Jumat, 05 April 2013

PANGERAN ASTAPATI from BADUI ( leluhur my grandpa PROF. DR. PANGERAN ARIO HOESSEIN DJAJADININGRAT )


A.   U m u m
Sistem kekerabatan orang Sunda dipengaruhi oleh adat yang diteruskan secara turun temurun dan oleh agama Islam (Harsojo, 1980: 311). Karena agama Islam telah lama dipeluk oleh orang Sunda, maka agak sulit memisahkan unsur-unsur agama dan adat yang terdapat dalam budaya Sunda. Di tanah Sunda, bentuk keluarga yang terpenting adalah keluarga batih atau keluarga inti (nuclear family).
Kecuali keluarga batih ada pula kelompok kerabat sekitar keluarga batih itu, yang masih sadar akan hubungan kekerabatannya, sering bertemu dalam forum yang cukup intens, misalnya pesta perkawinan, khitanan, kematian, halal bihalal dan sebagainya. Kelompok kekerabatan ini biasanya dalam antropologi disebut sebagai golongan, atau dalam peristilahan yang lebih teknis, disebut sebagai kindred.
Dalam masyarakat Sunda ada pula kelompok yang berupa kelompok ambilineal, karena merangkum kerabat sekitar keluarga batih, tetapi diorientasikan ke arah nenek moyang jauh di masa lampau. Dalam bahasa Sunda kelompok ini sering dinamai bondoroyot.
Dalam proses sosialisasi, ciri-ciri kepentingan kelompok sosial serta sikap-sikap yang mendukungnya terwujud dalam pembedaan terhadap kelompok lain. Identifikasi anggota kelompok in- group, biasanya terikat perasaan dekat terhadap anggota kelompok (Soerjono Soekanto, 1977: 100).
Dalam teori antropologi kelompok kekerabatan Sunda ini, sebagai salah satu bentuk masyarakat, karena memiliki sistem interaksi antar para anggota, adat-istiadat dan sistem norma yang mengatur interaksi, kesinambungan interaksi, rasa identitas yang mempersatukan anggota dan sebagainya (Kuntjaraningrat, 1990: 148- 154).
Rekonstruksi genealogi Pangeran Astapati beserta para keturunannya, antara lain berusaha pula menempatkan para tokoh sejarah (yang diasumsikan ada) dalam pohon genealogi pada dimensi ruang, waktu dan peristiwa sejarah. Berarti pula, upaya ini memasukkan pengenalan jatidiri para tokoh sejarah atau cultural hero dalam garis keturunan itu.
Apakah Pangeran Astapati, Raden Tjakradiningrat, atau juga yang lainnya, dapat kita masukkan ke dalam kategori cultural hero, mungkin perlu kita perhatikan kondisi seorang pahlawan/ hero, yang didefinisikan:
"He is regarded as an ideal human beeing who is capable of meeting his people's need and wishes, it presents the main character as a super human being who possesses a number of noble qualities . . ." (Haryati Soebadio, 1991: 622-69).
Hayati Soebadio selanjutnya menyatakan, bahwa premis tersebut menjadi penting artinya dalam konteks Asia Tenggara, mengingat se-seorang tokoh sejarah, telah dilihat sebagai manusia yang pernah hidup dalam sejarah bangsanya, dalam lukisan dan dalam karya-karya sastra.
Hasan Muarif Ambary menyatakan bahwa lingkup bahasan sejarah antara lain meliputi kajian terhadap sumber-sumber literer, khususnya produk yang semasa atau berdekatan dengan terjadinya sesuatu peristiwa sejarah (1991: 6). Selanjutnya Ambary menganggap bahwa para sejarawan Barat, kurang memberikan perhatian dan penghargaan sepantasnya terhadap babad, hikayat dan tambo, yang juga memiliki fungsi sebagai salah satu sumber sejarah.
Ambary mengemukakan contoh, seperti misaalnya Prof. C.C. Berg amat mengenyampingkan kitab-kitab babad untuk diperhitungkan sebagai salah satu sumber sejarah (1938, II). Berg menganggap bahwa babad tidak dapat dipercaya, bohong, penuh hayal, tahayul, artifisial dan sebagainya. Ini tentunya (boleh jadi) dipengaruhi oleh kurangnya pe-nguasaan atau pemahaman informasi yang ia peroleh, mengenai psikologi dan persepsi orang Jawa (khususnya) terhadap kekuasaan dan penguasa.
Ambary dengan cermat mengamati bahwa Babad Tanah Jawi (yang ditulis sejak abad XVI M. dan seterusnya), mengandung banyak paparan mengenai sejumlah peristiwa sejarah, yang notabene dapat diuji silang terhadap sumber-sumber lain, yang lebih otentik dan shahih. Kitab-kitab babad sebagai produk sastra, mungkin memang berlebihan dalam menggambarkan raja dan kekuasaannya. Tetapi seorang raja dalam persepsi rakyat yang dipimpinnya, adalah seorang primus inter pares dan syah (legitimate), sekali pun misalnya ia mencapai tahta melalui makar, tetap ia memiliki "simpanan" legitimasi dalam bentuk lain, yakni: kesinambungan. Untuk itu ia mengawini anak dan/atau istri raja terdahulu, mendapat pulung/nurbuat. Dalam banyak kitab babad/ hikayat banyak tokoh sejarah yang dikemas dalam citra magis-religius, sakral, sekti, dewa dunia, kalipatullah dan sebagainya.
Ambary juga mengutip Prof. Soetjipto Wirjosoeparto (1963) dan kemudian Soemarsaid Moertono (1985), bahwa dalam kitab-kitab babad dan sejenisnya terkandung peristiwa-peristiwa yang layak diperhatikan, bernilai setara dengan sumber-sumber sejarah dalam bentuk yang lainnya. Begitu pula, penyusunan-penyusunan dinasti/keluarga/ wangsa perlu mendapat perhatian yang wajar, seraya membandingkannya terhadap daftar-daftar yang dimuat dalam sumber lainnya.
Sejarah masa lalu, dapat menjadi "sesuatu" yang "dekat" terhadap kita dan hari-hari ini. Seorang tokoh sejarah yang muncul di panggung peristiwa 1-2 abad lalu, boleh jadi terasa amat dekat dengan kelompok dan suasana batin masa kini. Ini tentunya merupakan dampak dari pe-ngaruh faktor-faktor emosi, ikatan genealogi, besarnya dampak peristiwa di seputar sang tokoh, apresiasi dan sebagainya. Ini pun secara gegabah dapat dianggap sebagai bias, yang menjadi salah satu sumber subyektivitas sejarah. Subyektivitas sejarah dapat pula bersumber dari pra-sangka kelompok, trauma, ideologi, ras/etnisitas dan sebagainya, tetapi bagaimana pun, subyektivitas sejarah adalah bagian yang memang ada dalam upaya kita mencapai obyektivitas sejarah.
Rekonstruksi genealogi Pangeran Astapati beserta keturunannya, sama-sekali bukan dimaksudkan untuk membangkitkan feodalisme yang telah kita hapuskan sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan bukan pula dimaksudkan sebagai romantika patetik terhadap masa lalu dengan anggapan bahwa kebesaran masa lalu perlu diagungkan kembali.
Rekonstruksi ini, dilakukan sekedar untuk membakukan apa yang menjadi tradisi, dituturkan turun temurun, dan ditulis secara parsial apabila sempat oleh keturunannya/ yang menganggap keturunan Pangeran Astapati. Dalam rekonstruksi tersebut diharapkan tertuang pula kearifan-kearifan sejarah, sekali pun itu mungkin akan terasa sangat pahit. Para penyusun rekonstruksi ini, yakin sekali bahwa dimensi sejarah senantiasa memiliki perspekstif dan proyeksi jauh ke masa depan, dan bukan pengagungan serta kebanggaan sempit yang sama sekali tidak perlu.
Para penyusun dokumenta historica ini pun amat menyadari bahwa dalam upaya rekonstruksi, para penyusun tidaklah mungkin melepaskan diri dari subyektivitas kesejarahan yang sewaktu-waktu dapat muncul pada setiap tahap dan proses penyusunan/penulisan naskah. Para penyusun naskah ini, menyadari sepenuhnya, bahwa subyektivitas adalah bagian yang mutlak ada dalam mencapai obyektivitas.

B.   Pohon Genealogi Pangeran Astapati
Jika Pangeran Astapati dalam rekonstruksi ditempatkan sebagai ego dalam penelusuran urutan genealogi, maka secara hipotetik, dapatlah digambarkan pengurutan sebagai berikut.

BAGAN HIPOTETIK PENGURUTAN GENEALOGI PANGERAN ASTAPATI

                                                                                   Gantung Siwur VIII
                                                                                 Udeg-Udeg VII
                                                                              Janggawareng VI
                                                                     B a o  V
                                                            Buyut  IV
                                                       Embah  III
                                                Kolot  II
                                          Ego (Pangeran Astapati)  1/I
                                    Anak  2
                                Incu  3
                       Buyut  4
                    Bao  5
                    Janggawareng  6
             Udeg-udeg  7
       Gantung Siwur  8

Catatan :
untuk selanjutnya, Nomor-nomor di belakang tingkatan keturunan (ke atas dan ke bawah) dijadikan nomor acuan dalam pengisian anggota keluarganya.

Ego Ke Atas
Dalam catatan Prof. Harsojo, bagi orang Sunda sebutan kekerabatan bagi kerabat pihak laki-laki dan wanita tidak berbeda. Apabila dilihat istilah kekerabatan orang Sunda pada bagan tersebut di atas, tampak perbedaan penyebutan dua generasi ke atas dan ke bawah, sedangkan untuk selanjutnya sama saja (1980: 314), dan ini berarti mengabaikan prinsip polarity/polaritas seperti yang dikemukakan Murdock (1949: 104-105).
Dalam beberapa hal, ada benarnya anggapan bahwa dua generasi ke atas dan dua generasi ke bawah dari Ego, masih punya hubungan fungsional dalam hubungan kekerabatan, sedangkan tiga generasi ke atas dan ke bawah dan seterusnya, dianggap hanya memiliki fungsi tradisional dalam hubungan kekerabatan.
Di samping itu, dalam masyarakat Sunda dikenal pula beberapa istilah bila ditinjau dari segi/pihak Ego. Untuk ayah terdapat beberapa sebutan, seperti: Bapak, Apah, Apih, sedangkan untuk ibu :emak, mak, amah dan untuk kakak laki-laki : akang atau kakang. Sementara itu untuk kakak perempuan: teteh, eteh, euceu, ceuceu, sedangkan untuk kakak-kakak baik dari ayah maupun ibu untuk perempuan maupun lelaki: uwa atau wa', dan adik laki-laki ayah atau ibu disebut mamang, emang atau mang, lantas jika adik-adik perempuan ibu atau ayah ego, disebut dengan bibi, ibi, atau bi.
Didasarkan pada kelengkapan dokumen dan mudahnya penelusuran, maka dalam merunut genealogi Pangeran Astapati, posisi Ego yang semula diberikan pada Pangeran Astapati digantikan pada H.M.A. Sampurna, sehingga dari H.M.A. Sampurna apabila ditarik garis ke atas selalu dari pihak ayah maupun ibu, akan menjadi:

GENEALOGI EGO KE ATAS DARI AYAH EGO

                                                                              Sanghyang Tunggal
                                                                    Batara Patanjala
                                                           Batara Bungsu
                                                  Ki Dukun Putil/Girang Pu'un
                                            Raden Wirasuta/Pangeran Astapati
                                          Ki Ngabehi Pringga/Patih Darus
                              R.A.A. Natadiningrat
                   R. Murawan Suta Adiningrat
               R. Tjakradiningrat
             R.A. Fatmah
       M. Santosa
H.M.A. Sampurna

Sementara itu dari pihak Ibu Ego, adalah sebagai berikut:

GENEALOGI EGO KE ATAS DARI IBU EGO

                                                                              Cahaya Amin
                                                                  Sutan Alam Intan
                                                      Sutan Arifin/Mas Sutadiwiria
                                          Mas Atmadiwiria
                              H. Mas Lamhari Sutadiwiria/Patih Serang
                  M. Padmadiwiria/Patih Bintang
             R. Martina Djajawinangun
       H.M.A. Sampurna

H.M.A. Sampurna memiliki saudara-saudara kandung (anak-anak dari perkawinan M. Santosa dan R. Martina Djajawinangun) ialah:
1.    Ny. Neneng Mulyaha (Nana) menikah dengan Endang Effendi
2.    H.M.A. Sampurna menikah dengan Ny. Uum Sumini. HJ.
3.    Ny. M. Lily Surti Laeli menikah dengan R.M. Husein Surjokusumo
4.    Ny. Etty Surtikanti menikah dengan drh. Zainal Abidin L.
5.    dr. M.Y.A. Hidayat menikah dengan Ny. RIS Ardjaningsih
6.    Ny.M. Martini menikah dengan R.M. Hafrudin, B.A.
7.    Ny. Iyah K. menikah dengan Rudy Aziz

Sementara itu H.M.A. SAMPURNA memiliki paman/bibi (anak-anak dari perkawinan H. Padmadiwiria dengan R.A. Fatmah, yaitu:
1.    Ny. Salsiah menikah dengan Nitidiwiria
2.    Sulastri menikah dengan Hardiwinangun (Bupati Lebak dari tahun 1938 - 1944).
3.    Supinah menikah dengan Sukanta Widjaja
4.    M. Santosa menikah dengan R. Martina Djajawinangun (ayah dan ibu ego H.M.A. Sampurna)
5.    Aom Priatna yang menikah dengan: Kartini & Rohana Burhanuddin.

Lebih ke atas lagi, M. Padmadiwiria/Patih Bintang menikah de-ngan R.A. Fatmah, adalah ayah dan ibu dari M. Santosa dan masih dalam garis ayah, dimana R.A. Fatmah bersaudara dengan:
1.    R.A. Djuwita
2.    R.A. Djuwariah, dan
3.    Sukarna.

R.A. Fatmah bersaudara adalah anak dari Raden Tjakradiningrat (Wedana Peucang dan kemudian Cilegon), sedangkan R. Tjakradiningrat bersaudarakan:
1.    R. Tanu Sura Adiningrat
2.    Elok Suwellaningrat
3.    R.K. Padmadiningrat, dan
4.    R.B. Setiadiningrat.
R. Tjakraningrat bersaudara adalah anak dari perkawinan antara R. Murawan Suta Adiningrat atas perkawinannya dengan Ratu Saodah anak dari A.A. Mandura Radja Djajanagara (Regent Serang 1840-1849). R. Murawan Suta Adiningrat (Regent Serang 1878 - 1883) yang mendapat gelar Tumenggung itu, bersaudara (mulai dari yang tertua):
1.    Ny. R.A. Linda
2.    Ny. R.A. Renda
3.    Ny. R.A. Lindung
4.    Murawan Suta Adiningrat
5.    R. Adiningrat
6.    R. Gandaningrat
7.    R. Setjaadiningrat
8.    R. Astra Suta Adiningrat
9.    R. Djaja Prana (Wedana Baros)
10.  R. Bagus Djajadiningrat (Regent Serang 1883 - 1898)
11.  H. Umar Surawinata
12.  R.H. Abubakar (Gongrol Mekah)
13.  Ny. R.A. Lenggarangsari
14.  Ny. R.A. Aliyamah (Istri Patih Chaer)
15.  Ny. R.A. Lidjamsari (Istri Patih Suria, Menes)
16.  Ny. R.A. Lintangsari
17.  R. Puspa Adiningrat
18.  Ny. R.A. Edot
19.  R. Gatot

Tercatat bahwa Saudara R. Murawan Suta Adiningrat yang ke-10, yaitu R. Bagus Djajadiningrat kemudian menjadi Regent Serang menggantikan Raden Tumenggung Murawan Suta Adiningrat, kemudian beristri Ratu Solehah (anak Ratu Bagus Muhammad Ishak, Assistent Wedana Cening, atas perkawinannya dengan Ratu Mariam). Anak-anak R. Bagus Djajadiningrat, adalah:
1.    R. Ahmad Djajadiningrat (Regent Serang 1901-1904)
2.    R. Muhammad Djajadiningrat
3.    R. Hasan Djajadiningrat, dan
4.    Prof. Dr. Husein Djajadiningrat

Ke-19 bersaudara R. Murawan Suta Adiningrat itu, adalah anak dari R.A.A. Natadiningrat (Bupati Pandeglang) atas perkawinannya dengan Ratu Ayu Wargakusuma; Natadiningrat anak Ki Ngabehi Bahu Pringga (Patih Darus) yang bersaudarakan:
1.    Nyai Andil
2.    Kiai Gantang
3.    Nyai Dariah, dan
4.    Ki Anab
Ki Ngabehi Bahu Pringga tercatat pernah menjadi Patih Lebak.
Sangat diperkirakan bahwa sejak Ki Ngabehi Bahu Pringga ini-lah maka genealogi yang sedang dikaji ini, dapat ditelusuri hubungannya dengan Masyarakat Baduy. Karena Ki Ngabehi Bahu Pringga bersaudara itu, adalah anak dari Raden Wirasuta, putra salah seorang pu'un Cibeo, yaitu : Ki Dukun Putil/ Girang Pu'un. Wirasuta, yang dikabarkan tidak puas terhadap cara dan tingkat kehidupan dalam lingkungan masyarakat Baduy itu, kemudian menjadi salah seorang panglima perang Sultan Ageng Tirtayasa, dan setelah wafat diberi gelar Pangeran Astapati, yang dimakamkan di Odel.
Ki Dukun Putil adalah anak dari Batara Bungsu, cucu dari Batara Patandjaja, bersaudara dengan Batara Tjikal, keduanya dipercayai secara tradisional sebagai anak keturunan dari Sanghyang Tunggal.
Kembali pada urutan genealogi ego H.M.A. Sampurna dari pihak ayahnya, yaitu M. Santosa, yang asal keturunannya dapat ditelusuri pada lampiran-lampiran 6, 12, 13, 14, 15, dan seterusnya, sampai ke asal muasal keturunan dari Istana Pagaruyung (Sumatra Barat).
M. Santosa adalah anak Padmadiwiria (Patih Bintang Rangkasbitung), yang meninggal pada tahun 1947, yang adalah anak dari Haji Mas Lamhari Sutadiwiria (Patih Serang dan Bupati Bogor di Jasinga). Lamhari berputra (saudara-saudara Padmadiwiria), yaitu:
1.    Nyi Mas Siti Rohmah, yang menikah dengan  Tubagus Djatmika Atmadiwiria (Asisten Wedana Kragilan),
2.    M. Padmadiwiria (Patih Bintang)
3.    M. Astradiwiria (Wedana Ciomas)
4.    Wanita, yang menikah dengan Wildan Nataatmadja (Wedana Anyer)
5.    Wanita, yang menikah dengan Sastrawiguna (Patih Garut)
6.    M. Encon Partadiwiria, sipir penjara. (Lampiran 14)

Namun dari Lampiran 15, diperoleh informasi yang berbeda, antara lain:
1.    Padmadiwiria pada lampiran 15 adalah bersaudara dengan Sutadiwiria, dan bukan anak dari Sutadiwiria seperti dalam lampiran 14.
2.    Konsekuensi Lampiran 15 menjadikan tata urutan Saudara Padmadiwiria pada Lampiran 14 berubah, karena saudara-saudara Padmadiwiria menurut Lampiran 15, adalah:
a.    Sutadiwiria
b.    Kartadiwiria
c.    Djajadiwiria
d.    Alamuddin
e.    Sastradiwiria
f.     Syahbudin
g.    Ranadiwiria
h.    Padmadiwiria
i.     Satjadiwiria
3.    Sedangkan anak-anak Sutadiwiria menurut Lampiran 15, yakni:
a.    Ratna Suminar
b.    Ratna Komala
c.    Djaka
d.    Amaluddin
e.    Dewi Ratnaningsih
f.     Sartono
g.    Djumhana
h.    Ratnaningrum
4.    Berdasarkan Lampiran 15 pula, maka Padmadiwiria bukanlah anak Sutadiwiria (Lampiran 14), melainkan anak dari Mas Atmadiwiria.
5.    Pengurutan genealogi ke atas selanjutnya tidak menjadi masalah, karena Lampiran 14 hanya sampai pada Haji Mas Lamhari Sutawiria, sedangkan Lampiran 14 memiliki 4 tingkat urutan ke atas setelah Padmadiwiria.

Dari Lampiran 15 ini pula, maka boleh jadi atau dapat dianggap membaurnya keturunan istana Pagaruyung ke dalam "trah" Banten (yang dicampuri juga trah Baduy). Sutadiwiria, Padmadiwiria dan saudara-saudara lainnya, adalah anak dari Mas Atmadiwiria. Mas Atmadiwiria bersaudara dengan:
1.    Siti Rafiah
2.    Mas Atmadiwiria
3.    Siti Maemunah, yang kemudian menikah dengan: Sutan Abdul Aziz alias Raden Sastrawinangun, yang beranak:
a.    Usmansyah
b.    Abubakarsyah
c.    Alibasyah
d.    Arbaiyah
e.    Isnainiyah
f.     Junariyah
g.    Umarsyah
h.    Ahmadsyah
i.     Prof. Dr. Muhammadsyah Sastrawinangun

Mas Atmadiwiria bersaudara, adalah anak Sutan Arifin alias Mas Sutadiwiria, dimana Sutan Arifin masih memiliki saudara, yakni: Sutan Asikin alias Mas Nitidiwiria dan Sutan Abidin alias Mas Mangundiwiria.
Hampir sejajar dengan itu, Sutan Abdul Aziz adalah anak Sutan Hoyong Gelar Radja Bagalib Alam, yang bersaudara dengan Sutan Mangun Tuah, Putri Siti Raja Sari Gumilang, Putri Siti Alam Perhimpunan. Mereka semua adalah anak dari Daulat Yang Dipertuan Agung Sultan Abdullah Baqaqarsyah, anak (ibnu) Sultan Abdullah Syariful Alamsyah, Raja Pagaruyung (Minangkabau), yang dibuang ke Jakarta oleh pemerintah Hindia Belanda, kerangkanya pada tanggal 12 Pebruari 1976 dipindahkan dari Manggadua, Jakarta, ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Sutan Arifin alias Mas Sutadiwiria bersaudara adalah anak dari Sutan Alam Intan (yang karena memihak Imam Bonjol dalam Perang Paderi, oleh pemerintah Hindia Belanda dibuang ke Banten.) Sutan Alam Intan bersaudara dengan Siti Batiyah yang kemudian menikah dengan Daulat Yang Dipertuan Agung Sultan Abdullah Baqaqarsyah, kemudian beranak antara lain Sutan Hoyong Gelar Raja Bagalib Alam, yang menurunkan Sutan Abdul Aziz (Raden Sastrawinangun), yang menikah dengan Siti Maemunah seperti telah disebutkan terdahulu.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar