik sebagai sekutu Kompeni, diceriterakan secara detail dalam Buku Babad Keraton dalam bentuk tembang. Buku dengan huruf Jawa yang aslinya disimpan di British Library London, telah disalin dalam huruf Latin oleh Drs. I.W. Pantja Sunyata, Drs. Ignatius Supriyanto dan Prof. Dr. J.J. Ras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar