Sabtu, 07 April 2012

Ontran-ontran Keraton Kanoman Cirebon bag II




Keseharian yang Biasa-biasa Saja
Kehidupan Putra-putri di Balik Tembok Keraton Kanoman

Orang  awam mungkin berpikiran bahwa  kehidupan  bangsawan yang  hidup  di  balik  tembok  keraton  pastilah   bergelimangan kemewahan dan kesenangan. Di dalam kehidupan umum, para  keluarga bangsawan  dianggap  memiliki hak-hak istimewa  (previlise)  yang tidak dimiliki oleh masyarakat umum lainnya.
Anggapan  itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya  yang  tercermin dari kehidupan sehari-hari di lingkup Keraton Kanoman Cirebon.Konflik  Keraton  Kanoman,  paling tidak  telah  membukakan  mata masyarakat  umum  akan kehidupan keluarga 'darah biru'  cucu  dan cicit  Sunan Gunung Djati. Konflik antara keluarga Pangeran  Raja
Muhammad  Emirudin dan Pangeran Muhammad Saladin, keduanya  anak-anak Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin), tak dapat  dihindari, telah mengungkapkan apa kehidupan sehari-hari mereka.
Selama  ini,  tak  ada yang  tahu  bagaimana  kehidupan  keluarga bangsawan  keraton.  Kehidupan mereka bahkan  dinilai  masyarakat sangat  tertutup, hingga masyarakat berpandangan bahwa  kehidupan keluarga di balik tembok keraton yang tinggi dan gagah itu selalu dibayangkan penuh kemewahan.
Padahal  tidaklah demikian. Ratu Raja Arimbi Nurtina,  S.T,  adik perempuan  orang  kepercayaan Emirudin  yang  dinobatkan  kerabat keraton  sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Sultan  Djalaludin, mengaku   bahwa  kehidupan  mereka  tidak  jauh  berbeda   dengan masyarakat umumnya.
"Tidak ada yang istimewa. Kami hidup seperti umumnya  masyarakat. Yang  membedakan  rumah  atau tempat  tinggal  kami  itu  bernama keraton.  Kami memang punya gelar yang tidak dimiliki  masyarakat umum, tapi itu sebenarnya biasa saja," tutur dia.
Ratu  Arimbi  justru mengaku kehidupan sehari-hari  yang  dialami keluarganya   sepenuhnya  penuh  dengan  keprihatinan.   Mengenai kemewahan atau kemudahan seperti anggapan masyarakat, sama sekali tidak benar.
"Justru kehidupan keluarga kami penuh dengan keprihatinan.  Kalau masyarakat beranggapan kami bergelimang kemewahan dan kesenangan, sangatlah  keliru. Mungkin kehidupan bangsawan ada jaman  dahulu, kalau  sekarang,  kehidupan  saya tidak  beda  dengan  masyarakat umumnya," tutur Ratu Arimbi.
Sebagai  contoh soal hidup yang biasa, setidaknya status  dirinya yang  kini  bekerja  di  bagian  laboratorium  Fakultas   Teknik-Unswagati  Cirebon.  Itu menandakan bahwa  meski  dirinya  adalah putra seorang raja (sultan:Red.), tapi tetap saja butuh pekerjaan untuk membiayai kehidupannya.
Di tengah masyarakat juga tidak ada perbedaan. Previlise  sebagai putri  keraton  dengan  gelar Ratu  Raja,  tidak  dirasakan  sama sekali, masyarakat juga bergaul apa adanya dengan dirinya.
"Dan  saya  juga keluarga juga tidak ingin dibedakan.  Tidak  ada yang namanya hak-hak kehormatan. Itu khan dulu," tutur dia dengan senyu khasnya yang ramah.Hal  sama juga dituturkan Ratu Setyawati, Ratu Kenanga  dan  Ratu Mawar,  adik dari keluarga Saladin. Di kehidupan umum, dia  tidak merasakan ada sesuatu yang lebih sebagai putri bangsawan keraton. Di  dalam keraton, kehidupan yang mereka jalani tampaknya  memang tidak  ada yang istimewa. Bahkan dalam konteks kehidupan  'sehat'
dalam khasanah kekinian, kehidupan keluarga darah biru itu  belum bisa dikatakan sepenuhnya 'sehat'.
Misalnya  soal  rasio kehidupan rumah tangga kekinian  soal  satu rumah satu keluarga. Putra-putri Keraton Kanoman itu malah  hidup dalam suasana yang tampak berdesak-desakan.
Keluarga  Emirudin  dan Saladin, mereka hidup  dalam  satu  rumah berupa  gedung berusia ratusan tahun yang luasnya sekira 50 x  25 meter. Mereka menempati gedung Kaputren, terletak persis di sebelah   Bangsal   Djinem  dan  Mande  Mastaka,   gedung   pusat pemerintahan kesultanan.
Gedung  terbagi dalam 6 kamar besar berukuran 10 x 10 m  di  sisi utara dan selatan, ruangan tengah terbagi jadi ruang tamu,  ruang keluarga  dan  ruang  belakang, termasuk dapur.  Di  dalam  kamar berukuran besar itu, terdapat kamar mandi dan WC.
Dan  kamar-kamar berukuran besar itulah yang kini  telah  disulap menjadi rumah oleh masing-masing penghuninya. Emirudin  misalnya, dia  bersama  adiknya Pangeran Raja Hamzah menempati 2  kamar  di bagian belakang sebelah utara.
Emirudin yang dinobatkan sebagai Sultan Kanoman XII, hidup  dalam ruangan  yang terlihat pengap. Di 2 kamar itu, dia hidup  bersama istri  dan  anaknya, calon penggantinya kelak,  bernama  Pangeran
Raja Muhammad Qodirudin (2 thn) dan istrinya, di situ, hidup pula keluarga adiknya Pangeran Raja Hamzah beserta anak dan istrinya. Di  dalam  2 kamar yang digabung menjadi satu,  Emirudin  membuat dapur  yang  dipakai  bersama  keluarga  adiknya.  Kamar  itu  di dalamnya juga disekat-sekat menjadi ruangan lebih kecil.
Adik-adik  Emirudin lainnya, seperti Ratu Raja  Arimbi,  Pangeran Raja Qodiran   dll,  hidup  bersama  ibunda  ratu   di   Gedung Pedaleman,  di belakang museum. Di gedung  itu,  prameswari Ratu  Sri  Mulya beserta 4 anaknya, juga  hidup  dengan  keluarga lain, yakni Pangeran Patih Imamudin, adik Sultan Djalaludin (alm) dan keluarga adik-adik Djalaludin lainnya.
Kemudian   keluarga   Saladin,  mereka  hidup  satu   gedung   di Kaputren  dengan  Emirudin dan Hamzah.  Hanya  saja  mereka kebagian  menempati 4 kamar termasuk ruang tengah  bagian  depan, ruang tamu dan belakang atau dapur.
Ratu  Mawar Kartina, S.H, menempati kamar di depan sebelah  utara gedung  Kaputren.  Sedangkan  selir  Ny  Suherni   (ibunda Saladin)  di kamar depan bagian selatan, lalu  berturut-turut  di belakangnya  kamar  Saladin dan keluarga,  serta  kamar  belakang untuk adik-adik lain seperti Ratu Setyawati, Ratu Kenanga dll.
Di  dalam gedung itu, Emirudin dan Saladin yang bersitegang  satu sama  lain  terkait soal hak sebagai sultan,  hidup.  Ratu  Mawar menuturkan,  selama ini, meski ada konflik, sebenarnya  kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa.
Bahkan  antara anak Emirudin dan Saladin sering terlihat  bermain bersama. Hanya saja untuk urusan rumah tangga ke dalam, satu sama lain tidak pernah saling peduli.
Memang  semasa Sultan Djalaludin masih hidup, Sultan  Kanoman  XI itu berusaha mepersatukan keluarga dengan membuat agenda  bersama seperti  jalan-jalan  mengajak anak-anak dari selir  Suherni  dan Ratu  Sri  Mulya. Namun kebersamaan yang coba  diciptakan  Sultan Djalaludin  atas  anak-anaknya, kini hancur  berantakan  menyusul konflik soal tahta pengganti Sultan Kanoman XI itu.
Setelah  konflik  mencuat, komunikasi boleh  dibilang  putus  dan tidak  pernah  terjalin.  Bahkan  sekedar  ngobrol  hal-hal  yang sifatnya biasa dan wajar sebagimana layaknya saudara.
"Mungkin karena ada konflik, sehingga sama-sama jaga diri. Antara kami  seperti menjaga supaya tidak saling bertemu  secara  fisik. Lagipula antara kami tampaknya saling menahan diri. Emirudin juga lebih  banyak  berada di kamarnya di bagian  belakang,  sedangkan kami lebih banyak di ruangan depan," tutur Ratu Mawar.
Sultan Emirudin, seperti dituturkan Achmad, pembantu dan pengawal setianya,  lebih sering menghabiskan waktu untuk dzikir. Baik  di dalam  ruangannya maupun di Bangsal Witana,  sebuah  tempat terletak di belakang keraton.
"Saya  sering  mendampingi Sultan Emirudin berdzikir  di  Bangsal Witana.  Sultan juga lebih banyak diam. Hanya mau ngobrol  dengan adik-adiknya,  ibunda  ratu  maupun kerabat  keraton  yang  dekat dengannya," tutur dia yang mengaku hidupnya hanya untuk  mengabdi kepada  Sultan  Emirudin  meneruskan  kakek  buyutnya  yang  dulu mengabdi ke keluarga Sultan Kanoman sebelumnya.

Keraton Kanoman yang Tak Terawat

Mungkin karena kehidupan yang berdesak-desakan, apalagi  diwarnai dengan  konflik  yang  meruncing,  anak-anak  pewaris  Kesultanan Kanoman, menjadi tidak peduli dengan perawatan terhadap bangunan-bangunan  di lingkungan keraton. Padahal bangunan  itu  merupakan peninggalan  sejarah kejayaan Cirebon sebagai pusat  syiar  Islam pertama di tanah Jawa, bahkan diyakini tempat keberadaan  Keraton Kanoman sebagai puser (titik pusat) bumi.
Ini  bisa dilihat dari bangunan-bangunan yang ada.  Bahkan  kalau melihat  ke  dalam, kesan tidak terawat sangat  terlihat,  banyak batu bata dan tembok yang rusak dan berlumut, tapi dibiarkan saja tanpa  ada perawatan memadai, padahal itu merupakan cagar  budaya yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Cirebon.
"Gimana mau dirawat, mereka konflik terus. Berbeda dengan Keraton Kasepuhan  yang  lebih  terawat rapi.  Padahal  dari  sisi  nilai historis,  Kanoman jauh lebih strategis," tutur beberapa  kerabat keraton yang prihatin dengan kondisi fisik keraton.
Konflik  juga  telah  menjadikan  keraton  itu  makin  jauh  dari masyarakat.  Misalnya  soal pengunjung,  sebelum  konflik,  meski jumlahnya tidak sebanyak diharapkan, pengunjung selalu ada, namun belakangan, boleh dikatakan hanya segelintir orang saja.
Keraton Kanoman yang dibangun thn 1677 oleh Pangeran  Martawijaya atau  Sultan  Badridin (Sultan Kanoman I) berdiri di  atas  lahan seluas  5  ha lebih. Sebagaimana keraton raja-raja  Jawa,  selalu menghadap ke arah utara, memiliki beberapa gedung.
Di  depan,  setelah  alun-alun ada dua  bangunan  kembar  bernama Pancaratna dan Pancaniti. Pancaratna di sebelah timur,  digunakan sebagai  tempat  para perwira beristirahat,  sedangkan  pancaniti (sebelah barat) tempat prajurit beristirahat.
Kemudian  di  belakangnya, terdapat dua bangunan  yang  temboknya bercat merah. Sebelah timur ialah Mande Manguntur, tempat  sultan duduk  untuk melihat apel prajurit maupun saat menikmati  gamelan setiap  perayaan  Maulid  Nabi Muhammad  di  Bangsal  Sekaten  di sebelah timurnya.
Dahulu,  untuk  keluar dan masuk ke lingkungan  keraton,  melalui pintu  gerbang  yang bernama Si Belawong yang di  belakangnya  ada   langgar  atau  mushola. Pintu Si Belawong sekarang  tertutup  dan diganti dengan pintu gerbang lain di sebelah barat.
Masuk  lebih  ke  dalam, terdapat  Bangsal  Paseban,  tempat  ini biasanya digunakan sultan menerima tamu atau punggawa dan kerabat keraton.  Di bangsal ini, sultan banyak berdiskusi tentang  soal-soal pemerintahan maupun kehidupan apa saja.
Di  sebelah Bangsal Paseban, terdaat bangunan yang  kini  menjadi museum.  Di  tempat inilah, terdapat benda-benda  pusaka  Keraton Kanoman,  diantaranya Paksi Naga Liman, kereta kencana  bersimbol burung, naga dan harimau yang pada jaman dahulu digunakan  sultan dan permaisuri untuk berkeliling kota Cirebon.
Pusat  bangunan  di Keraton Kanoman ialah  Pendopo  atau  Bangsal Djinem, tempat upacara-upacara formal keraton. Dan di belakangnya terdapat   Mande   Mastaka  tempat   singgasana   sultan,   pusat pemerintahan  dijalankan  dari  titah-titah  sultan  di   ruangan berukuran 10 x 15 meter ini.
Bangunan  lain,  ialah Gedung Kaputren, di gedung  inilah  tempat keluarga  Saladin dan Emirudin tinggal bersama. Lalu  ada  gedung lain  yang ukurannya hampir sama dengan Kaputren, sekira 50 x  30 meter,  di  gedung  ini,  dulu  tempat  sultan  tinggal   bersama permaisuri, sekarang dipakai rumah permaisuri Ratu Sri Mulya  dan keluarga Pangeran Patih Imamudin.
Tempat  terakhir  ialah  Bangsal Witana.  Gedung  yang  digunakan sebagai  tempat jimat atau benda-benda sakti, di  tempat  inilah, Sultan Kanoman termasuk Emirudin menjadikan sebagai tempat dzikir atau bertapa.
Di  sekitar  keraton,  di balik tembok  yang  melingkari  Keraton Kanoman, terdapat puluhan rumah warga. Disebut sebagai Magersari, ialah  rumah tempat abdi dalem keraton, tempat lain ialah  Masjid serta  gedung  besar yang kini digunakan  untuk  perguruan  Taman Siswa,    letaknya    di    sebelah    barat    keraton

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar