Minggu, 22 Mei 2011

KARATUAN TENGAH SAGARA KIDUL



Setelah cerita yang terdahulu,menceriterakan berdirinya Kampung Palabuhan Ratu dan diangkatnya Ibu ratu PURNAMA SARI sebagai RATU LAUT SELATAN dan RATU MAYANG SAGARA MENJADI RATU PANTAI SELATAN ( Furi KARANCANG KANCANA karang hawu Pl.Ratu) Ibu dan anak sebagai Penguasa Laut dan pantai selatan,yaitu mempunyai sebutan LORO ( Dua ) KIDUL ( Selatan ).
Ratu Mayang Sagara,yang kecilnya bernama Rara panas,Mayang Nagasari Pamulangan,dan setelah diangkat menjadi Ratu Basisir ( Pantai ) contohnya adalah Cawene ( Suci ) yaitu seorang Gadis yang masih suci, bertapa menyertai ibunya di Gunung Winarum sekarang Pangjarahan Karang Hawu.sampai ahirnya ngahiyang menyatu dengan Alam.dan meninggalkan ciri kata bahasa Sunda LEBAH yaitu menunjukan tempat,jadi Karang Hawu hanya sebatas LEBAH CAWENE.
Baiklah kita lanjutkan kepada ceritera Putri Bungsu Prabu Sedah Nusia Mulya Siliwangi, yang memisahkan diri,tidak ikut dengan rombongan yaitu Putri Gandrung Arum adiknya Putri Purnama Sari.
Setelah melihat Pelangi berlapis 7 yang datangnya dari LAut Selatan melengkung kesebuah hutan.Putri Gandrung Arum meminta ijin sama Ayahandanya untuk bertapa di tempat itu,
Dikatakan Pelangi berlapis tujuh itu bukanya berwarna 7,melainkan ada 7 Pelangi,melihat itu Nyai Putri tertarik hatinya dan memutuskan untuk tidak terus ikut dengan Ayah nya.
Dan Nyai Ratu meminta kepada Ayahnya tapanya ini supaya ditemani oleh 7 or,g Gadis yang masih suci dan harus mirip denganya, dan semuanya harus mempunyai tanda ( tahi lalat ) sebesar butir kacang, karena Putri Gandrung Arum mempunyai tanda itu,akan tetapi dimanakah adanya tanda itu? Tak akan disebutkan disini,hanya Aki yang tau heheheheh.
Singkatnya diizinkannya permohonan nyai gandrung arumitu, dan kata prabu sedah "baiklah nyai permintaanmu akan ku kabulkan, karena yg akan menetap disini semuanya cawene (masih suci) maka tempat ini akan kuberi nama LEBAH CAWENE". Itulah pertama keluar kata lebah cawene (tempat beberapa orang yg masih suci). Dan marilah kita kembali kepada salah satu bagian dalam cerita "PAJAJARAN SIREM PAPAN" yaitu "KALANG SUNDA MAKALANGAN". Ketika rakean kalang sunda ikut membantu mendirikan kampung "pelabuhan ratu", ia minta izin sama pu'un purnama sari utk meneruskan perjalanannya menyusul rombongan prabu sedah. Tapi apa yg terjadi dia kesasar (tersesat), sebab diperjalanan kala malam hari, melihat seekor kunang-kunang yg sangat sukar dikejarnya, apalagi sampai tertangkap. Sewaktu rakean kalang sunda mengejar, kunang-kunang tersebut terbang dan rakean kalang sunda berhenti mengejar kunang-kunang tersebut menghampirinya. Sampai-sampai seorang rakean kalang sunda yang begitu saktinya tidak bisa menangkap kunang-kunang tersebut. Akhirnya pengejaran akibat kepenasaran rakean kalang sunda ingin menangkapnya, tiba-tiba sampailah ia di lebah cawene, waktu itu, hutan tersebut orang belum tahu lebah cawene, hanya prabu sedah yg tahu. Bertemulah ia dgn nyai ratu gandrung arum yg sedang niat bertapa. Ia tidak sengaja, karena tidak bermaksud mencari nyai ratu gandrung arum, melainkan seperti telah diceritakan ia tersesat. Ia pun disambut oleh nyai ratu gandrung arum. Rakean kalang sunda merasa heran mengapa nyai putri gandrung arum ada disitu. Ia memang tidak mengikuti rombongan raja, ia menyertai serta nyai putri purnama sari, ia mengambil jalan lain dan tersesat sampai disana. Kata rakean kalang sunda "baiklah kalau begitu, tempat ini akan kuberi pagar", maka sebagai pagar, ditanamnya 9 buah pohon beringin, kemudian di tanamnya pula pohon kiara bersilang (nyakra bumi) utk menyesatkan yg mencari. Katanya pula "supaya tidak terlalu mudah, dan terlalu banyak orang yg mengetahui tempat kamu sekalian bertapa & tinggal, akan kuberi pagar pula dengan ajian awun-awun si teja wulung. Bagaimanapun juga terangnya waktu siang akan selalu gelap, karena diselimuti kabut (halimun). Nyai putri gandrung Arum mengucapkan terima kasih kepada Rakean kalang sunda. Kata Nyai ratu Gandrung Arum " Barang siapa ingin tahu LEBAH dan LEBAK cawene, haruslah yg berhak menerima waris saja, sedangkan yg hak menerima waris hanyalah seorang Penggembala disertai Pengiring nya yaitu Anak berjenggot, dialah yg akan mengetahui Lebak Cawene.
Lalu kata Nyai Putri " Meskipun dia itu seorang Ahli waris bila ingin masuk ke LEBAH dan LEBAK. Cawene tidak melalui pintu Gerbang yg sudah di tentukan akan tersesat atau meninggal bila tidak mempunyai satu muhung ( Mantra ) ibarat Visa mau masuk ke Luar Negri.
Dan anirnya LEBAK CAWENE pada mencari,tapi semuanya tidak ada yang berhasil,yang anehnya semua yang mencari LEBAK CAWENE ini meninggal sepulang dari Pencarian.dan yang paling aneh semua meninggal pada hari Kamis.
Dan pernah LEBAK CAWENE ini ditulis secara bersambung memakai Bahasa Sunda/ Indonesia oleh seorang Budayawan Sunda asal Sukabumi di Koran Radar Sukabumi/Radar Bogor yaitu Bapak Anis Jati Sunda. Dengan judul MISTERY LEBAK CAWENE. Dan pada tgl 2 Nop 1997 hari Kamis, LEBAK CAWENE bisa di taklukan oleh Pembawa cerita ini, yg Sekarang menjadi KASEPUHAN ADAT SUNDA LEBAK CAWENE KI NAGA WIRU bersama Rd.Ganda Rasita bekas Penilik Kebudayaan Cisolok Plabuan Ratu sekarang masih Hidup.

Yang disebut LEBAH CAWENE ada 2 tempat.
1. PURI KARANCANG KANCANA Karang Hawu Ngahiyang nya Ratu Mayang Sagara sebagai Ratu Pantai selatan dan Ibunya Ratu Purnama Sari sebagai Ratu Sagara Kidul ( Laut Selatan ) bukan Lara Kadita atau lainya.
2. Karatuan Tengah Sagara Kiara nyakra Bumi Disana Nyai Ratu Gandrung Arum berkuasa,leyaknya di Pohon Bambu 10.000 dapur di Talaga Alasan.
3. LEBAK CAWENE belum bisa di tulis di sini.....Trimakasih
( Penulis KI NAGAWIRU )

1 komentar: